
" Kak Brian kenapa kakak bisa ada disini juga ? " ujar Alan heran karena restoran ini sudah dipesanya pribadi.
" Ya tidak sengaja mampir karena ada yang minta ditemani " jawab Brian.
" K-kakak " ucap ku sedikit takut.
" Ohh ternyata Lea maksud ku Rindu, sayang seharusnya kamu jangan merasa takut aku ini calon suami kamu tidak mungkin jahat pada calon istrinya ".
" Bukan begitu tuan, ma-maksudku kak Alan tapi tunggu kenapa kak Alan memanggilku dengan panggilan Rindu ? ".
Alan hanya memberi senyuman datar dan tatapannya pada Rindu.
Dan Ara yang mendapatkan tatapan dan senyuman itupun merasa ketakutan, tanpa disadari dia memeluk lengan Brian yang duduk disampingnya.
" Kakak..... " ucapannya dengan mata terpejam ketakutan.
Alan dan Brian saling melempar senyuman dan rasa tawa yang sedikit ditahan.
" Kakak.... kakak " membuka matanya.
" Loh kenapa kalian malah tersenyum dan tertawa seperti itu ada yang salah, kakak Brian Lea ".
" Rindu, R-I-N-D-U Lea apa masih belum jelas " tegas Brian.
" Maaf kak, t-tapi bagaimana soal Rindu atau mungkin kak Alan sudah tau soal ini ? ".
Alan hanya diam bersikap cool dan terkadang menyunggingkan senyumannya.
" Sudah, dia sudah tau jadi tidak perlu takut ya walaupun ia mungkin juga terkejut tapi kakak sudah meyakinkan dia ".
" Kak " ucapku pelan sembari menatap Alan.
" Iya itu benar, saya rasa kita memang ditakdirkan untuk selalu bersama tidak terpisahkan bukan begitu kakak iparku ".
" Hemmmm itu benar " sahut Brian dengan anggukan serta senyumannya.
" Kak..... kakak ".
" Sudah Rin tenang saja semuanya pasti akan baik-baik saja " membalas pelukan adiknya.
POV Alan:
Kau mencoba memancingku Brian, baiklah aku tau kau saudara kandungnya tapi setelah dia menjadi milikku kupastikan tidak ada lagi kesempatan untukmu.
Mereka pun melanjutkan acara makan siangnya dengan tenang, namun Rindu tetap merasa sedikit gugup serta takut akan sesuatu yang akan terjadi dihidupnya.
POV Rindu:
Apa mungkin papa dan mama kak Alan juga sudah tau ya, aku yakin jika mereka tau tentang ini mereka akan sangat bahagia.
Tapi kenapa aku masih merasa sedikit takut dan sedih, aku merasa senang bisa mendapatkan orang tua seperti mereka semua tapi bagaimana dengan kak Alan aku masih belum bisa dan sanggup untuk menerima semua ini.
__ADS_1
" Baiklah makan siangnya sudah selesai, Rindu mau pulang dengan kakak atau dengan Kak Alan ? " tawar Brian pada sang adik.
" Rindu pulang dengan kakak sa- ".
" Lea, maksudku Rindu pulang dengan saya saja kakak bukankah saya yang mengajaknya kesini maka biar saya juga yang mengantarkannya pulang " sela Alan.
" Tapi kak, Rindu pulang dengan kak Brian saja agar kak Alan tak perlu susah-susah untuk mengantarkan Rindu kak ".
" Biarkan saja Rin, itu artinya Alan bertanggung jawab yasudah kakak duluan hati-hati pulangnya, satu lagi hal yang penting jaga adikku yang tercantik ini dengan baik " pesan Brian lalu pergi meninggalkan Rindu dan Alan.
Rindu masih sedikit takut dengan Alan, terutama karena hal kebenaran ini Rindu merasa Alan tidak akan secara langsung menyakininya.
" Jangan terlalu sering melamun sayang, aku tidak suka itu mariku antar pulang ke istana barumu " ucap Alan dengan nada ngeri sembari menjulurkan tangannya pada Rindu.
" Sa-sayang ? ".
" Iya benar itu tidak salah bukan apalagi minggu depan kita akan bertunangan sayang ".
" Kak cukup, Rindu ga mau denger kak Alan bicara gitu kak ".
" Yasudah mari kita pulang ".
Rindu berjalan menuju mobil Alan, dengan terus melirik Alan dengan rasa takutnya.
Tappppp (pintu mobil tertutup)
" Sebelum jalan pakai sabuk pengamannya sayang " ucap Alan seakan menggoda.
Alan tak menghiraukan kerisihan dan ketakutan Rindu, justru ia semakin bersemangat untuk menggoda Rindu.
" Jika tidak bisa menggunakannya bisa bicara bukan ".
Alan membantu memakaikannya.
Beberapa menit perjalanan hanya ada keheningan, mereka memang memutuskan untuk pulang bukan kembali ke kantor taukan si Alan siapa jadi ga ada masalah apalagi cerita bakalan dipecat orang dia CEO nya.
" Sampai " ucap Alan.
Rindu masih merasa kesulitan untuk melepaskan sabuknya.
" Bicaralah bukankah itu tidak berat dan sulit ".
Alan kembali membantu Rindu melepaskan sabuknya, dan saat sabuk itu lepas tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Rindu yang merasa tidak nyaman mencoba untuk menghindar dari tatapan Alan, namun sungguh ia semakin terkejut dan shock mendapati hal yang tak ia duga dari Alan.
Cupp (mencium pipi Rindu)
Mata Rindu terbelalak lebar dan terkejut sesaat lalu tersadar dan mendorong kuat Alan, setelah itu ia lalu membuka pintu mobil dan berlari masuk menuju rumah.
Sedangkan si pelaku masih terdiam duduk di kursi kemudi sembari tersenyum bahagia.
__ADS_1
" Hari ini kamu benar-benar cantik dan manis Lea " ujar Alan dengan senyuman.
" Sayang udah pulang, tumben cepet ohh iya tadi Brian juga kasih tau mama sih Rindu mau pulang tapi dia ga kasih alasannya ke mama ada apa sayang ga ada masalahkan ? " ujar Arum sembari mendekati putrinya itu.
Rindu langsung memeluk sang mama dengan memeluk manja.
" Ada apa sayang pasti ada masalah jujur sama mama ? ".
" Rindu tidak apa-apa ma ".
" Baiklah ".
Tingg Tenggg (bunyi bel)
Rindu kembali terkejut sudah dipastikan itu adalah Alan, ya orang sudah dengan beraninya mencium pipinya tanpa persetujuan dari dirinya.
" Mama Rindu ke kamar dulu ya mau istirahat ".
" Iya sayang ".
" Bi......Bibi...... tolong buka pintu ada tamu " panggil Arum.
" Baik nyonya ".
" Siapa yang datang ya aku susul kedepan aja ".
Pintu terbuka
" Den Alan ? " ucap bibi.
" Iya bi saya Alan, bibi masih ingat aja " sahut Alan.
" Ingat atuh den ya walaupun Aden udah lama ga kesini, tapi bibi masih bisa ingat Aden ohh iya sampe lupa silahkan masuk den ".
" Iya bi ".
" Waahhh Alan, ternyata kamu yang datang Tante ga sangka lo kamu kesini atau jangan-jangan kamu yang anterin Rindu, maksudnya Tante Lea " ucap Arum sedikit gagu.
" Alan sudah tau Tan, Brian yang kasih tau Alan dan ya Alan juga yang nganterin Rindu tapi ga tau kenapa dia duluan masuk ninggalin Alan atau mungkin dia kecapean gapapa kok Tan " bohong Alan.
Author POV:
Bisa banget lo ngomong Alan lan, lo sadar ga udah main nyosor anak orang aja mana bikin dia jadi terkejut begituh.
Kalo author digituan juga auto salbrut Lan lan, udah ahh gila gue lama-lama ngurusin lo berdua jadi mau gimana ni selanjutnya mau langsung nikah aja, tapi tunggu dulu lah orang mau baru tunangan juga.
" Yaudah silahkan duduk Lan ".
" Makasih Tan ".
" Ohh iya Tante mau bahas soal pertunangan kalian, tapi Tante panggil Rindu dulu ya ".
__ADS_1
" Tan " cegat Alan.