Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 14


__ADS_3

"Aku memilihmu. Karena aku yakin, syurga lebih dekat saat bersamamu."


-Kekasih Halal-


***


TIDAK terasa hari ini adalah hari terakhir berlangsungnya UNBK. Semua murid nampak menghela napas dengan lega. Namun, mimik sedih juga terpancar dari beberapa siswa dan siswi.


Di satu sisi mereka senang bebannya sedikit berkurang karena hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Tapi di sisi lain, mereka juga sedih harus berpisah dengan teman-teman seperjuangannya.


Nazwa keluar dari ruangan tempat ia melaksanakan UNBK dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan dari gadis itu.


Ujian Nasional selesai. Berarti besok dia menikah. Sedangkan teman-temannya yang lain? Kelas mereka akan mengadakan holiday terakhir seangkatan. Hitung-hitung perpisahan 'katanya'. Kecuali Nazwa yang malah akan melaksanakan ijab qabul.


"Alvin!" panggilnya.


Sang empunya nama menoleh ke sumber suara. "Iya, Wa?"


"Mana Acha?"


Guratan dahi Alvin terlihat jelas. "Dia 'kan satu kelas sama kamu. Kok tanya aku?"


Sembari menepuk jidat, Nazwa mengeluarkan cengiran khasnya. "Aku lupa. Tadi dia izin ke toilet."


Alvin menggeleng maklum. Nazwa memang pelupa nan ceroboh.


"Makanya, nggak usah mikirin Alif mulu. Toh besok juga sah 'kan," cibir Alvin.


"Aku nggak mikirin dia! Sok tau kamu."


"Nggak salah lagi."


Nazwa diam memilih tidak memperpanjang percakapan. Sedangkan Alvin, laki-laki itu memandang Nazwa dengan pandangan tidak terbaca.


Ting!


Nazwa meraih ponsel yang ada dalam tas ranselnya. Sebuah pesan menginstruksi bahwa Nazwa harus segera pulang.


Tak lama setelah itu, Acha muncul.


"Cha, Vin, aku pulang duluan ya. Udah dijemput," pamit Nazwa.


Alvin mengacungkan jempolnya. "Sip. Hati-hati."


"Hati-hati Wa!" Acha ikut bicara.


"Siap! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam," balas Alvin dan Acha.


Mereka saling menatap sesaat menyadari jika menyahut salam Nazwa secara bersamaan.


Namun anehnya, jika biasanya akan terjadi cek cok, tapi kali ini Alvin lebih memilih diam. Entah apa yang laki-laki itu pikirkan. Begitu pula dengan Acha, yang merasa tingkah Alvin berubah akhir-akhir ini.


Sekali lagi, Alvin memandang punggung kecil yang kian menjauh itu dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dan, setiap gerak-geriknya selalu tak luput dari penglihatan Acha. Gadis itu tentu saja merasa ada yang aneh pada diri Alvin. Tapi, ia belum bisa menyimpulkan apa-apa saat ini.


Hanya saja, satu pemikiran terlintas di benaknya. Acha berharap semoga itu tidak benar terjadi.


Detik-detik menuju hari H, Nazwa kini dipaksa oleh sang calon mertuanya untuk di antar dan dijemput oleh sopir utusan keluarga Alif.


Nazwa sempat menolak. Tapi lagi-lagi bunda Ranti bersikukuh agar Nazwa mau menuruti ucapannya. Kan kalau sudah begini, mana bisa Nazwa menolak? Barangkali bunda Ranti tidak mau terjadi apa-apa pada calon menantu tercintanya itu.


Atau mungkin, kalau Alif dan Nazwa sudah halal. Laki-laki itu pasti akan dengan senang hati untuk mengantar gadis itu ke manapun yang Nazwa mau.


Nazwa jadi tambah bersyukur karena semua orang di sekitarnya begitu menyayanginya. Ia-pun segera masuk ke dalam mobil dan ingin cepat-cepat sampai rumah untuk sekedar mengistirahatkan tubuh dan juga pikirannya.


***


WEDDING DAY


Hari bahagia yang dinanti semua orang telah tiba. Termasuk Alif yang saat ini sedang berusaha menetralkan degup jantungnya.


Huft!


Berkali-kali ia menarik napas kemudian menghembuskannya, menarik napas dan menghembuskannya lagi. Begitu terus sampai pak Somat perutnya kempes dan Dudung kepalanya kecil.


"Udah deh, Lif, nggak usah tegang gitu! Lebay lo!" celetuk Bobby yang baru masuk ke kamar Alif.


Alif berdecak. "Lo nggak ada di ajarin ngucap salam apa?"


Bobby menampilkan gigi gingsulnya. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh calon pengantin baru," ucap Bobby akhirnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Gue nggak nyangka ini! Kita belum magang dan lo udah nikah aja, man!" Bobby lantas duduk di tepi ranjang king size milik Alif.


Alif duduk di sofa yang terletak dekat dengan jendela kamarnya. "Jodoh, ajal, dan takdir nggak ada yang tahu, Bob."


Bobby mengangguk paham. "Iya. Gue ngerti. Tapi masalahnya, di antara kita bertiga tuh--"

__ADS_1


"Cuma lo doang yang jomblo." Alif terkekeh tatkala dengan cepat ia memotong ucapan sahabatnya itu.


"Seandainya mengumpat nggak di catat dosa," decak Bobby kesal.


"Makanya, buruan cari tuh tulang rusuk."


"Iya. Gue tuh slow jadi jomblo mah."


"Prihatin gue, Bob," ejek Alif.


"Sial--"


"Mulutnya!" desis Alif tajam.


"Yayaya!" Bobby memutar bola matanya. "Kenapa gue ngerasa ngenes banget ya di sini. Lo sekarang merit. Akbar udah ada calon, tinggal nunggu si cewek wisuda. Lah gue?"


Alif tertawa melihat wajah masam Bobby. Setidaknya dengan kehadiran sahabatnya itu rasa tegangnya sedikit berkurang.


"Sabar. Allah punya rencana apik buat lo," ujar Alif.


"Alif, udah siap?" panggil bunda Ranti dari balik pintu kamar putra sematawayangnya.


Alif lantas dengan sigap berdiri. "Sudah, Bun."


"Yaudah, ayo berangkat. Yang lain udah pada nunggu di bawah."


"Iya, Bun."


"Udah buruan dah lo!" kata Bobby kemudian hendak melangkah turun menyusul keluarga Alif yang lain.


Selama di perjalanan, Alif tak henti-hentinya mengucap syukur. Meskipun ia gugup setengah mati, tapi ia pandai memanipulasinya dengan sebuah senyuman andalannya.


Di sisi lain, Nazwa yang sudah di permak sedemikian rupa itu merenung di depan kaca kamarnya.


Tadi, Aina-- istri Naufal yang sudah menikah satu minggu yang lalu masuk bermaksud untuk menemani sang adik iparnya. Tapi Nazwa menolak, dengan alasan ia ingin sendiri sebentar saja sampai rombongan keluarga Alif datang.


Padahal, gadis itu sedang memikirkan hal lain. Ya. Raka lah yang terngiang di otak kecil Nazwa sekarang ini.


Nazwa takut tidak bisa menjadi istri yang baik hanya karena bayang-bayang masa lalunya.


"Dek?" suara bass milik Naufal terdengar dari celah pintu.


Nazwa menoleh dan tersenyum manis. Meskipun Naufal tahu, senyum itu terkesan terpaksa.


"Udah siap?"


"Udah, Kak," jawab Nazwa. "Apa keluarga Alif udah datang?"


"Udah dari lima menit yang lalu," jawab Naufal, dia duduk dipinggiran kasur adiknya. "Kamu melamunkan apa?"


"Masih aja bohongin Kakak."


Lantas Nazwa tertawa sumbang. "Apa Nazwa kelihatan bohong?"


Naufal menghela napas sejenak. "Dek, satu hal yang harus kamu tau. Kakak nggak mungkin ngelepas kamu dengan laki-laki sembarangan. Kakak bakal marah sama diri Kakak sendiri kalau sampai hal itu terjadi," lalu dia menatap Nazwa serius. "Kakak tau. Alif itu laki-laki baik."


"Dari mana Kakak tau kalo Alif itu baik?"


"Apa Kakak belum cerita kalo Kakak sama Alif sahabatan udah dari lama?"


Nazwa memicingkan matanya kemudian menggeleng.


"Ah, yaudah. Nanti lain kali Kakak ceritain," katanya. "Sekarang, kamu harus senyum manis. Kamu harus bahagia. Kakak yakin kok, ini keputusan terbaik yang pernah kamu ambil."


Ini bukan Naufal yang sembarangan. Bukan pula Naufal yang suka menggoda dan menjahili adiknya. Kali ini hanya ada Naufal yang benar-benar berperan baik sebagai kakak.


"Nazwa tahu, Kak," Nazwa menjeda sejenak. "Tapi, gimana kalo nantinya Nazwa nggak bisa jadi seorang istri dan ibu yang baik untuk suami dan anak-anak Nazwa kelak? Nazwa belum punya cukup bekal untuk menata hidup baru."


"Itu bukan masalah. Alif bisa menuntun kamu menjadi istri yang terbaik setelah ummi dan Aina di dunia ini." Naufal tersenyum meyakinkan.


Mau tak mau. Senyum itu pun tertular pada adiknya.


"Sekarang kamu udah siap?"


Sekali lagi Nazwa mengangguk tanpa protes.


"Jadi, Kakak bisa turun sekarang, 'kan?"


"Turun aja Kak. Jangan naik lagi." sungut Nazwa.


Naufal terkekeh. "Kalo nggak inget mau akad udah Kakak acak-acak tuh muka."


"Auto gue gorok tuh leher!"


Naufal tergelak. "Yaudah. Nanti Kakak panggil ummi sama Acha buat nemenin kamu."


"Tess ... Tess ... satu, dua, tiga."


Suara MC sudah mulai terdengar, membacakan satu persatu urutan acara pada siang hari ini.


"Maasya Allah!! Nazwa ... sahabatku!! Cantik banget sih!" seru Acha heboh saat memasuki kamar Nazwa.

__ADS_1


"Aduh, duh! Cha, aku nggak bisa napas!"


Acha terkekeh dan melepaskan pelukannya.


"Ah, senengnya yang sebentar lagi bakal jadi nyonya Alif," goda Acha, membuat pipi Nazwa bersemu.


"Sssstt!" lerai ummi Audy.


Acha terkikik. "Hehe. Maaf Ummi."


"Ar-rahmaan ...,"


"'allamal-qur'aan."


"kholaqol-insaan ...."


Lantunan ayat suci Al-Qur'an itu membuat semuanya terdiam.


"'allamahul-bayaan ...."


Semua orang mendengarkan dengan seksama suara merdu milik Alif. Begitu pula dengan Nazwa. Gadis itu benar-benar merasakan sesuatu aneh yang bergelenyar hebat dalam dadanya.


"fa bi'ayyi aalaaa'i robbikumaa tukadzibaan,"


Itu adalah ayat favorit Nazwa. Dan, Alif membacakan itu untuknya.


Sekarang Nazwa menitikkan air matanya. Harapannya terkabul. Ar-rahmaan telah menjadi mahar dalam pernikahannya.


"tabaarokasmu robbika zil-jalaali wal-ikrom."


Alif mengakhirinya dengam baik. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa ia amat sangat gugup.


Acha memekik histeris. "Wawa ... demi apa aku baper!"


Nazwa segera menghapus jejak air matanya kemudian tertawa pelan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nazwa Zivara Nafitri binti Ahmad Rasyid dengan seperangkat alat sholat serta emas 50 gram dan uang tunai sebesar 15 juta, di bayar tunai!"


Dan kalimat yang berasal dari suara itu sukses membuat degup jantung Nazwa bertambah dua kali lipat.


"Bagaimana saksi? Sah?"


Deg. Deg. Deg.


"Sah!!"


"Alhamdulillah ...." ucap sang ummi, di susul dengan Acha dan yang lainnya.


"Selamat ya, Sayang. Hari ini Ummi bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena akhirnya anak-anak Ummi menikah, dan sedih karena sebentar lagi Ummi akan kesepian karena kamu harus ikut suami kamu, Nak," tutur sang ummi sambil menitikkan air matanya.


"Ummi ...," Nazwa memeluk umminya sambil ikut menangis.


Acha yang menyaksikan isak haru bahagia di hadapannya pun ikut menangis.


"Sudah, sudah. Ummi nggak akan kesepian karena ada Aina juga sekarang." Suara Aina terdengar dari balik pintu.


Nazwa melerai pelukannya kemudian beralih memeluk kakak iparnya. "Mbak Aina ...."


Aina tersenyum, membalas hangat pelukan sang ipar. "Selamat ya, Dek. Akhirnya ...."


"Makasih Mbak," balas Nazwa.


Aina menepuk pelan pundak Nazwa. "Kamu harus bahagia," katanya masih dengan senyuman dan dibalas anggukan oleh Nazwa.


"Wa,"


Nazwa membalikkan badan. Ia melupakan satu orang yang belum ia beri pelukan di ruangan ini.


"Acha!!" Nazwa memeluk erat sahabatnya.


"Iya, Wa. Selamat, ya ... hiks!" isak Acha terharu.


"Makasih, Cha. Jangan pernah bosan jadi sahabat aku."


Acha menggeleng keras. "Nggak, Wa. Kamu yang terbaik yang selama ini aku kenal."


"Berbahagialah sahabatku!!" Acha menghapus jejak air matanya dan tersenyum lebar hingga menulari sang sahabat.


"Mempelai wanita dipersilahkan untuk turun menemui sang mempelai pria."


"Ayo kita turun," kata ummi Audy.


Mereka berempat turun dengan Nazwa yang diapit oleh sang ummi dan sahabatnya. Diikuti oleh sang kakak ipar yang tersenyum di belakangnya.


Semua pasang mata yang ada di ruangan itu serempak menoleh dan memperhatikan satu titik fokus. Nazwa. Termasuk Alif yang kini mematung menatap sang 'istri' yang sedang berjalan ke arahnya.


Seolah tidak ada hal lain yang lebih menarik dipandangannya selain Nazwa yang kini terlihat sangat cantik dengan balutan setelan kebaya syar'i serba warna putih.


Nazwa duduk bersebelahan dengan Alif yang masih tersenyum lebar.


Setelah proses penukaran cincin, Nazwa mencium tangan suaminya, dilanjutkan dengan Alif yang mencium kening sang kekasih halal -nya itu.

__ADS_1


"Saya sangat bahagia bisa memiliki kamu, Wa. Terimakasih sudah bersedia menerima dan menjadi istri saya," bisik Alif sambil tersenyum lembut. "Seperti Mad 'Aridlisukun, semoga saya menjadi yang terakhir untuk kamu."


Bersambung.


__ADS_2