Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 39


__ADS_3

"Maafkan Mas sudah membuat Adek menerima beban berat yang belum pernah Adek rasakan, Mas juga sama merasakan kesedihan sepertimu Dek, tapi karena tekad Mas dan karena Adek yang bersabar juga, Mas semakin semangat menerjang ujian yang sedang kita lalui saat ini"


Aku memeluk Mas Gagah, Mas Gagah juga balas memelukku, kami saling menguatkan satu sama lain.


Pernah tidak kalian merasakan hal demikian, ada ujian yang berat namun kuat karena saling menguatkan, bahkan sampai menangis berdua. Dari situ kadang justru tercipta rasa cinta yang semakin dalam. Karena sejatinya menikah bukan hanya tetang ingin memiliki satu sama lain, tapi ingin juga menjadi sandaran disaat pahit dan tersenyum bersama disaat bahagia.


Setelah selesai makan aku menatap Mas Gagah. Mas Gagah malah tersenyum.


"Kenapa?" tanyanya.


"Mas, besok malam apa Mas akan datang ke acara ulang tahun mantan Mas itu?" Aku sangat penasaran dengan jawaban Mas Gagag. Ada rasa takut jika rasa itu hadir kembali di hati Mas Gagah.


" Jika Adek tidak mengizinkan, Mas tidak akan pergi"ucapnya sambil menatapku.


"Datang saja Mas, aku tidak apa-apa,"jawabku bohong.


Istri mana sih yang merasa baik-baik saja jika suami akan menemui mantannya. Pasti ketar-ketir takut jika si Dasim syetan pengganggu rumah tangga tiba-tiba merasuki jiwa Mas Gagah.


"Mas akan datang, tapi sama Adek yah"


Aku tersenyum, aku bersyukur suamiku sangat pengertian, setidaknya aku bisa mengawasinya saat disana.


"Oke, ya sudah, Adek mau buatkan kemeja batik untuk Mas Gagah, Mas Guntur dan Bapak yah, Adek pulang dulu ya Mas"


Mas Gagah mengerucutkan bibirnya, "Kenapa Guntur harus dibuatkan juga?" tanyanya. Mas Gagah sepertinya cemburu.


"Biar kembaran bertiga Mas,"ucapku sambil terkekeh.


Aku menata kembali tempat makan, lalu berpamitan pada Mas Gagah. Aku mencium punggung tangan Mas Gagah sebelum pergi. Setelah itu cium pipi kanan, pipi kiri, dahi dan terakhir cup kilat dibibir.


(Ya ya ya author mah ini mah๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†)


"Assalamualaikum Mas"


"Waalaikumsallam, hati-hati sayang"


"Iya," jawabku sambil melangkah keluar dari ruangan Mas Gagah.


Aku pamit juga pada Nia, setelah itu langsung ke toko bahan untuk membuatkan baju batik kembar tiga ๐Ÿ˜.

__ADS_1


***


Sesampainya di rumah aku langsung menjahit baju untuk Mas Gagah, Mas Guntur juga Bapak agar waktunya cukup karena besok malam sudah harus dipakai.


Di dalam rumah ternyata sudah ada Guntur yang tengah santai menonton TV di ruang TV. Karena ruang TV dan tempatku menjahit sangat dekat. Guntur mengeser tempat duduknya agar bisa mengobrol denganku.


"Nay, kamu sedang buat apa?" tanyanya sambil makan kripik kentang.


Hadeh, ya jahit lah masa ngadon kue, kadang-kadang yah pertanyaannya suka basa basi.


"Ngadon kue"


"Hah." Mas Guntur melongo lalu tertawa.


Dih aneh banget sih nih adiknya suamiku๐Ÿ˜๐Ÿ˜.


"Ya sudah tahu ini mesin jahit bukan mixer kenapa masih tanya sih"


"Nay, kok kamu bisa mau sih nikah sama kakakku yang belum kamu kenal sepenuhnya?" pertanyaan Mas Guntur mulai kepo ke masalah pribadi.


Haduh dasar adek gak ada akhlak, Nay...Nay terus manggilnya, kan aku kakaknya.


Mas Guntur malah tertawa, "Ih, aneh ih kalau panggil itu, aku panggil kakakku saja ya Gagah"


"Ih emang ya gak ada sopan santun"


Mas Guntur tertawa, " Jawab Nay yang tadi"


Sambil menjahit aku mencoba menjawab pertanyaan Mas Guntur.


" Pernikahanku karena memang sudah takdir, jadi bukan karena mau tidak mau, kalau Allah sudah Kun Fa Yakun, kita bisa apa.


Masalah mengenal kepribadian, terkadang di dalam rumah tangga itu perkenalan itu butuh seumur hidup, yang sudah berpacaran bertahun-tahun juga terkadang tidak begitu mengenal pasangan, pas nikah eh kaget ternyata selama ini berbanding terbalik ( ya Gak pemirsah๐Ÿ˜†)"


"Ih Nay, kamu suka benar deh," Ucapnya sambil tertawa.


"Menikah itu menyatukan dua isi kepala yang berbeda, kita harus terus belajar untuk memahami pasangan, mencari jalan tengah terbaik saat isi kepala kita tak sama"


Mas Guntur mengangguk-angguk," Umur kamu berapa sih Nay, pikiran kamu tua banget"

__ADS_1


"18 tahun"


Mas Guntur tersendak keripik kentang, Mas Guntur langsung mengambil air minum yang ada di depannya. Wajahnya memerah.


"Gila, Gagah nikahin gadis belia, tapi pikirannya dewasa sih, cantik, hoki banget emang si Gagah" ujarnya sambil geleng-geleng kepala.


Aku tersenyum, apa benar sih Mas Gagah beruntung mendapatkanku. Bukannya justru terbalik yah. Aku yang beruntung mendapatkan Mas Gagah.


"Kamu cinta Gagah Nay?" pertanyaan itu membuatku seketika menghentikan mesin jahit.


Entahlah, sepertinya aku sudah mencintai Mas Gagah walaupun tidak pernah sekalipun terucap dari bibirku. Tapi bukankah cinta cukup dibuktikan saja.


Siapa yang tidak jatuh cinta dengan pesonanya, dengan kebaikan dan kelembutannya padaku. Apalagi aku dan Mas Gagah sudah sangat sering menyatukan jiwa raga.


"Nay, kok Gak dijawab?"


"Ih kepo ih"


Mas Guntur mengernyitkan dahinya.


"Mas sini aku ukur dulu badanmu"


" Buat?"


"Aku kasih umpan buaya." Ih gregeten juga lama-lama.


Mas Guntur tertawa," Sadis kamu Nay"


Mas Guntur berdiri, aku segera mengukurnya. Aku memberi tahu Mas Guntur bahwa aku akan membuatkannya kemeja batik untuk acara pesta ulang tahun mantan pacar Mas Gagah.


Mas Guntur terkejut. Mas Guntur memberi saran agar aku dan Mas Gagah lebih baik jangan menghadiri acara itu.


"Mantan itu ibarat virus di flashdisk yang susah dihilangkan Nay, ini malah ngasih umpan ke virus, gimana sih kamu,"ucapnya sambil menatapku heran.


"Ya aku hanya tidak mau terlihat posesif, nanti yang ada Mas Gagah tidak nyaman,"ucapku jujur walau terlintas rasa takut.


"Ya gak masalah posesif juga dia suamimu Nay, kalau aku ya Nay, bagiku mantan itu tulang rusuk rentalan, tau sendiri kan rentalan, kalau sudah waktunya balikin ya balikin lah, bila perlu balik sonoh ke sang khalik." Tiba-tiba Mas Guntur sedikit emosi membahas mantan, aku yakin pasti Mas Guntur ada kenangan pahit nih dengan percintaannya.


Aku memilih diam tidak meladeninya lagi. Kalau aku terus meladeninya malah jadi keterusan, jadi terbengkalai nanti jahitan. Terus juga teringat pesan Mas Gagah, jangan terlalu dekat dengan Mas Guntur.

__ADS_1


__ADS_2