Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 50


__ADS_3

Inayah siuman


Aku mengerjapkan mataku perlahan, bau obat-obatan begitu menyengat. Aku sudah bisa menebak aku saat ini berada di rumah sakit. Tenggorokanku sangat kering, ingin sekali minum.


Aku melihat disebelahku ada Mas Gagah sedang tertidur dengan posisi duduk, tangannya menggengam tanganku. Aku tersenyum tipis. Aku bersyukur suamiku baik-baik saja. Di sofa aku melihat Ibuku sedang tertidur pulas. Maafkan aku Ibu, Ibu pasti sangat khawatir.


Aku berusaha duduk tapi perutku rasanya sakit sekali, bukan hanya perutku tapi di bawah sana di area kewanitaanku juga sangat sakit.


"Aw ..."


Mas Gagah reflek terbangun lalu berdiri.


"Sayang, Adek sudah bangun, Adek mau apa, biar Mas ambilkan," tanyanya dengan mimik muka khawatir karena melihatku meringis kesakitan.


Mas Gagah menuntun tubuhku agar kembali berbaring. Aku meminta tolong Mas Gagah mengambilkan minum. Mas Gagah langsung mengambilkan minum untukku dan membantuku memegangi gelasnya.


Setelah minum aku berbaring lagi, Mas Gagah menggenggam tanganku erat lalu tersenyum manis padaku. Aku melihat ke arah jam dinding, Aku terkejut ternyata sudah jam 3 pagi, berarti sudah berjam-jam aku tidak sadarkan diri.


Aku merasakan punggungku cekit-cekit, perih panas. Perutku juga terasa perih, begitu juga bagian bawah sana.


Mas Gagah menatapku dalam-dalam,


" Terimakasih sudah berjuang hidup untuk Mas, Maafkan Mas tidak bisa menjagamu dengan baik, Mas memang suami payah." Mas Gagah tiba-tiba terisak.


Tangan yang menggenggam tanganku ia gunakan untuk memukul kepalanya. Aku menggeleng lalu menghentikannya.


" Tidak Mas, jangan seperti itu, Mas tidak salah, Mas selalu baik." Aku juga mulai berkaca-kaca.


Ya Allah pengorbanan cinta ini kenapa begitu berat. Makian, hinaan, fitnahan, bahkan sampai aku harus tertembak. Entahlah akan sampai kapan air mata ini terus menemani rumah tangga ini. Ternyata untuk bisa terus berpijak menaiki tangga demi tangga dalam rumah tangga bukanlah perkara mudah.


"Mas, Adek mau buang air kecil."


Mas Gagah mengerti, Mas Gagah menyuruhku agar aku buang air kecil menggunakan pispot saja, tapi aku menolak, aku tidak nyaman menggunakan itu. Walaupun tubuhku sangat lemas tapi aku tetap kekeh ingin diantar ke toilet.


Mas Gagah akhirnya memapahku ke toilet. Mas Gagah memintaku untuk masuk juga ke dalam tapi aku tidak mengizinkannya.


Akhirnya Mas Gagah menungguku di luar pintu toilet.


Aku membuka celana tidurku perlahan, mungkin Mas Gagah yang menggantikanku dengan baju tidur. Aku terkejut ketika melihat pembalut penuh dengan darah yang ada di celana dalamku. Seingatku kemarin pagi aku positif hamil. Tubuhku lemas, apa ini artinya bayiku, bayiku tidak selamat.


"Aaaaa..." aku menjerit sekuatku.


Mas Gagah terkejut. Ia langsung memdobrak pintu toilet hingga terbuka lalu melihatku tengah menyender di tembok.


"Adek kenapa?" Mas Gagah memegangi tubuhku. Tapi aku langsung menolaknya, aku tidak ingin di pegang Mas Gagah.

__ADS_1


Ibu ternyata juga ikut terbangun mendengar teriakanku. Ibu langsung masuk ke dalam kamar mandi.


"Nay, kamu sudah sadar Nduk?"


"Ibu, bawa aku ke ranjang Bu,"ucapku.


Ibu melirik Mas Gagah lalu melirik ke arahku. Aku memegang bahu Ibu, Ibu lalu memapahku keluar kamar mandi. Mas Gagah masih berdiri terdiam.


Ibu tahu betul jika aku mungkin syok karena kehilangan bayiku. Ibu langsung merebahkanku di kasur.


Mas Gagah menghampiriku, duduk disebelahku. Aku diam seribu bahasa, aku menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan tatapan rumah sakit. Air mataku kembali membasahi pipiku. Aku terisak.


Ya Allah, ujian apalagi ini. Calon anakku yang tidak berdosa malah harus merenggang nyawa sebelum terlahir. Buah cintaku dengan laki-laki yang aku cintai kini tiada. Aku begitu bodoh, kenapa tidak menjaga calon anak ku dengan baik.


Harusnya saat Pak Adi menyuruhku segera pergi dari rumah Mas Gagah, aku harusnya saat itu pergi. Andai saja aku melakukan itu pasti calon anakku pasti masih hidup.


Kenapa takdir ini begitu kejam. Aku harus bagaimana ya Allah. Pak Adi sudah sangat keterlaluan. Menyakiti hatiku, Membakar rumahku, menghancurkan usaha paman, mencelakai orang-orang terdekatku, kini juga calon bayiku harus meregang nyawa.


Mas Gagah memegang jemariku, " Adek jangan diam saja, ada Mas disini, maafkan Mas tidak bisa menjaga Adek dengan baik, kita bisa mendapatkan calon anak lagi nanti kita akan konsultasi dengan dokter, Adek jangan diam saja."


Genggaman tanganku dan tangan Mas Gagah benamkan pada wajahnya yang kini menunduk di kasur. Aku merasakan tanganku basah. Mas Gagah pasti saat ini tengah menangis juga.


Aku menarik tanganku dari genggamnya, Mas Gagah terkejut. Ibu menghampiriku karena melihat interaksiku dengan Mas Gagah sedang tidak baik.


"Dek." Mas Gagah berdiri menatapku.


Aku melirik Mas Gagah, "Mas, tolong lepaskan Adek."


Hatiku mencelos mengucapkan kalimat itu. Jujur hatiku sangat sakit saat mengatakannya. Tapi untuk bertahan, aku harus berfikir dua kali, siapa lagi yang akan jadi korban berikutnya jika aku tetap mempertahankan rumah tangga ini.


Mengucapkan kalimat perpisahan pada orang yang sangat kita cintai itu sangat menyakitkan. Melihat keadaan yang sudah tidak memungkinkan untuk bersatu namun masih saling mencintai itu hal yang sangat menyakitkan juga.


Mas Gagah menggeleng, menatapku tajam,


"Adek boleh minta apapun asal jangan perpisahan, Mas tidak akan pernah mengabulkannya ini."


"Mas, rumah tangga kita tidak sehat, setelah ini mungkin aku atau Ibuku yang akan meregang nyawa, cukup Mas,"ucapku yang mulai emosi. Ibu mengingatkanku agar jangan sampai emosiku meledak-ledak karena aku sedang sakit.


Sejak tahu bayiku ternyata sudah tiada, sakit hatiku, kecewaku sudah mengalahkan rasa sakit di punggung dan perutku. Bahkan rasanya semua tubuhku mati rasa.


"Maksud Adek apa, Mas juga terpukul dengan semua ini Dek, bahkan Mas sangat kaget saat Dokter menyarankan kuret, saat itu Mas baru tahu kalau Adek ternyata sedang hamil, kenapa Adek tidak mengatakan pada Mas kalau Adek sedang hamil, kenapa, apa Mas tidak penting bagimu Dek?"


Aku bahkan belum sempat memberitahu Mas tapi Mas terlanjur pergi dengan Pak Adi dan kejadian itu berlangsung begitu cepat.


Mas Gagah mengeratkan rahangnya tangannya mengepal lalu memukul temboknya dengan begitu kerasnya hingga aku tersentak.

__ADS_1


"Mas memang bodoh tidak bisa menjagamu,"ucapnya sambil terus memukuli tembok.


Sungguh aku tidak tega melihatnya, sebenarnya bukan Mas Gagah yang jahat. Tapi kejahatan itu terus terjadi karena aku terus berada di samping Mas Gagah.


"Cukup Mas, cukup, jangan, aku tidak mau Mas terluka."


Mas Gagah menghentikan aksinya memukul-mukul tembok. Aku melihat tangannya sudah terluka dan sedikit berdarah.


"Ibu tolong minta suster kesini Bu, untuk mengobati Mas Gagah."


Ibu bergegas keluar kamar rawat inap hendak menemui suster.


Mas Gagah menatapku, " Jika Adek mau tenang dulu, Mas akan izinkan Adek pulang kampung, tapi tidak dengan berpisah dengan Mas, Mas Akan mengizinkan Adek menenangkn diri dikampung."


Aku terdiam, memikirkan apa yang Mas Gagah katakan. Yah, aku memang ingin sekali pulang kampung, hidup damai seperti sebelumnya, sebelum menikah dengan Mas Gagah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


( Ah emak2 q posting yg Sah sah itu yg lg viral di media syg, bukan lg mengenang masalalu, cm lg mlesetin pke masalalu aja, kemarin kn ada RUU yg di sahkan dan itu menyakiti rakyat sekelas q๐Ÿคญ๐Ÿคญ


ada yg komen, d tunggu dudanya aja thor๐Ÿ˜† eh maap ye, author dah dpt penggantinya, bujang ting_ting blm pernah pacaran kya mas birru๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†๐Ÿ˜†)

__ADS_1


__ADS_2