Kekasih Halal

Kekasih Halal
Part 22


__ADS_3

"Mendakilah bersamaku. Akan ku tunjukkan keindahan Tuhan selain kamu."


***


"KITA mau ke mana, sih, Mas?"


Alif tersenyum simpul. "A secret."


Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju tempat yang Alif maksud.


Nazwa menghembuskan napas kemudian memalingkan wajah ke arah jendela.


"Udah dong, jangan cemberut gitu. Nanti juga tahu," kata Alif.


Menyadari istrinya dalam mode ngambek, Alif mengalihkan tangan kirinya untuk meraih tangan Nazwa dan sebelah tangan kanan ia gunakan untuk memegang kemudi.


Entah angin apa yang merasukinya kini. Yang jelas, megang tangan istri sendiri nggak dosa, 'kan?


Nazwa menoleh seketika tangannya merasa di genggam oleh sebuah tangan kekar. Ia memperhatikan tangan Alif yang menggenggam erat tangan kanannya.


Hangat. Itulah yang ia rasakan sekarang. Jantungnya berdebar merasakan sensasi aneh yang mulai bergelenjar memenuhi perasaannya.


Kemudian Nazwa beralih menatap sang empunya tangan, memperhatikan wajah teduh milik laki-laki yang selalu sabar menghadapi segala sikap dinginnya.


Alif menoleh saat merasa sedang di amati, kemudian ia tersenyum. Lagi-lagi Nazwa merasa hatinya berdebar hebat saat melihat senyum itu.


Nazwa segera mengalihkan pandangannya saat tercyduk sedang memperhatikan suaminya. Ia takut jantungnya akan keluar dari tempat asalnya jika harus bertatapan lama-lama dengan mata tajam namun lembut dalam waktu yang bersamaan itu.


"Nah, sudah sampai."


Nazwa mengedarkan pandangan ke sekitar. "Ini di mana?"


"Nanti juga tahu. Ayo turun," ajak Alif.


"Biar saya saja yang lepasin."


Gerakan Nazwa terhenti saat Alif mengambil alih tangannya kemudian membukakan seatbelt Nazwa.


Nazwa sempat menahan napas selama beberapa detik. Bukan apa, ini karena wajah Alif yang semakin mengikis jarak dengan wajahnya.


Bahkan, ia juga bisa merasakan hembusan napas yang beraroma mint milik laki-laki itu.


"Ayo," ajak Alif menyadarkan lamunan Nazwa.


Saat hendak membuka pintu mobil, lagi-lagi Nazwa sukses di buat heart attack oleh suaminya sendiri saat Alif lebih dulu membukakan pintu tersebut untuknya.


Sekarang ia sadar, bahwa bukan hanya dua laki-laki yang memperlakukannya bak seorang princess. Tapi tiga; Abi, Naufal dan sekarang di tambah dengan Alif. Sepertinya mulai sekarang ia harus bisa terbiasa dengan hal semacam itu.


Alif kemudian menggenggam tangan kiri Nazwa menggunakan tangan kanannya. Menuntun sang istri ke sebuah tempat yang ia maksud sedari tadi.


"Ini kita di mana, sih?" tanya Nazwa kesal karena penasaran.


Alih-alih menjawab, Alif malah tersenyum miring, membuat Nazwa bertanya penuh arti.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai ke tempat tujuan setelah berjalan sekitar sepuluh menit.


"Ini ...," kata Nazwa terputus saat melihat pemandangan di hadapannya.


"Suprise!"


"Maasya Allah ... Mas, ini indah banget." Nazwa menutup mulutnya sendiri takjub.


Alif terkekeh melihat ekspresi istrinya.


"Kamu suka?"


Nazwa mengangguk antusias. "Suka! Suka banget. Mas nemu dari mana tempat seindah ini?"


Ya. Kini mereka berada di sebuah telaga dengan pemandangan yang sangat indah menurut Nazwa.



(Telaga Biru Semin, Yogyakarta. Sumber: Google.)


Telaga yang terletak di Kabupaten Gunung Kidul itu memiliki warna biru kehijauan yang amat indah. Membuat mata siapapun yang melihatnya merasa di manjakan oleh pemandangan dari setiap shot nya.


Maasya Allah ...


Betapa indah ciptaan Allah yang patut kita syukuri dan kita jaga dengan sepenuh hati.


Allah SWT berfirman:


اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ مَّآءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ کُلِّ دَآ بَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَآءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ.


"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti."


(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 164)


Tempat tersebut tentu bukan rahasia lagi. Di karenakan tempat itu selalu ramai akan pengunjung baik dari lokal maupun wisatawan asing.

__ADS_1


"Yuk, ke sana," Alif menunjuk satu obyek di depan mereka.


Nazwa pun dengan antusias mengikuti langkah kaki suaminya. Hingga sampailah mereka di puncak batu yang cukup besar.


Batu tersebut sengaja di desain agar para pengunjung dapat menikmati pemandangan alam dari atasnya. Tak hanya satu batu, tapi ada beberapa batu yang memang tersusun memanjang juga tinggi sehingga mampu menampung beberapa puluh orang.


Terlihat jelas telaga dengan warna air yang amat indah juga aliran airnya yang amat tenang. Semilir angin menambah kesejukan hati juga jiwa mereka.


"Maasya Allah, ini kenapa bisa bagus banget gini, sih?" ucap Nazwa.


Alif tersenyum kemudian menyusul untuk duduk di sebelah sang istri. "Kamu dari tadi muji telaga mulu, muji saya nya kapan?"


Nazwa menoleh. "Mas mau dipuji?"


Alif mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum manis.


"Mas jelek."


Kontan senyum Alif sirna begitu saja.


"Kamu perlu kacamata, Sayang. Coba tanya teman-teman kamu, pasti nggak ada satupun yang bilang saya jelek."


Nazwa nendengus, dalam hati ia membenarkan ucapan Alif barusan.


Memang benar, sih, orang cakep gitu di bilang jelek. Mungkin Nazwa sedang sliwer penglihatan.


"Tadi Mas belum jawab pertanyaan Nazwa," kata Nazwa.


"Pertanyaan yang mana?"


"Mas nemu tempat ini dari mana?" ulang Nazwa.


"Nemu sendiri pas lagi jenuh mikirin tugas," jawab Alif. Benar, ia memang kerap ke tempat itu ketika sedang lelah menghadapi tugas.


Nazwa mengangguk paham.


"Nazwa," panggil Alif.


"Ya?"


"Kamu mau melanjutkan kuliah di mana?"


"Kuliah?" beo Nazwa.


Alif mengangguk. "Iya."


Nazwa menggeleng pelan. Ia bahkan tidak memikirkan hal tersebut akhir-akhir ini.


Kemudian gadis itu mengangkat kedua bahunya. "Nggak tahu."


"Kok nggak tahu? Begini saja, kalau kamu memang benar mau jadi dokter, nanti bisa daftar di kampus tempat saya kuliah. Bagaimana?" tawar Alif.


Sekali lagi Nazwa menggeleng pelan. "A-apa Nazwa masih boleh kuliah?"


Dahi Alif mengerut dalam. "Memangnya siapa nggak ngebolehin?"


"Tapi 'kan Nazwa udah nikah," kata gadis itu sambil menunduk. Khimarnya yang tertiup angin melambai-lambai.


Alif tertawa pelan. "Memangnya, kalau sudah nikah nggak boleh kuliah, ya?" tanyanya lagi dan tidak mendapatkan jawaban dari Nazwa.


Kemudian Alif menghembuskan napasnya pelan. Ia beralih menghadap istrinya dan memegang kedua bahu wanitanya. "Sayang ... lihat saya."


Nazwa mendongak ragu-ragu. Matanya langsung bertemu dengan mata Alif.


"Kamu boleh kuliah karena sayabngizinin kamu," ujar Alif.


Nazwa menggeleng. Membuat Alif bertanya. "Kenapa?"


Gadis itu tak menjawab. Dan Alif berkata lagi setelah menghembuskan napasnya pelan.


"Saya mengizinkan kamu kuliah, Sayang. Saya meridhoi setiap langkah kamu di setiap kebaikan yang akan kamu lakukan, kalau itu yang kamu takutkan."


Nazwa menunduk. "Nazwa takut nggak bisa bagi waktu antara tugas dan ngurus rumah."


"Ada saya, Nazwa ...," kata Alif sambil terkekeh. "Dengar. Kalau kamu berpikir kita menikah karena saya akan menumpukan semua tugas rumah sama kamu, itu salah. Kita bisa saling membantu dan meringankan tugas satu sama lain."


Terdapat sebuah hadits:


Dari Al-Aswad, ia bertanya pada 'Aisyah, "Apa yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?" 'Aisyah menjawab, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu shalat, beliau berdiri dan segera menuju shalat."


(HR. Bukhari, no. 6039)


Dalam Syarh Al-Bukhari karya Ibnu Batthol rahimahullah disebutkan bahwa Al-Muhallab menyatakan, inilah pekerjaan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di rumahnya. Hal ini wujud tanda ketawadhu'an (kerendahan hati) beliau, juga supaya umatnya bisa mencontohnya. Karenanya termasuk sunnah Nabi, hendaklah seseorang bisa mengurus pekerjaan rumahnya, baik menyangkut perkara dunia dan agamanya.


As-Sindi rahimahullah dalam catatan kaki untuk Shahih Al-Bukhari menyatakan bahwa membantu urusan rumah termasuk kebiasaan (sunnah) orang-orang shalih.


Dan suami terbaik adalah suami yang paling baik pada istri, anak dan keluarganya. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِى

__ADS_1


"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik pada keluarganya. Aku sendiri adalah orang yang paling baik pada keluargaku."


(HR. Tirmidzi, no. 3895. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)


Nazwa terenyuh mendengar perkataan Alif barusan.


"Tapi--"


Alif meletakkan telunjuknya di depan bibir mungil istrinya. "Jadi?"


Nazwa mengangguk ragu.


"Apa?"


"Nazwa mau kuliah."


Alif tersenyum lega setelah berhasil membujuk sang istri. "Ya sudah, besok kita daftar."


"Langsung besok?!" tanya Nazwa dan langsung di angguki oleh Alif.


"Kalau nggak di terima?"


Alif menyentil kening Nazwa pelan. "Tuh, kamu belum apa-apa sudah pesimis duluan."


"Ya, karena Nazwa nggak sepinter Mas Alif yang baru 21 tahun udah mau wisuda," kata Nazwa memandang lurus ke arah telaga.


Alif benar-benar kehabisan akal, tak habis pikir dengan pemikiran istrinya.


"Gimana kalau kamu ambil 2 jurusan?" tanya-nya.


"Boleh?" Kedua mata Nazwa berbinar.


"Apa sih yang nggak buat istrinya Alif?" goda Alif.


Nazwa mendengus dan Alif tertawa.


"Boleh Sayang ...," lanjut Alif.


Nazwa langsung berhambur memeluk suaminya. Alif yang tidak siap pun hampir terjungkal ke belakang kalau saja ia tidak pandai menjaga keseimbangan.


Bukan hanya itu, tapi karena lelaki itu kaget. Tentu saja, karena ini adalah kali pertama Nazwa memeluknya setelah mereka resmi menjadi suami-istri.


"Makasih Mas," ujar Nazwa di balik dada bidang milik Alif.


Dengan kaku Alif mengangkat tangannya dan membalas pelukan sang istri. "Anything for you my wife."


Tanpa terasa air mata Nazwa mulai turun dan membasahi kemeja suaminya. Mengetahui sang istri menangis, Alif hanya bisa menenangkan dengan cara mengusap lembut ujung kepala sang istri.


"Nazwa?" panggil Alif setelah merasa Nazwa sedikit tenang.


Nazwa bergumam di pelukan suaminya, semilir angin telaga menambah kesan nyaman berada dalam dekapan seorang Alif Diafhakri.


"Saya boleh minta sesuatu?"


Nazwa menegang dalam pelukan. Tiba-tiba pikirannya melayang dan memikirkan hal yang tidak-tidak.


Apa Alif akan meminta dia untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri?


Maksudnya, kewajiban yang sebenar-benarnya.


"A-apa?"


Tidak ada sahutan cukup lama dan Nazwa masih setia menunggu Alif mengucapkan permintaannya.


"Saya minta, mulai sekarang panggil aku-kamu, jangan pakai nama lagi."


Nazwa langsung membuang napas lega. Ia sudah berpikir kejauhan tadi.


Akhirnya Nazwa mengangguk, tidak sadar bahwa mereka masih saling berpelukan di atas batu yang terletak di antara pinggiran telaga Biru Semin.


Alif tersenyum. "Kamu mau peluk saya sampai kapan, hm? Saya sih nggak papa. Tapi memang kamu nggak malu? Kita di lihatin banyak orang, loh."


Spontan, Nazwa langsung melepaskan pelukannya. Ia lantas memandang sekitar, dan benar saja beberapa pasang mata sempat mencuri penglihatan ke arah mereka.


Pipinya merona sebelum Alif berkata lagi. "Itu ingus kamu ke mana-mana."


Nazwa melebarkan matanya, ia langsung mengelap pangkal hidungnya menggunakan ujung khimar.


"Nazwa," panggil Alif.


Nazwa menoleh, dan ...


Cekrek!


"Mas Alif!!" Nazwa melayangkan tangan dengan kekuatan tak seberapa itu ke arah suaminya.


Alif tertawa sambil berlari menjauh, satu foto berhasil ia abadikan. Beruntung letak batu itu tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu curam sehingga ia bisa sedikit bebas berlari demi menghindari amukan istrinya.


Dan pada hari itu, semuanya di mulai.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2