
Aku terkejut mendengar suara Adzan Dzuhur berkumandang, ternyata aku ikut tertidur bersama Mas Gagah. Mas Gagah masih di posisi memelukku. Aku membangunkan Mas Gagah perlahan, Mas Gagah hanya menggeser tubuhnya sebentar lalu matanya terpejam kembali.
Aku terbangun dan aku bermain-main menarik rambut keriting di kaki Mas Gagah. Aku tarik perlahan, aku seketika tergelak.
"Sayang, sakit ih."Protesnya. Tapi aku masih saja tetap menarik-narik rambut di kakinya sebelum Mas Gagah terbangun.
"Sayang"
"Bangun dong"
"Iya, iya"
Mas Gagah langsung terbangun lalu memelukku, kepalanya ia sandarkan dibahuku.
"Ini bahu ternyaman setelah Almarhum ibu"
Aku tersenyum lalu mengelus pipi Mas Gagah.
"Doakan Ibu Mas, hadiahkan Ibu dengan istighfar, jodoh, rizki, maut hanya Allah yang tahu, jadi kita doakan saja Ibu"
Mas Gagah mengangguk. Aku dan Mas Gagah ke belakang, Mas Gagah ingin mandi terlebih dahulu dan aku menunggunya untuk melaksanakan sholat berjamaah. Setelah selesai mandi, aku dan Mas Gagah sholat Dzuhur berjamaah dengan Ibu juga sementara Mas Guntur belum bangun.
Selesai sholat baru Mas Gagah membangunkan Mas Guntur dan menyuruhnya sholat. Jika Mas Gagah agak sulit jika di bangunkan berbeda dengan Mas Guntur, Mas Guntur langsung terbangun seketika. Entahlah mungkin Mas Gagah mempunyai trik khusus membangunkan Mas Guntur.
Mas Guntur bergegas ke kamar mandi, mandi lalu sholat. Mas Guntur selalu protes dengan Mas Gagah karena selama di Indonesia Mas Gagah selalu menyuruhnya sholat. Menurutnya karena sudah terbiasa sholat Mas Guntur jadi merasa aneh untuk menjadi playboy lagi. Masa playboy alim gitu๐๐๐.
Aku sedang duduk diruang tamu berdua dengan Mas Gagah. Aku meminjam ponsel Mas Gagah, entahlah tiba-tiba aku ingin mengeceknya saja, tiba-tiba aku seperti sedikit posesif padanya. Sebulan tidak bertemu ada apakah didalam isi ponsel Mas Gagah.
"Mas, pinjam ponselnya"
Tanpa berfikir ataupun berdebat, Mas Gagah langsung memberikannya padaku. Padahal aku sedikit deg-degan, aku takut setelah mengeceknya akan terjadi perang mahabarata ๐. Tapi sudah terlanjur, saat ini ponsel Mas Gagah ada dalam genggamanku. Sebelum membaca isi WhatsApp nya aku baca taawudz dulu. Berjaga-jaga agar hatiku tidak kesetanan tiba-tiba๐คญ.
Haish, benar saja, banyak sekali nama perempuan mengechat Mas Gagah. Semula aku meradang tapi setelah itu aku tersenyum karena tidak ada satupun chat dari perempuan-perempuan itu di balas oleh Mas Gagah, hanya chat ku saja yang di balas.
"Mas, ini WhatsApp apa asrama wanita sih,"ucapku pura-pura sinis.
Mas Gagah mengernyitkan dahinya," Yee enak saja asrama wanita"
"Ya habisnya lihat saja itu, semua chat dari perempuan"
"Ya, yang terpenting Mas tidak membalasnya"
" Ih kalau ada syetan lewat terus Mas balas bagaimana hayo"
Seketika itu juga Mas Guntur lewat didepan Aku dan Mas Gagah.
"Ini paling syetan lewatnya,"ucap Mas Gagah sambil tertawa.
"Sembarangan emang kamu Gah." Mas Guntur duduk sebrang Aku dan Mas Gagah.
"Ya makanya ayo kita resmikan Sayang, Adek kan mau nya sembunyi-sembunyi, jadi ya wanita itu tahunya Mas masih single, kita resmikan yah?"
Kali ini aku menyetujui permintaan Mas Gagah, Benar juga aku dan Mas Gagah harus mengumumkan pernikahan ini agar mereka tahu Mas Gagah bukan lagi laki-laki lajang.
__ADS_1
"Mas, harus setia terus dong, Adek saja setia terus walaupun ada yang ngajak Adek berpoligami."Aku menutup mulutku karena keceplosan.
Mas Gagah dan Mas Guntur menatapku. Aku melihat tatapan Mas Gagah sangat mengerikan seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.
"Maksud Adek?"
"Ah tidak ada maksud apa-apa Mas"
"Adek, jangan bohong,"ucapnya sambil mendayu-dayu, itu artinya Mas Gagah menuntutku berbicara jujur.
Sudah terlanjur akhirnya aku menceritakan tentang Ustad Hadi yang menginginkanku menjadi istri keduanya. Dan saat itu juga Mas Gagah terlihat murka, rahangnya mengeras, matanya memerah, tangannya mengepal, tapi Mas Gagah malah memelukku dengan erat.
"Mas tidak rela Dek, Ayo kita pulang, jangan temui laki-laki itu lagi," Mas Gagah mencium keningku.
Apakabar Mas Guntur yang ada disebrangku, Mas Guntur hanya menonton Aku dan Mas Gagah dengan pandangan sebalnya๐๐.
"Assalamualaikum"
Aku dan Mas Gagah terlonjak lalu melepaskan pelukan kita. Kinar yang melihat juga langsung mengalihkan pandangannnya.
"Waalaikumsallam, masuk Kinar,"Jawabku.
Kinar langsung masuk dan duduk di sebelah Mas Guntur. Kinar juga nampak terkejut ketika melihat ada Mas Guntur juga di ruang tamu.
"Ih, Mas guntur mau aja nonton Inay sama Mas Gagah mesra-mesraan gitu,"Ledek Kinar pada Mas Guntur.
"Iya tuh kampret banget Gagah,"Celetuk Mas Guntur.
Mas Guntur memutar bola matanya sebal mendengar ucapan Mas Gagah. Mas Guntur melirik Kinar.
"Kinar, yuk kita tayamum aja,"Ucap Mas Guntur menatap Kinar.
Kinar mengernyitkan dahinya,"Apaan sih, tayamum?disini masih ada air, banyak lagi"
Mas Guntur menggaruk tengkuknya, " Apa itu Nay, yang dalam islam laki-laki dan perempuan sebelum nikah perkenalan dulu namanya apa itu Nay?"tanya Mas Guntur.
Aku tegelak, Ya ampun Mas Guntur ini ngawur sekali, taaruf dan tayamum itu kan dua hal yang sangat berbeda, kenapa bisa salah sebut.
" Taaruf Mas"jawabku.
"Nah itu taaruf Kin,"ucap Mas Guntur sambil tersenyum.
Mas Gagah langsung menendang kaki Mas Guntur yang ada disebrangnya.
"Gaya banget pake taaruf segala bahasanya,"ledek Mas Gagah.
" Diem Gah, lagi usaha nih"
"Dih, lihat dulu lah kamu kaya apa Gun"
"Memangnya kenapa denganku, ganteng, duit banyak, kaya raya, sudah rajin sholat kan Gah,"ucapnya jumawa.
"Mas Gagah memantaskan diri terlebih dahulu, buang dulu jauh-jauh gelar playboy nya Mas,"Ucapku.
__ADS_1
Mas Guntur lalu menatap Kinar," Kin, aku janji akan memaksakan diri"
Mata Mas Gagah membulat sempurna lalu menendang lagi Kaki Mas Guntur.
" Memantaskan diri woy, bukan memaksakan diri"
Aku menepuk kaki Mas Gagah, " Ini kaki iseng banget sih Mas"
"Gemes sama adik Mas yang satu ini"
Mas Guntur terkekeh,"Gagah aja bisa dapet Inayah, masa aku gak bisa dapet Kinar"
"Tapi, Kinar sudah punya calon Mas,"Celetuk Kinar.
Mas Gagah langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kasihan deh lu,"Ledeknya.
Mas Guntur langsung memeluk Mas Gagah lalu mereka berdua akan bergulat seperti biasa. Ampun deh jika Mas Gagah dan Mas Guntur sudah dekat seperti ini, pasti rusuh.
Setelah terjadi kerusuhan itu akhirnya aku dan Kinar memutuskan jalan-jalan ke lawang sewu. Mas Gagah dan Mas Guntur, jelas ikut dong, hehe.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next Lawang sewu
Jangan lupa like komen dan Vote yah๐๐
Salam sayang,
Santy puji.
Jangan lupa minta dukungan nya juga di Novel authro yang satunya lagi yang sama-sama on Going judulnya surat cinta 2000.
__ADS_1