
Aku mencoba untuk melupakan apa yang terjadi hari ini. Aku fokus untuk membeli kain. Aku ingin menunjukan pada Ayah mertuaku jika aku tidak diam begitu saja di rumah. Berleha-leha bergantung pada suami. Hadeh aku yang sudah berusaha mengerjakan sesuatu yang menghasilkan uang saja masih di anggap tak pantas untuk anaknya. Apakabar jika aku hanya selonjor di depan TV.
Padahal seharusnya tulang punggung itu ya para suami, tapi entahlah, tidak di Novel tidak di dunia nyata kadang sering memandang keberhasilan itu dari segi kekayaan. Jika rumah tangga itu sudah menjadi kaya raya berarti suami istri itu berhasil. Hemm itu teori salah kaprah yang malah banyak digunakan dibanyak kalangan.
Padahal tujuan sebuah rumah tangga itu untuk menguatkan Ibadah sebagai Benteng Kokoh Akhlaq Manusia. Dalam Islam, pernikahan merupakan hal yang mulia, karena pernikahan merupakan sebuah jalan yang paling bermanfaat dalam menjaga kehormatan diri serta terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh agama.
Tapi dalam kehidupan ini jarang sekali jika pasangan suami istri tidak sholat, tidak mengaji tidak beramal soleh tidak ada yang menegur tidak ada yang nyinyiri nyrewesi 😁 tapi giliran pasangan suami istri susah melarat banyak banget yang menyinyiri, dari RT 1 sampe RT 7. Kenapa demikian, ah mana aku tahu, aku terus meracau dalam hati.
Selesai membeli kain aku bergegas ke kantor Mas Gagah. Kenapa aku tidak langsung datang ke restoran saja menunggu Mas Gagah disana. Ya karena aku masih takut nyasar🤭. Aku belum ada satu tahun di Jakarta, jalan di Jakarta bukan seperti jalan di kampung yang sudah ku hafal di luar kepala.
***
Semua orang kantor sudah mengetahui jika aku adalah pacar Mas Gagah, PACAR HALAL.
Aku membuka pintu ruangan Mas Gagah, sebelumnya aku sudah menyapa Mbak Nia, dan Mbak Nia bilang Mas Gagah ada di dalam ruangannya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsallam,"jawabnya.
Mas Gagah menengok ke arah pintu lalu tersenyum manis padaku. Aih, senyumannya itu, selalu membuat jantungku dag dig dug edan pokoknya.
Aku membalas senyuman Mas Gagah, Mas Gagah menyuruhku masuk.
Aku lalu masuk dan duduk di depan Mas Gagah. Mas Gagah bilang sebentar lagi pekerjaannya akan selesai. Mas Gagah sengaja menyelesaikan pekerjaannya karena katanya ingin mengajakku jalan-jalan lagi.
Asyik, aku senang bukan main, maklum aku tipe istri yang jarang jalan keluar. Yah aku tidak memiliki komunitas ibu-ibu sosialita. Jadi tipe-tipe istri seperti aku ini terkadang di ajak beli bensin ke pom bensin juga sudah sangat senang sekali😁.
"Sudah beli kainnya?"tanya Mas Gagah.
__ADS_1
"Sudah Mas, nih."Aku menunjukan belanjaan kainku.
"Masih mual?"
Aku menggeleng, " Sudah enakan, jahe buatan Ibu cukup mengurangi mualku Mas"
Mas Gagah melanjutkan pekerjaannya dengan serius, Aku diam-diam memotret Mas Gagah menggunakan ponselku. Jika sedang serius seperti ini gantengnya tuh jadi berlipat-lipat.
"Mas..."
" Hemm"
"Tadi Ayah ke rumah lagi"
Mas Gagah menatapku, " Ayah bicara apa?"
"Seperti biasa, menyuruh kita berpisah"
Terlihat mata Mas Gagah sudah memerah. Aku tahu di posisi Mas Gagah saat ini sangatlah sulit. Tapi ini masalah nyawa, aku tidak mau meremehkan hal ini.
Aku tidak ingin membuat pilihan untuk Mas Gagah, biarlah Mas Gagah membantu menyelesaikan ini dengan caranya. Karena istri dan orang tua itu bukan pilihan.
Jadi buat pemirsah, yang misal ada permasalahan antara pasangan dan keluarga. Jangan mempersulit pasangan, apalagi menyuruhnya memilih salah satu. Cinta keluarga dan pasangan itu adalah sebuah cinta yang berbeda wadah. Kecuali kalau istri sah sama valakor tuh baru suruh milih salah satu😁.
Diamnya pasangan bukan berarti tidak membela, tapi dengan bertahannya sebuah rumah tangga itu sudah cukup menjadi bukti cinta🤭. Apa sih yang bisa kita lakukan, SABAR, aku kasih bold nih SABAR.
Terus sabar, tetap sabar dan selalu sabar, walaupun susah. Karena Allah bersama orang yang mau bersabar
Sabar kan ada batasnya. BIG NO, belum bisa di katakan sabar jika masih ada batasnya.
__ADS_1
Mas Gagah menghampiriku, bersimpuh didekat lututuku, "Maafkan Mas ya Dek."
Aku menggeleng, " Tidak, ini bukan salah Mas, ini ujian untuk kita Mas, mungkin Allah mempunyai rencana lain dibalik ini semua"
Mas Gagah memegang tanganku lalu mengecupnya.
"Kita berjuang sama-sama ya Dek"
Aku mengangguk, lalu mengecup dahi Mas Gagah.
Aku tahu persis dalam hati kita berdua sebenarnya seperti roller coaster. Sedih, bahagia bercampur amarah. Tapi aku dan Mas Gagah meredakannya dengan saling menguatkan satu sama lain.
Mas Gagah merapikan meja kerjanya, lalu bersiap-siap pergi denganku, Jasnya ia lepas, saat ini hanya menggunakan kemeja yang lengannya ia gulung sebatas siku.
"Ayo tuan putri, mau makan dimana?"tanyanya sambil tersenyum.
Kadang aku tidak menyangka jika aku dan Mas Gagah memiliki hubungan sedekat ini. Aku menilai Mas Gagah tipe orang yang jika kalau sudah sayang tuh sayang banget, tapi jika sudah dikecewakan ya sudah, sulit untuk meyakinkannya kembali.
" Anak Mas mau makan yang berkuah nih, sepertinya segar," Ledekku sambil mengelus perutku.
Terpancar kebahagiaan di wajah Mas Gagah," Jadi benar ada anak kita disini"ucapnya sambil memeluk dari belakang sambil mengelus perutku.
"Aku belum beli tespek, lupa"
Mas Gagah memutar tubuhku agar kita berdua saling berhadapan.
"Nanti beli yah, Mas sudah tidak sabar ingin memiliki Gagah junior, pasti nanti ganteng seperti Mas,"katanya jumawa.
Aku hanya tersenyum melihat Mas Gagah begitu antusias memiliki anak.
__ADS_1
Padahal pernikahanku dengan Mas Gagah termasuk pernikahan yang tidak terencana sama sekali. Aku pernah bertanya pada Mas Gagah, biasanya di novel yang aku baca jika pernikahan seperti ini pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk melakukan malam pertama. Tapi Mas Gagah malah menertawakanku, katanya Mas Gagah adalah laki-laki normal yang bila tidur satu ranjang dengan perempuan sinyalnya mendadak sangat kuat. Pemancar sinar tidak bisa di kendalikan dengan baik😁😁. Dasar suami mesumku ini😆.
Aku dan Mas Gagah memutuskan untuk makan di tempat soto Kudus yang Mas Gagah rekomendasikan karena aku memang benar-benar ingin makan makanan yang berkuah.