
"Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit."
-Ali bin Abi Thalib-
***
DULU, berada dalam satu situasi yang sama dengan Alif adalah hal yang paling mendebarkan bagi Nazwa.
Namun kenyataannya, sekarang gadis itu sudah mulai terbiasa akan kehadiran Alif di sisinya hingga menimbulkan rasa nyaman dan tidak ingin berjauhan.
Nazwa selalu merasa aman ketika Alif berada di dekatnya. Entah perasaan apa yang mulai menggerakkan hatinya.
Nyatanya sekarang Nazwa menyadari sesuatu, bahwa memutuskan untuk hidup bersama dengan Alif adalah sebuah rezeki yang tak terhingga.
Dulu, Nazwa pernah berpikir bahwa menikah dengan Alif adalah sebuah musibah. Tapi sekarang justru dia merasa ingin meralat semua ucapan-ucapannya dulu.
Satu lagi fakta yang terungkap, bahwa Alif telah membawa pengaruh yang baik bagi hidup Nazwa.
Laki-laki itu mampu memecahkan dinding pertahanan di dalam hati Nazwa dengan segala sikap lembutnya selama ini.
Dan ... Alif juga mampu membimbing Nazwa ke jalan yang lebih baik lagi.
"Loh, kok bukan jalan arah pulang?"
Nazwa bingung ketika Alif bukannya berbelok ke kanan tapi malah berjalan lurus jauh dari apartemen mereka.
"Saya mau mengajak kamu ke suatu tempat," ujar Alif tersenyum.
Kadang hal seperti ini yang membuat kesal Nazwa, hanya karena Alif yang selalu misterius.
"Nah, sampai!"
Nazwa menoleh ke sana kemari, memperhatikan sekitar. "Pasar malam?"
Alif nyengir. "Sebenarnya saya sudah lama sekali ingin mengajak kamu ke sini. Tapi selalu gagal terus."
"Mas Alif tau dari mana kalau di sini ada pasar malam?" selidik Nazwa.
"Mbak Oliv yang kasih tahu," ujar Alif tersenyum.
Sesaat kemudian Alif turun dan membukakan pintu untuk Nazwa. Lalu mereka berjalan menuju pasar malam yang ada di alun-alun Kota Yogyakarta itu.
Kondisi dan situasi yang cukup ramai akan pengunjung membuat mereka harus sedikit mengantri untuk membeli tiket masuk.
Akhirnya mereka berhasil mendapatkan dua buah tiket setelah sepuluh menit berdesakan dengan pengunjung dari berbagai daerah.
"Maaf ya, saya malah ngajak kamu ke tempat kaya gini. Harusnya ke tempat yang lebih romantis," kata Alif.
"Nggak papa Mas. Aku seneng malah. Terakhir ke pasar malem waktu kelas 10," balas Nazwa.
"Kamu pernah ke pasar malam?"
Nazwa mencubit pelan pinggang suaminya, "Hish, Mas aku tuh nggak norak banget loh!"
"Sama siapa?" tanya Alif tak mengindahkan perkataan Nazwa.
"Sama kak Upal."
"Berdua?"
Nazwa mengangguk dua kali. "Kenapa?"
Alif menghela napasnya dan mereka kembali berjalan mengelilingi ramainya pasar malam. "Kadang saya suka cemburu kalau kamu terlalu sering berdua sama si Naufal."
Nazwa **** senyum geli, bisa-bisanya Alif cemburu pada saudara kandung Nazwa sendiri.
"Nazwa?" panggil Alif dan Nazwa menoleh.
"Kamu mau tahu sesuatu?" tanya Alif.
"Apa?"
"Jujur, saya sudah jatuh cinta dengan kamu semenjak pertama kali kita bertemu di halte waktu itu," ungkap Alif dengan bahasa kakunya, lagi.
Deg!
Di halte?
Nazwa kembali memutar ingatannya. Waktu itu adalah bagian terburuk dari hidupnya.
Alif terkekeh geli. "Saya juga bingung, kenapa saya bisa secepat itu jatuh cinta dengan kamu hanya karena melihat mata kamu. Padahal waktu itu mata kamu tertutup karena kamu pings--"
Nazwa segera membekap mulut Alif. Entah kenapa dia sangat kesal jika mengingat saat-saat itu.
"Ish udah jangan di inget lagi!"
Alif terkekeh geli. "Iya Sayang, maaf."
Nazwa mengerucutkan bibirnya membuat Alif gemas. Laki-laki itu lantas mencubit pipi istrinya.
"Sakit!" gerutu Nazwa.
__ADS_1
Alif terkekeh lagi. "Saya suka mata kamu."
"Kenapa?" tanya Nazwa.
Alif mengedikkan bahunya. "Nggak tahu. Hanya saja, saya seperti melihat masa depan saya dari dalam sana."
Nazwa tersipu mendengar penuturan-penuturan suaminya. Ternyata orang se-kaku Alif selalu bisa membuatnya tersenyum dengan hal-hal sederhana yang Alif lakukan.
"Nazwa?"
"Iya."
"Kamu nggak pakai jasa pelet, 'kan?"
Namun bukan Alif namanya kalau tidak menghancurkan momen manis mereka.
***
"NAIK bianglala, yuk?" ajak Nazwa.
Alif menggeleng keras. "Enggak! Jangan."
Air muka Nazwa berubah seketika. "Kenapa?"
Alif menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Hmm ... sa-aku, eh kita beli es krim saja yuk?"
Nazwa menggeret lengan Alif yang tadi menggeret lengannya.
"Nggak mau! Aku mau naik bianglala," ujar Nazwa.
Alif membuang napas pasrah. "Ya sudah ayo."
Nazwa tertawa senang. Mereka pun segera menuju wahana bianglala yang nampak tak begitu ramai seperti permainan permainan lainnya.
"Maasya Allah seru banget!" pekik Nazwa saat bianglala mulai berputar.
Alif hanya menanggapi dengan senyum tertekan. Laki-laki itu mencengkeram erat kedua tangannya.
"Mas, kok kamu pucet? Kamu nggak papa, 'kan?"
Alif membasahi bibirnya dengan salivanya. "Nggak, saya nggak papa."
Nazwa mengangguk kemudian gadis itu kembali menikmati seluruh pemandangan pasar malam dari atas bianglala yang mereka naiki.
Saat bianglala berputar dan posisi mereka berada di bagian paling atas, Nazwa di kagetkan dengan keadaan Alif yang gemetar hebat.
"Mas kamu kenapa?!" tanya Nazwa panik.
Nazwa menyadari sesuatu bahwa ada hal yang tidak beres yang terjadi pada suaminya.
"Kita turun aja, ya?"
"Jangan!" Sergah Alif.
"Mas tapi kamu pucat banget," ujar Nazwa panik.
"Saya nggak papa." Alif menggeleng. "Maaf Nazwa, sebenarnya saya phobia naik bianglala."
Nazwa melotot kaget. Ya Allah maaf Nazwa nggak tau.
"Yaudah kalo gitu kita turun aja sekarang," ujar Nazwa khawatir.
"Jangan." Alif memejamkan matanya kemudian tangannya berusaha meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. "Tolong bantu saya menghilangkan phobia ini."
Akhirnya Nazwa mengangguk. Pelan-pelan dia menggenggam tangan Alif hingga Alif merasa sedikit tenang.
"Sekarang coba Mas pejamkan mata," ujar Nazwa dan langsung di turuti oleh Alif.
"Rileks," tambah Nazwa lagi.
Alif mengambil napas membuang napas beberapa kali, masih dengan kondisi mata terpejam.
"Udah mendingan?"
Alif mengangguk, masih setia memejamkan matanya. Berusaha mencari ketenangan.
"Sekarang coba Mas buka mata pelan-pelan," titah Nazwa.
Perlahan Alif membuka matanya, bertepatan saat box bianglala yang mereka naiki sampai di bagian paling atas.
Alif memandangi istrinya dengan wajah pucat.
Nazwa tersenyum. "Coba Mas lihat ke bawah."
Alif menggeleng tak setuju. "Nanti saja kalau sudah berputar ke bawah."
Nazwa memutar bola matanya. "Mas ini beneran bagus pemandangannya. Aku nggak bohong."
Alif mengumpulkan keberanian sebelum menjatuhkan pandangannya ke bawah.
"Maasya Allah, ternyata indah sekali," gumamnya tanpa sadar.
__ADS_1
Nazwa tertawa pelan, ia merogoh ponsel dari tasnya. Dan ...
"Mas?"
Cekrek!
"Astaghfirullah! Sudah mulai berani ya sekarang ... siapa yang ngajarin?"
Nazwa menjulurkan lidahnya. "Satu sama, yeay!"
Alif geleng-geleng, dia tersenyum lega melihat gadisnya tertawa lepas karena dirinya.
Tanpa sadar, Alif sudah tidak lagi merasa ketakutan. Bahkan saat bianglala berputar lebih cepat pun laki-laki itu terlihat lebih rileks dari sebelumnya.
Meskipun tidak dipungkiri bahwa jantungnya masih berolahraga di dalam sana.
Tapi, laki-laki itu benar-benar mulai menikmati waktu kebersamaannya dengan Nazwa. Sebelum mereka berpisah dalam kurun waktu tertentu.
"Terima kasih Nazwa, sudah membuat saya nggak ketakutan lagi dengan bianglala itu," kata Alif saat mereka sudah turun.
Nazwa menanggapi dengan senyuman. "Aku mau es krim."
Alif tertawa. "Ayo kita beli!"
Mereka berjalan menuju penjual es krim.
"Mang, es krimnya dua!" kata Alif pada si penjual es krim.
"Rasa apa Mas?" balas si penjual es krim.
"Vanila sama cokelat."
Penjual es krim tersebut mengacungkan jempolnya kemudian mulai membuatkan pesanan Alif dan Nazwa. Kemudian pasangan itu beralih duduk di bangku yang telah di sediakan.
"Mas tau dari mana kalau aku suka cokelat?"
"Ngeramal aja," jawab Alif asal.
"Astaghfirullah! Mas itu musyrik."
Alif mengerutkan keningnya kemudian tertawa. "Enggak, Sayang ... saya tahu kamu suka cokelat dari bunda."
"Bunda?"
"Iya."
Kemudian datanglah si penjual es krim beserta dua cup pesanan pasangan itu.
Alif kemudian mengeluarkan selembaran uang dan memberikannya pada penjual es krim tersebut. "Makasih mang."
"Bunda tau dari mana kalau aku suka cokelat?"
"Tahu dong! Kamu 'kan menantu kesayangan bunda," balas Alif sambil memakan es krimnya.
Nazwa mencebikkan bibirnya. "Mas aku serius!"
"Kan kamu udah mas seriusin, Sayang,"
Nazwa hanya bergumam, tidak menanggapi Alif dan malah menikmati es krimnya.
"Nazwa?"
Nazwa menoleh bertepatan dengan es krim yang sengaja Alif tempelkan di pangkal hidung istrinya.
"Mas Alif, ish!"
Nazwa membalas mencolekkan es krimnya pada pipi Alif namun dengan gesit Alif menghindar.
Laki-laki itu menjulurkan lidahnya, bermaksud mengejek sang istri.
Beberapa saat berlari membuat Nazwa merasa lelah, hingga sebuah ide terbesit di pikirannya.
"Kamu kenapa?" Alif langsung mendekati istrinya saat Nazwa tiba-tiba terduduk.
Nazwa terdiam hingga Alif berjongkok dihadapan Nazwa.
Tiba-tiba Nazwa mengoleskan es krim cokelatnya pada pipi kanan Alif. Kemudian gadis itu berlari dan tertawa saat rencananya berhasil.
Alif menggelengkan kepalanya kemudian berlari mengejar sang istri.
Sangking asyik mengejar hingga membuat mereka lupa bahwa mereka menjadi tontonan beberapa pengunjung pasar malam.
Di antaranya ada yang senang melihat kecocokan mereka, dan ada pula yang mencemoh karena tidak suka akan kebersamaan mereka.
Begitulah manusia. Hanya bisa menilai sebatas luar saja tanpa tahu seluk-beluknya.
Bersambung.
***
Assalamu'alaikum. Maaf, boleh minta TIP nya? π
__ADS_1