Kekasih Halal

Kekasih Halal
part 38


__ADS_3

Aku mengelus lengan Ibu, " Ibu, sudah bu, Nay tidak apa-apa, Mas Gagah sudah memberintahu jika Ayah mertua suatu saat pasti akan mencoba menghancurkan pernikahan ini, jadi aku sudah siap bu menghadapi semuanya"


Ibu melepaskan pelukannya lalu melihat ke arahku dengan tatapan sendu. Aku mengajak Ibu duduk di ruang tamu.


" Pasti akan berat Nduk,"ucap Ibu.


"Bu, aku dan Mas Gagah akan menghadapinya bersama, aku tidak sendirian, doakan aku Bu"


Ibu mengangguk," Nay, Ibu percaya kamu pasti kuat, terkadang rumah tangga juga seperti medan perang, kamu harus jadi seperti Srikandi yang pemberani. Ayah Mas Gagah juga sekarang menjadi Ayahmu juga, beranimu harus diimbangi juga dengan rasa hormatmu, jangan membentak seperti tadi ya Nduk."


Aku menggenggam tangan Ibu, " Bu, tadi itu aku membela Ibu, Ayah mertua menghina Ibu, mengatai Ibu ingin menguasai rumah ini. Kita tidak seperti Ibu, kita tidak gila harta, untuk apa coba, nanti saat mati juga kita pakai kain kafan, kain kafan tidak ada kantongnya jadi untuk apa kita mengejar harta, harta dan harta sampai lupa segalanya."


"Iya Nduk, Ibu tahu, kamu tidak seperti itu, tapi kita tidak bisa menyuruh orang untuk langsung menyukai kita, walaupun kita sebaik apapun, pasti ada saja yang tidak suka, saat ini tugasmu harus merebut hati Ayah Mas Gagah agar menerimamu sebagai menantunya"


Aku mengangguk perlahan, kenapa tugasnya berat sekali, mengambil hati orang yang jelas-jelas tidak menyukaiku, ini buatku sangat berat, aku lebih memilih menyapu seluruh halaman pesantren dari pada mengambil hati seseorang agar menyukaiku.


Tapi aku tetap perfikir positif, jika ingin mengambil hati seseorang maka harus berkompromi dengan Sang Raja Pemilih Hati, siapa lagi kalau bukan Allah.


Selesai menasehatiku, Ibu yang masih memasang wajah sendu bergegas melangkahkan kakinya menuju dapur. Sementara aku bergegas naik ke atas menuju kamar. Aku sudah tidak mood lagi untuk menjahit. Jika dipaksakan pasti hasilnya akan jelek, jadi aku lebih memilih untuk menenangkan diri didalam kamar.


Aku duduk di depan meja rias, menatap wajahku disana. Aku berfikir, apa sungguh aku sangat tidak pantas bersanding dengan Mas Gagah. Apa yang harus bersanding dengannya adalah wanita berkelas dengan kecantikan paripurna. Aku menjadi bertanya-tanya pada diriku sendiri.


Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Kenapa manusia harus membedakan sebuah derajat dengan jumlah uang yang dimilik, padahal Allah mengukur derajat seseorang dengan sebuah ketaqwaan.


Aku menatap meja riasku, disana terpampang fotoku dengan Mas Gagah sewaktu ijab kabul. Aku mengingat kembali masa-masa itu dan masa-masa pernikahan kami selama 3 bulan ini. Tiba-tiba air mataku jatuh juga. Ih mata yah memang tidak bisa diajak kompromi.


"Mas, apa mungkin jodoh kita hanya seumur jagung?"Gumamku lirih.


Aku menggeleng pelan, aku tidak mau jadi janda muda, walaupun kata cita citata janda lebih menggoda dan aduhai tapi aku tidak ingin menjadi janda karena masalah seperti ini.


Aku akui aku sangat menyayangi Mas Gagah, bahkan mungkin sudah masuk dalam tahap mencintainya, ada sedikit rasa takut kehilangannya. Mas Gagah selama ini memperlakukanku dengan baik.


Tring... (suara pesan masuk dari ponselku)


Aku langsung mengambil ponselku dari dalam saku gamisku. Ku lihat ada pesan dari Mas Gagah.


*Mas Gagah


Assalamualaikum, sedang apa istriku, jangan lupa nanti makan siang bersama yah.

__ADS_1


Aku tersenyum, hanya mendapat pesan dari Mas Gagah saja sudah membuatku begitu senang.


*Me


Waalaikumsallam, iya Mas, mau request dimasakin apa Mas?


*Mas Gagah


Apa saja, pokoknya kalau Adek yang masak pasti Mas makan, Mas sayang Adek.


*Me


Adek juga sayang Mas*


Mas Gagah sudah tidak membalas lagi, aku langsung pergi ke dapur untuk meracik sayuran yang akan aku masak untuk Mas Gagah, tentunya di bantu Bi Asih juga.


***


Asyik memasak dan membuat peyek kacang dengan Ibu tak terasa sudah jam 11 siang. Aku berpamitan pada Ibu ingin mengantar makan siang untuk Mas Gagah seperti biasa.


Sesampainya di kantor Mas Gagah, Nia kembali mencegatku dan memberitahu ku bahwa Bos besar ada di dalam ruangan bersama Mas Gagah. Aku memberitahu Nia bahwa akan baik-baik saja jika aku masuk kedalam ruangan Mas Gagah.


Ayah Mas Gagah melirikku tajam. Aku balas dengan senyuman manisku.


"Eh, Bapak, ketemu lagi kita disini."


Mas Gagah mengernyitkan dahinya. Yang pasti Mas Gagah bingung kenapa aku berkata seperti itu.


Ayah Mas Gagah tidak memperdulikan kehadiranku. Beliau langsung berdiri, bangun dari duduknya lalu melangkah menuju pintu tanpa permisi denganku dan Mas Gagah.


Saat hendak memegang hendel pintu tiba-tiba Ayah Mas Gagah berbalik menatap Mas Gagah.


"Jangan lupa besok malam Gah, Novia menunggumu di acara ulang tahunnya,"ucapnya lalu bergegas keluar dari ruangan Mas Gagah.


Mendengar nama Novia membuat hatiku memanas. Novia adalah mantan kekasih Mas Gagah yang menolak lamaran Mas Gagah karena tidak ingin terburu-buru menikah, dan sekarang malah mengundang Mas Gagah ke pesta ulang tahunnya, maksudnya apa ini. Apa Novia tidak tahu jika Mas Gagah sudah menikah.


Terlihat Mas Gagah yang mengusap wajahnya dengan kasar setelah kepergian ayahnya.


Mas Gagah menatapku yang masih melamun karena banyak sekali argumen-argumen yang berputar-putar di fikiranku saat ini.

__ADS_1


"Adek"


Aku langsung terkejut mendengar panggilan dari Mas Gagah. Aku akhiri lamunanku lalu berjalan menuju sofa, menyiapkan makan siang untuk suamiku.


Mas Gagah mengehampiriku lalu mencium pipiku kilat. Aku terkejut lagi, Mas Gagah terkekeh.


"Mikirin apa sih Dek"


Mikirin banyak Mas, batinku.


" Jangan dengarkan perkataan Ayah,"katanya sambil mencomot peyek.


Aku masih diam saja, Mas Gagah melirikku.


"Ayah tadi kerumah? kalian ngobrol apa saja?"


Hadeh, boro-boro ngobrol Mas, yang ada tadi Ayah Mas Gagah menghina dan menghina aku dan Ibu, batinku.


"Ayo Mas makan, Adek lapar, sabar juga butuh tenaga,"ucapku yang sudah memasukan makanan kedalam mulut.


Mas Gagah terkekeh, aku meliriknya, ih ini suami tidak peka sekali kalau istrinya sedang menahan esmosi dari pagi hari tadi. Untung ganteng๐Ÿ˜๐Ÿ˜.


Aku dan Mas Gagah langsung memakan makanan yang aku sediakan. Aku sepertinya benar-benar lapar sampai aku nambah.


"Dek, kamu beneran lapar yah,"tanyanya meledekku.


Aku mengangguk, " Kan Adek sudah bilang, sabar juga butuh tenaga Mas"


Mas Gagah mengusap kepalaku dengan tangan kirinya, "Mas yakin Adek pasti bisa sabar"


Aku jawab dengan anggukan. Selesai makan kita berdua akan sholat Dzuhur berjamaah. Saat berdoa setelah sholat entah mengapa tiba-tiba air mataku mengalir deras.


Emosi, amarah yang ku pendam sedari pagi keluar lewat tetesan air mata.


Allah tempatku mengadu, Allah tempatku mencari ketenangan hati. Allah tempatku meminta pertolongan.


Setelah berdoa Mas Gagah berbalik, menatapku yang masih berderai air mata, Mas Gagah menyekanya perlahan.


"Maafkan Mas sudah membuat Adek menerima beban berat yang belum pernah Adek rasakan, Mas juga sama merasakan kesedihan sepertimu Dek, tapi karena tekad Mas dan karena Adek yang bersabar juga, Mas semakin semangat menerjang ujian yang sedang kita lalui saat ini"

__ADS_1


Aku memeluk Mas Gagah, Mas Gagah juga balas memelukku, kami saling menguatkan satu sama lain.


__ADS_2