Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 40


__ADS_3

Malam ini aku sudah bersiap-siap menggunakan gamis pesta. Aku sengaja menggunakan gamis pesta karena aku tidak mau Mas Gagah malu berdampingan denganku. Padahal kita tidak perlu yah pusingin apa kata orang,hehe😁.


Mas Gagah juga terlihat sudah rapi dengan baju batik yang aku buatkan. Setelah turun kebawah, aku melihat Mas Guntur juga sudah rapi dengan kemeja batik yang ku buatkan juga.


"Widih Nay, cantik banget,"ujar Mas Guntur memujiku. Mas Gagah langsung menjitak kepala Mas Guntur.


Yah...lagi-lagi mereka berkelahi seperti anak kecil. Aku tidak menghiraukannya karena sudah terbiasa melihat pertengkaran kecil ini.


Kami bertiga memasuki mobil Mas Gagah menuju gedung tempat pesta ulang tahun Novia. Entahlah aku malah menjadi takut saat ini, semoga ini hanya perasaan sesaatku saja.


Setelah sampai, kami bertiga langsung turun dari mobil lalu masuk ke dalam gedung. fix ini mewah sekali, ulang tahunnya saja seperti ini apalagi pernikahannya nanti.


Sudah banyak tamu undangan yang berdatangan. Mas Gagah menggandeng tanganku, sementara Mas Guntur berjalan di belakangku. Alasan Mas Guntur berjalan di belakangku agar saat aku pingsan Mas Guntur siap menompangku. Hais dasar Adek ipar Gak ada ahlak.


Saat kami bertiga masuk kedalam, Mas Gagah tiba-tiba menghentikan langkahnya. Mas Gagah menatap seseorang di sebrang sana yang sedang bersalaman pada tamu yang datang.


"Itu novia,"bisik Mas Guntur.


Deg, aku melihat ke arah Mas Gagah, Mas Gagah sedang menatap wanita itu, wanita yang sangat cantik menurutku. Cantik paripurna, kulitnya putih bercahaya, lampu kali bercahaya😁 tubuhnya tinggi langsing bak model, rambutnya panjang Curly. Ya ampun dibandingkan aku seperti nya aku tidak ada apa-apanya. Aku bagaikan remahan rengginang yang di injak kebo🤦🤦.


Genggaman Mas Gagah mulai mengendur, aku langsung mengeratkannya kembali hingga Mas Gagah terkejut.


Ya ampun Mas Gagah, bahkan saat ini sedang berada di sampingku. Tapi mata dan fikirannya tertuju pada perempuan itu. Apakabar kalau aku tidak ada disampingnya, pasti Mas Gagah sudah menghampiri wanita itu.


"Sudah puas natapnya,"sindirku sambil tersenyum kecut. Aku jadi menyesal kenapa tidak mendengarkan usulan dari Mas Guntur, harusnya memang tidak perlu kita beramah tamah dengan makhluk yang bernama MANTAN.


Mas Gagah mengelus pelan kepalaku, "Jangan cemburu berlebihan,"ucapnya.


Kami bertiga akhirnya duduk disalah satu kursi yang telah disediakan. Kami menikmati acara demi acara.


Aku berpamitan menuju toilet, Mas Gagah aku tinggal duduk sendiri. Mas Guntur juga berpamitan keluar karena ingin merokok.

__ADS_1


Sesampainya di toilet aku melihat wajahku di toilet. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang, melihat Mas Gagah saat bersamaku lebih banyak diam. Entahlah apa yang ada di fikiran Mas Gagah saat ini.


Aku mencuci mukaku agar lebih segar karena semakin malam membuatku semakin mengantuk. Aku poles bedak tabur dan lipstik warna nude yang aku bawa dalam tas kecil. Aku bercermin lagi, kali ini aku merasa terlihat lebih segar.


Aku bergegas kembali lagi ke dalam ruangan, saat hampir sampai langkahku terhenti, aku melihat jemari tangan Novia sedang menggenggam tangan Mas Gagah, mereka sepertinya sedang berbicara serius, bahkan sekarang sudah ada Ayah Mas Gagah juga di antara mereka.


Aku mencoba melangkah lagi, selangkah demi selangkah agar aku bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.


Terdengar sayup-sayup Mas Gagah yang menyalahkan Novia dan Novia yang membela diri. Novia terus memberi alasan pada Mas Gagah kenapa saat itu menolak lamaran Mas Gagah. Mas Gagah tiba-tiba menunduk terdiam.


" Sayang, aku rela jika harus menjadi yang kedua, yang terpenting aku yang utama di hatimu,"kata Novia sambil meremas jemari Mas Gagah.


Hatiku kelu, Aku yang mendengar pernyataan Novia menawarkan menjadi yang maduku, bahkan dengan panggilan sayang, padahal aku istri sah nya saja belum pernah memanggil suamiku dengan panggilan Sayang. Duh Gusti Nu Agung, kenapa yang menyakiti perempuan terkadang sosok perempuan itu sendiri. Apa Novia tidak berfikir jika posisinya di balik, apa hatinya tidak akan sakit juga.


Aku masih terdiam di belakang mereka, aku ingin mendengar jawaban Mas Gagah. Saat Mas Gagah akan menjawab tiba-tiba Ayah Mas Gagah mengatakan bahwa mereka masih saling mencintai, kenapa tidak bersatu saja. Ayah Mas Gagah juga mengatakan soal pernikahanku dengan Mas Gagah bisa diselesaikan dipengadilan.


Sudah panjang lebar Ayah Mas Gagah merendahkanku, menfitnahku dengan segala macam tuduhannya tapi Mas Gagah masih saja terdiam. Aku kecewa, luka hati kemarin pagi masih basah sekarang malah di tambah di guyur air garam,perih.


Mas Gagah menatap Novia sepersekian detik lalu menghapus air mata Novia dari pipinya.


Mataku mulai berkaca-kaca, istri mana yang tidak sakit hatinya melihat suaminya menghapus air mata perempuan lain.


Aku langsung berbalik, aku sudah tidak tahan lagi melihat ini semua. Aku berlari mencari jalan keluar dari gedung. Aku keluar gedung dengan deraian air mata yang tidak bisa aku bendung lagi.


Mas Guntur yang memang sedang berada di luar langsung menghampiriku. Aku masih saja terisak.


"Nay, kamu kenapa?"


Tangisku semakin menjadi, Mas Guntur semakin panik, lalu membawaku menepi dan duduk di taman sebelah Gedung.


Mas Guntur membiarkanku menangis. Ia lalu kembali menghisap rokok yang masih bertengger di antara jemari telunjuk dan tengahnya. Aku padahal tidak suka menghirup udara yang tercemar asap rokok, tapi kaki ku sudah lemas untuk berlari lagi.

__ADS_1


Aku tangkupkan kedua tanganku pada wajahku, aku terisak kembali.


"Seseorang yang aku sayangi melihat perempuan lain, aku gagal, aku gagal, aku tidak bisa mengambil hati suamiku sendiri,"ucapku sambil sesenggukan.


Mas Guntur mematikan rokoknya lalu duduk disebelahku.


"Gagah dan Novia maksudmu Nay?"tanyanya sambil menatapku.


Aku mengangguk,"Percuma saja aku memenangkan raganya, tapi hatinya untuk Novia, aku kalah, aku kalah."


"Nay, cinta itu bukan masalah kalah menang, cinta itu bukan peperangan. Cinta itu perjalanan, sebuah perjalanan rasa, dimana kadang ada moment kamu akan bahagia dengan suatu hal tentangnya, tapi tidak lama kemudian kamu pun akan merasa bosan dengan keadaan yang begitu-begitu saja.


Kadang sakit, kadang kecewa, kadang patah hati, kadang tergoda, iya kadang rasa itu semua hadir menggoda, tetapi kamu harus mampu menyelami rasa yang ada untuk sekedar mempertanyakan sebab apa kamu memilih mencintai dan hidup bersama," ucap Guntur dengan santai.


Aku terdiam mencerna setiap perkataan Mas Guntur. Ini pertama kalinya aku merasa cemburu, ini pertama kalinya aku kecewa, ini pertama kalinya juga aku merasakan patah hati.


"Percaya saja sama Gagah, Gagah itu orang yang berpegang teguh dengan prinsipnya,"ujarnya sambil menyalakan batang rokok yang sempat dimatikan tadi.


"Tapi, tadi Novia..."


"Gagah setia Nay, selama yang aku perhatikan, dia tidak pernah berhianat, dalam hal bisnis maupun percintaan, terkadang perempuannya saja yang tidak tahu diuntung"


Aku menatap Mas Guntur yang sedang menyesap batang rokok. Ini pertama kalinya aku mendengar Mas Guntur membela Mas Gagah dan memberitahu sisi baik Mas Gagah.


" Mau antarkan aku pulang?" tanyaku.


"Gagah bagaimana?"


"Biarkan saja, biar dia tahu kalau istrinya kecewa"


Guntur tertawa terbahak-bahak, " Hadeh, perempuan kalau sudah cemburu memang ribet"

__ADS_1


Ribet gundulmu, wanita mana coba yang tidak gusar ada wanita lain yang cantiknya paripurna, bodynya bagaikan gitar spanyol, kulitnya seputih susu menawarkan menjadi maduku.


__ADS_2