Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 43


__ADS_3

Pagi ini Mas Gagah bersikap sangat romantis padaku. Bangun terlebih dahulu, menyiapkan air hangat untuk mandi, seolah-olah dirinya bertanggung jawab karena semalam lembur sampai jam 12 malam๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†.


Setelah semua keperluan mandi siap, Mas Gagah baru membangunkanku perlahan, dengan lembut penuh kasih sayang lalu menggendongku ke kamar mandi, Akhirnya berakhir mandi berdua sambil bermain air.


Seperti biasa setelahnya sholat berjamaah di kamar. Selesai sholat aku merapikan mukenah dan sajadah, begitu juga dengan sarung dan sajadah yang dikenakan Mas Gagah.


Mas Gagah mengajakku duduk di tepi ranjang, memegang kedua bahuku, menatapku. Manik mata ku bertemu dengan manik mata Mas Gagah.


" Dek, hadapilah, siap atau tidak siap masalah atau problema yang datang dalam rumah tangga ini, percayalah semuanya akan tetap baik-baik saja jika kita terus bersama Allah. Semua hal yang dirasa tidak memungkinkan untuk kita hadapi akan sangat mungkin bisa kita lalui jika kita pandai menjadikan Allah sebagai penguat untuk memulai langkah kita.


Intinya, seberapa sulit keadaan yang kini menjerat kita dalam kebingungan, jangan sampai kita menyerah begitu saja, karena seperti apapun keadaannya pasti akan berakhir sesuai dengan apa yang telah Allah tentukan. Sederhananya, semua ujian yang Allah timpakan kepada kita sudah Allah tentukan akhir pastinya, maka bersabarlah dulu menghadapinya dengan tanpa rasa takut."


Aku tersenyum, " Adek akan berani jika kita bersama-sama menghadapinya Mas, Adek tidak akan takut jika Mas selalu menguatkan Adek."


Mas Gagah mencium keningku sepersekian detik, lalu tersenyum tepat di depan wajahku. Haduh pagi-pagi sudah manis banget sih Mas. Bisa diabet ini๐Ÿ˜.


Seperti biasa selesai subuhan, aku menuju dapur membantu Ibu dan Bi Asih, lalu menyiapkan baju kantor Mas Gagah, kemudian sarapan bersama.


***


Pagi ini aku merasa sedikit berbeda, saat aku menuangkan nasi dipiring Mas Gagah rasanya perutku mual dan bergejolak. Akhirnya aku berlari ke kamar mandi dekat dapur lalu memuntahkan cairan bening karena aku memang belum sarapan atau makan apapun pagi ini.


Mas Gagah begitu khawatir, ia menyusulku ke kamar mandi, lalu memijat tengkukku. Rasa mual hebat entahlah datang dari mana padahal aku belum makan apa-apa.


" Dek, Mas panggilkan dokter yah,"ujar Mas Gagah sambil memapahku ke ruang makan.


Aku menggeleng, "Ini masuk angin sepertinya Mas, semalam kan di luar gedung angin sangat kencang."


"Nanti Ibu buatkan wedang jahe ya Nduk,"ucap Ibu.


Aku hanya mengangguk. Ibu ke dapur sebentar untuk membuatkan wedang jahe, sementara aku menemani Mas Gagah makan.


Mas Guntur berjalan ke ruang makan. Mas Guntur terlihat sudah rapi, duduk di sebelah Mas Gagah yang tengah fokus sarapan.


"Kamu tidak makan Nay,"tanyanya.


Aku menggeleng pelan, " Pagi-pagi bau nasi, bikin mual."


"Bunting kali Nay,"katanya sambil terkekeh.

__ADS_1


Mas Gagah langsung melirikku dengan ekspresi bahagia yang terpancar di wajahnya.


"Memangnya orang hamil kalau bau nasi suka mual Gun?" Mas Gagah jadi penasaran.


" Ya bisa jadi."


"Terus biasanya ciri-cirinya apalagi? muntah dipagi hari?" Mas Gagah kembali bertanya.


" Nah itu juga masuk kategori," jawabnya sambil menyendokan nasi ke piring, aku langsung menutup hidung ku.


" Terus apalagi?"


Mas Guntur melirik Mas Gagah, " Aku juga tidak tahu Gah, aku belum pernah menghamili anak orang."


Mas Gagah langsung menjitak kepala Mas Gagah, " Kan pengetahuan seperti ini tidak harus menghamili perempuan terlebih dahulu."


Mas Guntur hendak membalas dengan menjitak kepala Mas Gagah tapi Mas Gagah langsung menangkis.


"Sialan , seharusnya kamu yang lebih pinter masalah seperti ini Gah, malah tanya sama aku yang JOMBLO, kampret dasar."


Aku terkikik mendengar Mas Guntur memperjelas statusnya.


"JOMBLO nya jangan diperjelas dong, kan miris," Ledekku.


"Ya siapa tahu kamu dapat info dari temanmu yang sudah menikah, kan aku cuma tanya malah ngegas." Mas Gagah tidak mau kalah.


"Heh, aku tidak mengurusi istri orang yang sedang hamil, pacar pun tak punya, ngapain ngurusin istri orang"


Mas Gagah lagi-lagi menjitak Mas Guntur, "Maksud ku bukan itu"


Kali ini Mas Guntur membalas menjitak Mas Gagah. Ruang makan sudah ramai bagaikan perang Baratayudha. Yah perang saudara๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†. Aku sedang lemas, aku malas melerai mereka berdua. Aku tidak bisa membayangkan saat kecil mereka seperti apa, sudah tua bangka nya saja seperti ini๐Ÿ˜.


Ibu datang melerai mereka berdua sambil memberikanku wadang jahe. Aku sesap sedikit demi sedikit, ternyata lumayan membuat perutku menghangat dan tidak mual lagi.


"Noh, perkara bunting, tanyakan saja pada ahlinya,"ucap Guntur menunjuk Ibu.


"Siapa yang hamil memangnya?" tanya Ibu.


"Inayah bu,"Jawab Mas Guntur.

__ADS_1


Ibu tersenyum lebar, "Benar Nduk?"


Aku menggeleng perlahan, " Tidak bu, Eh tidak tahu juga sih Bu, ini hanya tebakan Mas Guntur yang suka ngaco."


"Periksa yuk Nay,"Ajak Mas Gagah dengan mimik muka memohon.


" Iya nanti sore saja, nanti siang aku beli tespek dulu saja Mas"


Mas Gagah mengangguk, menyetujui usulku.


Selesai sarapan Mas Gagah dan Mas Guntur berangkat ke kantor bersama. Aku mengantar sampai depan pintu seperti biasa.


Aku mencium tangan Mas Gagah, Mas Gagah mencium keningku, kedua pipiku lalu mengecup bibirku sekilas, setelah itu mengecup perutku.


Aku tersenyum, Ya Allah rasanya bahagia sekali karena Mas Gagah benar-benar mengharapkan keturuan dariku. Aku berharap semoga si mungil akan hadir diantara kita berdua agar menambah suka cita dalam rumah tangga kecil ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


( Maaf ya telat up, habis PTS, koreksi sama ngolah nilai bt bikin raport hasil PTS, jadi lebih fokus ke dunia nyata dulu ini Mak๐Ÿ™๐Ÿ™)


__ADS_2