Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 3


__ADS_3

"Ada hal yang harus kita Relakan. Ada hal yang harus kita Lepaskan. Ada hal yang harus kita Ikhlaskan.


Karena Allah memberi apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan."


***


ALIF duduk sembari memangku laptopnya. Masih sama seperti sebelumnya, hari-harinya selalu di sibukkan dengan skripsi, lagi dan lagi. Calon dokter muda tampan itu terlalu hanyut dengan revisian.


"Diminum dulu kopinya, Lif," kata Ranti, ibunda Alif sembari meletakkan segelas kopi di meja untuk anak sematawayangnya.


Alif menghentikan aktifitas mengetiknya, diterimanya kopi itu dengan senang hati.


"Terima kasih, Bunda." Alif berdoa lalu menyeruput pelan kopi panas yang masih mengepul itu.


Bunda Ranti tersenyum lalu berkata, "Jadi kapan kamu mau menikah, Nak?"


Uhukk'


"Astaghfirullahaladzim. Pelan-pelan, Nak." Bunda Ranti memijit pelan punggung leher Alif.


"Maaf, Bun."


"Nggak papa, ini salah Bunda karena ngasih pertanyaan yang buat kamu kaget."


"Ya walaupun nggak sekali dua kali Bunda nanya seperti ini," lanjutnya lalu terkekeh.


"Bunda nggak salah. Hanya saja Alif belum siap. Maafin Alif, Bun." Alif tersenyum simpul.


Bunda Ranti tertawa kecil. "Kenapa minta maaf, Sayang? Bunda nggak maksa kamu kok. Hanya saja sekarang Ayah dan Bundamu ini udah mulai renta. Udah sepatutnya kamu memiliki pendamping hidup."


Alif menunduk dalam. Ia tahu bila bunda tidak memaksa. Tetapi dari kalimat yang Alif cerna, itu seperti mengharuskan. Lalu apa bedanya? Alif tidak tahu, yang jelas bagaimana mau menikah kalau calonnya saja belum punya.


Sebenarnya, Alif memang memiliki wajah tampan. Sangat tampan malah. Laki-laki blasteran Indonesia-Rusia ini memiliki alis yang tebal, hidung mancung bak prosotan anak paud, bibir tipis yang merah karena Alif adalah salah satu laki-laki yang sangat anti terhadap merokok. Rambut hitam kocekelatan yang lebat, garis rahang yang kokoh--bak semen tiga roda--yang ditumbuhi jenggot-jenggot tipis yang membuatnya semakin terkesan lebih maskulin dari pada mereka yang mencukur jenggotnya.


Tidak heran jika mahasiswi sebayanya pun banyak yang menyukai dirinya. Namun hal itu Alif tolak dengan tegas, karena rata-rata dari mereka bersifat agresif. Bahkan, waktu itu ada yang terang-terangan mengajak dirinya untuk pacaran. Alif tidak suka perempuan yang suka mendekati laki-laki duluan.


Alif memang tidak berniat mencukur jenggot tipis-tipisnya karena menurut yang ia ketahui memelihara jenggot adalah salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam.


Terdapat hadits shahih dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, dari hadits Ibnu Umar radhiallahu'anhuma, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, serta kitab Sunan yang lainnya, bahwa Nabi bersabda:


قصوا الشوارب وأعفوا اللحى


"Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot."


Dalam lafadz yang lain:


قصوا الشوارب ووفروا اللحى، خالفوا المشركين


"Pendekkan kumis dan panjangkanlah jenggot, bedakanlah diri dengan orang-orang Musyrikin."


Dalam Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, dari Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:


جزوا الشوارب وأرخوا اللحى، خالفوا المجوس


"Pangkaslah kumis dan biarkanlah jenggot, bedakanlah diri dengan orang-orang Majusi."


Dalam hadits-hadits ini terdapat perintah yang tegas untuk memanjangkan jenggot, memperbanyaknya, membiarkannya (tidak mencukurnya), serta memendekkan kumis. Dalam rangka membedakan diri dengan orang Musyrikin dan orang Majusi.

__ADS_1


Demikianlah syafaat Rasulullah di akhirat kelak, untuk orang-orang mukmin yang mengamalkan dan menggenggam erat sunnah-sunnah Nya.


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:


قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلا الْبَلاغُ الْمُبِينُ


Katakanlah: "Taat kepada Allah dan taatlah kepada rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban rasul(Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang."


(QS. An Nur: 54).


Insyaa Allah.


"Yaudah, Bunda ke atas dulu, ya," pamit bunda Ranti kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar.


"Iya, Bun."


Setelah kepergian bunda, Alif mulai berpikir. Memang tidak ada salahnya untuk menikah muda, dari pada harus berpacaran seperti istilah remaja zaman sekarang ini. Lagi pula, usianya bukan lagi remaja, meskipun baru menginjak 22 tahun.


Tapi, Alif akan berusaha memantapkan hatinya. Bukankah keinginan orang tuanya adalah salah satu kebahagiaannya juga? Alif menyadari hal itu. Mungkin dengan ini Ia bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Dengan cara mencarikan menantu idaman yang shalihah untuk istri dunia dan akhiratnya.


Ingatannya kembali berputar pada kejadian tempo hari lalu, dimana Ia menolong seorang gadis yang terjatuh pingsan di tengah hujan.


Nazwa.


Sepertinya Alif mulai mengaguminya.


Bagaimana kalau ia meminta gadis itu kepada Allah untuk dirinya?


Astaghfirullahaladzim. Mudah-mudahan rasa kagumku tidak melebihi rasa cintaku kepada Tuhanku, kata Alif dalam hati.


***


"DEK, Ummi panggil dokter aja, ya? Demam kamu nggak turun-turun," ujar Audy--ummi Nazwa.


Nazwa menggeleng lemah. "Nggak usah, Ummi. Ini sebentar lagi juga sembuh."


Sudah sehari semalam dari kejadian saat Nazwa pingsan dan ditolong oleh mbak Oliv dan laki-laki yang tidak Nazwa ketahui namanya hingga kini demamnya tak kunjung turun.


Sang ummi dan abi memaksa ingin membawanya ke rumah sakit, namun Nazwa menolak. Toh, ini hanya demam dan pusing biasa. Mungkin karena terlalu banyak memikirkan-- ah sudahlah.


Nazwa tidak ingin mengeluh karena sakitnya, suatu ketika ia pernah mendengar sebuah hadits.


"Janganlah kamu mencela demam, karena ia menghilangkan dosa anak Adam. Sebagaimana alat pemanas besi mampu menghilangkan karat."


(HR. Bukhari)


Dan manfaat demam menurut syariat islam, demam adalah penggugur dosa manusia. Sedangkan menurut sudut pandang medis, demam mekanisme tubuh mempertahankan tubuh dari penyakit, tetapi jika terlalu tinggi suhunya bisa berbahaya.


Nazwa tetap berusaha bersyukur karena Allah masih mengizinkan dirinya untuk merasakan sakit, mungkin selama ini ia terlalu lalai untuk mensyukuri nikmat sehatnya.


"Jangan menyepelekan sakit, Dek. Ummi takut terjadi apa-apa sama putri Ummi," kata ummi Audy. Air matanya mulai menetes.


Mungkin karena umminya, Nazwa juga jadi gampang menangis. Tapi yang namanya wanita, titik lemahnya adalah ketika dia sudah menitikkan air matanya.


Nazwa jadi merasa bersalah kepada kedua orang tuanya. Keadaan yang membuatnya merasa dilema. Dadanya sungguh sesak menyimpan luka yang di ciptakan oleh laki-laki yang bukan mahramnya itu. Ia sangat ingin menceritakan semua kepada ummi Audy, tapi kembali lagi, Ia takut akan membuat ummi kecewa.


Nazwa berusaha bangkit dan memeluk ibunya. "Ummi ...."

__ADS_1


Tak terasa matanya pun ikut menetes. Sungguh, Nazwa menyesal pernah berharap kepada laki-laki yang dulu berjanji untuk menjaga namun nyatanya memberi luka. Laki-laki yang pernah berkata, bahwa senyumnya adalah candu. Namun nyatanya, tangisnya adalah sumber kebahagiaan bagi laki-laki itu.


Astaghfirullahaladzim.


Astaghfirullahaladzim.


Astaghfirullahaladzim.


Berkali-kali hatinya mengucap istighfar, berharap Allah akan mengampuninya.


Nazwa benar-benar menyesal. Seandainya waktu bisa di putar, ia akan berusaha menahan agar tidak melakukan hal yang dilarang keras oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Ummi Audy membalas pelukan putrinya. "Dek, ceritakan pada Ummi. Sebenarnya apa yang terjadi sama kamu?"


Nazwa menggeleng pelan, sangat takut membuat ummi kecewa.


Ummi Audy melepaskan pelukan putrinya. Ditangkupnya wajah cantik namun pucat dihadapannya. "Setelah Allah, Ummi adalah tempat kamu kembali ketika kamu merasa lelah, Sayang. Jangan takut, Ummi enggak akan marah. Ceritakan pada Ummi, ya?"


Nazwa menarik nafas sebelum ia benar-benar memberanikan diri untuk menceritakan semua kepada umminya. Perihal hubungannya tiga tahun belakangan ini yang diam-diam tanpa sepengetahuan pihak keluarganya. Semua Nazwa ceritakan dengan detail sampai kejadian di mana Raka memutuskan sepihak hubungan mereka.


Umminya tersenyum, membuat Nazwa keheranan. "Ummi nggak marah?"


"Nggak, Sayang, Ummi nggak marah." Ummi Audy menggeleng pelan membuat Nazwa menjadi semakin merasa bersalah.


"Sayang ... lain kali, jangan ragu untuk cerita sama Ummi," ujarnya kemudian.


Nazwa mengangguk. "Maafin Nazwa, Ummi. Nazwa udah membuat Abi dan Ummi juga kakak menjadi kecewa. Nazwa hampir membuat kalian masuk ke neraka karena ulah Nazwa."


Ummi Audy kembali memeluk putrinya. "Istighfar, Sayang. Setelah ini, kamu sholat taubat ya. Minta ampun kepada Allah, dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi."


"Iya, Ummi." Nazwa masih menangis dipelukan umminya.


Ummi Audy membiarkan putrinya menangis. Ia tentu mengerti apa yang dirasakan oleh anak gadisnya sekarang. Biarlah setelah ini ia harus melihat Nazwa yang kuat. Ia tidak ingin setelah ini Nazwa masih menangisi laki-laki yang sudah membuatnya sakit seperti ini. Ia berusaha memberikan ruang ternyaman untuk putrinya.


Setelah merasa Nazwa sedikit tenang, ummi Audy melepaskan pelukan mereka.


"Perihal ini, Ummi nggak marah. Tapi, janji sama Allah dan juga Ummi kalau Nazwa tidak akan mengulanginya lagi?"


Nazwa mengangguk mantap. "Insyaa Allah, Ummi. Nazwa menyesal."


Uminya tersenyum lalu mencolek hidung Nazwa. "Yaudah, Ummi mau masak buat makan malam. Kamu sholat taubat dulu ya. Ba'da itu dilanjutkan dengan sholat ashar."


Nazwa mengangguk lagi. "Iya, Ummi."


"Kuatkan untuk berdiri?" tanya ummi Audy.


Nazwa mengangkat kedua tangannya membentuk gaya kekar ala animasi Popaye. "Kuat dong! Anak Abi Ahmad sama Ummi Audy itu strong semua, hehe."


Ummi Audy menautkan kedua alisnya. "Stres tak tertolong?"


Nazwa mencebik. "Ih, Ummi!"


Ummi Audy terkekeh, ia senang setidaknya senyum putrinya bisa kembali lagi.


Bersambung.


***

__ADS_1


__ADS_2