
Pagi ini Aku, Ibu, Mas Gagah dan Mas Guntur sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Kinar pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah. Tidak rela di tinggal olehku atau ingin melihat Mas Guntur mumpung masih disini juga mungkin,hehe.
Saat barang-barang sudah dimasukan kedalam bagasi mobil, Kinar memelukku, matanya mulai berkaca-kaca. Kinar lalu melepaskan pelukannya lalu menghampiri Mas Gagah.
"Tolong jaga sahabatku Mas, jangan sakiti atau apalah,"ucap Kinar pada Mas Gagah.
Kini aku yang memeluk Kinar, " Makasih banyak ya Kin, aku selalu merepotkan mu"
Kinar mencubit pipiku," Kita sudah seperti saudara kandung, jangan bicara seperti itu"
Mas Guntur menghampiri Kinar, " Setelah lulus aku tunggu kamu di Jakarta, aku akan siapkan pekerjaan yang baik untukmu"
Kinar mengangguk malu, ah jadi curiga kenapa Kinar main angguk-angguk saja. Tapi tak apalah, toh setelah kuliah biasanya kan sulit mencari pekerjaan jika sudah ada teman yang bisa membantu ya harus di terima dong.
"Sekarang kita berteman dulu saja"ucap Mas Guntur sambil menunjukan jari kelingkingnya pada Kinar.
Kinar pun langsung menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Mas Guntur.
"Ehm... temen jadi demen maksudnya gitu Gun"Ledek Mas Gagah.
"Ya itu mah, tergantung takdir Tuhan saja Gah"
Aku melihat ada raut kesedihan di wajah Mas Guntur. Aneh sih seorang playboy tiba-tiba kaya sedih gitu.๐๐
Akhirnya kami semua masuk kedalam mobil. Ibu menitipkan rumahnya pada Kinar seperti biasa.
Aku duduk dengan ibu sedangkan Mas Guntur dengan Mas Gagah di depan agar mudah saat bergantian menyetir.
Aku melambaikan tanganku pada Kinar demikian juga Kinar. Aku dan Ibu tidak lupa membaca doa naik kendaraan.
Subhaanalladzii sakkhara lanaa hadza wama kunna lahu muqriniin wa-inna ilaa rabbina lamunqalibuun.
Artinya : "Maha suci Allah yang telah menundukkan untuk kami (kendaraan) ini. Padahal sebelumnya kami tidak mampu untuk menguasainya, dan hanya kepada-Mu lah kami akan kembali. "
Di perjalanan aku malah tertidur pulas. Yapz aku lelah kemarin sore setelah pertempuran sengit dengan Mas Gagah. Malamnya kita berdua melanjutkannya lagi hingga jam 11 malam aku baru bisa tertidur. Itu juga karena Mas Gagah kasihan melihatku kelelahan.
Benar-benar yah suamiku ini, 1 bulan ini jatahnya benar-benar di rapel malam tadi bahkan dia bilang masih kurang dan harus di ganti dimalam-malam berikutnya. Ya aku hanya mengangguk pasrah.
***
Tak terasa akhirnya sampai juga di Jakarta. Sebelum melanjutkan perjalanan ke rumah aku dan yang lainnya berhenti sejenak di masjid untuk melaksanakan sholat Ashar.
__ADS_1
Perjalanan hari ini cukup lancar, tidak macet jadi ashar ini sudah sampai Jakarta dengan selamat.
Setelah sholat Ashar, Mas Guntur bergegas mengendarai mobilnya pulang ke rumah. Aku terkejut karena di depan pintu utama aku melihat ayah Mas Gagah sudah bertengger disana.
Saat mobil sudah terparkir aku sedikit ragu untuk turun. Masih ada rasa takut yang menyelimuti Hatiku. Mas Gagah turun lalu membukakan pintu untukku. Aku masih terdiam.
"Jangan takut, ada Mas"
Aku mengangguk lalu perlahan aku turun. Barang-barang yang di bawa di turunkan oleh Mang Ujang lalu dibawanya ke dalam rumah.
Aku mencengkram erat lengan Mas Gagah. Semakin mendekati pintu rumah, aku melihat senyum Pak Adi mengembang. Senyuman yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, jika sebelumnya Pak Adi akan senyum tapi senyum penuh siasat, berbeda dengan saat ini. Aku melihat senyumannya kali ini benar-benar tulus.
"Assalamualaikum"ucap Mas Gagah.
"Waalaikumsallam"Jawab Pak Adi.
Mas Gagah mencium tangan ayahnya. Sementara aku masih terdiam, aku masih belum berani untuk mencium tangan Pak Adi.
Pak Adi tersenyum lalu mengulurkan tangannya di depanku. " Nay, apa kamu tidak ingin mencium tangan Ayah."
Mendengar kata ayah dari mulut Pak Adi bagaikan musim panas yang tiba-tiba turun hujan. Nyesss banget. Ya Allah, setelah sekian tahun aku sudah lama sekali tidak memiliki sosok ayah, apakah kali ini Allah akan gantikan dengan sosok Ayah mertuaku ini.
Aku melirik Mas Gagah, Mas Gagah mengangguk dan menyuruhku untuk menjabat tangan Pak Adi. Aku segera mencium tangan Pak Adi.
Pak Adi bersimpuh di depanku. Aku langsung ikut bersimpuh juga.
"Tidak, ayah jangan seperti ini, Nay mohon"ucapku sambil mencengram lengan Ayah mertuaku dengan kuat lalu aku dan Pak Adi berdiri bersama.
"Maafkan Ayah"ucapnya tertunduk.
"Inay sudah memaafkan Ayah,"ucapku dengan lembut.
Yah, aku harus berbesar hati, Aku ingat akan Allah. Bagaimana Allah mengampuni kita. Betapa besar dosa yang kita buat, tetapi masih di ampuni.
Aku tahu bahwa Aku tidak harus menemukan alasan mengapa aku harus memaafkan orang yang menyakitiku. Itu hanya masalah hati. Hati tidak berpikir, tapi percaya saja. Aku percaya tidak ada yang terlahir jahat. Mungkin mereka hanya melangkah ke kehidupan yang salah yang membuat mereka menjadi jahat.
Memaafkan orang yang bersalah kepada kita bukan hanya membuat mereka terlepas dari rasa bersalah, tapi membuat kita semakin bersyukur karena kita masih diberi kelapangan hati untuk memaafkan orang lain.ย Justru saat kita tidak bisa memaafkan, itu hanya akan menjadi penyakit hati yang terus menggerogoti hati kita.
Ibu yang ada di belakang ku tampak matanya berkaca-kaca, Ibu juga terharu dengan apa yang terjadi saat ini.
Ayah Mas Gagah lalu menyuruh kami semua masuk. Bahkan Ayah Mas Gagah sudah menyiapkan makanan untuk kami semua. Tapi ya, tentu saja masakan Bi Asih, hehe.
__ADS_1
"Nay, ayah sudah menyiapkan pesta resepsi untuk kalian berdua, kamu katanya mau pesta resepsi menggunakan adat jawa kan?"
Aku mengangguk perlahan, "Makasih banyak yah"
"Jangan berterimakasih, ini sudah jadi kewajiban Ayah menyiapkan pernikahan untuk anaknya"
Aku tersenyum, Mas Gagah menghampiriku, " Sebelum pulang kesini, Mas sudah menceritakan semua pada ayah," Bisiknya.
Oh jadi Ayah menyambut dan menyiapkan ini semua karena sudah diberitahu Mas Gagah bahwa kami semua akan pulang ke Jakarta hari ini.
Aku menyunggingkan senyum ku lagi. Aku benar-benar bersyukur akhirnya ujian terhalang restu Ayah mertua bisa di selesaikan juga.
Sejatinya ujian merupakan proses penguatan iman dan ketakwaan seorang hamba. Yang terbaik adalah bersabar dan menerima dengan keikhlasan apa yang terjadi. Tidak perlu segala ujian disikapi secara berlebihan. Berpikir dan temukan hikmah dari semua bentuk ujian dalam kehidupan.
Sikap ikhlas, lapang dada atas ketetapan Allah SWT dan memikirkan apa yang dialami, mampu memberikan pengalaman ruhiyah yang hebat, semua itu menjadi bekal dalam menjalani kehidupan. Hidup di dunia ibarat lembaga pendidikan, nilainya ditentukan dengan tingkat kesabaran, keikhlasan, keimanan, semua memiliki bernilai, dan manfaat. Bagi siapa saja yang mampu mengambil pelajaran, kemuliaan hidup yang akan didapatkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
( Tulisan ku bau asem gak?๐ belum mandi dari pagi soalnya, mogok mandi gegara udah mandi gak di ajak jalan๐ dan kemarin sore itu akhirnya q ikut ketiduran juga, tidur ter ayu pokoknya, pke gamis gincuan, eyleneran, sedow, jilbaban๐คญ bangun-bangun mau isya, gak d bangunin coba, si doi udah bangun dari jam 4 katanya. Akhirnya bangun, mandi trs mnta jalan k tmpt jualan jajan berderet. q kya balas dendam gtu, q beli tuh smw jajanan sepanjang jalan itu, kesel hbisnya, beli minuman buble, bakso, kebab, cilor, mendoan, tahu bakso. Eh besok paginya sakit perut๐๐๐ kualat bener emang. Et jgn bilang lebih menarik cerita ku yah๐๐tabok ntr)
Jangan lupa like komen dan Vote
__ADS_1
Salam sayang
Santy puji