Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 25


__ADS_3

"Kadang merasa kecewa itu perlu, agar kita tahu maknanya berjuang."


***


My wife until jannah❤


Aku izin ke rumah umi. Aku kangen umi.


Read 12.45.


Alif mengetikkan balasan untuk istrinya.


Ya sudah, nanti pulang kuliah mas jemput ya?


Hati-hati sayang.


Setelah pesan itu terkirim, Alif kembali memperhatikan dosen pembimbing yang tengah menjelaskan tentang apa saja yang harus mereka lakukan ketika magang nanti.


Alif mendapat bagian di rumah sakit besar di Jakarta. Dan dia sama sekali belum membicarakan hal ini pada Nazwa.


Sebenarnya Alif ingin berbicara, tapi sedari kemarin Nazwa masih bersikap acuh padanya. Walau sudah tidak mendiamkan, tapi wanita itu masih bersikap dingin.


Alif benar-benar tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi. Semenjak pulang dari kampus kemarin, Nazwa jadi bersikap aneh padanya.


Kalau di ingat kembali, rasanya dia tidak merasa berbuat salah pada istrinya. Tapi kenapa Nazwa bisa marah tiba-tiba?


"Lif!"


Alif terjingkat kaget.


"Bengong mulu lo!" kata Bobby.


"Berisik," decak Alif.


"Gue laper."


"Makan. Ngapain lapor ke gue?"


Bobby cengar-cengir, dan Alif langsung paham atas apa maksud Bobby. Apalagi kalau bukan minta traktir.


"Gak!" Sergah Alif tak suka.


"Ya Allah, Lif, perhitungan amat lo ama gue." Bobby lantas menampilkan wajah memelasnya.


"Plis Lif, kali ini aja. Emang lo tega liat gue mati kelaparan?"


"B aja."


"Alay kamu maz!"


"Jijik."


"Hayati tersakiti!" ucap Bobby mendramatis.


"Alif! Bobby! Apa yang sedang kalian bicarakan?!" tegur pak Dodi selaku dosen di kelas mereka sekarang.


"Mampus," gumam Bobby.


"Nggak ada, Pak. Tadi Bobby cuma bilang mau ngutang duit sama saya," jawab Alif tanpa dosa.


"Enak aj--"


"Psstt!" potong Alif.


Bobby lantas menutup rapat bibirnya, membuat Alif tersenyum kemenangan.


Kalau di pikir-pikir, Bobby itu keturunan sultan katanya. Namanya saja Wirogo Bobby Wicaksono Diningrat. Ya, dia adalah keturunan dari keluarga ningrat di Yogyakarta.


Tentu saja dia berasal dari keluarga yang sangat sugih melintir kata orang-orang. Tapi, Ia selalu saja minta di traktir padahal uangnya sampai tak muat di masukkan dompet. Itulah uniknya Bobby.


Anak sultan gais!


***


NAZWA sudah sampai di rumah orang tuanya. Sekarang ia sedang berbaring di kasurnya.


Ah, betapa dia merindukan kamar ini.


Ia kembali menerawang apa saja kenangan yang sudah terjadi di rumah ini dan kamar ini. Rasanya banyak sekali kenangan yang tidak mungkin bisa ia lupakan begitu saja.


Di mulai dari mana masa kecilnya yang sangat menyenangkan bersama Naufal. Di tempat ini mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Tidak ada kesibukan kesibukan seperti sekarang.


Yang ada hanyalah, Naufal yang usil, Naufal yang selalu menggoda Nazwa, Naufal yang selalu menjahili Nazwa sampai Nazwa menangis dan Naufal akan di marahi habis-habisan oleh umi Audy.


Tapi, Naufal adalah seorang pahlawan yang selalu melindungi Nazwa. Naufal juga orang yang maju paling depan ketika Nazwa menangis atau di jahili oleh teman-teman bermainnya yang lain. Kata Naufal saat itu; cuma aku yang boleh buat adek nangis.


Namun sekarang, jarak telah menjadi pembatas di antara mereka. Naufal jauh di sana dan Nazwa yang berada di sini. Kesibukan telah merenggut waktu kebersamaan yang ada.


Kalau bisa, Nazwa ingin mengulang hari-hari manis itu. Sekali saja..


Tapi sayangnya tidak mungkin, karena ini kehidupan nyata, bukan animasi doraemon yang memiliki mesin waktu hingga kita bisa pergi ke masa depan dan kembali ke masa lalu kapan pun kita mau.


Hingga saat ini, tibalah Nazwa menemukan kehidupan barunya. Memulai segalanya bersama Alif.


Ngomong-ngomong soal Alif, Ia jadi teringat dengan ... Laras dan ucapan wanita itu.


Sebenarnya, perkataan Laras yang menegaskan bahwa Nazwa adalah penyebab dari hancurnya persahabatan antara Laras dan Alif sangat menghantui pikiran Nazwa sedari kemarin.


Tokk ... Tokk ... Tokk ...

__ADS_1


"Assalamu'alaikum? Dek, ini Ummi."


Nazwa bangkit duduk. "Iya Ummi masuk aja."


Kemudian muncul sosok ummi Audy dari balik pintu. Perlahan, wanita paruh baya itu menghampiri putrinya.


"Kamu udah makan?"


"Udah Um," ujar Nazwa seraya mengangguk.


"Kamu ke sini sama siapa?"


"Eum ... sendiri hehe." Cengir Nazwa.


"Kok sendiri? Memangnya suami kamu ke mana?" tanya ummi Audy lagi.


"Lagi kuliah, Ummi ...." Nazwa kemudian membaringkan tubuhnya.


"Oh iya. Terus, udah izin belum sama suami kamu kalau kamu mau ke sini?" tanya ummi Audy.


Baiklah, sebenarnya Nazwa sudah siap akan metode wawancara seperti ini.


"Udah Ummi ...," balas Nazwa sembari menahan kantuk yang mulai menyapa.


"Kalian nggak lagi ada masalah, 'kan?"


Tubuh Nazwa menegang seketika. Kenapa naluri seorang ibu selalu tepat sasaran ketika anaknya merasa sedang tidak baik-baik saja?


"Ng-nggak kok, Um, Nazwa sama mas Alif nggak ada masalah apa-apa."


Ummi Audy berdecak. "Jangan bohong deh sama Ummi. Kamu tuh nggak pinter nggak bohong, Sayang,"


"Ck. Emang keliatan banget ya kalau Nazwa lagi bohong?"


Lantas ummi Audy menjewer telinga Nazwa. "Kamu ini ... anak siapa, sih? Siapa yang ngajarin kamu bohong bohong gini?"


"Aduh duh! Ampun Um ampun!" ringis Nazwa.


"Jawab dulu! Siapa yang ngajarin kamu bohong?" Ummi Audy semakin menarik telinga putrinya.


Meskipun Nazwa tergolong di manjakan, tapi untuk urusan seperti ini, tidak bisa lagi toleransi.


"Ummi yang ngajar-- aww! Aduh!"


"Astaghfirullahaladzim, ini anak ya Allah!"


"Ampun Ummi ampun!" Rengek Nazwa.


"Janji dulu sama Ummi nggak bakal bohong lagi!"


"Iya Nazwa janji Ummi yang cantik, yang manis, yang seksi ... Alhamdulillah," ujar Nazwa ketika ummi Audy melepaskan jewerannya.


Nazwa menghembuskan napas kasar, keputusan untuk melarikan diri ke rumah orang tuanya ternyata bukanlah hal yang tepat!


"Jadi kemarin itu.."


Cerita pun mulai mengalir, dan semakin ke sini, raut mendung semakin menghiasi wajah cantik Nazwa. Hal itu tentu saja membuat umi Audy merasakan apa yang tengah di rasakan oleh anak bungsunya.


"Sudah, sudah. Jangan dilanjutkan," potong ummi Audy.


Nazwa menopang dagu dan kedua sikunya di atas bantal.


"Jadi, kalau menurut Ummi di sini bukan Alif yang salah, tapi kamu."


"Kok aku?" Nazwa kian mendelik tak terima.


"Nazwa mau Ummi jewer lagi?"


Segera Nazwa menggeleng cepat.


"Iya, jadi kalau menurut Ummi sih, ini kamu yang salah. Maksudnya, bukan berarti kamu adalah penyebab rusaknya persahabat Alif dengan ... siapa itu? Faras?"


"Laras Ummi," ralat Nazwa.


"Nah itu. Di sini Ummi menyalahkan kamu karena kamu nggak tanya dulu sama suami kamu tentang kejadian yang sebenarnya terjadi, bukan malah mendiamkan dan pergi dari rumah begini. Kamu harus belajar lebih dewasa untuk menghadapi masalah," nasehat ummi Audy.


"Jadi Nazwa harus tanya dulu sama mas Alif?" tanya Nazwa polos.


"Iya Sayang ... anak Ummi yang cantik," gemas ummi Audy.


"Nanti kalau suami kamu ke sini, kamu harus minta maaf, ya? Kamu nggak mau 'kan jadi istri yang kualat sama suami?" tanya ummi Audy menakut nakuti.


"Ah, entahlah Um!" gumam Nazwa sembari menenggelamkan wajahnya di antara bantal.


Ummi Audy bergeleng-geleng kemudian memilih untuk turun, menunggu menantunya tiba dan menjelaskan apa yang sudah di jelaskan oleh Nazwa tadi.


***


"NAZWA ..."


Suara itu.


"Nazwa ..."


Terdengar lagi.


Itu mirip suara seseorang yang amat ia rindukan kehadirannya beberapa hari terakhir ini. Ah, mungkinkah ini hanya mimpi?


"Nazwa ... ayo bangun sudah hampir maghrib."

__ADS_1


Nazwa membuka matanya perlahan. Matanya menyapu keadaan sekitar dan langsung menemukan sosok yang beberapa hari terakhir ini memenuhi pikirannya.


"Mas Alif?"


Laki-laki itu tersenyum. "Iya, ini saya."


"Mas da-dari kapan di situ?"


Alif melirik arloji di tangannya. "Sekitar dua jam yang lalu mungkin."


What the??!!


Jangan ngumpat Nazwa! Dosa!


Nazwa tertidur setelah menunaikan ibadah sholat ashar, dan Alif mengatakan sudah berada di kamarnya selama dua jam.


Berarti ... selama itu pula laki-laki itu memandangi wajah kumalnya ketika tertidur.


Argh!


Kenapa ummi Audy mengizinkan Alif masuk?!


"Ke-kenapa nggak bangunin aku?"


"Aku nggak tega liat kamu tidur pulas banget." Alif beralih mengambil segelas air di atas nakas.


"Minum dulu," ujarnya.


Nazwa meminum setengahnya, "Terima kasih."


"Mandi gih. Kamu belum mandi, 'kan?" tanya Alif dan Nazwa menggeleng.


"Ya sudah sana mandi dulu. Saya tunggu di luar, ya?" Alif bangkit menuju pintu.


"Mas?"


Langkahnya langsung terhenti. "Ya?"


"A-aku ...,"


Alif masih setia menunggu ucapan Nazwa selanjutnya.


"Eum ... aku--"


Alif mengernyitkan dahinya kemudian berjalan menghampiri istrinya.


Ia duduk di tepi ranjang. "Kamu mau ngomong apa, hm?"


Nazwa menggeleng.


"Sayang ... ada apa?"


Nazwa membuang napas sebelum angkat bicara. "Aku mau minta maaf soal kemarin udah diemin Mas Alif."


"Aku tau aku salah udah diemin Mas yang nggak tau apa-apa," lanjut Nazwa.


"Mas, mau 'kan maafin Nazwa?"


Perlahan, Alif **** senyumnya. "Tentu saja, kenapa enggak?"


Semudah itu? Batin Nazwa.


"Mas ... beneran?" tanya Nazwa memastikan.


Alif mengangguk mantap. "Dari kemarin juga sudah saya maafin. Tapi ... ada syaratnya."


"Kok pake syarat segala, sih?" Kesal Nazwa.


"Mau nggak nih?" goda Alif.


"Yaudah, iya, iya."


"Syaratnya, lain kali kalau ada masalah, kita bicarakan baik-baik, ya? Jangan langsung ambil kesimpulan sendiri. Nanti ujung-ujungnya kayak gini lagi," ujar Alif.


Nazwa masih setia mencermati suaminya.


"Gini deh. Besok lagi kalau ada yang ganjal di pikiran atau di hati kamu, jangan ragu buat tanya langsung sama saya. Sebisa mungkin saya akan jawab dengan jujur. Bahkan itu lebih baik dari pada kamu mendiamkan saya seperti kemarin," lanjutnya.


Nazwa mengangguk cepat lalu dengan spontan ia memeluk suaminya. "Terima kasih Mas."


Alif tertegun dengan segala hal tentang Nazwa yang serba tiba-tiba ini, kemudian dia mengangkat tangan untuk membalas pelukan istrinya.


"Kembali kasih, Sayang."


"Nazwa, kamu tahu hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro' saja?"


"Iya, aku tau."


"Iya. Sama halnya dengan kita."


"Kok bisa?" tanya Nazwa heran.


"Kalau hukum Imalah di khususkan untuk Ro' saja, demikian juga aku yang hanya di khususkan untuk kamu."


Nazwa **** senyum diam-diam. Sekarang ia menyadari sesuatu, bahwa ia telah jatuh pada sosok yang sederhana namun menenangkan itu.


Ia yakin dan ia sangat berharap, semoga kali ini Allah tidak menjatuhkan hatinya pada orang yang salah. Lagi.


Bila kini kau lihat aku kian membaik, tak lain karena hati baikmu lah yang memperbaiki diriku. -Unknown

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2