
"Hai." sapa orang itu.
***
NAZWA hanya memandang tanpa menjawab sapaan seseorang dihadapannya yang tidak ia kenali itu.
Kalau tidak salah, orang ini adalah wanita yang berpapasan dengannya di perpustakaan tadi.
"Saya boleh duduk di sini, 'kan?" tanya orang itu.
Nazwa mengangguk dua kali. "Ya."
Kemudian orang tadi mengulurkan tangan kanannya ke atas meja. "Nama saya Laras. Nama kamu Nazwa, 'kan?"
Nazwa yang bingung pun membalas uluran tangan itu. "Iya Mbak, nama saya Nazwa."
Laras menarik sudut bibirnya ke kanan. "Saya udah tau."
Lah, kalo udah tau ngapain nanya. Batin Nazwa.
Nazwa mengangguk lagi, meskipun ia bingung dari mana wanita dihadapannya bisa tahu namanya padahal ia belum memperkenalkan diri.
"Kamu pasti bingung , kenapa tiba-tiba saya bisa duduk di sini?" tanya Laras.
Nazwa tidak menjawab melainkan memandang Laras dengan seksama. Tatapan Laras benar benar membuatnya terasa terintimidasi.
"Saya juga tau kalau kamu istrinya Alif," lanjut Laras.
Nazwa mengernyitkan kedua alisnya kemudian ia berdeham. "Maaf, sebenarnya Mbak ini siapa?"
Laras tertawa. "Saya Laras Kyle, mantan sahabat suami kamu."
"Mantan sahabat?" beo Nazwa.
Ada ya mantan sahabat? Batin Nazwa bertanya.
"Ya." Laras mengangguk datar. "Dulu, kami begitu dekat meski dalam batasan tertentu. Alif selalu mengutamakan saya dan lebih memilih untuk meninggalkan semua urusannya ketika saya sedang membutuhkan dia."
Laras mulai menjalankan aksinya untyk mengarang cerita. Dan entah kenapa Nazwa tidak menyukai segala hal yang diucapkan Laras.
"Tapi semuanya berubah semenjak Alif menikah dengan kamu."
Nazwa sedikit tersentak mendengar perkataan itu. "Maksud ... Mbak apa, ya? Kenapa tiba-tiba Mbak datang dan membicarakan hal seperti ini kepada saya?"
"Karena kamu yang menyebabkan Alif berubah!" timpal Laras.
Sungguh, Nazwa benar-benar tidak mengerti.
"Seharusnya kamu nggak pernah hadir di kehidupan Alif, Nazwa!" ujar Laras.
"Kamu tau 'kan kalau kalian menikah hanya karena perjodohan konyol orang tua kalian itu?" Laras tertawa meremehkan.
Nazwa terdiam tak tahu harus berkata apa, karena kenyataannya memang benar bahwa mereka menikah karena sebuah perjodohan.
"Kamu bodoh Nazwa! Seharusnya kamu tau kalau Alif nggak pernah mencintai kamu dari hati!"
__ADS_1
Suara Laras yang semakin naik itu sedikit mengundang perhatian beberapa penghuni kantin.
Nazwa bingung, benar-benar bingung. Kenapa Alif pergi lama sekali? Apakah salah jika sekarang dia mengharapkan Alif datang dan membelanya.
Kenyataannya di saat-saat seperti ini, ia malah mengharapkan Alif datang dan membelanya dari wanita gila dihadapannya sekarang.
Kemudian Nazwa memberanikan diri untuk menjawab. "Maaf Mbak, tapi Mbak bukan Tuhan yang selalu tau tentang perasaan manusia."
Laras berdecih sinis. "Kamu terlalu lugu Nazwa, pantas aja Alif mau sama kamu. Atau jangan-jangan kamu cuma dijadikan sebagai kelinci percobaan?"
Nazwa memejamkan matanya, meredamkan emosi agar tidak menyakiti siapapun.
"Yang seharusnya menikah dengan Alif itu saya, bukan kamu. Karena tentu saja, saya jauh lebih baik dari pada kamu!" desis Laras tajam.
Cukup sudah. Nazwa benar-benar tidak bisa diperlakukan seperti ini. Diamnya bukan menandakan bahwa Ia tidak berani untuk membalas perkataan Laras.
"Saya memang nggak secantik dan sedewasa Mbak Laras. Mungkin saya nggak sebaik Mbak Laras, tapi kenyataannya, Mas Alif lebih memilih saya untuk menjadi pendamping hidupnya," ucap Nazwa penuh penekanan.
Pandangan Laras menajam seketika.
"Dan yang saya tau, wanita baik-baik itu nggak akan pernah mengusik serta menjatuhkan kebahagiaan wanita lainnya karena tentu saja wanita baik akan sangat paham bagaimana rasanya jika diusik. Permisi," lanjut Nazwa meraih tas slempangnya kemudian berlalu meninggalkan Laras. Ia takut semakin menyakiti hati orang lain jika tidak segera beranjak dari sana.
Laras memandang nyalang kepergian Nazwa. Hatinya bergejolak marah, tidak terima atas perlakuan Nazwa yang berani menjawab ucapannya dengan telak.
Laras benar-benar dibuat geram oleh gadis itu. Ia sangat tidak terima dipermalukan seperti tadi.
***
"BAIKLAH, kalau begitu minggu depan saudara bisa mulai magang," ujar seorang lelaki berkepala plontos dihadapan Alif.
"Sialahkan." Prof. Bambang mempersilakan.
Alif segera keluar dari ruangan menuju kantin untuk mencari istrinya.
Sesampainya di kantin, ia tidak menemukan Nazwa di tempat terakhir mereka bersama tadi.
"Mbok, mau nanya nih," ucap Alif menghampiri Mbok Dayu.
Mbok Dayu menghentikan aktifitas mencuci piringnya. "Eh, iya mas. Ada apa to?"
"Mbok lihat istri saya nggak?"
Mbok Dayu nampak heran. "Enggak Mas, bukannya tadi sama Mas Alif to yo?"
"Iya Mbok. Tapi tadi mendadak saya dipanggil dosen."
"Walah, Mbok nggak tau Mas. Tadi sih masih duduk di sana kok," ujar Mbok Dayu menunjuk sebuah meja yang sudah kosong.
"Ah, ya sudah kalau begitu saya pergi dulu. Makasih ya Mbok. Assalamu'alaikum."
Setelah itu Alif segera melanjutkan mencari Nazwa.
"Waalaikumussalam. Ealah, ke mana to si nduk ayu tadi?" Mbok Dayu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Maasya Allah, tapi itu kayaknya Mas Alif sayang banget to sama nduk ayu," gumam Mbok Dayu pada dirinya sendiri.
__ADS_1
***
ALIF tidak menemukan Nazwa di sudut manapun. Ia juga meninggalkan ponselnya di dalam mobil.
Ia berjalan lesu sambil sesekali mengusap wajahnya.
Mengapa untuk menjaga Nazwa dalam jangkauannya saja ia tak mampu? Bagaimana ketika ia magang nanti? Apakah sanggup ia menjaga Nazwa dari jarak kilometer jauhnya?
Alif memutuskan untuk kembali ke mobil. Siapa tahu istrinya sudah menunggu di sana.
"Astaghfirullahaladzim, Sayang! Kamu ke mana saja? Saya dari tadi nyari kamu ke mana-mana. Ternyata kamu di sini," ucap Alif saat masuk ke mobil.
Benar, saat ia masuk istrinya sedang duduk di bangku penumpang sambil memainkan ponselnya.
"Sayang, kamu nggak papa, 'kan?" tanya Alif cemas.
Nazwa membalas dengan gelengan. "Aku nggak papa."
"Saya khawatir," kata Alif sedikit lega.
Nazwa tersenyum kecil. Ia masih berusaha meredamkan emosi semenjak bertemu dengan Laras tadi.
"Sekarang kita ke mana?" tanya Alif.
"Terserah Mas aja."
Alif sedikit bingung dengan perubahan sikap Nazwa yang selalu tiba-tiba. Kemudian ia mulai menjalankan mobil perlahan.
Selama diperjalanan, suasana menjadi sangat hening seketika. Jika biasanya Alif akan menggoda istrinya, sekarang dia bingung untuk sekedar memulai pembicaraan.
Karena kenyataannya, diamnya Nazwa membuat perasaannya frustasi.
"Kamu mau ke Mall?" tanya Alif memecah keheningan.
Nazwa menggeleng dan malah memandang ke arah jendela.
"Terus kita mau ke mana, Sayang? Ayo dong bilang, jangan buat saya jadi bingung."
Nazwa membuang napas kasar. "Kita pulang aja. Aku capek."
Alif terdiam sejenak kemudian mengangguk. "Oke, kita pulang."
Sesampainya di apartemen, Nazwa langsung keluar tanpa menunggu Alif keluar terlebih dahulu.
Padahal, tadinya Alif ingin membukakan pintu untuk istrinya seperti biasa. Tapi sebelum itu Nazwa malah meninggalkan dia sendirian tak lupa menutup pintu mobil dengan sedikit kasar.
Alif kemudian berjalan menyusul istrinya. Ia masih bingung dengan sikap Nazwa yang berubah-ubah.
Sesampainya di dalam apartemen mereka, Alif tidak menemukan Nazwa di ruang tamu.
Kemudian ia melangkahkan kaki menuju kamar. Di sana, istrinya telah berbaring membelakangi dirinya.
Alif menghela napas dan kembali menutup pintu kamar. Mungkin memang benar istrinya sedang lelah.
Mungkin ia akan menanyakan lagi nanti, perihal apa yang membuat Nazwa jadi mendiamkannya.
__ADS_1
Bersambung.