Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 33


__ADS_3

" Ceraikan dia Gagah"


Suara dari dalam begitu menggelegar hingga sampai terdengar ke telingaku. Mbak Nia mengusap lenganku. Aku tersenyum perih, siapa yang tidak perih, ayah mertua menginterupsi Mas Gagah untuk menceraikanku. Apa ini yang dikatakan Mas Gagah semalam bahwa akan ada badai besar yang akan mengguncang rumah tangga kita. Sepertinya memang benar.


Tapi aku adalah Inayah, wanita kuat yang harus bisa menerjang badai. Aku tidak akan mundur sebelum berperang. Aku bukan seorang pengecut, apalagi yang akan aku perjuangkan adalah rumah tanggaku. Aku akan ingat petuah Ibu, belum dikatakan sabar jika masih ada batasnya.


" Kita tidak selevel dengannya Gagah, Ayah kira kamu akan menikah dengan Novia"


Aku mendengar percakapan yang menyakitkan lagi, yang keluar dari mulut ayah mertuaku. Mbak Nia kembali mengelus lenganku, Mbak Nia begitu melas melihatku yang tiba-tiba berubah menjadi sendu.


"Sabar ya Nay,"ucap Mbak Nia mencoba untuk menenangkanku.


" Iya Mbak, aku sudah memikirkan resikonya dari awal kok, tenang saja Mbak, hati aku bukan buatan cina." Aku terkekeh, begitu juga dengan Mbak Novia.


Aku mendengar suara derit pintu yang sedang dibuka. Aku segera pergi ke toilet yang berdekatan dengan ruang kerja Mas Gagah. Aku belum bisa menemui ayah mertuaku saat ini, apalagi Ayah mertuaku sedang emosi, pasti nanti hanya akan menambah masalah.


Setelah 5 menit berlalu, aku keluar dari toilet dan bergegas masuk ke ruangan Mas Gagah.


" Assalamualaikum"


Mas Gagah yang sedang berdiri sambil menatap ke luar jendela segera membalikan badannya. Melihatku yang datang, Mas Gagah menyunggingkan senyum manisnya.


Senyum manis yang selalu membuat jantungku gleser-gleser😁.


Mas Gagah menghampiriku, "Duduk Dek"


Aku duduk di sofa di dalam ruangannya seperti biasa, membuka satu persatu rantang yang berisi bekal makanan yang akan kami makan berdua siang ini.


"Mas"


" Hemm"


" Kapan Ayah datang?"


Terlihat ekpresi Mas Gagah yang terkejut saat aku menanyakan ayahnya.


"Adek tahu?"


Aku mengangguk, " Tadi saat kesini Adek tidak sengaja mendengar percakapan Mas dengan Ayah"


Mas Gagah menunduk lalu bergeser tempat duduk menjadi lebih dekat denganku. Mas Gagah tiba-tiba memelukku. Memeluk perutku dan kepalanya ia letakan di pangkuanku. Ish ... sudah seperti anak kecil yang sedang merengek pada ibunya.


"Jangan diambil hati ya Dek ucapan Ayah"


"Ya kalau Adek ambil hati, lumayan lhoo Mas, hatinya bisa digoreng nanti, bisa buat lauk." Walaupun sebenarnya hatiku perih, tapi aku harus tegar di depan Mas Gagah, jika kita berdua sama-sama lemah, lalu siapa yang akan menguatkan.


" Adek, Mas serius"


Aku terdiam.


"Adek, Mas tidak mau kehilangan Adek, Adek semalam sudah janjikan akan berjuang bersama"


Aku masih terdiam, Mas Gagah bangun lalu menatapku.

__ADS_1


" Sejak pertama kali Adek menggantikan Ibu Fatimah, Mas merasa senang sekali. Apalagi saat Adek mengaji waktu itu, hati Mas tenang, setiap Mas berkeluh kesah dengan Adek, Mas juga merasa tenang, Mas nyaman dengan Adek, Mas sayang Adek, Mas tidak bisa melalui hari-hari Mas tanpa Adek, Adek membuat Mas berubah menjadi lebih baik, Adek penyemangat Mas selama ini, Adek sangat berarti dalam hidup Mas, sama berartinya seperti Almarhum Ibu di hati Mas." Mata Mas Gagah mulai berkaca-kaca. Aku yakin Mas Gagah juga tidak menginginkan kekacauan ini terjadi. Aku begitu merasakan Mas Gagah begitu menyayangiku, walaupun belum pernah sekalipun bilang cinta, tapi Aku merasakan Mas Gagah menjalani rumah tangga ini dengan serius.


Ku tangkupkan tanganku di pipi Mas Gagah. Air mata Mas Gagah menetes. Ya Allah, Mas Gagah yang sangat berwibawa dan pemberani ketika menghadapi apapun kini menangis di depanku. Aku menyeka air mata Mas Gagah.


" Mas jangan menangis, kita akan hadapi bersama."ku tempelkan dahiku dengan dahi Mas Gagah. Aku tidak tega melihat Mas Gagah meneteskan air mata. Entahlah ancaman apa yang telah ayah Mas Gagah lakukan.


Air mataku yang sedari tadi ku tahan akhirnya jatuh juga, aku tidak tega melihat ketakutan dan kesedihan dalam raut muka Mas Gagah yang tidak bisa ia sembunyikan dariku. Aku adalah tempatnya mengadu, sudah tiada lagi Ibu yang bisa diajak berbagi suka duka.


"Mas sudah, ayo kita makan."Aku berusaha mengalihkan kesedihan ini.


" Mas tidak nafsu makan"


"Nafsunya apa dong?" Ledekku, agar Mas Gagah sejenak melupakan kesedihannya.


"Nakal yah." Senyum Mas Gagah mengembang, aku sangat senang melihatnya.


" Ayo makan, berjuang itu butuh tenaga lhoo"


Mas Gagah terkekeh lalu mencubit hidung mungilku. Aku menyiapkan makanan lalu menyuapi Mas Gagah yang sepertinya nafsu makannya sudah hilang gara-gara kedatangan Ayahnya.


"Dek"


"Iya Mas"


"Kalau Mas tidak kaya lagi, Adek masih mau sama Mas"


Aku mengerutkan dahiku, pertanyaan macam apa ini.


"Ayah tadi mengancam Mas, Ayah akan mencabut saham yang ada di perusahaan ini jika Mas tidak pisah dengan Adek"


Aku tersenyum, " Ya sudah, kalau Mas bangkrut kita pulang kampung saja, bikin lesehan pecel lele di alun-alun," jawabku sekenanya.


Mas Gagah tertawa, " Nanti Mas bisa dinobatkan sebagai tukang pecel lele terganteng lagi"ucapnya jumawa.


Aku memutar bola mataku,"Dih, pede banget"


Mas Gagah tertawa lagi, "Emang Adek mau kita jualan pecel lele?"


" Ya mau mau aja lah, kan halal. Mas bahagia itu tidak harus mewah"


Mas Gagah terkekeh, " Tapi tenang saja Dek, walaupun nanti Ayah mengambil sahamnya, kayanya tabungan Mas masih cukup untuk menompang perusahaan ini, jadi Adek tidak perlu jadi tukang pecel lele di alun-alun, duit Mas juga masih cukup buat belanjain Adek"


"Dih, shoombong amat"


Mas Gagah tertawa lalu mendekatiku hingga posisiku kini sudah terbaring di sofa. Mas Gagah jelas ada di ataskan hendak menciumku.


" Ih, bau ayam," teriakku, karena Mas Gagah terus saja menyosor padahal sedang aku suapi.


"Hukuman buat istri cantik Mas karena tadi ngatain Mas sombong." Mas Gagah kini berpindah menciumi leherku.


"Mas, sudah, nanti leherku bau sayur sop." Aku berusaha mendorong dada Mas Gagah.


Sampai akhirnya Mas Gagah akhirnya duduk kembali.

__ADS_1


" Hih, kebangeten banget, nyosor mulu, soang aja kalah sama Mas"


"Soang itu apa sih Dek?"


" Itu sejenis bebek yang lehernya panjang, kalau ada orang lewat suka main sosor aja." Aku tergelak sementara Mas Gagah mengerucutkan bibirnya.


"Awas nanti malam akan Mas hukum"


Aku hanya mengendikan bahuku, hukuman dari Mas Gagah pasti tidak jauh-jauh dari kasur😁😁, menurutku itu sih bukan hukuman, soalnya aku juga suka😆.


Entahlah, kita berdua seperti sudah melupakan masalah yang sedang kita hadapi saat ini. Padahal ini bukanlah permasalahan kecil, tapi masalah itu harusnya memang dihadapi kan, bukan hanya direnungi saja. Kebanyakan merenung bukankah malah itu akan membuat kita lebih stres.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Doakan Mas Gagah dan Inayah yah Readers😘😘


**Oh ya aku tuh nemu komentar dari salah satu readers, dari ke 4 karyaku, katanya kekasih halal yang paling rekomended. Ih makasih banget udah jeli, lope bgt pkoknya, karena yang aku rasain juga gitu🤭.


Awal nulis AJTP itu iseng-iseng karena mengisi waktu pandemi, jadi jangan heran kalau tulisannya kaya ceker ayam😁 jauh dari kata bener dalam hal PUEBI tapi AJTP itu bawa rejeki bgt lhoo, royalti AJTP sudah tembus 10jt rupiah, Alhamdulillah.


PAMP dan Surat cinta 2000 jg sama, cuma agak mending, gak ceker ayam banget😁, kalau yang kekasih Halal ini memang niat aku mau di cetak, jadi sebelum nulis aku belajar PUEBI dulu. Tapi tiba-tiba Gak Pede naik cetak, tapi tiba-tiba Pede lagi, ling lung jadinya😁 makanya sampai sekarang belum aku ajukan kontrak di noveltoon padahal baru seminggu sudah di level 7 lhoo, karena siapa tahu Pede mau di cetak🤭


Masukannya dong, di cetak apa di kontrak noveltoon yah?🤭 bukan masalah uang sebenarnya, tapi aku tuh cuma pengen punya kenang2an secara fisik gitu, ini buku yang aku tulis. Penerbit sudah siap nampung naskahku, tapi aku nya yang kadang ling lung.


(Ya Allah, malah curhat sepanjang jalan kenangan🤦**)

__ADS_1


__ADS_2