
Mas Guntur akhirnya menginap di rumah Mas Gagah. Aku sangat tahu dalam hati Mas Gagah pasti tidak tega jika adiknya merengek tidur di rumahnya.
Aku dan Mas Gagah juga sudah siap untuk tidur. Mas Gagah menyuruhku untuk mendekat lalu mengarahkan kepalaku agar bersandar di bahunya. Menurutku ini adalah Bahu ternyaman setelah Almarhum Bapak.
Aku tidak akan banyak bertanya perilah sesuatu yang dibicarakan Mas Gagah dengan Mas Guntur di taman belakang. Bagiku kadang laki-laki juga membutuhkan privasi, tidak semuanya harus kita ketahui, kecuali jika memang ingin bercerita dengan sendirinya. Tidak hanya laki-laki saja yang harus peka, tapi wanita pun perlu, karena laki-laki itu sebenernya sangat butuh kenyamanan.
"Jangan terlalu dekat dengan Guntur ya Dek,"katanya, Mas Gagah menunjukan sifat posesifnya, tapi aku berusaha untuk berfikir positif.
Tapi aku penasaran juga kenapa sih Mas Gagah sampai berkata seperti itu padahal Mas Guntur kan adiknya.
"Apa Adek boleh tau alasannya?"tanyaku menatap Mas Gagah.
"Ya memangnya Adek mau dekat-dekat?"
Haish... suamiku ini, aku tanya apa dijawab apa, malah balik bertanya.
Aku hanya menjawab dengan gelengan.
"Mas takut Adek jatuh hati sama Guntur"ucapnya polos.
Aku tertawa, ini pertama kalinya Mas Gagah yang gantengnya paripurna dari bangun tidur hingga akan tidur lagi merasa tidak percaya diri.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Tumben Mas tidak percaya diri?"
__ADS_1
Mas Gagah mendengus kesal, matanya menerawang entah melamunkan apa. Mas Gagah mulai bercerita jika waktu SMA dulu pernah berpacaran dengan wanita bernama Intan, tapi wanita itu malah berbalik suka dengan Guntur karena Guntur lebih perhatian dengannya dibanding Mas Gagah. Mas Gagah takut itu terjadi padaku.
Aku mendongak lalu mengelus pipi Mas Gagah, " Masa sih si Intan itu lebih suka dengan Mas Guntur, padahal gantengan Mas Gagah lhoo"
"Iya Mas juga heran, padahal Mas baik, Mas Ganteng, Mas dulu populer,"ucapnya jumawa.
Aku bangun dari senderan Mas Gagah lalu menatap Mas Gagah dengan serius.
" Mas, kita kan sudah menikah, ada janji suci yang telah kita ikrarkan, jadi tidak semudah itu untuk pindah kelain hati,"jawabku mantap.
Mas Gagah lalu mengusap kepalaku, menyusuri panjang rambutku.
" Iya Mas tau, tapi kata Rasulullah ipar itu maut Dek, Adek dan Guntur bukan mahram, jadi Mas takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Mas percaya Adek, tapi Mas tidak percaya guntur."
Aku sangat bahagia, aku sangat senang, percayalah jika rumah tangga di bangun atas dasar taqwa, ujian apapun yang diberikan Allah pasti kita akan bisa tetap berprasangka baik dan mempercayai bahwa Allah adalah sebaik-baiknya penolong.
"Mas"
" Emm"
"Kenapa Ayah tidur disini"
"Ayah menginap di hotel, ayah ada urusan bisnis dengan cliennya di Indonesia, Adek jangan salah faham"
Aku tahu Mas Gagah hanya ingin menghiburku, Aku tahu ayah mertuaku tidak akan kesini karena ada aku. Ujian rumah tangga yang sudah ada di depan mata akan segera aku lalui, berat, jelas berat. Apalagi Mas Gagah, dia tidak mungkin memilihku dan durhaka kepada ayahnya, akupun tidak mau hal itu terjadi. Mas Gagah juga sepertinya tidak mungkin meninggalkan ku demi ayahnya.
__ADS_1
Jadi, saat ini kuncinya ada pada diriku. Jika aku disuruh meninggalkan Mas Gagah jelas aku tidak akan mau, kita dalam kondisi baik-baik saja dan saling menyayangi. Ah aku tidak mau membuat banyak dugaan, yang pasti akan menghadapi apapun halang melintang yang ada di perjalanan rumah tanggaku ini.
"Mas, harusnya Mas tidak menikahiku"ucapku, dan itu membuat Mas Gagah melirikku dengan tatapan tajam.
"Mas tidak suka Adek bicara seperti itu"
"Jika Mas tidak menikahiku, Mas tidak akan dilema seperti ini"
Mas Gagah menggenggam kedua tangaku, " Mas tidak dilema, Mas sudah bilang kan kita pasti bisa keluar dari masalah ini, Mas hanya butuh dukunganmu, terjadi ataupun tidak terjadi tragedi itu Mas akan tetap menikahimu"
Aku membulatkan mataku. Mas Gagah bicara apa ini, terjadi ataupun tidak terjadi tragedi itu Mas akan tetap menikahiku, berarti Mas Gagah memang benar-benar ingin menikah denganku dong.
"Adek tidak mengerti ih"
" Dengarkan Mas Dek, Mas menyukai Adek dari sebelum kita menikah, apalagi pas kita kondangan, teman-teman Mas merasa Adek adalah wanita yang sangat baik, jadi dari situ Mas memang berniat akan menikahi Adek walaupun tidak dalam waktu yang terlalu cepat ini karena Mas merasa Adek belum saatnya menikah karena umur Adek masih 18 tahun"
Mataku berkaca-kaca mendengar pernyataan Mas Gagah. Fix aku harus berjuang untuk Mas Gagah dan untuk rumah tangga ini. Aku masih tidak percaya jika waktu kondangan itu Mas Gagah sudah berniat seperti itu. Mungkin saat itu malaikat sedang lewat, jadi langsung di aamiini malaikat sepertinya.
Mas menangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipiku.
" Mas sayang Adek"
Mas Gagah mencium keningku sepersekian detik. Aku merasa kalau Mas Gagah sedang mencium keningku itu seluruh kepalaku seperti diputari bunga-bunga Pink yang indah🤭 Rasanya Mas Gagah sayang banget sama aku.
Mas Gagah lalu mencium kedua pipiku, dan akhirnya berlabuh dibibir manisku. Manis kata Mas Gagah😁. Kalau sudah seperti ini pasti akan berakhir dengan adegan 18+ (bayangin sendiri aja yah,daaaaah😆😆)
__ADS_1