Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 42


__ADS_3

Tangisku semakin pecah, Mas Gagah mengernyitkan dahinya.


"Ja ... di, Mas akan menceraikanku?" tanyaku dengan terbata-bata.


Mas Gagah kembali menyentil dahiku. Ya ampun kasihan banget ni dahi, bonyok lama-lama.


"Jangan bicara sembarangan"


Aku mendongakkan kepalaku menatap Mas Gagah.


Cup...


Bibirku dikecup Mas Gagah sekilas.


"Rosulullah tidak berpoligami saat dengan istri pertamanya, dan Mas tidak mampu berpoligami, Mas tidak punya bekal yang mumpuni untuk berpoligami, Mas juga tidak mau dibenci Allah karena perceraian,"ucapnya mantap.


Aku lega, lega sekali, ibarat kata nih perut mulas-mulas lalu bertemu toilet, Ah leganya😆😆.


"Jadi ... jadi Mas tidak menerima permintaan Novia kan?"


Mas Gagah menggeleng, "Eh tadinya mau Mas terima sih, tapi tiba-tiba Mas teringat dengan istri Mas yang cantik ini, Mas teringat siapa yang membuatkan baju batik ini."


Aku mencubit pinggang Mas Gagah. Ternyata tidak sia-sia aku ngebut jahit baju batik yang dikenakan Mas Gagah. Mas Gagah jadi ingat aku dan terbangun dari masalalunya.

__ADS_1


Mas Gagah mengecup pucuk kepalaku, "Adek kenapa pulang sih, Mas khawatir lhoo."


"Adek sakit hati melihat Mas dengan Novia berinteraksi begitu dekat, Adek tahu Mas sangat merindukan Novia, Adek tahu Novia itu cantik paripurna, aku mah apa atuh, cuma mamahan kerupuk."


Mas Gagah terkekeh, "Iya maafkan Mas, Mas tidak akan mengulanginya lagi, tadi itu sudah benar-benar berakhir, Mas menolak semua ajakannya."


Aku tersenyum, walaupun mataku sudah sebesar jengkol karena terus menangis, tapi kali ini aku tersenyum. Ya Allah, suamiku yang gantengnya persis seperti Pon_nawash aktor tailand yang digandrungi banyak wanita ternyata cukup setia. Benar lhoo Mas Gagah mirip sekali dengan Pon_nawash, cek saja Instagram aktor itu🤭.


Emak-emak yang mau jitak Mas Gagah silahkan mundur alon-alon😆😆 karena Mas Gagah sudah membuktikan kesetiaannya.


Seperti Rama dan Shinta, walaupun kisah percintaan mereka dipenuhi dengan halangan yang melintang, tapi mereka tetap setia pada satu cinta. Ah sweet, semoga aku dan Mas Gagah bisa demikian.


"Adek kalau dengar sesuatu itu sampai tuntas, jangan setengah-setengah, jadinya malah salah faham kan?"


"Adek kenapa bisa pulang dengan Guntur, kan Mas jadi pulang pakai taksi"


Aku terkikik lirih, Oh ya aku lupa, tadi kami bertiga menggunakan satu mobil. Ah biarkan saja, masih untung pakai taksi bukan jalan kaki.


"Mas Guntur yang tolong Adek,"jawabku.


"Guntur tidak macam-macam kan?"


Aku melirik Mas Gagah, " Jangan curigaan sama Adik sendiri, tidak baik"

__ADS_1


"Kok belain Guntur"


"Tidak membela, justru tadi itu Mas Guntur yang memberitahu Adek kalau Mas itu tipe laki-laki setia, tidak macam-macam,"ucapku jujur agar Mas Gagah tenang.


"Masa sih?" Mas Gagah mengatakannya sedikit menyunggingkan senyumnya.


Dih, padahal pasti hafal sekali adiknya seperti apa, kalian ini bertengkar hanya pura-pura kan, sebenarnya kalian saling sayang, saling mendukung satu sama lain. Andai Ibu mertua masih ada, melihat kelaluan kalian berdua yang seperti ini pasti sudah dijewer.


"Kok Mas tahu Adek pulang dengan Mas Guntur?"


"Ya tadi Guntur menelfon Mas, kamu buat Mas panik"


"Baguslah kalau Mas panik,"ledekku.


Mas Gagah langsung mencubit hidungku lalu menciumi seluruh wajahku sampai aku susah bernafas.


"Mandi ih, jorok, jangan pegang-pegang deh, ini kan tangan habis buat pegang pipi Novia, habis buat pegang-pegangan tangan Novia juga, ih awas sana." Aku mendorong dada Mas Gagah. Aku memang benar-benar kesal dan aku ingin Mas Gagah mandi terlebih dahulu.


Mas Gagah langsung beringsut dari tempat tidur, namun terhenti lalu menatapku.


"Setelah mandi, jatah seperti biasa ya,"katanya sambil mengerlingkan matanya.


Lakikku ini, setelah membuatku menangis dan berbaikan kini meminta jatah preman😁 apakah lakik panjenengan juga seperti itu pemirsah? hehehe😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2