Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 10


__ADS_3

"Aku melihatmu. Berdo'a dalam do'aku."


-Nazwa Zivara Nafitri-


***


NAZWA terjaga pada pukul 2.30 pagi, karena sebuah mimpi yang sama sekali tidak pernah dia bayangkan seumur hidupnya.


Nazwa memimpikan seorang ikhwan yang sholeh, sedang berdoa di dalam mimpinya. Dia begitu khusyuk dalam do'anya, dan Nazwa pun begitu cermat dalam memandanginya.


Astaghfirullahaladzim.


Itu hanya mimpi, Nazwa!


Segera dia turun dari ranjang Queen Sizenya menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi Nazwa akhir-akhir ini-- sholat tahajud, setelah berakhirnya hubungan haram itu dengan Raka.


Nazwa bersyukur. Ternyata berakhirnya hubungan itu dengan Raka membawa banyak hal positif dalam kehidupannya. Terlebih karena Allah masih memberikan Nazwa kesempatan untuk bertaubat serta memperbaiki diri. Menebus dosa-dosanya di masa lalu.


Untuk kalian yang masih pacaran. Jangan terlalu larut untuk membuang-buang waktu dalam hubungan yang haram. Takutlah kalau Allah cemburu dan murka kepada kita, karena kita lebih mencintai hamba-Nya dari pada Dia.


Setelah melaksanakan 4 rakaat sholat sunnah tahajud dan 3 rakaat sholat sunnah witir, Nazwa membuka Al-Qur'an. Membaca surat cinta dari Allah untuk para hamba-Nya.


Suara merdunya memecah keheningan malam.


Nazwa membaca surah Ar-Rahman.


Dari dulu surah Ar-Rahman adalah salah satu surah favorit Nazwa. Karena di surah ini juga menceritakan betapa indah segala ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta'ala.


Kelak, Nazwa berharap akan memiliki seorang suami yang pandai dan mengerti akan agama Allah. Agar siapapun dia bisa membimbingnya ke arah yang lebih baik lagi. Meskipun Nazwa sadar betul jika dirinya sama sekali belum baik. Tapi, setidaknya dia akan terus berusaha untuk memperbaiki dirinya hanya karena Allah dan hanya untuk Allah.


Karena Nazwa percaya; mereka yang baik, akan dipertemukan dengan yang berusaha memperbaiki.


Setelah selesai mengaji, Nazwa tidak kembali tidur. Dia menuju rak buku. Sembari menunggu waktu subuh tiba, Nazwa membuka beberapa buku pelajaran karena Nazwa harus giat belajar beberapa waktu terakhir ini. Bagaimana tidak? Ujian Nasional Berbasis Komputer sudah di ujung pandang.


Tiba-tiba sekelebat bayangan laki-laki yang menolongnya waktu itu kembali terngiang di kepalanya. Sudah dua kali, dia ibarat malaikat tak bersayap yang selalu ada ketika Nazwa membutuhkan. Selalu menyelamatkannya bagai superhero dadakan.


Nazwa merasa berhutang banyak padanya. Dia laki-laki yang baik, tapi sedikit arogan. Itu menurut pendapat Nazwa.


Allahu Akbar ... Allahu Akbar ...


Alhamdulillah. Suara adzan subuh sudah menggema. Nazwa segera mengambil air wudhu kembali. Takut-takut kalau tadi wudhunya batal tanpa dia sadari dan ketahui.


Tokk ... Tokk ...


"Assalamu'alaikum."


Itu suara ummi Audy. Seperti biasanya, memang kalau subuh begini ummi selalu membangunkan anak-anaknya untuk sholat berjamaah. Begitu pun dengan Naufal, kalau laki-laki itu ada di rumah.

__ADS_1


Ah! Beruntungnya abi memiliki istri secantik dan semulia ummi.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Sebentar Ummi!" teriak Nazwa pelan.


Nazwa segera memakai mukenahnya, kemudian membukakan pintu.


Pemandangan yang pertama ia lihat adalah senyum umminya. "Alhamdulillah. Udah siap, Dek?"


Nazwa-pun mengangguk. "Udah, Um."


"Yuk, turun ke bawah."


Nazwa melaksanakan sholat berjamaah bersama abi, ummi dan juga Naufal.


Setelah selesai melaksanakan sholat, Nazwa dan ummi menuju dapur untuk membuat sarapan. Sedangkan abi dan Naufal pergi untuk lari pagi, sembari menunggu matahari terbit.


"Masak apa, Um?"


"Capcai sama goreng ikan lele aja, ya, Dek," sahut sang ummi.


Nazwa mengangguk, kemudian beralih membantu memotong sayuran. Sedangkan ummi mulai membumbui ikan lele dan menggorengnya.


Perlu kalian tahu. Jika Nazwa sedikit takut kalau harus menggoreng cabai atau jenis ikan-ikanan dan juga daging. Ini bukan aib. Hanya berjaga-jaga. Takut-takut kalau Nazwa berkunjung ke rumah kalian kemudian membantu kalian memasak dan malah berujung menghancurkan dapur kalian. Kan bahaya!


Pernah waktu itu, Nazwa menggoreng cabai untuk membuat sambal terasi namun malah hampir membuat rumah kebakaran karena Nazwa tidak hati-hati dalam membalikkan si cabai tadi.


Sangking takutnya kalau cabai itu meletus, jadi Nazwa mengaduknya dengan jarak jauh.


Kemudian kualinya oleng dan minyak panas tumpah begitu saja di lantai. Alhasil, sampai sekarang umminya melarang keras Nazwa untuk menggoreng masakan jenis itu.


Setelah beberapa saat, akhirnya sarapan sudah siap. Nazwa membuat teh hangat, sebagai pelengkapnya.


"Kamu mandi aja, Dek. Udah siang tuh. Nanti terlambat, loh. Biar Ummi aja yang cuci perkakasnya," ujar ummi Audy.


"Asiaaap, Um!"


Kemudian Nazwa berlalu untuk membersihkan diri, bersiap-siap untuk kembali ke sekolah.


Nazwa menghela napas sedikit berat. Sepertinya sebentar lagi seragam abu-abu itu sudah tidak lagi ia kenakan pada rutinitasnya setiap hari.


Nazwa tersenyum sedih.


Setelah mengenakan seragam, dia mengoles wajahnya dengan sedikit bedak bayi.


Nazwa memang tidak mahir dalam berdandan. Dan dia juga menyukai hal yang simpel saja. Menurutnya, menggunakan bedak bayi sudah lebih dari cukup. Karena abi pun pernah bilang kepadanya; bahwa berdandan yang berlebihan pun tidak baik. Lebih baik jika untuk mahram kita.


Terdapat pula hadits yang mengatakan; berhiaslah untuk suamimu. Karena wanita yang paling baik adalah yang menyenangkan jika di lihat suaminya, mentaati suami jika di perintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya.


(HR. An-Nasai no. 3231 dan Ahmad 2:251)

__ADS_1


Setelah selesai, Nazwa-pun segera turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarga.


Di sana sudah ada ummi, abi dan juga Naufal yang terlihat segar setelah mandi dan lari pagi.


Nazwa mengambil posisi duduk di sebelah Naufal, karena di sisi kanan sudah di tempati oleh umminya tentunya.


Ummi mengambilkan nasi dan lauk untuk abi.


Duh! Romantis kali pasangan dihadapan Nazwa ini.


"Dek. Ambilin Kakak nasi sama lauk dong," celetuk Naufal tiba-tiba.


"Ambil sendiri," balas Nazwa ketus sambil menyendok nasi.


Naufal berdecak. "Itung-itung belajar melayani suami kamu nanti, loh, Dek."


Nazwa mendengus, kemudian abi langsung berkata. "Oh iya, Dek. Nanti sepulang sekolah langsung pulang ke rumah, ya? Ada yang ingin Abi bicarakan nanti malam."


"Sepertinya penting sekali ya, Bi?" tanya Nazwa.


Abinya mengangguk. "Diusahakan, ya."


"Insyaa Allah, Bi."


Kemudian mereka sarapan dengan khidmat. Tentunya, setelah berdo'a terlebih dahulu.


Setelah sarapan selesai, Nazwa kemudian berangkat ke sekolah dengan di antar oleh Naufal.


Sebenarnya, Nazwa ingin sekali naik angkot, agar tidak merepotkan juga. Tapi, lagi-lagi abi dan Naufal keukeuh ingin mengantar gadis itu. Katanya, bahaya kalau perempuan naik angkot sendirian. Padahal, teman-teman sebaya Nazwa banyak. Tapi ... ya sudahlah. Nurut saja kepada mereka.


"Assalamu'alaikum, selamat pagi Wawa yang cantik tapi jomblo," sapa Acha dengan ceria setibanya Nazwa di sekolah.


Nazwa mendengus pelan. "Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu juga jomblo, jomblo akut."


Acha membalas dengan tawa. "Di antar pangeran, ya?"


Yang dimaksud pangeran adalah-- pasti kalian sudah tahu lah.


Ya. Naufal. Acha memang mengidolakan Naufal. Entah apa yang membuatnya begitu mengidolakan Kakak galak yang satu itu.


Nazwa hanya membalas dengan gumamam, kemudian berkata. "Cha, ke toko bukunya besok aja, ya?"


"Kenapa nggak hari ini?"


"Tadi abi berpesan, kalau aku harus pulang tepat waktu. Kata beliau nanti malam ada sesuatu hal penting yang akan di bicarakan bersama keluargaku juga."


Acha mengangguk. "Yaudah deh, nggak papa. Tapi beneran besok, ya?"


"Insyaa Allah besok pasti jadi."

__ADS_1


Kemudian mereka memasuki ruang kelas, bersamaan dengan bel masuk yang sudah berbunyi.


Bersambung.


__ADS_2