Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 5


__ADS_3

"Tidak perlu berkecil hati. Rindumu akan sampai kepada siapapun yang selalu kamu doakan."


***


SUARA ketukan pintu berkali-kali itu membuat Nazwa melangkahkan kaki menuju pintu utama. Karena ummi Audy sedang memasak dan abi Ahmad yang belum pulang dari kantor, jadi lah Nazwa yang harus membukakan pintu.


Karena memang keluarga itu tidak menyewa asisten rumah tangga, kecuali satpam. Itu pun hanya bertugas membuka dan menutup gerbang dan satu sopir yang selalu setia mengantar keluarga itu ke manapun mereka ingin pergi.


Tadi setelah Acha pamit pulang, Nazwa memutuskan untuk menonton televisi di ruang tengah. Sebenarnya ia masih terasa lemas, tapi dia paksa untuk berjalan-jalan. Toh, kalau tiduran terus, penyakitnya malah tambah manja dengan terus-terusan bersemayam di tubuhnya bukan?


"Assalamu'alaikum," kata orang di balik pintu.


Seperti tak sabaran. Kalau dihitung sudah lebih dari lima kali orang itu mengucap salam. Biar saja, salah siapa sudah mau maghrib kok bertamu.


Berjalan dengan sedikit cepat, Nazwa sedikit menggerutu kecil. "Wa'alaikumussalam. Iya, iya, sabar!"


Nazwa siap memutar kunci pintu di hadapannya, "Siapa sih udah mau maghrib kok bertam--"


"Aaa! Kak Upal!" Selanjutnya Nazwa memekik tak percaya melihat seorang laki-laki yang berdiri di depannya. Langsung saja ia menghambur ke pelukan laki-laki itu.


Naufal Zidan Nurrasyid. Dia adalah cinta pertamanya di dunia ini setelah abi--kakak laki-laki satu-satunya yang Nazwa miliki.


Naufal tertawa kecil lalu membalas pelukan rindu dari adik kesayangannya. "Kangen, ya, Dek?"


"Iya lah! Banget!" Nazwa mengurai pelukan mereka lalu mengerucutkan bibir mungilnya. "Lagian Kakak betah banget, sih, di Semarang? Mana nggak pernah pulang. Kakak udah nggak inget rumah lagi, ya?"


Alih-alih merasa bersalah, Naufal malah menepuk dadanya dengan bangga. "Kakak tahu kok keberadaan orang ganteng tuh selalu dibutuhin di mana-mana."


Cubitan ganas melayang ke perut Naufal, membuat sang empunya perut meringis.


"Aduh! Kamu, ya ..., katanya lagi sakit, tapi tenaga masih aja kayak preman pasar!" gerutu Naufal.


"Ish! Sembarangan!"


"Jadi Kakak nggak diajak masuk, nih? Mentang-mentang nggak pernah pulang." Naufal berkata dengan nada merajuk.


"Ck. Rumah sendiri loh, Kak. Ngapain nunggu disuruh, sih." Nazwa memutar bola matanya jengah.


Naufal terkekeh sambil melangkahkan kaki memasuki rumah. "Kata ummi, kamu lagi sakit? Sakit apa?"


"Cuma demam kok. Tiga hari doang ini."


"Doang?!" Mata Naufal hampir lepas dari tempat asalnya.


Dengan santai Nazwa mengangguk. Ia mendudukkan pantatnya di sofa ruang tengah. Memangnya ada yang salah? Kenapa reaksi kakaknya sangat mirip dengan reaksi Acha tadi siang? Ah, mereka 'kan kombinasi lebay yang sempurna.


"Kamu kenapa?" selidik Naufal.


"Kenapa apanya?" Nazwa berbalik tanya tak mengerti.


Naufal berdecak. "Jawab, Dek."


Nazwa menggeleng pelan. Sepertinya dia tahu arah pembicaraan Naufal akan menjerumuskan ke mana. "Nazwa main hujan-hujanan, makanya sakit."


"Bohong!" sergah Naufal. Tahu saja sih kalau adiknya tidak pandai memanipulasi keadaan.


"Nazwa nggak pernah bohongin Kakak," ujar Nazwa pelan, nyaris tak terdengar.


Dalam hati ia melafadzkan istighfar sebanyak mungkin.


Astaghfirullah. Ampuni hamba yaa Allah. Batin gadis itu berdoa.


"Kakak tau."


Gadis itu menatap kakaknya was-was. Khawatir, kalau kalau umminya menceritakan semuanya pada kakaknya.


"Siapa Raka?"


Tuh 'kan!


Ummi ... tolongin Nazwa!


Nazwa meremas ujung khimar yang dia kenakan. Ia hanya mampu menggeleng lemah, seakan lidahnya terasa kaku barang untuk menjawab--takut kalau Naufal akan meledak detik ini juga.

__ADS_1


Karena, selain berasal dari satu rahim, Nazwa juga tahu betul bagaimana sikap Naufal selama ini. Terlebih jika sudah menyangkut laki-laki yang berada disekitar adiknya. Seakan Naufal akan menyeleksi dengan teliti, atau bahkan sampai ke akar-akarnya.


Tak ayal, tujuannya hanya untuk kebaikan adik sematawayangnya itu. Tapi spekulasi Nazwa selalu berbeda. Ia malah menganggap jika kakaknya itu terlalu berlebihan dan hampir mirip dengan abi Ahmad. Mereka sama-sama over protective terhadap dirinya.


Bahkan dulu, saat pertama kali Alvin--sahabatnya--datang ke rumah untuk mengerjakan tugas kelompok bersama Acha dan teman-teman yang lain, Naufal dengan sabar menunggu sampai mereka semua menyelesaikan tugasnya hingga pulang.


Alvin harus melalui banyak seleksi sebelum menjadi sahabat Nazwa.


"Nazwa, jawab Kakak!"


Nazwa tersentak, ini adalah kali pertama Naufal membentaknya. "Ma-maafin Nazwa," jawabnya dengan suara bergetar.


Tapi, jauh dari dalam lubuk hatinya, sebenarnya Naufal tidak bermaksud kasar atau membentak adiknya. Hanya saja, sebagai seorang kakak laki-laki maka dia harus menjadi tameng sekaligus panutan yang baik untuk adiknya, melindungi adiknya. Melindungi adiknya dari apapun dan siapapun yang akan menyakiti adiknya.


Begitulah prinsip Naufal yang ia pegang teguh hingga saat ini.


"Kakak nggak marah sama kamu, tapi Kakak kecewa, Wa," ujarnya lirih. Ia tak menyangka bisa kecolongan sampai sejauh dan selama ini. Tiga tahun!


Tangis Nazwa mulai pecah. Bukankah kecewa levelnya lebih tinggi dibanding marah? Apalagi kali ini kakaknya memanggilnya dengan sebutan 'Wa', namanya.


Bukannya lebay, tapi selama ini Naufal selalu memanggilnya dengan sebutan 'Dek' yang selalu terdengar lembut di telinganya. Tapi sekarang? Apakah kesalahan yang ia lakukan benar-benar fatal?


"Seharusnya kamu denger semua nasehat abi, Wa. Kamu sayang 'kan sama abi? Kalo kita belum bisa jadi anak yang membanggakan ummi dan abi, setidaknya jangan membuat hisap mereka menjadi semakin berat, Nazwa," ucap Naufal. Suaranya nyaris terdengar putus asa. Ia merasa gagal membantu orang tuanya untuk menjaga dan mendidik adiknya.


Nazwa merasa lidahnya benar-benar kelu. Ia bingung harus bagaimana. Kalau saja dia bisa memutar waktu, akan dia pastikan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi. Tapi, Nazwa juga sudah berjanji untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk yang kedua kalinya.


"Kakak mohon sama kamu, tolong jangan diulangi lagi," pinta Naufal lirih.


Tangisnya semakin jadi saja. Aduh. Cengengnya Nazwa ini.


Nazwa langsung memeluk Naufal erat. Dan seperti yang kalian duga, Naufal pun membalas pelukan adiknya tak kalah erat.


Ah, biarpun galak tapi berhati nurani juga.


"Maafin Nazwa udah buat ummi, abi, dan juga kakak menjadi kecewa. Nazwa khilaf, Kak. Nazwa benar-benar nggak tahu kalau bakal seperti ini akhirnya."


Naufal mengangguk dan menghapus jejak air mata di pipi adiknya. "Maafin Kakak juga, ya? Tadi Kakak nggak bermaksud buat bentak kamu."


"Loh, Naufal?! Udah sampek, Kak?" tanya ummi Audy yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.


Ah, pasti rindu sekali. Berjauhan dengan orang tua, bagaimana, ya, rasanya? Apa lagi Naufal pulang hanya sesekali. Itu pun hanya menjelang lebaran saja. Maklum, tuntutan pekerjaan katanya.


Nazwa jadi berpikir, bagaimana kalau setelah lulus nanti dia harus melanjutkan kuliah jauh dan harus berpisah dalam beberapa waktu dengan mereka? Ah, membayangkan saja rasanya Nazwa tidak sanggup.


Rasanya berat. Apalagi selama ini kedua orang tua serta kakak tunggalnya selalu memanjakan dirinya dan memperlakukan Nazwa layaknya princess di rumah itu.


"Gimana kabarmu, Kak? Nenek sehat, kan?" tanya ummi Audy kemudian mendudukkan dirinya dan putranya di sofa panjang yang berseberangan dengan Nazwa.


Gadis 17 tahun itu mendengus. Ia selalu terabaikan ketika ada Naufal di rumah. Tapi dia tidak cemburu. Memang benar adanya bahwa anak laki-laki cenderung lebih dekat pada ibunya, begitu pula dengan Nazwa yang cenderung lebih dekat dengan abi daripada umminya.


"Alhamdulillah, Kakak sehat, nenek juga sehat. Ummi sehat, 'kan?"


Umi Audy tertawa garing. "Alhamdulillah ..., Ummi sehat dong!"


"Ekhem!"


Ummi Audy menoleh dan baru menyadari keberadaan putrinya. "Loh, itu Nazwa kenapa kayak habis nangis?" tanyanya kemudian.


"Biasalah, Um. Pasti kangen tuh sama kakaknya yang paling ganteng sedunia ini." Naufal berceletuk asal demi mencairkan suasana yang tadinya sempat dingin antara dirinya dengan Nazwa.


Sontak Nazwa melebarkan matanya, tak terima.


"Dasar pede!"


"Tuh Um, masa Adek mengumpat?!" Naufal berseru heboh.


Nazwa memutar bola matanya. Dasar tukang ngadu. Nggak sadar umur.


"Heh! Udah, udah. Kamu ini nggak pernah berubah, ya. Seneng banget kalau suruh godain adikmu," lerai ummi Audy.


Nazwa menjulurkan lidahnya bermaksud mengejek.


Naufal mendelik tak suka. "Ummi ...," panggilnya.

__ADS_1


"Hm?"


"Kok tadi aku pulang nggak disambut, sih? Harusnya kan di depan gerbang tuh di gelarin red karpet gitu. Lah 'kan buat menyambut kedatangan pangeran," kata Naufal, narsisnya kumat.


Nazwa menyesal sudah mendengarkan dengan seksama. "Yee! Itu sih maunya Kakak!"


"Bodo. Wlee!"


Nazwa mendengus kesal, tapi setidaknya dia juga senang karena sosok kakaknya yang biasanya telah kembali. Jahil, usil dan narsis.


Ummi Audy menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu ini."


"Abi mana Um?" tanya Naufal.


"Belum pulang. Mungkin sebentar lagi," jawab ummi Audy sambil melirik jam dinding.


Naufal mengangguk kecil kemudian pamit untuk membersihkan diri ke kamar.


Namun sebelum itu, dia sempat berjalan ke arah Nazwa.


Dengan gerakan yang teramat cepat Naufal menarik khimar adiknya hingga terlepas, membuat sang empunya berteriak nyaring.


"Kakak!!" Kemudian Nazwa melempar bantal sofa dengan membabi-buta. Namun terlambat karena Naufal sudah naik ke lantai dua dan masuk kamarnya.


Sekali lagi ummi Audy hanya mampu menggelengkan kepalanya. Sudah tak heran lagi melihat keributan kedua anaknya itu. Karena dulu, hal itu sering terjadi sebelum Naufal diutus suaminya untuk mengelola perusahaan yang berada di Semarang.


Biarlah begitu, tapi ummi Audy tahu pasti bahwa Naufal amat-sangat menyayangi adiknya.


"Assalamu'alaikum."


Sebuah suara bass menginterupsi kedua wanita itu untuk menoleh ke arah pintu. Dan di sana, muncul sosok abi dengan senyumannya.


"Wa'alaikumussalam," jawab Nazwa dan ummi Audy berbarengan.


"Baru pulang, Bi?" tanya ummi Audy. Beliau mencium punggung tangan abi Ahmad serta mengambil alih tas kerja suaminya.


"Iya, Ummi," balas abi Ahmad mengecup lembut kening umi Audy.


Maasya Allah. Udah tua masih aja romantis, bikin envy aja. Kekeh Nazwa dalam hati.


Semoga kelak aku dan suamiku bisa harmonis seperti abi dan umi, hingga kami menua dan hingga Allah yang memisahkan. Kemudian mempertemukan kami kembali di jannah-Nya.


... Aamiin.


Nazwa menggeleng keras akibat pikirannya yang ngelantur ke mana-mana.


Astaghfirullahaladzim.


Halusinasinya terlalu tinggi, dan dia segera memohon ampun.


"Kenapa, Dek?" tanya kedua orang tuanya heran.


Nazwa menampilkan jejeran gigi putihnya dengan salah tingkah. "Hehe, nggak papa, Bi."


"Abi!!"


Tiba-tiba Naufal berlari dari atas tangga. Bak anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru. Kedua tangan laki-laki tampan itu merentang lebar hendak memeluk sang abi.


"Hati-hati, Fal, yaa Allah!" tegur ummi Audy.


Dengan cengengesan, Naufal lantas memeluk abi Ahmad dengan erat.


"Anak Abi. Baru sampai atau sudah dari tadi?" tanya abi Ahmad.


"Dari tadi, Bi. Ini abis selesai mandi."


Abi Ahmad mengangguk. Kemudian mereka membahas seputaran bisnis yang sama sekali tidak di mengerti oleh kedua wanita yang masih ada di sana.


Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke dapur untuk membuat makan malam.


Semoga kak Upal nggak cerita ke abi!


Bersambung.

__ADS_1


***


__ADS_2