Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 9


__ADS_3

"Allah tidak pernah salah dalam menyusun skenario hidup. Jadi, sebagai pemeran kita hanya di tuntut untuk melakoni apa yang Allah mau. Sudah. Hanya itu. Hasil akhirnya? Jangan khawatir itu sudah menjadi keputusan sang Sutradara kehidupan. Selama apa yang di perintahkan padamu kau kerjakan dengan Baik dan Khidmat. Maka bersiaplah untuk menerima sesuatu yang luar biasa dari-Nya."


***


PLAK!


Sebuah tamparan keras dihadiahkan ayah Hanan kepada Alif ketika mereka tiba di rumah.


"Ayah nggak pernah mengajarkan hal seperti itu sama kamu, Alif!" ucap ayah Hanan marah.


Kata-katanya begitu tajam dan menusuk hati.


Alif hanya mampu terdiam. Menunggu ayah Hanan menyelesaikan bicaranya. Kemudian, Alif akan menjelaskan semuanya kepada ayah dan juga bundanya.


"Sudah, Yah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik, nggak harus kasar seperti itu sama anak." Lerai bunda Ranti.


"Dia pantas mendapatkan itu, Bun!"


Bunda Ranti menoleh kepada Alif dengan mata berkaca-kaca. "Nak. Kamu jelaskan sama Ayah dan Bunda, Nak. Sebenarnya apa yang terjadi?"


Aku menarik napas panjang. "Yah, Bun. Ini nggak seperti yang kalian pikirkan. Alif nggak mungkin melakukan hal seperti itu, Yah."


"Lalu apa maksudnya berpeluk-pelukan dihadapan umum seperti tadi, hah?!"


Sepertinya emosi ayah Hanan sedang tidak stabil. Alif berusaha mengontrol emosinya sendiri agar tidak terjadi kesalahan yang lebih panjang.


"Tadi, setelah kuliah Alif bermaksud untuk berkunjung sekaligus bersilaturahmi ke rumah Naufal, sahabat Alif waktu SMP. Ayah dan Bunda ingat, 'kan?"


Bunda Ranti mengangguk. Sedangkan ayahnya? Beliau masih terdiam berusaha meredam emosi.


"Di jalan, Alif bertemu Laras. Wanita yang memeluk Alif tadi itu teman sekampus Alif," jelas Alif memberi jeda. "Sebelumnya, Alif melihat dia bersama seorang laki-laki yang usianya sudah berkepala empat. Alif melihat Laras menangis. Tapi, Alif tidak bertindak apapun.


Setelah beberapa saat, laki-laki itu menampar Laras dihadapan umum. Jadilah Alif keluar dan berusaha melerai perdebatan mereka. Bukankah Ayah sendiri yang bilang, sebagai laki-laki kita harus menghormati dan melindungi perempuan?"


Ayah Hanan masih terdiam. Alif hanya mampu menghela napas tapi tetap melanjutkan penjelasannya.


"Alif hanya berusaha menolong Laras, Yah. Sebagai sesama muslim, terlebih Alif laki-laki. Akan terasa begitu pengecut kalau Alif membiarkan kaum Adam bertindak semaunya kepada kaum Hawa."


Tiba-tiba ayah Hanan memeluk Alif. Dan, Alif membalas pelukan ayahnya.


"Maafin Ayah. Seharusnya Ayah dengerin penjelasan kamu dulu," kata ayah sambil menepuk bahu putranya.


Alif menggeleng. "Bukan salah Ayah. Ini cuma salah paham yang harus diluruskan."


Bunda Ranti tersenyum hangat pada dua laki-laki itu. Alhamdulillah, akhirnya ayah Hanan percaya kalau Alif nggak berbohong.


Bunda Ranti jelas tahu betul bagaimana sifat Alif. Karena selain mengurus dan membesarkan Alif, beliau juga yang mengandung Alif kalau kalian lupa.


"Udah dong peluk-pelukannya. Jadi Bunda dikacangin, nih?" Bunda Ranti merajuk, membuat Alif dan ayah Hanan memeluk beliau dengan kompak.


Alif bahagia karena Allah masih mengizinkan dia untuk berkumpul bersama kedua orang tuanya. Pun Allah masih memberikan kesehatan kepada mereka.


Alhamdulillahirobbilalamin.


"Ayah mandi dulu, ya. Udah mau maghrib," pamit ayah Hanan.


Sontak Alif dan bunda Ranti melepaskan pelukan mereka.


"Pantesan, ya, Lif. Tadi tuh Bunda kayak nyium bau-bau apa gitu. Ternyata Ayah kamu belum mandi," celetuk bunda sambil menutup hidungnya.

__ADS_1


Alif terkekeh melihat mereka. "Iya nih. Ayah bau ketek."


Ayah Hanam mencubit hidung Bunda. Dan, Alif Alif diabaikan begitu saja tentunya.


Nasib jomblo.


"Makanya, Lif, cepetan nikah," ucap bunda Ranti tiba-tiba.


Alif menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Naluri seorang ibu memang sangat kuat, ya? Bahkan yang Alif pikirkan pun bunda bisa menebak.


"Ya sudah. Ayah mandi dulu. Ba'da maghrib kita kumpul di ruang keluarga. Ada sesuatu hal penting yang ingin ayah bicarakan," kata ayah Hanan kemudian pergi ke kamar.


"Kamu mandi dulu, Lif. Siap-siap sholat berjamaah," kata bunda Ranti.


"Iya, Bunda."


"Yaudah. Bunda susul Ayah dulu, ya," pamit bunda Ranti kemudian berlalu.


Kemudian Alif melangkahkan kakinya menuju kamar untuk membersihkan diri dan juga bersiap untuk sholat berjamaah bersama orang tuanya.


Setelah beberapa menit, Alif sudah siap dengan mengenakan baju koko berwarna abu-abu dan sarung yang senada dengan bajunya.


Alif lalu segera turun untuk melaksanakan sholat berjamaah di mushola keluarga mereka.


Alif melangkahkan kaki ke mushola kecil di rumah itu.


Ayah Hanan sengaja mendesain satu kamar yang berukuran paling besar di rumah ini dengan desain seperti mushola pada umumnya. Dan, Alif selalu menemukan kenyamanan ketika masuk ke sini.


Setelah selesai sholat dan mengaji, Alif berjalan menuju ruang keluarga. Dengan ayah dan juga bunda yang sudah menunggu di sana.


"Duduk, Lif," titah ayah Hanan sambil menepuk sofa kosong disebelah beliau.


Ayah Hanan tertawa. "Kamu tegang banget. Kayak Ayah pas mau akad dulu."


Alif mendengus. Bukannya tegang. Tapi Alif penasaran.


"Yah, langsung ke intinya aja deh!" kata bunda Ranti seperti nggak sabaran. Sebenarnya ada apa ini?


"Oke. Jadi--"


Ayah Hanan menggantungkan kalimatnya membuat Alif semakin penasaran setengah mati.


"Yah ...," Alif mengerang kesal. "Ada apa, sih?"


"Ah, Bun, Ayah haus."


Alif berdecak dan tambah menggeram lagi. Sedikit kesal karena sepertinya ayahnya sengaja membuat rasa penasaran menguasai Alif saat ini.


Bunda Ranti mengambilkan segelas air putih untuk ayah. Kembali ayah meneguk minuman itu hingga tak tersisa sedikit pun. Alif-pun semakin nggak sabar.


"Begini, Lif. Ayah berkeinginan untuk menjodohkan kamu dengan putri dari sahabat Ayah di SMA dulu."


Aku melotot, bukan nggak terima. Tapi kaget, apa-apaan ini pemirsa?


"Kenapa harus di jodohkan sih, Yah? Anak Ayah ini masih laku kok." Alif mencoba menyangkal.


"Ck! Bukan begitu. Tapi ini udah jadi perjanjian dari sewaktu Ayah dan beliau ketika kami masih SMA dulu," jelas ayah Hanan. "Kami membuat janji akan menjodohkan putra putri kami ketika waktunya sudah tiba. Dan, melihat tadi kamu udah bisa melindungi wanita, Ayah jadi semakin mantap, kalau kamu udah bisa bangun rumah tangga sendiri."


Alif mingkem. Ternyata susah juga ada di posisi seperti ini.

__ADS_1


"Jadi, gimana, Lif?" tanya bunda Ranti.


Alif menoleh ke arah bunda. Seperti ada unsur kesengajaan di sini. Bundanya terlihat bahagia dengan keputusan ayah.


Helaan napas panjang mewakili ku sebelum berbicara. "Boleh Alif pikir-pikir dulu?"


"Boleh," jawab ayahnya.


"Nggak bisa! Jawab sekarang aja!" potong bunda Ranti cepat.


"Bunda." Akhirnya ayah membelanya. Alif tertawa dalam hati.


"Ayah beri waktu satu hari. Besok malam, Ayah tunggu jawaban kamu."


Bola mata Alif hampir keluar mendengar penuturan ayah. "Satu hari, Yah?!"


Ayahnya mengangguk santai.


Bagaimana mungkin? Menikah itu bukan hal main-main. Alif tentu saja butuh waktu panjang untuk memikirkan semuanya. Supaya tidak terjadi salah kaprah ke depannya nanti.


"Kamu itu laki-laki. Yang tegas dong! Jangan kebanyakan mikir. Nanti di duluin orang," ujar ayah Hanan.


"Tapi nggak satu hari juga 'kan, Yah?"


"Dia itu sudah kelas 12, dan sekarang sudah di penghujung maret. Berarti sebentar lagi dia ujian nas--"


"Hah?! Kelas 12?! Masih SMA dong?!" pekik Alif kaget.


Maafkan Alif yang sudah memotong ucapan ayahnya. Jangan ditiru!


"Alif! Jangan ngegas kalo ngomong sama orang tua," tegur bunda Ranti.


"Memangnya kenapa, Lif? Menikah itu kan bukan soal umur. Asal keduanya sudah saling siap dan mantap untuk membangun rumah tangga, kenapa nggak?" balas ayah Hanan bertanya.


Alif seakan tak percaya dengan semua ini. Memang sih, ini lebih baik dari pada pacaran. Tapi ini bukan zaman Siti Nurbaya yang apa-apa harus dijodohkan.


"Sudah lah. Ayah mau kamu kasih keputusan besok malam," kata ayah Hanan kemudian berlalu meninggalkan Alif dan istrinya.


Baru beberapa langkah beliau kembali menengok ke belakang. "Oh ya. Sepertinya Ayah nggak nerima penolakan, Lif."


Poor Alif!


"Bunda ...." Alif merengek pada bundanya. Tapi beliau malah mengangkat bahu acuh kemudian ikut meninggalkan Alif.


Argh!


Percuma saja Alif minta bantuan bundanya. Kan bunda memang berkeinginan kuat supaya Alif cepat-cepat menikah.


Yaa Allah ... bagaimana ini? Tanyanya lirih.


Kalau Alif menerima perjodohan ini, lalu bagaimana dengan gadis yang belakangan ini kerap hadir dalam do'anya?


Ah, sudahlah. Mungkin ini memang sudah takdir Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Alif harus melangkah tegas. Karena sepertinya memang ini salahnya. Dia menyukai gadis itu, tapi tidak berbuat apa-apa selama ini. Alif tidak berupaya mencari tahu tentangnya, apalagi sampai datang melamarnya.


Alif harus mengikhlaskan dia. Dia berhak bahagia, begitupun Alif. Mungkin dia memang bukan yang Allah takdirkan untuk Alif.


Alif harus segera mengakhiri semuanya. Sebelum perasaan ini kian mendalam dan semakin menyiksa dadanya.


Lalu Alif bergegas menuju kamar. Sepertinya dia harus melaksanakan sholat istikharah terlebih dahulu malam ini. Supaya lebih mantap mengambil keputusan nantinya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2