
Mas Gagah ternyata mengikutiku dari belakang sambil misuh-misuh tidak jelas. Mas Gagah bilang aku membela Guntur lah, ini lah itu lah.
Haduh padahal tuh aku tidak mau ada genderang perang di rumah ini, serem melihat laki-laki saling adu jotos.
"Ih, ngomel-ngomel terus, siapa juga yang bela, kan aku cuma tidak mau ada peperangan di rumah ini, ya kali aku yang mau pisahin kalian kalau berantem, yang ada ikut bonyok nanti, aneh aja gitu, baru ketemu bukannya kangen malah pada berantem, itu tuh bener-bener aneh,"Gerutuku.
Sesampainya di kamar Mas Gagah langsung mengunci pintu kamar lalu mendekatiku dan mencomot bibirku. Aku tersenyum kecut. Ih apaan sih ini suamiku main comot-comot aja, untung gantengπ.
"Ih, kenapa jadi Adek yang ngebebel sih Dek, kan Mas yang lagi marah?" tanya Mas Gagah sambil menatapku.
Aku mendorong Mas Gagah ke kamar mandi menyuruhnya mandi agar badannya segar kembali, adem, siapa tahu hilang emosinya.
Mas Gagah masuk ke dalam kamar mandi. Aku menyiapkan baju ganti untuk Mas Gagah. Aku duduk di meja rias. Ku tatap wajahku, aku mendesah pelan, Ayah dan Adik Mas Gagah datang, Aku harus menyiapkan diriku, harus tahan banting dalam kondisi apapun.
Ah, Rasanya kenapa jadi banyak sekali yang di fikirkan.
Terdengar pintu kamar mandi di buka, Mas Gagah hanya menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya, rambutnya masih setengah basah karena habis keramas. Penampilan Mas Gagah yang seperti ini masih membuat jantungku deg degan edan.
Terlihat semakin gagah.
Mas Gagah tidak canggung berganti baju di depanku, aku juga mulai terbiasa dengan hal itu.
"Guntur sudah lama Dek disini?" tanyanya.
Aku menggeleng," Tidak, datang sekitar 30 menit sebelum Mas pulang"
"Kalian ngobrol apa saja?" Mas Gagah mulai penasaran.
" Tidak banyak, menanyakan keadaan rumah tangga kita saja, aku jawab kita baik-baik saja, kita bahagia"
Mas Gagah tersenyum, " Baguslah, Dek kamu tidak takut kan dengan Guntur?"
Aku mengernyitkan dahiku, tidak mengerti dengan pertanyaan Mas Gagah, kenapa juga aku mesti takut dengan Mas Guntur.
" Takutnya dia juga menentang hubungan kita"
Aku tersenyum simpul, " Masa sih?"
Mas Gagah hanya menganggukan kepala.
" Mas, Adek tidak takut, kita halal, insyaAllah kita dijaga juga sama Allah, jalan jodoh kita sudah seperti ini, mau di apakan lagi"
__ADS_1
" Kecuali kalau Mas mau melepaskan Adek" sambungku lirih.
Mas Gagah menatapku tajam, aku jadi takut, haduh sepertinya aku salah bicara.
"Jangan bicara seperti itu." Suara Mas Gagah meninggi.
"Jatuh cinta boleh berkali-kali, tapi pernikahan bagi Mas hanya akan ada seumur hidup sekali, Mas tidak mau melakukan hal yang dibenci Allah." Mas Gagah menghampiriku lalu memelukku erat setelah itu menangkup kedua pipiku dan mencium bibirku sekilas.
" Kamu akan jadi milik Mas selamanya" ucapnya lirik, namun aku jelas mendengarnya.
Haduh, hati adek meleleh nih Mas. Sebuah masalah tentu saja menyimpan hikmah di baliknya, seperti saat ini, aku merasa begitu berarti di mata Mas Gagah.
Aku yakin aku dan Mas Gagah akan berusaha melewati ujian demi ujian bersama.
Namanya juga rumah tangga. Pasangan akan bersama-sama naik derajat jika bisa bersama menaiki tangga-tangga yang ada di dalam rumah tangga. Semakin tinggi tangga akan semakin tinggi pula badai yang menerpa.
Aku melepaskan pelukan Mas Gagah, " Iya Mas, kita akan berjuang bersama"
Mas Gagah tersenyum, " Terimakasih karena sudah berani"
" Harus dong, kata Ibu jadilah wanita seperti srikandi, mandiri, cantik, tegas dan pemberani, Adek sudah terbiasa mandiri dan berani di pesantren Mas, apalagi Adek juga sudah tidak ada Bapak, kalau Adek tidak berani, siapa yang akan membela Adek." Aku menundukan kepalaku.
Aku jadi teringat masa-masa sekolahku. Ibu harus merantau ke Jakarta untuk membiayai sekolahku. Karena sudah tidak ada Bapak, aku menghadapi apapun sendiri. Menjadi mandiri dan berani bukan hal baru dalam hidupku.
" Sudah Mas, ayo kita ke bawah, adik Mas pasti sudah menunggu di bawah"
"Biarkan saja"
" Eits jangan seperti itu"
" Tapi dia menyebalkan Dek"
"Iya, tapi walau bagaimanapun dia adek Mas, tidak ada mantan adek, ngerti?!"
Mas Gagah dan aku akhirnya turun ke bawah. Di bawah terlihat Mas Guntur sedang menonton televisi. Aku menemani Mas Gagah juga karena aku takut terjadi baku hantam antara Mas Gagah dan Mas Guntur.
Mas Gagah melempar bantal kecil pada Mas Guntur, Mas Guntur balas melemparnya. Aku yang melihat hanya menggelengkan kepalaku. Ya ampun, ini tuh manusia sudah mulai ubanan tapi masih saja bercanda seperti ini.
"Gah, aku nginep sini yah,"kata Mas Guntur sambil melirik Mas Gagah.
"Gak," jawab Mas Gagah ketus.
__ADS_1
"Pelit"
"Biarin"
"Ini kan rumah Mama sama Ayah"
"Nanti aku bayarin bila perlu." Jawaban Mas Gagah masih saja ketus.
Aku jadi pusing melihat interaksi mereka berdua yang jauh dari kata Adem ini. Mas Gagah apalagi, raut wajahnya semakin ditekuk. Tapi gantengnya tetap paripurna.ππ.
***
Adzan Magrib berkumandang, Aku dan Mas Gagah naik ke atas, berwudlu lalu menggunakan alat sholat. Mas Gagah mengambil satu sarung lagi untuk diberikan pada Mas Guntur. Kali ini akupun akhirnya ikut sholat juga di masjid karena aku takut saja mereka berdua bertengkar.
Mas Gagah memberikan sarungnya pada Mas Guntur. Mas Guntur mengernyitkan dahinya.
"Harus sholat kalau mau nginep di rumah ini."Mas Gagah langsung berlalu meninggalkan Mas Guntur yang masih menganga tidak percaya.
Tapi kemudian Mas Guntur berlari menyusul Mas Gagah.
"Gila, Nay, kamu tuh bener-bener ajaib, Gagah sampai bisa seperti ini, kamu benar-benar wanita solehah idaman lelaki, ada tidak copy paste yang seperti kamu lagi? "ucap Mas Guntur sambil terkekeh.
Mas Gagah langsung memukul kaki Mas Guntur dengan sajadah yang dia pegang. Mereka malah saling pukul dengan sajadah. Dua bersaudara ini memang aneh sekali, tidak ada akurnya. Mas Gagah yang BAPERAN dan Mas Guntur yang LEMES mulutnya alias suka meledek.
Tapi aku melihat di pancaran mata keduanya yang sebenarnya memendam rindu. Apa jangan-jangan mereka memang menyalurkan rindunya dengan cara bertengkar. Ah entahlah. Ada tidak sih yang seperti itu?π
Selesai berjamaah di Masjid aku dan Mas Gagah langsung masuk kedalam kamar. Sementara Mas Guntur kembali lagi ke ruang TV, bersantai sambil menonton TV.
"Kalian ini sebenarnya rindu, tapi sok jaga image,"celetukku.
Mas Gagah melirikku, " Siapa yang rindu?"
"Mas lah dengan adiknya"
"Mana ada." Mas Gagah terus saja berusaha mengelak.
Aku membuka mukenahku dan merapikannya, begitu juga dengan sarung dan sajadah yang Mas Gagah pakai, aku rapikan kembali. Mas Gagah turun ke bawah, tapi saat aku hendak mengikutinya Mas Gagah mencegahku.
" Adek, Mas ingin berbicara dengan Guntur berdua"
"Tapi jangan bertengkar apalagi jotos-jotosan yah"
__ADS_1
Mas Gagah mengangguk, Mas Gagah menghampiri Mas Guntur lalu mengajaknya ke taman belakang. Aku melangkah ke belakang menghampiri Bi Asih dan Ibu yang sedang mengobrol di dapur. Ini kesempatanku juga karena aku ingin tahu bagaimana hubungan yang sebenarnya antara Mas Gagah dan Mas Guntur.