
"Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan."
-HR. Ibnu Abdil Barr-
***
"KENAPA kita nggak daftar lewat website mereka aja?"
Alif menoleh dan tersenyum. "Kalau daftar lewat website, nanti kamu nggak bisa lihat-lihat langsung gedung kampusnya, Sayang."
Kemudian keheningan kembali tercipta di antara keduanya. Kini, mereka sedang dalam perjalanan menuju kampus tempat Alif kuliah.
Hingga beberapa menit kemudian, mobil Jazz Alif mulai memasuki pelataran kampus. Alif memarkirkan mobilnya dengan baik.
Saat Nazwa hendak membuka pintu mobil, gerakannya terhenti saat mendengar suara Alif.
"Tunggu sebentar."
Laki-laki itu turun lebih dulu, mengitari bagian depan mobil dan membukakan pintu untuk istrinya.
Lagi, dan lagi, sepertinya Nazwa harus terbiasa di perlakuan seperti ini.
"Ayo."
Keduanya berjalan beriringan menuju aula fakultas, karena memang pendaftaran camaba di selenggarakan di aula.
Suasana kampus yang cukup ramai membuat keduanya menjadi pusat perhatian.
"Itu Kak Alif, 'kan?"
"Iya, itu Kak Alif!"
"Astaga! Cowok idaman gue sama siapa tuh?"
"Pacarnya kali."
"Ah, masa sih? Ya kali pacarnya buluk gitu."
"Lo bego banget, sih! Ya mana mungkin Kak Alif mau pacaran."
"Astaga Suamiable gue jalan berdua ama cewek!"
"Ceweknya cantik!"
"Buluk gitu!"
"Jadi itu siapa woi?"
"Sepupunya kali!"
Dan masih banyak lagi bisikan-bisikan yang menghampiri telinga Nazwa.
Gadis itu memutar kedua matanya, ternyata suaminya seterkenal ini di kampus?
Alif pun mendengar semua bisikan-bisikan itu, tapi ia seakan sudah terbiasa. Berbeda dengan Nazwa yang merasa sedikit risih, karena ini adalah pertama kalinya ia menginjakkan kaki di kampus itu.
Alif kian menggenggam erat tangan istrinya. "Nggak usah di dengarkan."
Nazwa menghela napas dan mengangguk patuh. Alif suka cewek penurut begini. Menambah nilai plus untuk wanitanya.
Mereka tiba di depan pintu aula, "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikmumussalam," sahut orang yang ada di dalam.
"Eh, Lif. Tumben lo ke aula?" kata orang itu yang tak lain adalah Bobby, sahabat Alif.
Bobby memang menjadi panitia pelaksana penerimaan mahasiswa-mahasiswi baru di kampus mereka.
Meskipun sudah semakin menginjak semester akhir, tapi laki-laki itu suka mengikuti kegiatan-kegiatan dan selalu aktif jika ada acara semacamnya.
"Bukan urusan lo." Alif langsung berjalan untuk mengambil formulir pendaftaran yang di sediakan di meja.
Bobby berdecak. "Lah elo, udah nikah masih aje dingin."
Kemudian mata Bobby beralih menatap seseorang yang berdiri di sebelah Alif. "Eh, ada Nazwa."
Nazwa tersenyum kikuk. "Hai, Kak."
"Apa kabar?" tanya Bobby.
"Alhamdulillah baik," jawab Nazwa.
"Eh, waktu itu kita belum kenalan 'kan, ya?" Bermaksud menggoda Alif, Bobby mengulurkan tangannya ke arah Nazwa.
"Kenalin, nama Kakak Bobby."
Langsung saja Alif menangkis tangan sialan milik sahabatnya itu. Demi Allah, dia tidak akan rela jika miliknya di sentuh oleh orang lain. Apalagi jika itu menyangkut dengan Nazwa.
Alif melirik sengit. "Singkirin tangan lo. Jangan sampai UGD nerima pasien baru hari ini."
Tawa Bobby pecah begitu saja. Sahabatnya sangatlah posesif. Hal itulah yang membuat Bobby semakin gencar untuk menggoda manusia es itu.
__ADS_1
Dan dari situ Bobby tahu, bahwa Alif tidak main-main dengan perasaannya.
Sedangkan Nazwa, gadis itu tersipu sekaligus kesal akibat sifat suaminya yang sangatlah protective.
"Santai, Bro! Gue nggak suka makan temen." Bobby masih terkikik melihat ekspresi Alif yang sudah merah padam.
Alif tak menghiraukan perkataan Bobby. Ia malah beralih menghadap sang istri. Dan seketika, wajahnya kembali melembut.
"Sudah di isi?" tanyanya lembut.
Nazwa mengangguk. "Udah."
"Ayo. Kita lihat-lihat kampusnya," ajak Alif kemudian menyelusupkan jemarinya di sela jemari Nazwa.
Bobby yang melihat itu hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah. Kapan dia bisa seperti itu juga?
"Kak, kita pergi dulu, ya. Assalamu'alaikum." Nazwa tersenyum kemudian pamit meninggalkan Bobby seorang diri.
Bobby balas mengangguk dan tersenyum. "Wa'alaikumussalam. Titip temen Kakak, ya, Wa! Dia bahaya kalo udah posesif gitu!"
Nazwa menanggapi dengan tertawa kecil sedangkan Alif hanya melirik malas ke arah sahabatnya.
Saat hendak berjalan keluar, tiba-tiba langkah Alif terhenti saat berpapasan dengan seseorang.
Spontan Nazwa pun ikut berhenti. Ia memandang bingung ke arah suaminya. "Kenapa Mas?"
"Nggak papa."
Alif melirik sekilas ke arah Laras kemudian kembali berjalan bersama Nazwa.
Bobby yang melihat itu merasa heran. Aneh, kedua sahabatnya tidak bertegur sapa dan ini tidak seperti biasanya.
Mereka kenapa, sih? Tanya Bobby dalam hati.
***
"KAMU capek, ya?"
Nazwa tersenyum kemudian menggeleng. Ia tidak lelah, justru senang bisa mengelilingi kampus tempat suaminya kuliah. Lebih tepatnya calon kampusnya mungkin.
Meskipun tadi banyak yang berbisik jelek tentangnya, tapi tak sedikit juga yang menyapa ramah mereka saat berpapasan di koridor kampus atau tempat yang lainnya.
Ya, dan dia tahu bahwa mereka menyapa Alif, bukan dirinya. Nazwa mengedikkan bahu, siapa peduli?
"Kalau kamu capek, kita istirahat dulu," ujar Alif.
"Aku nggak papa Mas."
Nazwa sangat antusias melihat isi perpustakaan yang begitu rapi. Banyak buku-buku yang berjejer rapi di rak tinggi.
Tak hanya buku-buku tebal, perpustakaan ini juga menyediakan novel-novel dengan berbagai genre yang tentunya akan membuat para pecinta novel betah berada berlama-lama di dalamnya.
"Maasya Allah ... Aku jadi pengin banget kuliah di sini," gumam Nazwa tanpa sadar. Ia memang sangat menyukai novel. Seperti novel adalah hidupnya.
Alif tersenyum sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Ia masih setia berdiri menemani istrinya dari belakang.
Ya, agar saat Nazwa terjatuh dia bisa dengan sigap menangkapnya. Ia tidak akan membiarkan wanitanya terjatuh dan terluka. Karena baginya, senyum Nazwa adalah candu.
Ia selalu ketagihan saat melihatnya. Bahkan, ia ingin bisa melihat senyum itu setiap hari. Kalaupun senyum itu pudar, dirinya akan berupaya agar bisa mengembalikan senyum itu.
Tiba-tiba ingatan tentang kejadian tadi kembali mengusik pikiran Alif. Kejadian saat bertemu dengan Laras di depan perpustakaan.
Alif sempat berpikir, bagaimana mungkin Laras masih berkeliaran di area kampus di saat wanita itu sedang mengandung?
Apakah laki-laki itu yang berbohong? Atau jangan-jangan ...
Ah, rasanya tidak mungkin Laras akan sekejam itu.
Alif masih terus bertarung dengan pikirannya. Sampai suara halus nan lembut itu membuatnya tersadar.
"Mas?"
"Eh, iya?"
Nazwa mencibir pelan di saat dirinya sedari tadi berbicara sendirian.
"Kenapa, hm?" tanya Alif seraya tersenyum.
"Aku haus."
Alif mengernyitkan dahi lalu terkekeh. "Kenapa nggak bilang dari tadi? Ayo, kita ke kantin fakultas."
Belum sempat menjawab, Alif sudah lebih dulu menggeret lengannya.
Mereka sampai di kantin tempat biasanya Alif dan kawan-kawan nongkrong. Kantin Mbok Dayu memang sangat nyaman.
Tak hanya itu, masakannya pun terkenal enak seantero kampus ditambah lagi dengan harganya yang terjangkau itu. Sangat pas dan cocok bagi mahasiswa yang jauh dari orang tua a.k.a ngekost.
Kehadiran mereka cukup menjadi pusat perhatian, dan itu membuat Nazwa sangat risih. Ia tidak suka menjadi pusat perhatian seperti.
"Kamu mau makan apa? Biar saya yang pesan," tanya Alif setelah mereka menemukan tempat kosong.
__ADS_1
Nazwa menggeleng. "Aku nggak laper. Cuman haus aja."
"Sayang ... kamu dari pagi belum sarapan, 'kan? Sudah. Pokoknya kamu harus makan. Coba lihat sudah jam berapa?"
Nazwa melirik ponselnya dan benar saja sekarang sudah pukul 13.35 wib.
"Yaudah, iya, iya."
Alif mencubit pelan hidung mancung namun mungil milik istrinya. "Nah, gitu dong. Kalau nurut 'kan saya tambah cinta."
Nazwa mencibir. Suaminya sangat receh ternyata.
"Mbok!"
Kemudian seorang wanita paruh baya menghampiri meja mereka. "Eh, Mas Alif. Lama nggak keliatan, iki?" (Dibaca \= iki \= ini)
Alif tersenyum sekilas. "Iya Mbok. Lagi sibuk ngurusin skripsi."
Wanita keturunan Jawa asli itu ber-oh ria lalu mengangguk paham. Kemudian wanita paruh baya itu melihat ke arah Nazwa. "Loh, eh, iki sopo to Mas?" (Ini siapa Mas?)
"Kenalin Mbok, istri saya," bisik Alif dan tersenyum ke arah Nazwa.
Nazwa merona saat Alif mengatakan kalimat istri saya. Ia jadi bingung. Bagaimana caranya Alif bisa secepat ini jatuh cinta padanya?
Menepis pemikirannya, Nazwa tersenyum lalu mengulurkan tangan kanannya pada Mbok Dayu. "Kenalin Mbok, nama saya Nazwa."
Mbok Dayu membalas hangat tangan Nazwa dan mengayun-ayunkannya di udara. "Oalah ... cantik tenan kamu nduk. Beruntungnya Mas Alif yang terkenal dingin dan irit ngomong ini bisa dapetin kamu."
Nazwa tertawa kikuk. Apa benar Alif beruntung? Atau malah ia yang beruntung? Entahlah.
"Loh, tapi Mas Alif nikah kok nggak ngundang ngundang to Mas?" tanya Mbok Dayu.
"Memang nggak ada yang di undang Mbok. Acaranya privat. Jadi yang datang cuma keluarga besar saja," jelas Alif.
"Oh ngunu to Mas ...." Mbok Dayu mengangguk angguk.
Kriuk'
Percakapan mereka terhenti tatkala mendengar erangan cacing dari perut Nazwa. Gadis itu menunduk kemudian tertawa kikuk. Perutnya nggak bisa lihat sikon.
Alif lantas memandang Nazwa seolah berkata 'katanya nggak lapar' dan dibalas cengiran tak berdosa.
"Oalah, iyo, Mbok jadi lupa iki. Mas Alif sama Mbak Nazwa mau pesen apa?" tanya Mbok Dayu.
"Nasi uduk 2 sama es tehnya 2, ya, Mbok. Lauknya yang biasanya," ujar Alif.
Setelah Mbok Dayu berlalu, Alif langsung memberi petuah pada Nazwa. Perihal gadis itu harus menjaga kesehatannya dengan baik, makan teratur dan lain sebagainya.
Nazwa hanya bisa mengangguk pasrah dengan ekspresi paling malas.
Ting!
Bobby.
Lo dipanggil pak Bams ke ruangannya.
Alif lantas menunjukkan ponselnya kepada Nazwa. "Saya dipanggil dosen pembimbing. Nggak tahu suruh ngapain. Mungkin ngomongin skripsi."
"Yaudah Mas ke sana aja," jawab Nazwa.
"Kamu nggak papa saya tinggal sendirian?" Alif memandang Nazwa bersalah.
Nazwa menggeleng dan tersenyum meyakinkan Alif. "Nggak papa."
"Yaudah. Nanti kalau makanannya sudah datang, kamu langsung makan, ya. Saya pergi dulu sebentar." Alif mengusap puncak kepala Nazwa kemudian berlalu.
Tak lama setelah itu, Mbok Dayu kembali datang lengkap dengan pesanan Alif tadi.
"Silahkan nduk."
"Terima kasih Mbok," balas Nazwa.
"Loh, Mas Alif nya ke mana?"
"Lagi dipanggil dosen Mbok," jawab Nazwa.
Kemudian Mbok Dayu pamit untuk melayani pembeli yang lain. Nazwa pun segera membaca doa dan memberi jatah makan pada cacing yang membuatnya malu tadi.
Saat sedang menikmati makanan, tiba-tiba seseorang datang dan langsung duduk dihadapan Nazwa.
"Hai," sapa orang itu.
Bersambung.
***
Hallo, Assalamualaikum semunya π
Maasya Allah, terus terang aku senang banget baca komentar baik dari kalian ππ
Terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerita ini. Terima kasih atas support kalian ππ
__ADS_1
Jadi, cerita ini akan aku update 2 hari sekali ya. Jangan ke mana-mana ππ