KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Mereka Berdua Sama Saja.


__ADS_3

"Kau ingin ku hajar?!" tanya Gazzel sembari menendang Malika Berulang kali.


"Kak?! Tunggu .. kak?!" Malika pun sedikit berguling jauh untuk berdiri.


"Kau membuat jam mengajarku jadi terlambat! Ditambah lagi, aku belum melaporkan kejadian semalam kepada Tuan Valun!" Gazzel melangkah ke arah Malika dan mengangkat sebelah lengan bajunya.


"D-engarkan aku dulu, kak?! Aku minta maaf! Maafkan aku! B-aiklah .. aku ikut!" jawab Malika yang gemetar, serta mengangkat kedua tangannya ke atas.


Sedangkan Linanzha hanya mematung sejak tadi, lantaran tak tahu harus berbuat apa untuk meleraikan suasana. Ia ingin sekali bertanya lebih banyak tentang kejadian semalam, sekaligus mengobati Malika saat itu juga.


Namun, karena lebih menghormati sang Guru, ia kemudian hanya berkata, "A-pa aku boleh ikut?"


Pagi itu, mereka pun langsung berjalan pergi menuju sekolah, untuk memenuhi panggilan Valun, sekaligus melaporkan kejadian semalam.


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Tujuh menit kemudian, tibalah mereka di sekolah. Kini, terlihat barisan ratusan murid yang secara bersamaan, sedang meneriakkan "Satu! Dua! Tiga!" sembari melatih pukulan dan tendangan mereka.


Di depan ratusan murid itu, Senju sedang menyimpulkan tangannya di belakang, sambil berjalan kesana-kemari, dalam memperhatikan setiap gerakan murid yang salah.


"Ujang?! Tanganmu tampak seperti tukang sunat! Dimana tenagamu?! Memalukan!" bentaknya kepada salah satu murid.


"Senju?" tegur Gazzel.


"Tahan!" tegas Senju dalam memberi aba-aba kepada para murid dan menoleh ke arah Gazzel, "Hei, kemana saja kau? Ini kan jam mengajarmu .." dengan nada yang melirih.

__ADS_1


"Aku akan mengambil jam milikmu. Apakah Tuan sudah datang?"


"Beliau masih berada di ruangannya, sejak kemarin malam."


"Baiklah," respon Gazzel saat mengetahui itu.


Di saat mereka bertiga mulai melangkah, ratusan murid itu pun terkejut melihat Linanzha.


"Hei, lihat! Itu Linanzha!" seru salah seorang murid dengan gembira.


Mereka pun memanggil-manggil nama Linanzha, memujinya dan sedikit bersorak-sorai melihat momen langka tersebut. Linanzha hanya melambaikan tangannya, sekaligus menahan senyuman manis dalam membalas mereka.


Tentu saja hal itu membuat seluruh murid laki-laki menjadi tergila-gila. Bahkan, para murid wanita pun, mereka ingin sekali menjadi sosok seperti Linanzha.


Tiba-tiba, ada salah satu murid yang berteriak, "Hei, siapa anak itu?!" sambil menunjuk ke arah Malika.


"Apa kau tukang kebun baru?!" teriak murid lainnya.


"Kenapa kau berjalan di dekat Linanzha?!" teriak murid lainnya lagi.


Tentu saja hal itu membuat Malika naik darah dan membatin kesal, "Hii .. dasar, murid-murid gagal .."


Linanzha yang melihat Malika sedang di olok-olok, kemudian sengaja memeluk lengan Malika, sembari menyandarkan kepala di pundak sahabatnya itu. Linanzha tahu, dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"HUUU .. HUUU!" seru ratusan murid yang mengejek momen tersebut.


"Kau hanya membuatku semakin di ejek, bodoh!" ungkap Malika dengan kesal.


"Haha!" Linanzha hanya tertawa lepas, saat melihat wajah Malika yang terlihat merah padam.


Pagi itu, Linanzha menang telak dalam mengerjai Malika. urat kemarahan Malika serasa ingin putus, ketika mendengar ejekan ratusan murid tadi.


-


-

__ADS_1


-


☆☆☆☆☆


Kini, tibalah mereka di ruangan Valun. Terlihat, Valun sedang memakai kacamata, sembari menulis sebuah surat.


"Selamat pagi, Tuan?" tegur Gazzel.


"Oh, Gazzel .. selamat pagi," balasnya yang kemudian melepas kacamata dan kembali berkata, "Linanzha .. hehe .. tak kusangka, kau juga turut hadir disini. Kebetulan sekali. Ada yang ingin ku sampaikan padamu," sembari tersenyum.


"Tuan? Sebelum anda ingin berbicara dengan mereka, aku ingin menyampaikan sesuatu," kata Gazzel yang tiba-tiba saja memasang wajah serius.


"Silakan," balas Valun dengan singkat dan kemudian menoleh ke arah mereka berdua, "Kalian berdua, duduklah sebentar."


Akhirnya, Gazzel kemudian menjelaskan semuanya dengan lepas. Keseriusan wajah Valun, dalam menanggapi setiap detail dari perkataan Gazzel, kini membuatnya semakin khawatir akan situasi Desa.


Setelah sekian lama ..


"Tuan? Kita harus membangun Desa ini kembali! Tembok bagian barat sudah lama tidak di perbaiki! Monster muncul dan pembunuh juga mulai berkeliaran! Bahkan, Kepala Desa seperti tidak peduli! Padahal, anaknya sudah di didik, hingga menjadi salah satu dari lima murid terbaik!" Gazzel terlihat kesal saat membicarakan hal itu.


"Kau tidak boleh berkata seperti itu. Kepala Desa juga sedang berusaha, untuk melakukan yang terbaik," tepis Valun yang menasehati Gazzel dengan sopan.


"Terbaik apanya .." lirih Gazzel yang sesekali menoleh ke arah lain.


"Sore nanti, aku akan membicarakan masalah ini dengan Kepala Desa. Tenang saja," jelas Valun agar menenangkan Gazzel.


Setelah sekian lama, Valun pun akhirnya punya waktu dengan Malika dan Linanzha.


"Hei, na .. a .. wah .. wah .." ucap Valun yang sedikit terkejut, karena melihat Malika dan Linanzha sudah tertidur pulas.


Linanzha kini sedang tertidur di pundak Malika. Sedangkan Malika, mulutnya terbuka lebar, lantaran kepalanya menggantung kebelakang kursi. Bahkan, saking nyenyaknya, dengkuran Malika menjadi semakin besar dari yang sebelumnya.


"ZZZ .. ZZZ!"


"Mereka berdua sama saja .." kata hati Gazzel sembari menepuk dahinya, lantaran tak percaya dengan kelakuan Linanzha.

__ADS_1


-FOLLOW ME-


__ADS_2