
Allah SWT berfirman:
"dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku."
(QS. Maryam 19: Ayat 4)
***
SELEPAS terciduk sedang menyantap masakan Alif dengan lahap, hari ini Nazwa memutuskan untuk belanja beberapa keperluan dapur di minimarket terdekat.
Tak lupa meminta izin pada sang suami. Karena menurut wejangan dari Ummi; ketika istri hendak keluar rumah harus dengan izin suami atau tidak usah keluar sama sekali.
Dalam agama, hal itu juga merupakan kewajiban istri kepada suami yang harus istri lakukan.
Nazwa benar-benar akan menerapkannya dengan baik. Ia mulai mengetikkan pesan kepada Alif, bermaksud meminta izin untuk keluar membeli bahan-bahan makanan untuk mereka.
Sudah 20 menit Nazwa menunggu, namun Alif tak kunjung memberikan balasan. Bahkan membacanya saja tidak, padahal jelas-jelas laki-laki itu sedang online, terbukti dengan ceklis dua pada pesan yang Nazwa kirimkan tadi.
Dalam hati ia mencibir. Sebegitu sibuk Alif sampai tidak sempat membaca chat yang ia kirim.
Akhirnya, Nazwa memutuskan untuk keluar ke apartemen menuju minimarket terdekat.
Hanya membutuhkan waktu 5 menit untuk menjangkau minimarket itu.
Segera Nazwa mencari apa saja yang ia butuhkan. Mulai dari sayuran, buah-buahan, perlengkapan mandi dan yang lainnya. Itu semua Nazwa beli dengan takaran yang sesuai--tidak banyak juga tidak sedikit.
Nazwa sadar satu hal. Meskipun ia tidak menyukai perjodohan ini, tapi ia tetap memiliki hati nurani. Ia tidak mau terlalu boros. Terbesit sedikit rasa kasihan mengingat status suaminya yang masih mahasiswa itu.
Dan, ia tidak ingin terlalu banyak membebani kedua orang tua sekaligus mertuanya karena sekarang merekalah yang membiayai seluruh kebutuhan keluarga baru itu. Setidaknya hal itu berlaku sampai Alif menyelesaikan study-nya.
Setelah membayar semua belanjaannya, Nazwa melangkah keluar bermaksud untuk pulang ke apartemen.
"Jalan kaki aja deh. Itung-itung olahraga," gumamnya.
Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat sepasang kekasih yang sedang tertawa bahagia di seberang jalan. Matanya menyipit, memastikan bahwa apa yang ia lihat adalah benar.
Hatinya berdesir nyeri saat melihat laki-laki yang beberapa tahun belakangan menemani hari-harinya kini tengah bergandengan dengan wanita lain.
Tampak wajah mereka yang berbinar bahagia. Sesekali laki-laki itu mengecup puncak kepala sang gadis yang tengah menggenggam erat tangannya dan bergelayut manja di lengannya yang kokoh.
Tangan itu adalah ...
Tangan yang dulu Nazwa impikan untuk menjabat tangan abinya di depan para saksi.
Tangan yang dulu Nazwa harapkan untuk tetap mengisi sela-sela jarinya ketika suka maupun duka.
Dan, tangan yang dulu Nazwa harapkan akan tetap menggenggam erat tangannya sampai genggaman tersebut terlepas karena ketetapan-Nya.
Namun lagi-lagi ia harus menelan pahit kenyataan yang ada. Nyatanya selama ini hanya dirinya yang mencintai. Selama ini hanya dirinya yang memperjuangkan hubungan terlarang itu.
Ya. Laki-laki itu adalah Raka yang bersama seorang gadis berambut panjang.
Tanpa terasa matanya mulai memanas melihat kejadian itu. Plastik-plastik yang sedari tadi ia genggam kini mulai diremas dengan kuat-kuat.
Nazwa tidak munafik. Ia mengakui bahwa dirinya belum bisa melupakan Raka. Ia tahu ia bodoh masih belum bisa melupakan kenyataan bahwa Raka sudah menyakitinya sebegitu dalamnya.
"Nazwa?"
Sejenak gadis itu menoleh saat namanya di panggil. Lebih tepatnya memaksakan sebuah senyum lalu kembali menunduk.
Alvin tersenyum sekilas, meskipun sahabatnya itu akan selalu saja menunduk. "Kamu ngapain dipinggir jalan? Sendirian lagi. Ke mana suami kamu?"
"Mas Alif kuliah," jawabnya masih menunduk.
"Wa," panggil Alvin lagi. "Lihat itu cepetan!" Alvin menunjuk ke sembarang arah supaya Nazwa mendongakkan wajahnya.
Dan benar saja, pancingannya pun berhasil.
"Apa? Nggak ada apa-apa,"
__ADS_1
"Kamu ... nangis?" tanya Alvin tak mengindahkan pertanyaan Nazwa.
Dengan cepat Nazwa menggeleng dan tertawa sumbang. "Apaan sih, Vin? Siapa coba yang nangis. Sok tahu kamu."
Alvin berdecak kesal, sahabatnya selalu begini. "Nggak usah bohong, Wa. Aku tahu kamu tadi nangis, 'kan? Ayo, bilang sama aku siapa yang bikin kamu nangis? Biar aku hajar tuh orang."
"Vin! Aku 'kan udah sering bilang, jangan pakai kekerasan buat nyelesaiin masalah."
Tapi, hal ini yang Alvin sukai dari Nazwa. Ia selalu menceramahi dirinya habis-habisan ketika mendapati dirinya habis berkelahi. Lantaran tak mau terjadi sesuatu yang berbahaya pada dirinya. Tapi ... ya, hanya sebagai sahabat.
"Iya, iya, maaf." Alvin memutar bola matanya. Kemudian tak sengaja matanya menangkap sepasang kekasih tadi.
Dia bergumam seraya menyeringai. "Jadi itu yang bikin kamu nangis?"
"A-apa?" Nazwa gelagapan.
"Ngapain sih masih nangisin itu cowok brengsek?" tanya Alvin geram. "Kamu harusnya nggak kayak gini, Wa. Ingat, kamu udah punya suami."
Nazwa menunduk dalam-dalam. Ia juga tak tahu kenapa perasaannya sangat lemah begini.
"Vin, ini nggak semudah yang kamu bilang," lirih Nazwa.
"Terus apa lagi sekarang?" Alvin tertawa sinis. "Aku pikir kamu nangis di pinggir jalan karena Alif nggak memperlakukan kamu dengan baik, tapi ternyata, kamu malah nangisin cowok brengsek kayak dia!" Alvin menunjuk kearah dimana Raka berada.
Nazwa semakin terisak lantaran ia tidak pernah melihat Alvin semarah ini. Mereka melupakan fakta bahwa mereka masih berdiri dipinggir jalan. Orang-orang yang berlalu lalang pun banyak yang memperhatikan kedua insan itu.
"Maaf," cicitnya.
Alvin memejamkan mata berusaha meredam emosinya. "Jangan kayak gini, Wa. Ingat status kamu sekarang bukan lagi gadis, tapi seorang istri."
"Makasih, Vin," ucap Nazwa sambil mengangguk.
"Kamu pasti bisa lupain dia." Alvin memberi semangat. "Minta sama Allah dan jangan berhenti untuk berdoa. Sesungguhnya kita nggak akan merasakan kecewa ketika berdoa kepada-Nya."
Nazwa tersenyum haru. Beruntungnya ia dipertemukan dengan orang-orang baik ketika zaman sudah semakin tua ini.
Benar kata Alvin, ia tidak boleh seperti ini.
***
Ia mencari kesana kemari, bertanya pada satpam, tetangga apartemennya dan orang yang berlalu lalang disekitar apartemennya.
Sekarang ia benar-benar pusing karena Nazwa menghilang dengan tiba-tiba.
Atau jangan-jangan Nazwa kabur?
Ah, mana mungkin?
Walaupun Alif tahu kenyataan bahwa gadis itu tidak menyukai perjodohan mereka, tapi Alif yakin jika Nazwa bukanlah gadis seperti itu.
Yang suka melarikan diri dari masalah, misalnya.
Karena tidak menemukan keberadaan sang istri. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari area apartemen.
Mungkin Nazwa ada di sekitar sini. Pikirnya.
Tapi ia tidak menemukan Nazwa di mana-mana.
Ia segera menuju mobilnya kemudian mengendarai dengan kecepatan lambat. Sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, siapa tahu ia menemukan istrinya.
"Kamu di mana Nazwa," gumamnya lirih.
Tenggorokannya terasa kering. Alif memutuskan untuk membeli minuman di sebuah minimarket terdekat. Setelah itu ia bermaksud akan kembali ke dalam mobilnya.
Namun langkahnya terhenti saat ia menabrak seorang wanita.
"Astaghfirullahaladzim," ucap wanita itu saat barang belanjaannya jatuh berserakan.
Alif terkejut melihat hal itu. "Maaf, maaf Mbak, saya nggak sengaja," ucap Alif sembari membantu membereskan belanjaan yang berserakan akibat dirinya.
__ADS_1
Wanita itu mendongak. "Loh, kamu!"
Tak kalah terkejutnya, Alif pun membalas. "Mbak Oliv?"
Wanita yang ternyata adalah Oliv tadi langsung berdiri dengan tangan yang bersidekap. "Beresin! Mbak nggak mau tahu."
"Ck. Iya, iya, ini juga lagi di beresin," gerutu Alif.
"Iya dong! Harus. Makanya jangan sembrono kalau lagi jalan."
"Udah hamil masih aja galak," cibir Alif pelan.
Tapi, tentu saja Oliv mendengarnya. Karena telinganya masih berfungsi dengan baik. "Jangan ngedumel kamu."
"Nih!" Alif menyerahkan barang belanjaan tersebut.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Oliv setelah menerima barang belanjaannya.
"Mbak sendiri ngapain di sini?" balas Alif.
"Ini anak kebiasaan, ya! Di tanya malah balik nanya," omel Oliv.
"Eh, sebentar! Kata Om Hanan kamu udah nikah, ya? Mana istri kamu? Aduh, maafin Mbak, ya, Lif. Waktu itu Mas Farid masih ada kerjaan di Singapura makanya kami nggak bisa pulang pas kamu nikah," sesal Oliv dengan mata sendu.
Tadi marah-marah. Sekarang sedih. Mood ibu hamil memang berubah-ubah. Alif paham itu.
Berbicara soal istri, Alif langsung teringat dengan Nazwa yang masih belum ia temukan.
"Nanti aku ceritakan. Sekarang Mbak bantu aku, ya. Buruan," katanya dan langsung menarik tangan Oliv.
"Eh, eh! Mau ke mana, sih?"
"Kita mau kemana, sih, Lif?" tanya Oliv saat mereka sudah di perjalanan.
Wanita itu kesal, karena sedari tadi keponakannya itu hanya diam dengan raut wajah khawatir tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Alif tidak menjawab dan masih fokus mengemudi.
Dan detik itu juga, hidupnya serasa kembali saat melihat sang istri tercinta yang sedang menggenggam beberapa plastik belanjaan.
"Itu istri aku."
"Eh?"
Saat Alif hendak membuka pintu mobilnya tiba-tiba niatnya terhenti saat melihat istrinya tidak sendirian.
Melainkan bersama seorang laki-laki.
Parahnya, mereka sedang tertawa ringan.
Di pinggir jalan.
Berdua.
Tanpa sadar, Alif mencengkeram erat kemudinya.
Ia terbakar cemburu.
Astaghfirullahaladzim ...
"Lif?"
"Kita pulang Mbak," katanya.
Menyadari perubahan wajah dingin milik Alif, akhirnya Oliv pun menoleh ke tempat dimana seorang perempuan berjilbab ungu muda yang sedang duduk membelakangi mereka dengan seorang laki-laki dengan jarak terpaut 2 meter.
Oliv menghela napas. "Jamu jangan cepat ambil kesimpulan sendiri, Lif. Nanti coba tanyakan dulu kebenarannya sama istri kamu, setidaknya kamu harus dengerin dulu penjelasan dari dia."
Alif diam membisu, masih mencengkeram erat kemudinya. Hal itu membuat Oliv membuang napas pelan.
__ADS_1
"Ayo kita pulang," kata Oliv akhirnya.
Bersambung.