
"Kita hanya bisa berencana, selebihnya Allah yang menentukan."
***
HARI ini Nazwa pergi ke kajian bersama Acha. Sebelum lusa mereka menghadapi UNBK yang sudah di depan mata.
Ini adalah kesekian kalinya gadis itu menghadiri acara seperti ini, pasca perpisahannya dengan Raka.
"Wa. Aku beli tiket masuk dulu, ya? Kamu tunggu di sana," ujar Acha sambil menunjuk bangku tunggu.
Nazwa mengangguk pelan. "Jangan lama-lama, ye."
"Sip bosku."
Nazwa duduk sendiri di bangku itu. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas ransel yang ia gendong. Dibukanya aplikasi berwarna hijau yang isi pesannya banyak berasal dari grup.
Jomblo Istiqlal๐ฃ
Alvinganteng_
Pada kemana nih? Tumben sepi ๐
Nazwazivaran_
Lagi di kajian nih, Vin.
Alvinganteng_
Dimana Wa? Sama siapa?
"Wawa. Ayo masuk!" seru Acha yang tiba-tiba datang dengan dua tiket di tangannya.
"Sebentar, Cha. Aku lagi balesin chat Alvin nih di grup."
"Alvin chat di grup?"
Nazwa mengangguk. Masih fokus mengetikkan balasan. Namun, balasannya tersingkir karena ada pesan yang lain masuk terlebih dahulu.
Natasyaaarasyid
Sama aku. Kenapa? ๐
Nazwa melirik ke arah Acha yang cengengesan saat diperhatikan.
Alvinganteng_
Yee. Nenek sihir ngegas mulu kamu๐
Natasyaaarasyid
Kamu ngatain aku nenek sihir?!
Alvinganteng_
Kali iya kenapa ๐
*kalo
Ih typo.
Natasyaaarasyid
Sini kamu kalo berani! Aku tungguin di kajian sekarang!
Grup berisikan tiga orang manusia itu terus memberi notifikasi pada ponsel Nazwa.
"Astaghfirullah. Acha udah, Cha. Istighfar kamu mah ngeladenin Alvin nggak akan ada habisnya." Nazwa mengomel pada sahabatnya itu.
Sekarang terbalik. Kadang Nazwa yang lebih sering cerewet ketimbang Acha.
"Aku kesel tau sama si Alvin!" sungut Acha.
"Ati-ati nanti kesalmu di catat dosa."
Acha langsung beristighfar. Menyesali kekesalannya. Tapi, memang tidak bisa dipungkiri. Kadang apapun yang dilakukan Alvin selalu membuat darah putihnya melonjak drastis.
"Ayo. Tadi katanya ngajakin masuk." ajak Nazwa.
Kedua gadis itu berjalan ke pintu masuk. Baru dua langkah berjalan. Ponsel Acha kembali berbunyi.
Alvinganteng_
Otw.
Acha membelalakkan matanya. Nazwa yang kebingungan hanya mampu menghela napas sekali lagi.
"Kenapa lagi anak ini?" gumam Nazwa pelan.
"Alvin otw ke sini," desis Acha sambil menunjukkan ponselnya pada Nazwa.
__ADS_1
"Yaudah biarin aja."
Dahi Acha berkerut. "Kok biarin?!"
"Terus mau di apain?" Nazwa memutar bola matanya malas. "Kajian ini kan untuk umum."
"Tapi kan--"
"Udah, ayo. Keburu mulai ntar." Nazwa menggamit lengan sahabatnya. "Jangan lupa di silent ponselnya."
***
SETELAH mencermati kajian dari Ustadz pembimbing. Kini tibalah saatnya Ustadz inti yang mengisi acara.
"Kepada Ustadz Hanan Diafhakri, dipersilahkan untuk mengisi kajian selanjutnya," kata si pembawa acara.
Naiklah seorang laki-laki paruh baya dengan seluruh wibawanya ke atas panggung. Laki-laki yang masih terlihat sehat bugar. Bukan hanya Nazwa dan Acha, peserta kajian lain pun ikut serta mengamati Ustadz tersebut.
Nazwa melebarkan matanya. Sosok itu seperti tak asing baginya. Di amatinya sekali lagi. Dan ... benar saja!
Itu adalah sahabat abinya. Ayah dari laki-laki yang melamarnya hari lalu.
Jadi, sahabat abinya itu seorang Ustadz?
Nazwa mengerti sekarang. Ia menunduk dalam. Berharap posisinya tidak terlihat. Karena ia duduk di bangku paling depan.
"Ssstt. Ngapain nunduk terus, woi? Itu kajiannya udah mulai tau." Acha menyenggol lengan Nazwa.
"Hah?!" Nazwa menoleh kaget.
"Kamu kenapa? Sakit, ya?" Acha menyentuh dahi sahabatnya.
Nazwa menggeleng pelan. "Enggak kok."
Acha menghela napas kemudian kembali mencermati kajian di hadapannya. Bukannya Nazwa ingin merahasiakan hal ini dari Acha. Tapi kalau di pikir-pikir, rasanya memang dia belum siap untuk mengakui semuanya.
***
SELEPAS kajian selesai, mereka memutuskan untuk makan siang bertiga di Cafe tempat Alvin bekerja.
Ya. Bertiga. Karena tadi Alvin menyusul kedua gadis itu seusai kajian.
"Vin. Kok kamu nyusul kita sih tadi? Bukannya kamu harus kerja?" tanya Nazwa.
Mereka masih menunggu pesanan mereka.
Alvin kelihatan bingung untuk menjawab. "Eee ... a-aku ... tadi, anu,"
"Kok kamu ngegas mulu sih ke aku? Minta di lamar, heh?" ucap Alvin sarkas.
Sebenarnya dia senang, karena ada alasan lain untuk mengalihkan pertanyaan Nazwa yang tidak tahu harus dia jawab bagaimana.
Pipi Acha seperti kepiting rebus sekarang. Bilangnya tidak suka. Tapi masih suka baper kalau di gombalin. Dasar Acha.
"Kenapa pipi kamu?" goda Alvin. "Oh, aku tau. Jangan-jangan kamu beneran pengin aku lamar, ya?" Alvin berdecak. "Oke deh. Nanti ya tunggu aku lulus dan sukses."
Dan, laki-laki itu semakin gencar menggoda seorang gadis yang katanya merangkap menjadi sahabatnya itu.
Nazwa hanya menggelengkan kepalanya. Sudah menjadi makanan sehari-hari untuk menonton perdebatan kedua insan ini.
"Diem kamu!" sungut Acha.
"Udah, udah. Berantem mulu. Kalau jodoh baru tau rasa." Akhirnya selalu Nazwa yang melerai.
"Naudzubillah!" pekik keduanya. Tanpa sadar mereka mengucapkan dengan bersamaan.
Acha dengan cepat menunjuk Alvin. "Dia yang mulai duluan!"
Bola mata Alvin melebar, seolah tak terima. "Enak aja! Kamu duluan!"
"Astaghfirullah!" geram Nazwa. "Aku ke toilet dulu deh. Pinknya, begitu aku sampai sini, kalian udah harus akur. Kalau masih debat lagi, aku pulang!" ujar Nazwa kemudian berlalu ke toilet.
"Eh, Wa!" panggil Alvin.
Laki-laki itu kemudian melirik sinis Acha. "Gara-gara kamu nih!"
"Kamu nyalahin aku?!" Acha berdiri dari posisi duduknya.
Alvin langsung terdiam. Tidak akan ada habisnya berdebat dengan wanita dihadapannya ini. Karena menurut teori nomor satu di dunia yang pernah ia dengar; bahwa wanita selalu benar.
Acha kemudian duduk seperti semula. Keduanya masih menatap sinis satu sama lain.
Tiba-tiba, ponsel Nazwa yang tergeletak di atas meja menyala. Menampilkan notifikasi pop-up dari aplikasi Line milik Nazwa.
Abi๐
Assalamualaikum, dek. Gimana jawaban kamu tentang perjodohan semalam? Ini pihak ibu dari Alif sudah bertanya ...
Acha dan Alvin melotot. Belum selesai mereka membacanya, tapi ponselnya sudah kembali mati.
__ADS_1
"Vin. Kamu baca, 'kan?" tanya Acha pelan.
Alvin mengangguk samar. "Kenapa Nazwa nggak cerita sama kita, Cha?"
Acha membalas dengan gelengan. "Jangan berpikir negatif dulu. Mungkin Nazwa ada alasan tersendiri, jadi dia nggak cerita hal ini sama kita."
Alvin tertawa pedih. "Kita sahabatan nggak cuma seminggu dua minggu, Cha. Selama ini kita selalu terbuka dalam masalah apapun. Kenapa Nazwa enggak?"
"Nanti kita tanyakan baik-baik," putus Acha final.
Kemudian Nazwa datang dan kembali duduk. Pesanan mereka sudah datang. Tapi Acha dan Alvin masih saling diam. Tidak seperti biasanya. Apa mereka sudah akur dari perdebatannya tadi? Pikir Nazwa.
"Cha, Vin?" panggil Nazwa.
Acha menoleh dengan senyum canggung. "Eh! Iya! Ka-kamu lama banget, sih?"
"Kamu kenapa gugup gitu?" tanya Nazwa dengan dahi mengerut dalam.
"Aku ... aku--"
"Kenapa kamu nggak jujur sama kita, Wa?" Alvin memotong ucapan Acha. Membuat Acha meringis dan menginjak kaki Alvin dengan sepatunya dari bawah meja.
Jika biasanya laki-laki itu akan mencak-mencak, tapi kali ini ia hanya diam. Dengan pandangan dalam, menatap makanan dihadapan mereka.
"Maksud kamu?" Nazwa benar bingung. Dia tidak mengerti arah pembicaraan sahabatnya ini.
"Kamu dijodohin, 'kan?" tembak Alvin langsung.
Deg!
Eh! Kok mereka tau? Pikir Nazwa.
Ia lalu melirik ponselnya yang ternyata lupa tidak di masukkan ke dalam tas. Segera ia memeriksanya dan ternyata benar. Ada pesan masuk dari abi yang menanyakan soal perjodohannya dengan laki-laki bernama Alif itu.
"A-aku ... aku bingung harus gimana, Vin, Cha." Nazwa menelan saliva susah payah. "Aku pengin cerita sama kalian tapi aku takut. Aku malu bilang ke kalian kalau harus nikah muda."
Kedua mata gadis itu berkaca-kaca.
Ah! Nazwa benar takut sahabat-sahabatnya akan kecewa.
"Kamu belum kasih jawaban ke abi, 'kan?" Kini Acha bersuara.
Nazwa menggeleng pelan. "Aku bingung."
"See? Dan kamu nggak cerita sama kita tentang hal ini? Padahal kamu bisa minta pendapat kita. Lalu, kamu anggap persahabatan kita ini apa, Wa?" sambar Alvin.
Air mata Nazwa luruh. Acha segera menariknya ke dalam pelukannya.
"Udah Vin!" tegur Acha.
Alvin menghela napas berat. Membiarkan gadis itu menangis hingga tenang terlebih dahulu. Jujur Alvin sangat kecewa mengetahui semua ini.
"Aku harus gimana sekarang?" tanya Nazwa setelah merasa tenang.
"Kamu kenal laki-laki itu?" Alvin bertanya balik.
Nazwa mengangguk pelan. "Waktu itu dia dan sepupunya pernah nolong aku waktu aku pingsan di halte. Dia juga pernah bayarin belanjaan aku waktu aku kehilangan Kak Upal di Mal. Dan ... kemarin malam, dia datang beserta keluarganya. Melamar aku. Ternyata ayahnya adalah sahabat abi."
"Terima aja, Wa!" seru Acha yang mendapat pelototan dari Alvin.
"Kenapa sih, Vin? Kamu cemburu Nazwa di lamar orang lain?" sewot Acha.
"Diem kamu!" ketus Alvin. "Jadi gimana keputusan kamu?"
"Aku masih bingung. Kalian tau sendiri usia aku masih terlalu muda untuk berumah tangga. Dan, tiga hari lagi kita baru akan Ujian Nasional." Air mata Nazwa kembali mengalir, "tapi, aku udah sholat istikharah. Meski belum dapet jawaban."
Nazwa menghela napasnya. "Tapi di sisi lain, abi sangat mendukung perjodohan ini, Vin, Cha. Dan, rasanya aku nggak mau mengecewakan abi."
"Ya udah kamu terima aja," kata Alvin akhirnya. "Laki-laki itu, insyaa Allah laki-laki baik. Dia datang dengan sopan, bersama keluarganya. Berniat baik untuk meminang kamu, bukan mengajak maksiat. Insyaa Allah dia bisa menjaga kamu."
Acha mengangguk. Menyetujui ucapan Alvin.
Meski, tidak ada yang tahu. Bahwa dalam dada Alvin bagai dilempari berton-ton batu. Rasanya sesak. Entah kenapa, dia tidak rela Nazwa menikah dengan laki-laki lain.
Nazwa menghela napas berat. "Tapi aku belum bisa lupain Raka, Vin."
Decakan kesal keluar dari bibir Alvin. "Kamu harus lupain dia. Atau aku sendiri yang akan singkirin Raka dari muka bumi ini."
"Kejam amat, Mas," kekeh Acha.
Nazwa memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. "Aku akan kasih keputusan ke mereka nanti malam. Insyaa Allah ini yang terbaik. Do'akan."
Alvin mengangguk. "Bagus. Aku setuju. Apapun keputusanmu, itu yang harus kamu jalani. Kamu tau 'kan setiap keputusan yang kamu ambil pasti akan ada resiko di tiap-tiapnya?" Nazwa mengangguk. "Tapi, kalo suatu nanti laki-laki itu bikin kamu sedih, kamu harus bilang sama aku. Aku yang bakal maju paling depan buat hajar dia."
"Sok-sokan!" desis Acha.
Nazwa terkekeh. "Kamu lupa aku punya dua pawang sekaligus?"
Alvin mendengus keras. Membuat Acha tertawa menang.
__ADS_1
Dan Nazwa sangat bersyukur telah dipertemukan dengan kedua insan yang bersamanya kini.
Bersambung.