
"Jika kau tak bisa membaca hatiku. Tataplah mataku. Karena dari sana kau akan melihat kejujuran, melihat adanya cinta. Ku pastikan, setelah kau melihatnya, kau akan percaya."
***
MUNGKIN bagi sebagian orang, menunggu adalah hal yang paling membosankan. Apalagi menunggu sesuatu yang tak juga mengantarkan kita pada kepastian.
Mengharap sesuatu yang indah akan terjadi, namun yang di terima malah sebaliknya.
Itulah permainan dunia.
Kita memang harus pandai dalam beberapa situasi, atau kita yang akan di permainkan oleh situasi.
Tapi yang harus kita ingat adalah; bahwa apapun yang terjadi pada diri kita kini dan nanti, itu semua adalah Qada' dan Qadar dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.45, dan gadis yang sedang duduk di sebuah sofa mini itu masih setia menggigit bibir bawahnya sendiri.
Tak jarang ia juga menggigit kuku-kuku jarinya. Itulah hal yang selalu ia lakukan saat merasa gugup.
Kegugupan yang mendera yang membuatnya bingung harus di mulai dari mana penjelasannya nanti. Menyadari bahwa yang terjadi pada rumah tangganya kini adalah sebuah kesalah pahaman.
Terhitung hampir sembilan jam ia duduk di sana. Beralih sebentar hanya untuk melaksanakan sholat dan mandi yang secepat kilat.
Tapi nampaknya, kesibukan itu tak kunjung membawa suaminya kembali pulang dan menyapanya dengan senyum teduh seperti biasanya.
Mas Alif ke mana, sih?
Nazwa memutuskan untuk mengambil segelas air mineral saat di rasa kerongkongannya teramat kering.
Setelahnya, ia kembali duduk di tempat semula. Masih dengan perasaan yang sama, gelisah.
Hingga sebuah suara yang Nazwa kenali terdengar.
"Assalamu'alaikum."
Nazwa menoleh. "Wa'alaikumussalam. Kok baru pulang, Mas?"
Aneh, ini pertama kali dirinya merasa begitu memperhatikan Alif.
"Iya, tadi macet."
Nazwa menghembuskan napasnya pelan saat Alif membalas perkataannya dengan singkat.
Kemudian ia berdeham untuk meredakan rasa gugupnya. "Mas, aku mau ngomong sesuatu sama Mas."
"Tentang?"
"Emm ... tentang yang tadi siang."
Seketika gerakan Alif melepas sepatu terhenti. Ia lantas menatap Nazwa dalam. Namun karena menyadari egonya terlalu tinggi kali ini, ia kembali menetralkan mimik wajahnya.
"Ngomong saja."
Laki-laki itu tetap membalas singkat, tapi dalam hati ia sangat senang dengan perubahan sikap istrinya.
Menurutnya, sekarang gadis itu sudah sedikit lebih peduli terhadap perasaannya.
Nazwa menarik napas sejenak sebelum berbicara. "Yang Mas lihat tadi siang itu salah paham."
"Memangnya saya liat apa?" tanya Alif pura-pura.
"Pokoknya yang tadi siang Mas liat itu salah paham," keukeuh Nazwa.
Alif melipat ke dalam bibirnya yang sedari tadi sudah berkedut akibat menahan senyum.
"Aku beneran nggak khianatin Mas Alif kok. Ini cuma salah paham, Mas. Yang tadi siang Mas lihat itu nggak seperti yang Mas pikirkan." Jeda sebentar. "Laki-laki itu, sahabat aku. Maksudnya, sahabatku dan Acha. Kami beneran nggak ada apa-apa, apalagi sampai berkhianat di belakang Mas Alif."
"Memangnya saya bilang kalau kamu ada apa-apa sama laki-laki itu?" Alif memancing dengan pertanyaan.
Kok kesal, ya? Batin Nazwa.
__ADS_1
Sebenarnya Alif itu beneran cemburu atau hanya ingin mempermainkan dirinya?
"Terus kalo nggak mikir gitu, kenapa dari tadi siang Mas cuekin aku?" tanya Nazwa nyaris tak terdengar.
Alif tersenyum lebar, tapi dengan cepat ia mendatarkan kembali wajahnya sebelum istrinya itu mendongak dan melihat semuanya.
Tanpa sadar Nazwa sudah membuka sedikit hatinya untuk Alif. Gadis itu tak menyadari satu hal bahwa dirinya sudah semakin masuk ke dalam kehidupan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.
"Kamu mau tahu?"
Nazwa mengangguk cepat.
Alif tersenyum. "Coba kamu tebak, apa yang buat saya lebih diam dari pada biasanya?"
"Emm ... Mas Alif, cemburu?" tanya Nazwa ragu-ragu.
"Iya, saya cemburu."
Entah kenapa hatinya terasa menghangat mendengar jawaban suaminya.
"Maaf. Nazwa janji enggak akan mengulangi lagi."
"Langsung," balas Alif.
"Hah?"
"Langsung di maafkan, Sayang."
Blush!
***
"SELAMAT pagi, Mas."
Alif menghentikan langkahnya yang hendak menuju kamar mandi karena mendengar suara lembut itu menyapa paginya.
Kenapa sekarang jadi ia yang gugup?
"Mau wudhu, ya, Mas?"
"Eh, iya." Alif menggaruk pelipisnya yang tak gatal.
Bagai di hujani berton-ton berlian dari langit. Sepagi ini ia sudah di sapa oleh sang bidadari surga.
"Yaudah, itu sarung sama pecinya udah Nazwa siapin di atas kasur," ujar Nazwa.
Rasanya senang bukan main saat istrinya berubah seratus delapan puluh derajat menjadi perhatian padanya.
Apakah ini pertanda baik? Pertanda bahwa Nazwa sudah mulai membuka hatinya mungkin?
Ya, dan gadis itu sendiri pun bingung dengan perasaannya. Kenapa ia bisa se-perhatian ini pada laki-laki itu?
Atau mungkin ia hanya merasa bersalah karena sudah membuat suaminya salah paham dan ia berniat ingin menebus kesalahannya?
Entahlah.
"Terima kasih." Alif tersenyum tulus.
Nazwa pun membalas senyuman itu tak kalah manisnya.
Setelah Alif pergi ke mushola, Nazwa kemudian bergegas memasak selepas menunaikan ibadah sholat subuh. Ia akan memasak opor ayam untuk menu sarapan pagi ini.
Tangan mungilnya sangat lihai saat memasak. Mulai dari mencuci ayam, membuat bumbu, bahkan sampai memarut kelapa. Semua ia kerjakan dengan baik sampai selesai.
Jam masih menunjukkan pukul 5.30. Berhubung masih pagi dan ia sudah berkeringat, Nazwa memutuskan untuk mandi karena mandi pagi adalah baik untuk kesehatan.
Alif kembali ke apartemen bertepatan dengan Nazwa yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya.
Sekali lagi mereka berpapasan dan saling melempar senyum manis. Ibarat remaja kasmaran yang sedikit ... malu-malu kucing.
__ADS_1
"Mas mau sarapan?" tanya Nazwa. "Tadi Nazwa udah masak."
"Boleh," jawab Alif mengangguk.
Nazwa mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya. Dan Alif sukses di buat speechless dengan apa yang ia lihat di depannya sekarang.
Setelah memimpin do'a, Alif mulai menyuapkan nasi demi nasi ke dalam mulutnya kemudian terdiam sejenak.
Ini adalah kali pertama mereka sarapan berdua. Hanya berdua, tanpa orang lain atau pun anggota keluarga besar mereka.
Dan ini tentang keluarga kecil yang Alif bina.
Menyadari suaminya tidak lagi menyuapkan makanannya, Nazwa menjadi meringis dan khawatir.
"Mas, kalo nggak enak nggak usah di makan, ya."
Alif menaikkan kedua alis tebalnya. "Kata siapa nggak enak? Ini enak kok."
Nazwa yang tidak percaya akhirnya memotong sedikit daging ayam di piringnya dan mulai mencicipi.
Rasanya tidak terlalu buruk. Itu berarti Alif tidak berbohong.
"Enak, 'kan?" Alif tersenyum kepada istrinya.
Nazwa mengangguk setuju. "Lumayan."
"Bukan lumayan Nazwa ... ini sangat enak," puji Alif berlebihan.
Nazwa tentu saja melambung di buatnya kalau saja ia tidak ingat bahwa tempat yang ia pijak saat ini adalah bumi.
"Kamu belajar masak dari mana?" tanya Alif.
"Otodidak, hehehe." Cengirnya.
Alif patut mengacungi jempol atas bakat memasak istri tercintanya itu. Otodidak saja begini rasanya, bagaimana kalau ia belajar dengan bundanya? Pasti akan lebih mantap lagi rasanya.
Alif tersenyum teduh dan Nazwa sangat menyukai senyum itu.
"Oh, iya. Hari ini kamu mau ... jalan-jalan?" tanya Alif ragu-ragu kalau Nazwa akan menolaknya.
"Jalan-jalan?"
Alif mengangguk. "Iya."
"Berdua?"
"Iya, Sayang, hitung-hitung sambil pacaran." Alif terkekeh.
"Memangnya Mas nggak kuliah?"
"Kenapa memangnya? Kamu nggak mau, ya?" tanya Alif mengalihkan.
Dengan cepat Nazwa menggeleng. "Mau! Nazwa mau kok."
Alif tersenyum, lagi. Sejurus kemudian laki-laki itu mengacak pelan rambut istrinya yang sudah mulai pede tidak menggunakan jilbab jika di dalam rumah dan di depan suaminya.
Hal itu sukses membuat Nazwa merona. Ia kemudian meneguk habis segelas air putih di depannya guna menutupi rasa gugup yang tengah melanda.
Namun, sebelum itu Alif sudah lebih dulu menangkap rona merah di pipi gadis yang ia cintai itu. Ia tersenyum dalam diam.
Mungkin ini saatnya ia membuka hati lagi untuk laki-laki lain. Membiarkan luka lama terkubur dalam-dalam tanpa perlu di pikirkan lagi.
Tak perlu di lupakan memang, cukup di kenang saja. Ambil sebagian yang positif. Sebab, masa lalu adalah guru terbaik yang akan memberikan kita banyak pelajaran di masa depan.
Dan, karena tanpa di sadari, Alif mampu mengikis sedikit demi sedikit luka-luka yang pernah menganga lebar di hatinya.
Laki-laki itu mampu mencairkan hatinya yang sempat membeku dengan segala sikap lembut dan sabar yang ia miliki.
Bersambung.
__ADS_1