
"Mas ..." Inayah berlari ke arah Mas Gagah lalu memeluknya.
Dor... (suara pelatuk pistol terlepas)
Mas Gagah membelalakan matanya.
"Mas ..."
Tubuhku hampir ambruk tapi langsung di tompang Mas Gagah. Setelah itu aku merasakan perlahan suasana dalam ruangan menjadi gelap. Aku berdzikir dalam hati untuk meredakan rasa sakit di punggungku yang terkena peluru.
Aku ikhlas jika aku harus tiada bersama bayiku asalkan orang yang aku cintai bisa tetap hidup. Ya, sejak kehadiran bayi dalam rahimku, aku akui bahwa ternyata aku sangat mencintai Mas Gagah. Bayi ini adalah anugrah dalam hidupku.
Novia tampak gemetaran, pistol yang ia pegang terjatuh, bodyguard Pak Adi langsung bergegas menangkapnya.
"Inayah ... inayah, Adek, bangun Dek." Mas Gagah menggoyangkan pipiku.
Aku masih bisa mendengar kala itu, aku bahkan mendengar teriakan dan tangisan Mas Gagah. Aku berusaha untuk membuka mata tapi rasanya sulit sekali.
Punggungku rasanya semakin sakit, aku sudah tidak bisa lagi menahannya. Aku seketika melafadzkan lailahaillah dan saat itu juga aku sudah tidak ingat apapun, aku seperti tertidur.
Mas Gagah menggendongku membawaku kedalam mobil. Mas Guntur langsung duduk dikursi kemudi. Mas Gagah berteriak agar Mas Guntur mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Di tempat kejadian Pak Adi Ayah Mas Gagah masih terdiam terpaku. Pak Adi mengusap wajahnya dengan kasar, ia tidak menyangka semuanya akan jadi seperti ini.
Pak Adi merasa Novia begitu gegabah, Pak Adi juga merasa bersalah karena ternyata aku berani berkorban besar untuk anak sulungnya, bahkan rela mengorbankan nyawaku demi anaknya.
***
Setelah sampai rumah sakit aku masih digendong Mas Gagah masuk kedalam rumah sakit. Aku langsung ditangani dokter di UGD. Mas Gagah dan Mas Guntur menunggu di kursi tunggu di depan ruangan UGD.
Baju Mas Gagah sudah berlumuran darah, Mas Gagah tiba-tiba menangis di pundak Mas Guntur.
__ADS_1
"Aku tidak mau kehilangannya." Tangisnya semakin pecah. Aku sudah kehilangan Ibu, aku tidak mau kehilangan lagi wanita yang kucintai.
Mas Guntur mengusap punggung Mas Gagah, "Inayah wanita kuat Gah, kita doakan Inayah"
"Gah, aku pulang dulu, aku bawakan baju untukmu, lihat bajumu, penuh dengan darah,"sambungnya lalu pergi meninggalkan Gagah.
30 menit berlalu, dokter keluar dari ruangan UGD, Mas Gagah langsung menghampiri dokter dan menanyakan kondisiku. Dokter memasang wajah kecewa, Mas Gagah mulai panik.
"Dok ada apa?"
Dokter menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Kondisinya sudah stabil."
Mas Gagah langsung mengucapkan Alhamdulillah, Mas Gagah begitu lega mendengar aku sudah stabil.
"Tapi ..."
"Tapi apa Dok?" Mas Gagah langsung saja memotong pembicaraan Dokter karena kepanikan itu muncul kembali.
"Maksudnya?" tanya Mas Gagah bingung dengan istilah kuretase.
"Istri anda keguguran."
Bagaikan tersambar petir disiang bolong, Mas Gagah begitu terkejut, Mas Gagah belum tahu jika aku saat ini sedang mengandung karena saat aku akan memberitahunya kejadian pagi ini terjadi begitu saja.
"Ya Allah, jadi istri saya dalam keadaan hamil saat ini?"tanyanya, Mas Gagah mencoba kuat dihadapan Dokter.
Dokter mengangguk, " Tapi kami tim dokter tidak bisa menyelamatkan bayi dalam kandungannya. Kondisi istri anda sebelumnya cukup serius dan kehilangan banyak darah, bayinya baru sekitar 7 minggu, jadi memang sangat rentan keguguran, mari ikut keruangan saya, ada berkas yang harus anda tanda tangani"
Dokter mengajak Mas Gagah keruangannya, jujur sebenarnya saat itu kaki Mas Gagah sudah lemas. Hati Mas Gagah hancur, "Istriku sayang istriku malang, kenapa semua menjadi seperti ini,"gumamnya lirih.
Di dalam ruangan dokter menjelaskan semua tentang kondisiku pada Mas Gagah. Mas Gagah tidak bisa berkata apapun selain merasa bersedih hati.
__ADS_1
Mas Gagah merasa bodoh karena sebagai suami tidak bisa menjagaku dengan baik. Keluar dari ruangan dokter Mas Gagah menjambak rambutnya karena frustasi, untung saja Mas Guntur langsung datang untuk menghentikan Mas Gagah.
Mas Guntur datang bersama dengan Ibu dan Pak Adi Ayah mertuaku. Ayah mertua saat itu juga merasa kacau karena melihat putra sulungnya frustasi.
Pak Adi merasa bersalah atas kejadian ini semua, Pak Adi tidak menyangka jika Novia akan senekad itu. Apalagi sampai ingin menembak Mas Gagah. Pak Adi menyesal telah mendukung Novia selama ini.
Pak Adi menghampiri Mas Gagah. Mas Gagah langsung memeluknya. Mas Guntur dan Ibu duduk disebelah Mas Gagah.
"Aku kehilangan bayiku Ayah, aku kehilangan calon anakku, aku tidak mau kehilangan istriku, aku sangat mencintainya,"ucap Mas Gagah sesenggukan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
(Sudah ya, hari ini 3 episode, q mau nyetrika segunung, raport masih nyicil garap, sabar ya pemirsa, besok lanjut lagi, silahkan maki2 tuh pak adiπππ)
__ADS_1