Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 17


__ADS_3

"Aku mencintaimu. Biarkan ini menjadi urusanku. Bagaimana sikapmu kepadaku, itu terserah padamu."


--Alif yang menjelma menjadi Dilan--


***


NAZWA mengerjapkan matanya ketika sinar matahari pagi menyinari dirinya melalui celah tirai kamar.


Perlahan ia bangun kemudian melirik arloji.


"Astaghfirullahaladzim!" pekiknya.


Gadis itu terkejut ketika jam sudah menunjukkan pukul 5.45 wib. Akhirnya dengan tergesa ia berlari ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sungguh! Nazwa benar-benar tak sadarkan diri saat tidur, mungkin ia terlalu lelah akibat acara pernikahannya kemarin.


Dan sialnya, kran kamar mandi di kamarnya macet. Dengan sedikit berlari, ia menuruni anak tangga menuju kamar mandi keluarganya.


Trap' Trap' Trap Trap'


Suara derap kaki itu membuat Alif yang sedang mengoleskan selai diatas roti menoleh dan mendapati wajah khas bangun tidur istrinya yang nampak terburu-buru.


"Nazwa," panggilnya.


Nazwa berhenti mendadak dengan napas memburu. Ia meletakkan telunjuknya dibibirnya sendiri. "Kak ... aku, buru-buru!"


"Mau kemana memangnya?" Ia menghentikan aktivitasnya kemudian mendekati sang istri.


"Aku kesiangan, belum sholat subuh. Kenapa Kakak nggak bangunin aku, sih!"


"Nazwa, saya pikir--"


Dengan cepat Nazwa menyela. "Ah, udah. Aku buru-buru!"


"Saya pikir noda merah di atas sprei itu menandakan bahwa kamu sedang tidak sholat, Nazwa!" kata Alif lantang dengan satu tarikan napas.


Citt!


Seketika langkah Nazwa terhenti. Matanya melebar sempurna. Dengan sigap ia membalikkan badan.


"Ma-maksud Kakak?"


Alif menggaruk pelipisnya yang tak gatal sebelum menunjuk celana tidur panjang hang digunakan Nazwa. "Itu ... anu--"


Nazwa berdecak kesal. "Anu, anu apa sih!"


"Celana kamu, eum ... merah. Makanya saya tidak membangunkan kamu, saya melihat noda itu tadi pagi," kata Alif pelan.


Badan mungil Nazwa lantas melintir ke belakang seketika.


Blush!


Pipinya sudah semerah tomat, matanya pun kian melebar saat melihat ...


"Kak Alif! Kenapa nggak bilang dari tadi, sih!" geramnya.


"Nazwa, saya sudah mengatakannya tadi," bela Alif tak mau disalahkan.


Nazwa mencebikkan bibirnya kemudian berlari ke kamarnya. Ia sempat melirik sinis ke arah Alif.


Alif yang bingung harus ngapain, akhirnya menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal. Setelahnya, ia kembali membuat sarapannya.


Sudah hampir setengah jam, namun Nazwa tak kunjung keluar dari kamarnya. Hal itu membuat Alif khawatir.


Akhirnya, dengan inisiatif otak cerdasnya, Alif memutuskan untuk membawa sarapan Nazwa ke kamar mereka.


Ia ragu, apakah harus langsung masuk? Tapi, bukankah wanita yang sedang menstruasi emosinya gampang sekali meledak? Melihat betapa geramnya Nazwa tadi, membuat Alif bergidik dan memilih untuk mengetuk pintu.


"Nazwa, boleh saya masuk?"


Tidak ada jawaban.

__ADS_1


Untuk yang kedua kalinya Alif mengetuk pintu dihadapannya, namun tetap tidak mendapat jawaban.


"Nazwa?"


Dan untuk ketiga kalinya ia menyerah dan memutuskan untuk masuk. Masalah Nazwa ngamuk itu nanti saja, yang terpenting ia harus tahu kondisi istrinya sekarng.


Alif terkejut saat melihat Nazwa meringkuk sambil memegang perut dengan kedua tangannya.


Alif meletakkan nampan yang ia bawa kemudian menghampiri istrinya. "Nazwa? Apa kamu baik-baik saja?"


Nazwa tidak menjawab. Mata gadis itu terlihat sembab dengan air mata yang terus mengalir.


Alif memegang kedua bahu gadisnya. "Astaghfirullah. Nazwa, kamu kenapa?"


Nazwa mendelik disela tangisnya. "Kakak nggak lihat?! Udah tahu sakit, masih nanya!"


Sedikit terkejut karena nada bicara Nazwa yang cukup tinggi, namun Alif memakluminya karena satu hal yang ia tahu; meladeni cewek yang sedang menstruasi, sama halnya dengan membangunkan macan betina yang sedang hamil.


Bahaya!


Garang!


Mematikan!


Oke. Alif tidak boleh panik, ia calon dokter kalau kalian lupa.


Baiklah, tenang Alif. Batinnya.


"Ayo saya bantu."


Sedetik kemudian, Nazwa sudah berada dalam gendongan Alif. Dengan hati-hati, Alif meletakkan istrinya keatas tempat tidur.


"Di-dimana ummi?" isak Nazwa masih memegang perutnya.


"Ummi dan abi pergi tadi pagi pagi sekali. Beliau cuma menitipkan pesan, kalau akan menginap dan kembali besok pagi," jawab Alif.


"Hiks ... sakit ummi ...," isakan Nazwa semakin kencang.


"Nazwa? Apa yang harus saya lakukan?" tanyanya bingung.


"Telpon ummi, hikss ... tolong."


Alif segera men-dial ibu mertuanya. Menanyakan hal apa yang harus ia lakukan sekarang.


Setelah mendapat informasi dari mertuanya. Alif bergegas berlari ke dapur, ia mencari bahan-bahan apa saja yang ia perlukan dalam kulkas.


"Alhamdulillah! Akhirnya ketemu juga," gumamnya kemudian tersenyum lebar.


Alif menggesekkan kunyit diatas parut. Berkali-kali hingga terkumpul menjadi banyak. Segera ia memeras air kunyit itu lalu merebusnya.


Tak lupa, ia menambahkan sedikit gula merah agar rasanya tidak terlalu getir. Kurang lebih begitu kata ibu mertuanya tadi.


Setelah selesai, Alif segera memberikannya kepada Nazwa. Gadis itu sudah tidak menangis, tapi masih meringis sambil memegangi perutnya.


Ia tahu diri untuk tidak membuat Alif khawatir. Tapi itu sudah terjadi.


"Ini, di minum."


Walaupun tak seenak buatan ummi, tapi dengan bermaksud menghargai, akhirnya Nazwa menenggak hingga tandas tak tersisa, kemudian memberikan gelas kosong itu kepada Alif.


Baru beberapa langkah berjalan, Alif kembali berhenti.


"Kak?"


Ia membalikkan badan seratus derajat. "Ya?"


Nazwa melirik kesana kemari. Ragu untuk berbicara.


Alif menangkap keraguan itu, dia tersenyum. "Bilang saja, Nazwa. Kamu butuh sesuatu?"

__ADS_1


Nazwa mengangguk. "Tolong belikan pembalut," katanya cepat, bahkan nyaris seperti orang ndrumel.


"Hah?"


Alif loading.


Loading Alif.


"Tolong.belikan.pembalut." Ulang Nazwa menekan setiap katanya.


Sebenarnya ia ragu, tapi bagaimana lagi. Persediaan dirumah sudah benar-benar habis.


"Oke," balas Alif lugas.


Sedikit terkejut karena dengan mudah laki-laki itu mengatakan 'oke'.


Apa dia nggak tengsin? Tanya Nazwa dalam hati.


"Ya sudah, saya berangkat dulu, ya." Alif menyambar jaketnya. "Kalau ada apa-apa cepat telpon saya. Assalamu'alaikum!"


Setelah Alif berlalu, Nazwa berusaha bangkit untuk membersihkan diri. Ia menarik dan mengganti sprei yang kotor dengan yang baru.


Bayangan Alif kembali datang. Laki-laki itu, kenapa sangat peduli terhadap dirinya? Bahkan sedari kemarin tak henti-hentinya ia mengulaskan senyum saat sedang bersamanya.


Alif sabar terhadap sikap cueknya. Baik, karena tidak memaksa apa yang seharusnya ia berikan. Dan lagi, sekarang Alif sangat perhatian ditambah wajahnya yang panik saat melihat Nazwa kesakitan.


Dan sekarang? Ia menyanggupi permintaan Nazwa untuk membelikannya pembalut? Bahkan saat 3 tahun berpacaran dengan Raka dulu, cowok itu tidak se-panik dan se-khawatir ini.


Ah. Kenapa juga dia harus membanding-bandingkan Alif dengan Raka? Perbandingannya jelas seratus delapan puluh derajat.


Ibarat singkong dan keju, maka lidah yang profesional akan mampu membedakan mana yang lebih berkualitas!


Alif kembali setelah berkeliling mencari pesanan Nazwa. Ia sempat kebingungan sebelumnya, tapi berkat bantuan petugas supermarket, akhirnya ia tidak pulang dengan tangan kosong.


Laki-laki itu mengetuk pintu kamar, takut-takut kalau Nazwa sedang berganti pakaian. Yah, walaupun sudah muhrim, tapi keadaannya sungguh tidak memungkinkan bukan?


"Masuk Kak!"


Suara itu berasal dari kamar mandi.


"Ini pesanan kamu."


Terlihat kepala Nazwa yang sedikit menyembul dibalik daun pintu kamar mandi.


"Sini," pinta Nazwa.


Alif mengulurkan bungkusan itu. "Maaf tadi lama, saya sempat bingung karena--"


"Iya nggak pa-pa!" balas Nazwa, dan ...


Blam!


Pintu tertutup begitu saja. Membuat Alif terjingkat dan mengelus dadanya perlahan.


Tidak apa-apa.


Ini tidak ada apa-apanya.


Ya, tidak ada apa-apanya.


Setidaknya, Nazwa tidak se-mengerikan Oliv saat datang bulan.


Karena, sepupunya itu bukan lagi mirip macan betina yang sedang hamil, tapi sudah mirip drakula yang siap menerkam siapapun dihadapannya.


Ia memegang dada kanannya, tersenyum seraya memejamkan matanya. Bak remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta.


Ia sangat bersyukur dan menikmati ini sekarang. Mencoba menjadi suami siaga yang bisa diandalkan oleh kekasih halal -nya.


Ah. Alif sungguh mencintai Nazwa, yaa Allah!

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2