Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 51


__ADS_3

Menenangkan Diri


Sejak pulang dari rumah sakit rasanya diri ini hancur tanpa pegangan. Ujian demi ujian yang aku lewati adalah sesuatu yang sangat berat. Apalagi saat mengetahui calon anakku tidak tertolong.


Aku seakan melangkah tanpa arah tidak tahu kemana aku berjalan dengan kaki yang perlahan tenaganya mulai habis. Apa pernah aku melakukan sesuatu yang menyakiti seseorang dulu? Kenapa Allah memberikan cobaan yang lagi-lagi membuat otak warasku melebur. tidak lagi bisa berfikir jernih. Aku tidak bisa merasakan apapun selain kenyataan bahwa sepertinya aku tidak akan bisa bahagia, kebahagiaan ku seolah akan terus terusik.


Sehari setelah pulang dari rumah sakit aku berbicara dengan Mas Gagah dari hati ke hati. Aku ingin menenangkan diri. Mas Gagah akhirnya dengan berat hati mengizinkanku pulang kampung asal tidak meminta perpisahan darinya.


Kini aku sudah satu bulan lamanya di kampung. Aku sedikit demi sedikit mulai bisa mengikhlaskan kehilangan calon anakku. Aku juga mulai sembuh dari trauma kehilangan bayiku dan penembakan itu.


Mas Gagah terus memantauku dari jauh. Sesekali mengirim pesan untuk mengetahui keadaanku. Aku tahu Mas Gagah benar-benar ingin aku tenang, jadi tidak setiap saat menghubungiku.


Selama satu bulan ini aku rutin mendatangi pesantren, aku juga selalu meminta nasehat Abah tentang permasalahan rumah tangga yang sedang aku hadapi ini. Abah orang yang dapat di percaya dan selalu bisa membuatku terus berfikir positif.


Abah selalu menasehatiku untuk segera menemui suamiku karena jika terlalu lama aku meninggalkan Mas Gagah itu tidak baik untuk pernikahan kami.


Aku juga rutin berkunjung ke rumah Kinar. Kinar sahabarku, selalu ada untukku, selalu memberi semangat.


Pagi ini aku sudah datang kerumah Kinar. Kinar ternyata sedang mandi, seperti biasa aku menunggunya di dalam kamar. Ponsel Kinar berdering, aku mengabaikannya, tapi rupanya terus saja berdering, aku mulai merasa berisik. Jika terus berdering siapa tahu telfon penting. Aku mengambil ponsel Kinar, aku terkejut ada foto Mas Guntur terpampang dilayar ponsel Kinar sedang melakukan panggilan vidio call.


Aku tersenyum, Oh jadi ternyata kalian berdua sembunyi-sembunyi nih di belakangku. Aku menjawab panggilan Vidio call dari Mas Guntur. Maaf ya Kinar sayang, sahabatmu ini lancang,hehe.


"Assalamualaikum,"sapaku sambil melambaikan tangan.


Mas Guntur langsung terkejut, "Waalaikumsallam,"jawabnya sedikit terbata.

__ADS_1


Aku melihat Mas Guntur sedang ada dirumah Mas Gagah dan saat itu sedang di ruang makan. Aku sangat hafal.


"Cie ... hayo kamu ketahuan,"Ledekku.


Wajah Mas Guntur langsung bersemu merah, Mas Guntur mengganti arah kameranya menjadi kamera belakang.


Deg, jantungku berdetak begitu cepat saat melihat wajah Laki-laki yang ku cintai terpampang di layar ponsel.


Suamiku, Alhamdulillah, aku bersyukur melihat Mas Gagah dalam keadaan baik-baik saja. Sepertinya Mas Gagah tidak tahu jika wajahnya kini yang sedang di shoot.


Aku reflek mengakhiri panggilan vidionya. Aku memegangi dadaku.


"Mas, Adek rindu,"Gumamku lirih.


Jujur aku sangat rindu dengan Mas Gagah, aku baru sadar ternyata aku sangat mencintainya. Aku merindukan setiap moment yang aku lakukan bersamanya dari bangun tidur sampai tertidur lagi.


Fikiranku saat ini sedang mengingat semua tentang Mas Gagah, tentang rumah tangga kita berdua juga. Aku pernah membaca sebuah buku dan aku ingat satu kalimat pamungkas di dalamnya yaitu jika anda ingin dicintai, maka bersiaplah untuk diuji.


Bersiap untuk dicintai adalah perjalanan panjang yang pasti akan melelahkan raga, tetapi menyuburkan nurani. Bersiap untuk dicintai adalah romantika hidup antara kamu dan Dia. Bersiap untuk dicintai adalah sekelumit pengorbanan sepanjang nafas mengalir.


Kinar keluar dari kamar mandi. Seketika aku terbangun dari lamunanku. Aku melirik Kinar, Awas saja kamu jika tidak mau buka mulut tentang Mas Guntur. Aku membiarkan Kinar mengeringkan rambutnya terlebih dahulu lalu memoles wajahnya dengan bedak tabur dan mengoles bibirnya dengan liptin.


Ponsel Kinar berdering lagi. Aku menatap Kinar, Kinar mengambil ponselnya lalu menatapku canggung.


"Angkat saja, Mas Guntur kan?" Ledekku sambil tersenyum miring.

__ADS_1


Kinar nampak terkejut dengan ucapanku, ia malah mematikan ponselnya lalu menghampiriku.


"Nay, ini tidak seperti yang kamu kira, suer deh." katanya sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Memangnya aku mengira apa, aku dari tadi diam saja." Aku melihat wajah Kinar mulai panik.


Kinar akhirnya menceritakan bahwa awalnya ini gara-gara Mas Gagah yang meminta tolong Mas Guntur untuk menelfonku, menanyakan kabarku. Menanyakan keseharianku. Mas Gagah tidak ingin menanyakan pada Kinar langsung karena takut terjadi salah faham, jadi mengalihkan tugasnya pada Mas Guntur yang kebetulan masih JOMBLO. Hingga akhirnya berlanjut sampai saat ini.


Pantas saja Mas Gagah tidak sering menghubungiku, ternyata Mas Gagah tahu keseharianku lewat Kinar. Menurut Kinar Mas Gagah hanya ingin aku benar-benar tenang.


Maafkan aku Mas, aku membuatmu khawatir. Aku memang bukan istri yang baik, tapi kejadian itu sungguh benar-benar membuatku trauma. Aku takut jika sewaktu-waktu Ayah Mas Gagah datang ke rumah dan kembali menghina dan memfitnahku.


Aku akhirnya bercerita pada Kinar bahwa aku sudah bertekad akan kembali ke Jakarta, di samping rindu dengan suamiku, aku juga tidak ingin terus menerus menjadi istri yang tidak baik seperti ini, meninggalkan rumah begitu lama.


"Memangnya kapan kamu akan kembali ke Jakarta Nay?"


"InsyaAllah lusa"


Kinar mengerutkan dahinya, "Minggu depan saja sih."


"Kenapa harus minggu depan?"


"Ya ... ya aku masih kangen"


Jawaban Kinar menurutku sangat aneh, tapi aku berusaha untuk menimbang-nimbang lagi. Tapi mungkin tidak sampai minggu depan karena itu sangat lama menurutku.

__ADS_1


__ADS_2