
"Kita sama-sama berjuang, ya. Agar kelak jika kita berjodoh, aku pantas untukmu dan kamu pantas untukku."
***
PIPINYA memerah mendengar ucapan laki-laki disebelahnya. Mati-matian Nazwa mengatur degup jantungnya, supaya tidak ada orang yang mendengar.
Bukan berarti Nazwa langsung jatuh cinta hanya karena gombalan receh yang Alif katakan beberapa menit yang lalu. Tapi, ia malu dan gugup setengah mati jika sudah berhadapan dengan orang banyak seperti sekarang ini.
Acara demi acara kian berlangsung, semua orang pun sudah mengutarakan kata selamat bagi kedua insan yang sudah resmi menjalin ikatan 'halal' hari ini. Dan selama acara berlangsung itu pula, senyum Alif tak kunjung redup.
Nazwa melirik sekilas ke arah Alif. Masih sama, senyumnya masih mengembang seperti kembang di musim semi. Nazwa jadi curiga, kalau laki-laki yang beberapa menit lalu telah sah menjadi suaminya itu tengah mengidap kelainan jiwa.
Dengan rasa penasaran yang menggunung, Nazwa memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Ka-kakak kenapa senyum-senyum terus, sih?"
Sedikit terkejut, Alif menoleh. Namun senyumnya tak kunjung pudar. "Memangnya kenapa?"
Nazwa menahan napas sebentar lalu kemudian menggeleng.
"Saya bahagia, Wa. Apa kamu juga?"
Bahagia? Apakah Nazwa bahagia sekarang? Nikah muda, belum sempat mengejar karirnya, kuliahnya, dan merelakan masa mudanya karena harus menikah di usia muda.
Apakah Nazwa bahagia?
Entahlah. Pikirannya mungkin berkata tidak, tapi hatinya berkata lain mungkin. Sebab, tidak bisa dipungkiri pula, jika dia memang kagum terhadap sosok Alif. Calon dokter muda, tampan, taat pada Sang Pencipta, mapan pula.
Ah, siapapun wanita pasti menginginkan laki-laki yang seperti ini. Tapi bagi Nazwa, perasaannya yang sekarang hanya sekedar 'kagum', belum sampai pada jenjang mencintai.
"Nazwa."
Panggilan itu membuyarkan lamunannya.
"A-apa? Tadi Kakak bertanya apa?"
Alis tebal Alif terlihat sedikit menyatu, lalu kemudian dia tersenyum dan menggeleng. "Kamu nggak perlu jawab sekarang."
Bukan tidak mendengar, apalagi lupa. Hanya saja mungkin Nazwa belum siap menjawabnya. Biarlah hatinya yang menentukan, apakah ia bahagia atau tidak.
Setelah resepsi selesai, semua orang mulai kembali ke rumah masing-masing. Hanya tinggal anggota keluarga besar dari keluarga Alif dan Nazwa saja yang masih tetap tinggal.
Semua orang nampak sibuk membereskan barang-barang yang habis digunakan saat pesta sederhana tadi. Terkecuali Nazwa yang masih mengurung diri di kamar dengan pemikiran-pemikiran lain di otaknya.
Nazwa memutuskan untuk mandi dan turun untuk membantu anggota keluarga lain.
Sekarang, ia sudah mengenakan gamis santai yang terlihat elegan, tapi juga tak menyurutkan aura cantiknya.
Saat hendak menyisir rambut, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
"Nazwa, boleh saya masuk?"
__ADS_1
Gap!
Itu suara Alif.
Nazwa cepat cepat memakai khimarnya. Namun, sebelum itu, Alif sudah terlebih dulu masuk dan melihat semuanya.
"Kamu nggak perlu nutup nutupin lagi, Nazwa. Saya ini suami kamu," kata Alif dengan menekankan kata 'suami'.
Nazwa merasa pipinya mulai memanas, namun dengan cepat ia berpaling dan berkata. "Kak! Aku kan belum kasih izin Kakak untuk masuk."
"Memangnya saya harus izin dulu, ya?" tanya Alif dengan senyumnya. Dengan santai ia duduk di tepian kasur milik Nazwa.
"Iya! Ini 'kan kamar aku!" ketus Nazwa.
Alif dengan santai selepas jas yang ia kenakan sedari berlangsungnya resepsi dan ijab qabul tadi, membuat Nazwa semakin geram. "Sekarang, kamar kamu juga menjadi kamar saya bukan? Saya sudah menjadi suami kamu, kalau kamu lupa."
Nazwa berdesis. "Terserah Kakak!"
Nazwa hendak keluar, sebelum suara bass milik Alif berhasil menahannya.
"Nazwa."
Masih dengan posisi yang sama dan tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Nazwa nyaris tersedak ludahnya sendiri saat mendengar pertanyaan dari Alif.
"Apa kamu terpaksa menerima perjodohan ini?"
Nazwa membalikkan badan dengan kaku. "Maksud ... Kakak?"
"Saya tahu, saya egois karena dengan mudah menyetujui perjodohan ini tanpa bertanya terlebih dahulu tentang pendapat kamu, apakah kamu menyetujuinya atau tidak," ucap Alif, ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan bicara. "Tapi, saya juga tidak berbohong, kalau saya sangat senang saat mengetahui fakta bahwa orang yang akan di jodohkan dengan saya itu kamu."
"Kenapa?" cicitnya pelan tanpa berani menatap manik mata Alif.
"Karena saya--"
"Dek! Dipanggil abi tuh! Katanya suruh turun dulu, keluarga Alif mau pamit." Tiba-tiba suara Naufal memotong ucapan Alif dari balik pintu yang tertutup.
Alif mendesah kecewa, tapi dia tetap tersenyum. Mungkin ini belum saatnya Nazwa mengetahui akan isi hatinya selama ini.
"Sudah. Kamu turun dulu, ya. Nanti saya menyusul. Sampaikan pada semuanya untuk menunggu sebentar. Saya mau mandi."
Walaupun kecewa karena Alif tidak jadi melanjutkan ucapannya, namun Nazwa tetap mengangguk patuh. Biar bagaimanapun, perintah suami adalah hal pertama yang harus ia patuhi. Begitu kata ummi.
Kemudian Nazwa turun dan menemui seluruh anggota keluarganya.
Tak lama setelah itu, Alif pun menyusul turun ke lantai bawah untuk menemui semuanya. Ia mengenakan kaos polos berwarna putih dan celana dasar berwarna hitam. Membuat Nazwa nyaris tak berkedip.
Begitu saja sudah tampan. Itu beneran suami gue? Batinnya.
"Maaf lama," kata Alif kepada semuanya.
"Ah, nggak pa-pa kok, Lif. Ayah sama Bunda dan yang lainnya cuma mau pamit pulang."
__ADS_1
"Kenapa cepat banget?" tanya Alif menatap semuanya.
Ranti, Bundanya Alif terkekeh. "Iya, kami harus pulang, Sayang. Cuma kamu yang ditinggal sampai lima hari nanti kamu akan tinggal di sini sebelum boyongan kerumah Ayah."
Alif mengangguk-angguk. "Oh, begitu," gumamnya.
"Ya sudah. Ahmad, kalau begitu kami mohon undur diri. Titip anak saya, ya," canda Hanan, ayahanda Alif.
Ahmad, abinya Nazwa pun terkekeh seraya menepuk bahu sahabat karibnya itu. "Kayak sama siapa aja."
Semua orang ikut tertawa kecil, begitu pula dengan Nazwa yang terenyuh menyaksikan keakraban antara abi dan ayah mertuanya.
Setelah seluruh anggota keluarga Alif pulang, kini tinggal keluarga dari pihak Nazwa saja. Mereka semua berkumpul diruang keluarga dengan abi yang duduk disebelah ummi, Naufal disebelah Aina, dan ... Nazwa yang terpaksa harus duduk disebelah Alif karena hanya tinggal satu ruang yang kosong, yaitu disebelah Alif.
"Jadi, gimana? Kalian mau honeymoon kemana?" tanya ummi Audy.
Nazwa yang sedang minum teh nyaris tersedak mendengar pertanyaan sang ummi.
"Ummi," panggil Nazwa seolah memberi peringatan, tapi tetap saja tidak diperdulikan.
"Saya kembalikan kepada Nazwa, Ummi. Kemanapun Nazwa mau, insyaa Allah akan saya usahakan," jawab Alif sopan.
Nah! Ini nih! Tipikal suami idaman banget kan?
"Um. Apa nggak sebaiknya kita tunggu dulu sampai Alif wisuda? Kasian Alif, biar nggak terlalu banyak beban pikirannya." Usul abi Ahmad yang langsung di angguki penuh semangat oleh Nazwa.
"Kamu kenapa?" tanya Naufal.
Nazwa nyengir dan menggelengkan kepalanya, membuat Naufal ikut menggeleng heran.
"Nggak masalah, Bi, kalau memang itu keinginan Nazwa," jawab Alif sopan.
"Iya juga, ya," balas ummi Audy sambil mengangguk-angguk. "Ah, ya sudah. Kalau begitu biar Naufal sama Aina dulu yang honeymoon, nanti Nazwa sama Alif nyusul kalau Alif sudah wisuda."
"Siap permaisuri!" kata Naufal, yang langsung dihadiahi cubitan oleh Aina.
"Sayang, kok nyubit sih? Nanti Mas terluka gimana?" Naufal mulai mendramatis, membuat Nazwa mendengus.
"Udah deh Mas, jangan lebay!" kata Aina.
"Lebay apanya, Sayang. Emang kamu nggak mau honeymoon sama Mas?"
"Mas!" desis Aina galak.
"Iya, iya. Aku nggak mau nanggung resiko tidur diluar malam ini."
Nazwa merasa malu dengan kondisi keluarganya yang serba absurd seperti ini. Tapi lain halnya, Alif malah tertawa melihat perdebatan sahabat sekaligus Kakak iparnya itu.
"Maaf. Keluargaku emang gini kalau lagi kumpul," ucapnya lirih kepada Alif.
Alif tersenyum. "Nggak papa, Nazwa. Sekali lagi saya senang bisa menjadi bagian dari keluarga besar kamu."
__ADS_1
Blush!
Bersambung.