
"Diam-diam, aku selalu menyebut namamu dalam doa. Hingga nanti saatnya tiba, ku titipkan rasaku hanya pada-Nya."
-Muhammad Alif Diafhakri-
"Untukmu yang sedang menunggu, jangan khawatir. Jodoh pasti bertemu."
-Nazwa Zifara Navitri-
***
ENAM minggu kemudian..
"Wa. Nggak nyangka, ya, seminggu lagi kita udah UNBK," ucap Acha sambil membolak-balikkan halaman di buku yang ia baca.
"Iya. Alhamdulillah, ya. Nggak kerasa cepat banget tiga tahun terakhir ini. Padahal, kayaknya baru kemarin kita berangkat sekolah pakai kalung dari bumbu dapur." Nazwa terkekeh di akhir kalimat.
Acha tertawa. "Iya. Aku ingat waktu itu kamu pakai topi-topian dari daun nangka, 'kan?"
Tawa Acha kian mengeras, membuat Nazwa memberengut sedikit kesal. "Dari pada kamu. Pakai topi dari karton. Udah gitu pakai acara dibentuk mirip toga pula."
Giliran Nazwa yang tertawa, tapi kali ini Acha ikut tertawa.
"Nggak papa. Waktu itu kita sama-sama cantik, 'kan?" Acha tertawa geli.
"Ngomongin toga ... habis lulus nanti, kamu jadi kuliah ambil jurusan kedokteran?" tanya Acha tiba-tiba.
Nazwa mengangguk. "Insyaa Allah kalau Allah berkehendak, aku mau ambil dua cabang jurusan."
"Sama jurusan apa?" tanya Acha antusias.
Nazwa berusaha menahan senyum. "Ada deh."
Dengan rasa penasaran, Acha menarik kemeja putih panjang Nazwa. "Ih, Wawa ... Aku penasaran nih. Kasih tahu nggak?"
Nazwa tertawa ringan. "Jadi sekarang kamu lagi ngancem aku nih?" candanya.
"Nazwaaaa! Aku serius!" kesal Acha.
Nazwa terkekeh. "Sama kayak cita-cita kamu."
Acha sedikit kaget lalu kemudian tersenyum senang, disertai dengan binar di matanya. "Maasya Allah! Kalo kayak gini, lebih baik aku doakan kamu supaya nggak lolos di kedokteran aja deh. Biar nanti di farmasi aja sama aku."
Dengan tampang sewot Nazwa menjawab. "Ih, nggak bisa gitu dong! Kamu harus tetap mendoakan aku supaya aku bisa masuk kedokteran."
Acha tertawa nyaring. "Ya nggak papa dong. Kan nanti kita bisa satu kampus. Wlee!"
"Tapi aku pengen jadi dokter, Acha," kesal Nazwa.
"Iya deh iya. Aku pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu."
"Nah, gitu dong!"
Tett ... tett ...
"Yaudah. Mau ke kantin? Udah bel tuh."
"Berangkat!" jawab Nazwa cepat.
Keduanya berjalan hendak menuju kantin. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah suara menginterupsi langkah kaki mereka.
"Nazwa! Acha!"
Kedua gadis itu kompak menoleh ke belakang, dan menemukan sosok laki-laki yang berlari tergopoh-gopoh ke arah mereka.
"Alvin. Kamu ngapain sih, lari-lari?" tanya Acha kepada laki-laki tadi.
__ADS_1
Informasi untuk kalian. Inilah Alvin Anggara Putra. Satu-satunya sahabat laki-laki di antara Nazwa dan Acha. Mereka bertiga memutuskan untuk bersahabat semenjak pertama kali masuk kelas 11.
Kala itu pemilihan jurusan, Nazwa memilih jurusan IPA dan akhirnya bertemu dengan Acha juga Alvin. Mereka bersahabat akrab dan berusaha saling membantu satu sama lain.
"Kalian tuh! Aku panggil-panggil dari tadi nggak nengok. Jadi maunya di kejar-kejar dulu baru mau nengok, ya." Alvin protes dengan napas yang masih ngos-ngosan.
"Kapan kamu manggil kita? Lagi pula, dari tadi kamu nggak ada di kelas. Ke mana aja, sih?" Kali ini Nazwa angkat bicara.
"Aku habis main futsal sama teman-teman yang lainnya," jawab Alvin. "Kalian mau ke mana?"
"Kami mau ke kantin. Kamu ikut?" giliran Acha bertanya.
Alvin mengangguk antusias. "Kali ini aku mau traktir kalian berdua."
"Beneran?" ucap Nazwa dan Acha kompak.
Alvin mengangguk lagi. "Giliran gratisan aja kompak banget ini bocah dua."
"Tapi ... aku nggak percaya deh. Kamu 'kan anak kost. Dapat uang dari mana coba? Secara, ya, ini 'kan masih akhir bulan. Nggak mungkin 'kan kalau ayah kamu udah kirim," celetuk Acha tiba-tiba.
Alvin melotot tak terima. "Su'udzon ya kamu!" katanya lalu mengacak puncak kepala Acha yang tertutup jilbab.
"Ih! Jangan pegang-pegang!" ketus Acha.
Alvin terkekeh. "Aku dapat uang saku tambahan karena aku udah kerja sampingan sekarang."
"Beneran? Kerja di mana?" Nazwa yang sedari tadi diam mulai bertanya antusias.
"Di Cafe Laper Banget."
Nazwa ber-oh ria. "Yang dekat tempat kost kamu itu, ya?"
Alvin mengangguk. "Jadi ... masih nggak percaya nih, kalau uang aku halal?" tanyanya sambil melirik sinis ke arah Acha.
"Udah! Udah! Coba deh kalian ini akur sekali aja. Awas loh, bisa-bisa kalian malah jodoh beberapa tahun ke depan nanti."
Pipi Acha malah memerah bak kepiting rebus. "Aku nggak mau ya nikah sama cowok rese' kayak dia," kata gadis itu. Matanya melirik ke arah Alvin.
Yang dibilang rese' pun nggak terima. "Kamu pikir aku mau nikah sama cewek cerewet kayak kamu?"
Haduh! Pusing princess Nazwa! Butuh kesabaran ekstra untuk melerai perdebatan kedua makhluk dihadapannya ini.
"Kalian jadi ke kantin nggak, sih? Aku tinggal nih," kata Nazwa.
"Ikut!" seru Acha.
"Eh, kok aku di tinggalin?! Kan aku yang bayar!" teriak Alvin sembari berlari kecil untuk menyusul kedua wanita tadi.
Nazwa memutar malas kedua bola matanya, sedangkan Acha malah menjulurkan lidah bermaksud mengejek Alvin.
***
JAM mata kuliah sudah berakhir. Laki-laki itu memutuskan untuk berkunjung ke rumah sahabatnya yang kurang lebih sudah 8 tahun lalu mereka tidak bertukar kabar.
Segera ia merapikan buku-buku beserta laptopnya. Setelah memastikan semuanya sudah masuk ke dalam tas, segera ia keluar area kampus untuk menuju mobilnya di parkiran.
Laki-laki itu mengemudikan mobilnya dengan tenang, nampaknya sebuah keberuntungan berpihak padanya, karena hari ini jalanan tidak begitu macet seperti biasanya.
Ia memutar rekaman surah Ar-Rahman melalui fm modulator di mobilnya. Sembari menghafal untuk jodohnya kelak. Laki-laki itu memiliki sebuah harapan. Yaitu; menjadikan surah Ar-Rahman sebagai mahar untuk calom istrinya.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Itu adalah ayat suci yang paling menggembirakan dan yang paling ia sukai. Yang mana artinya. "Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Ia tersenyum kala mengingat sosok gadis yang belakangan ini selalu memenuhi pikirannya.
__ADS_1
Beberapa kali pula, ketika ia bangun tengah malam, ia selalu mendoakan gadis itu di atas sajadahnya. Berharap gadis itulah tulang rusuk yang selama ini ia cari.
Tiba-tiba ia melihat sosok wanita yang ia hindari beberapa hari terakhir ini.
Terlihat wanita itu menangis di pinggir jalan.
Antara syok dan bingung karena dihadapan wanita itu ada seorang laki-laki yang umurnya di perkirakan sekitar 40 tahunan. Sepertinya ada keributan yang terjadi di antara keduanya.
Tidak ingin ikut campur, ia hanya menyaksikan perdebatan kedua insan itu dari dalam mobilnya. Namun, beberapa detik setelahnya ia keluar ketika melihat laki-laki tadi bermain tangan kepada wanita tadi.
Perlu di garis bawahi, ia berupaya menjadi laki-laki yang tidak kasar apa lagi sampai bermain tangan kepada wanita. Karena baginya, wanita adalah makhluk lembut yang menggunakan hati dalam segala hal. Wanita harus disayangi dan dihormati. Terlebih ia juga dilahirkan oleh seorang wanita.
"Apa begini cara Anda memperlakukan wanita, Pak?" tanya Alif menghampiri kedua insan tadi.
Wanita yang menangis tadi segera berlari dan berlindung di belakang tubuhnya.
"Alif!" Isak wanita itu yang ternyata adalah Laras.
"Kamu siapa, hah?! Beraninya kamu mencampuri urusan saya dengan wanita jalang ini!" teriak bapak-bapak itu sambil berusaha menarik tangan Laras dari belakang tubuh kekar Alif. Namun, Alif berusaha menghalanginya.
"Minggir kamu! Biar saya bawa ke kantor polisi wanita ini! Seenaknya saja dia sudah menghabiskan uang saya, giliran sekarang mau saya nikahin malah nggak mau! Padahal di perutnya sudah ada anak saya, tapi dia ngotot ingin menggugurkan!" jelas bapak-bapak itu.
Alif sedikit tersentak dengan pernyataan laki-laki dihadapannya.
Bukannya su'udzon, tapi ia sudah bisa menebak permasalahan yang terjadi di antara mereka. Mengingat betapa agresifnya Laras kepada lawan jenis.
Tapi, ia juga tidak menyangka, bahwa wanita berpendidikan seperti Laras Kyle akan melakukan hal yang sama sekali tidak mencerminkan bahwa dirinya adalah wanita yang berpendidikan.
Sebenarnya Alif sudah merasa jengah jika harus berurusan dengan Laras. Tapi kali ini ia berusaha melakukannya dengan ikhlas, menolong dengan ikhlas, mengingat Laras adalah seorang muslim sama seperti dirinya.
"Istighfar, Pak. Jika memang ada permasalahan, Bapak selesaikan dengan cara baik-baik. Tapi jangan di tempat umum seperti ini, apa lagi dengan wanita, Bapak nggak sepantasnya berlaku kasar kepada wanita," ucap Alif berusaha memberi pengertian kepada laki-laki paruh baya dihadapannya.
"Persetan! Saya nggak peduli! Wanita apa yang tega ingin menggugurkan kandungannya, hah?!"
Alif terdiam. Memang benar ucapan laki-kaki itu.
"Heh! Kamu!" Pria tadi menunjuk Laras. "Saya tunggu kamu di rumah jam 5 sore nanti. Kalau kamu nggak datang, saya nggak akan segan-segan melakukan hal yang buruk untuk kehidupanmu. Dan jangan pernah berpikir untuk kabur, karena saya pasti akan tetap menemukan kamu!"
Bapak-bapak itu kemudian pergi meninggalkan Alif dan Laras yang masih menangis.
Alif membalikkan badan. Ia tersentak saat tiba-tiba Laras memeluknya dengan sangat erat dihadapan umum seperti ini.
Dengan sekuat tenaga Alif berusaha melepaskan pelukan Laras, namun sepertinya tenaga wanita ini cukup kuat.
"Ras, lepas! Kita bukan mahram!"
Laras menggeleng keras sembari menangis. "Tolong aku, Lif. Aku takut."
"Nasi sudah menjadi bubur, kamu harus menyelesaikan permasalahanmu sendiri. Aku rasa kamu sudah cukup dewasa untuk menilai mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk hidupmu," kata Alif.
"Lepas, Ras!" teriak Alif.
Laras malah memeluknya kian erat.
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Astaghfirullahaladzim.
Alif beristighfar berkali-kali dalam hatinya. Hingga sebuah suara yang sangat ia kenali mengagetkannya.
"Alif! Apa yang kalian lakukan, hah?!"
Bersambung.
__ADS_1