Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 18


__ADS_3

"Hatiku sudah berkali-kali patah. Maaf jika tak sempurna."


-Nazwa Zivara Nafitri-


***


TERHITUNG satu minggu sudah usia pernikahan Alif dengan Nazwa. Dan sudah satu minggu pula, Alif lebih sering mengembangkan senyum ketimbang menampakkan wajah flat dan cool seperti biasanya.


Setelah lima hari tinggal dirumah Nazwa, akhirnya kemarin mereka diboyong-- bukan kerumah keluarga Hanan Diafhakri, melainkan ke apartemen pribadi milik Alif.


Awalnya para orang tua mereka sempat tidak setuju, tapi dengan segala keyakinan yang Alif katakan, mereka jadi sedikit percaya bahwa yang di katakan Alif memang ada benarnya. Mereka sudah menikah dan sudah sepatutnya mereka belajar mandiri.


Walaupun demikian, para orang tua mereka tetap tak luput akan mengamati anak-anak mereka karena ada banyak rasa khawatir mengenai keluarga baru itu.


Mengingat usia mereka yang masih sangat muda, terlebih Nazwa yang sifatnya masih tergolong labil dan kekanak-kanakan.


Pada awalnya Nazwa tidak setuju dengan usul Alif untuk tinggal di apartemen, tapi melihat tatapan sang Abi seketika hatinya luluh. Apa boleh buat? Tidak ada yang lebih membahagiakan selain membuat orang tuanya bahagia bukan?


Sekarang, calon dokter muda tampan itu masih sibuk berkutat didapur, membuat sarapan untuk dirinya dan sang istri tercinta.


Tercinta? Entahlah. Alif sendiri tersenyum geli karena kenyataan itu. Kenyataan bahwa jatuh cinta tak se-mengerikan yang selama ini ia bayangkan.


Apalagi, jika hubungan yang terjalin sudah dalam ikatan halal, baik dalam agama maupun negara. Maka baginya, yang asam pun akan terasa manis.


Sungguh indah! Kian hari perasaannya kian membuncah, walaupun ia tidak tahu bagaimana perasaan Nazwa untuknya.


Tapi yang jelas, meskipun nanti Nazwa tidak membalas perasaanya, yang terpenting dia sudah berusaha mencintai Nazwa sebaik dan sedalam yang ia bisa.


Pada dasarnya, cinta memang tidak butuh balasan. Cukup dengan melihat orang yang kita cintai bahagia, mau tak mau hati kita pun ikut merasakan kebahagiaannya.


Meskipun jauh di lubuk hatinya, Alif sangat mengharapkan bahwa Nazwa memiliki rasa yang sama. Sama dengan apa yang ia rasakan selama ini.


Jika beberapa hari terakhir Alif lebih sering mengembangkan senyum, maka Nazwa adalah timbal baliknya. Gadis itu masih terlihat kaku, datar, dan dingin.


Nazwa baru selesai mandi ketika mencium aroma wangi masakan dari arah dapur. Ia melirik arloji yang sudah menunjukkan pukul 7.30. Berhubung ia masih berhalangan, maka dari itu ia bangun lebih siang karena tidak harus sholat subuh.


Hal itu merupakan kebiasaan Nazwa ketika sedang mengalami palang merah.


Gadis tujuh belas tahun itu merenggangkan otot-otot tangannya, kemudian ia segera memakai khimarnya dan turun ke bawah.


"Kak?"


Alif masih tetap sama dalam posisinya. Menuangkan nasi kedalam dua piring. Tidak bergeming saat mendengar suara Nazwa.


"Kak!" panggil Nazwa sekali lagi.


Kali ini Alif menoleh, tapi dengan raut wajah sedatar mungkin. "Saya bukan Kakak kamu, Nazwa."


Dahi Nazwa berkerut. Ada apa dengan laki-laki itu? Bukankah kemarin dia biasa-biasa saja saat Nazwa memanggilnya dengan embel-embel 'Kakak'?


"Berhenti manggil saya dengan embel-embel 'Kakak', Nazwa. Karena saya bukan Naufal Kakak kamu," sambung Alif.


"Yaudah. Terus Nazwa harus manggil apa? Eum ... kayaknya manggil Om nggak terlalu buruk?" kata Nazwa dengan senyum miringnya.


Alis tebal Alif bertaut. "Dan saya belum se-tua itu."


Nazwa menahan tawa dengan cara melipat bibirnya menjadi selurus mungkin.


"Panggil saya Mas," titah Alif tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Harus."


"Kalau Nazwa nggak mau?"


"Harus mau," balas Alif sembari menuangkan susu kedalam gelas.


"Dasar tukang maksa," gumam Nazwa.


"Saya dengar, Nazwa."


Nazwa mendengus dan memilih mengabaikan ucapan Alif dengan mengalihkan topik.


"Eum, Mas ... masak?" tanya Nazwa sedikit kaku dengan panggilan barunya kepada Alif.


Alif tersenyum. Panggilan 'mas' dari mulut Nazwa terdengar manis di telinganya.


"As you can see. Mau mencoba?" tawar Alif.


"Nggak," jawab Nazwa singkat.


Alif tersenyum maklum. "Ayolah, Nazwa. Saya jamin kamu bakal ketagihan kalau sudah mencobanya," katanya dengan percaya diri.


"Nazwa nggak mau!"


"Sedikit saja," kata Alif. Laki-laki itu menyodorkan satu piringnya kearah Nazwa.


"Nggak mau, ya, nggak mau!" ketus Nazwa.


Sempat tertegun, tapi sedetik kemudian Alif tersenyum penuh arti. Ia tahu, gadis ini hanya gengsi barang untuk mencoba masakannya.


"Ya sudah kalau kamu nggak mau."


Tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya memang sangat lapar, karena terakhir ia makan adalah sejak dirumah orang tuanya kemarin. Sebelum acara boyongan ke apartemen Alif.


Tapi biar bagaimanapun, ia tidak boleh dengan mudah luluh hanya dengan sikap manis laki-laki seperti ini. Meskipun itu suaminya sendiri, kalian tahu luka yang Raka buat masih belum sembuh sepenuhnya.


Nazwa menenggelamkan kepalanya diantara lipatan kedua tangannya diatas meja makan. Ia memejamkan matanya, barangkali hal itu bisa membuat rasa laparnya berkurang.


Kriukkk'


Seketika matanya terbuka lebar. Ia melihat Alif yang masih fokus pada sarapannya. Tapi ia juga tahu kalau laki-laki itu sedang menahan agar tawanya tidak meledak saat ini juga.


"Kalau mau ketawa ya ketawa aja! Nggak usah ditahan!" Setelah mengatakan itu, Nazwa berbalik dan berlari masuk kedalam kamar demi menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Alif terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia beranjak menyusul Nazwa ke kamar. Hal yang pertama kali Alif lihat adalah wajah masam sang istri yang sedang bersedekap diatas sofa kamarnya.


"Saya ada kuliah jam 9," kata Alif sambil melirik arloji ditangan kirinya.


"Nggak peduli," jawab Nazwa dingin.


Ia tahu persis bahwa hal seperti ini sangat tidak baik dalam rumah tangga. Tapi mau bagaimana lagi? Pokoknya ia tidak mau terlalu berharap banyak pada laki-laki.


Meskipun itu suaminya sendiri? Ah, sama saja. Ia tidak yakin kalau Alif mencintainya. Pasti sama saja alasannya, Alif menerima perjodohan itu hanya untuk melihat kedua orang tuanya bahagia. pikir Nazwa.


Alif mengambil tasnya, memasukkan laptop dan beberapa buku kedalamnya.


"Saya berangkat, ya? Kalau kamu lapar, di dapur masih ada nasi goreng dan omlet," kata Alif kemudian mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


Nazwa menyambut tangan Alif dengan wajah datarnya.


Alif tersenyum dan mengacak ujung khimar sang istri. Ya. Nazwa masih saja mengenakan jilbab ketika berada di rumah.


Meskipun hanya ada mereka berdua, Nazwa masih enggan menunjukkan rambut indahnya di depan Alif secara terang-terangan. Kecuali saat tidur saja. Tapi, bukankah itu sama saja? Ah, terserah Nazwa saja.


"Assalamu'alaikum." Setelah itu Alif menghilang dari balik pintu.


Setelah kepergian Alif, helaan napas terdengar dari mulut Nazwa. Ia mengelus perutnya yang sedari tadi berdemo minta diisi. Namun karena gengsi dan egonya yang tinggi, ia harus menahan diri untuk tidak memakan masakan Alif.


Setelah memastikan Alif menghilang dan tak terlihat lagi, Nazwa memutuskan untuk ke dapur. Mencari bahan makanan dikulkas, barangkali ada yang bisa ia masak.


Sebelum itu, Nazwa sempat melirik sepiring nasi goreng dan beberapa potong omlet di meja makan. Tapi ... dia tidak boleh tergoda!


Nazwa membongkar isi kulkas, ternyata hanya ada ayam segar yang masih mentah. Tidak ada sayuran, tidak ada buah-buahan, bahkan sebutir telur pun.


Nazwa membuang napas pasrah. Ia merutuki dirinya sendiri yang memang belum sempat berbelanja setelah pindah kemarin. Ia mengalihkan pandangannya ke meja makan.


Apa boleh buat, dari pada harus menggoreng ayam yang pastinya akan meletuskan minyak panas, mau tak mau akhirnya gadis itu harus sarapan nasi goreng yang di buat oleh suaminya.


Nazwa meneguk salivanya sekali lagi. Menimang, apa harus ia memakannya? Ah, ya sudahlah. Ia sudah tak tahan dengan perutnya yang terus saja berdendang ria.


"Bismillahirrohmannirrohim." Ia berdoa dan mulai memakan makanan di depannya.


Seketika mata Nazwa melebar sempurna. Ini sangat enak!


Matanya berbinar-binar, kepalanya pun menggeleng takjub. Dengan giat ia menyuapkan nasi goreng hingga tinggal setengah.


Ternyata masakan Alif tidak kalah enak dengan nasi goreng langganannya bersama Acha. Ah, mengingat Acha ia jadi merindukan kedua sahabatnya itu.


"Ekhm!"


Nazwa menghentikan aktivitasnya ketika suara bariton itu terdengar di telinganya.


"Pelan-pelan, Nazwa. Saya tahu masakan saya memang enak. Tapi pelan-pelan dong makannya, nanti keselek, loh."


Nazwa memutar badan seratus delapan puluh derajat. Matanya melebar ketika menemukan Alif yang sedang tersenyum geli dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celana dasar yang laki-laki itu kenakan.


"A-apa?" tanya Nazwa tergagap. Bibir bawahnya ia gigit untuk mengurangi rasa gugup akibat ke gep oleh suami sendiri seperti ini.


"Mas ngapain balik lagi sih!" sungutnya kemudian. "Oh, jangan-jangan Mas sengaja 'kan buat mancing Nazwa kayak gini?!"


Alif mengedikkan kedua bahunya sambil tersenyum. "Jangan percaya diri. Saya cuma mau ngambil kunci mobil yang ketinggalan."


Setelahnya wajah gadis itu jadi pias saat Alif benar-benar mengambil benda dari atas kulkas.


Ia merutuki kebodohannya sendiri. Kenapa bisa sampai ketahuan? Oke, Nazwa merasa seperti maling sekarang.


"Lanjutkan makannya, saya berangkat, ya," pamit Alif dengan senyum manis yang membuat Nazwa semakin murka.


Alif memang gemar mengerjainya!


"Oh, iya. Tadi pagi saya baca quotes bagus, Nazwa. Dan saya pikir itu akan cocok buat kamu." Alif kembali membalikkan badannya.


Alif mendekat dan membisikkan sesuatu, kemudian tak lama ia menjauhkan lagi wajahnya.


Sembari tersenyum konyol, laki-laki itu berjalan mundur. Pelan tapi pasti.


Sedangkan Nazwa, gadis itu masih sibuk mencerna ucapan Alif barusan. Dan sedetik kemudian ...

__ADS_1


"MAS ALIF!!" pekiknya geram, disaat Alif sudah berlari sekuat tenaga dengan tawa yang menderai.


Bersambung.


__ADS_2