
Wujud makhluk itu sungguh menyeramkan di mata mereka berdua. Matanya yang berjumlah banyak dan terpasang secara tak beraturan, kini tak lepas dalam menatap Linanzha dan Malika, sembari berjalan kesana-kemari mencari celah.
"Apa dia takut dengan api?" tanya Linanzha yang kemudian menatap Malika.
"Mungkin saja. Lihatlah, dia kesana-kemari seperti kerepotan mencari jalan," jelas Malika.
"Cih, baguslah! Akan ku hapus jalanmu, makhluk laknat!" wajah Linanzha berubah geram dan kembali menyemburkan api lewat kedua telapak tangannya.
"WOOOOOOSSSSSH!"
Api semakin berkobar membatasi kedua belah pihak. Panas yang di hasilkannya juga semakin dapat di rasakan Linanzha dan Malika. Namun, mereka berdua tetap bertahan, untuk menggertak makhluk itu lebih jauh lagi.
"Hebat, Lin! Bakar wajahnya! Bakar!" seru Malika sembari mengangkat kayunya di udara.
"Hahaha .. Kemarilah .. kemarilah dan rasakan kemarahan dari sang Dewi Api!" Linanzha semakin terbawa suasana akan kesombongannya sendiri.
Tiba-tiba, hal yang tak di sangka-sangka pun mulai terjadi. Mereka berdua kini sedikit terkejut, lantaran melihat makhluk itu seperti berancang-ancang untuk melompat.
"Hei .. hei .. Lika?" Linanzha mulai siaga penuh melihat hal itu.
"Aku siap! Aku siap!" Malika masih saja bersemangat, sembari memegang kayu tadi bagaikan pemukul bola bisbol.
Sontak saja, Makhluk itu langsung melompat tinggi melanggar kobaran api, menuju ke arah mereka berdua.
"Serang, Lin!" teriak Malika dengan sekuat tenaga.
"Apa yang kau lakukan?! Cepat lari!" balas Linanzha yang sudah jauh berlari meninggalkan Malika.
"Eeeeeeeeeh?! Terkutuk kau, Lin!" wajah Malika berubah panik dan berlari mengejar Linanzha.
Ternyata oh ternyata, mereka berdua kini lari terbirit-birit di kejar makhluk tersebut. Linanzha Bahkan sampai menarik-narik baju Malika, akibat kecepatan Malika yang perlahan semakin mendahuluinya.
"Hii .. hii .. Malika .. selamatkan aku!" teriak Linanzha yang diiringi jeritan histeris.
"Hiii! Jangan menarikku! Tega sekali kau, Lin!" balas Malika yang sedikit kesal dengan kelakuan Linanzha tadi.
__ADS_1
"Kau pikir, kekuatanku sudah sempurna, hah?! Aku hanya menggertak makhluk itu, bodoh!"
"Tapi setidaknya .. kau harus memberitahuku jika kau ingin lari, bodoh!"
Mereka berdua saling menyalahkan di sepanjang pelarian itu. Ketakutan, kekesalan, bahkan saling mengata-ngatai pun tak terhindarkan diantara mereka.
Kini, makhluk tersebut mulai menunjukkan kekuatan sebenarnya. Kecepatannya kian meningkat di saat mengejar Malika dan Linanzha. Melihat hal itu, mereka berdua semakin menjerit dan menancap gas.
"Kita harus berpencar!" tegas Linanzha yang memberi saran.
"Apa kau gila?! Itu akan semakin membuat kita menjadi sasaran empuk!" bantah Malika.
"Percayalah padaku! Biarkan dia mengejarmu dan aku akan menyerangnya dari belakang!" Linanzha menatap Malika untuk meyakinkan rencananya.
"Arrrggh! Baiklah!" Malika lalu berhenti dan secepat kilat memungut sebuah batu yang sebesar bola tenis.
Tanpa membaca arah pergerakan lagi, Malika langsung melemparkan batu tadi secara spontan. Batu itu melesat cepat dan beruntungnya, bisa langsung tepat sasaran, hingga mengenai mata makhluk tersebut.
"PRAK!"
Makhluk itu lalu terhenti dan mengusap-ngusap matanya. Linanzha yang sesekali melihatnya, kini tengah berdiri di sisi yang berjauhan dengan Malika. Ia kemudian bersembunyi di balik pohon, sambil menunggu peluang yang pasti.
Makhluk itu kini terlihat mudah untuk menghindari lemparan Malika. Ia juga mulai mengendus-ngendus ke tanah dan sedikit menggeram.
"Apa yang kau tunggu?!" Malika lalu melompat dan menghentak-hentakkan kakinya, agar membuat keributan.
Sontak saja, makhluk itu pun mulai berlari kencang dengan suara geraman yang besar. Akan tetapi, bukannya mengejar Malika, makhluk itu malah mengarah ke Linanzha.
"Hiiii ... hiii!" Linanzha memegang kedua pipinya dan berkocar-kacir ke dalam hutan.
"Apa-apaan ini, makhluk sialan!" keluh Malika yang lalu berlari mengejar Linanzha.
Sifat makhluk itu sangat sulit di baca mereka berdua. Linanzha yang sudah kelelahan pun semakin melambat saat berlari.
"Huuft .. hufft .. aku .. aku tak sanggup lagi .."
__ADS_1
Linanzha terpaksa harus berhenti, agar menyimpan staminanya demi memberikan serangan balik. Sedangkan Malika yang melihat Linanzha sedang terdiam pun berkata,
"Apa yang kau lakukan?! Lari! Lari!"
Makhluk itu langsung membuka mulutnya selebar mungkin, sembari berlari menuju Linanzha. Terlihat jelas bahwa gigi-giginya juga sangat tajam dan letaknya tidak beraturan. Pemandangan seram itu, langsung membuat salah satu tangan Linanzha terlihat menyala-nyala akan kobaran api.
"Jangan ganggu aku, kurang ajar!" Linanzha lalu memasang kuda-kuda dengan cepat.
Ia berencana akan menyerang balik dengan jurus buatannya sendiri. Telapak tangannya kini mulai menumbuhkan api yang perlahan-lahan menjadi bulat, padat dan silau bagaikan matahari seukuran bola basket. Linanzha lalu menggenggam bola api itu dan berteriak, "Cannon Ball!" dengan nada yang geram.
Lemparan gadis cantik itu, membuat bola apinya semakin melesat hebat di udara. Karena terlalu cepat, makhluk itu pun tak sempat untuk menghindarinya.
Dan ..
"BOOM!"
Ledakan itu, setara dengan tiga ledakan granat. Gelombang kejutnya mampu mengangkat sebagian besar rumput beserta tanah-tanahnya. Makhluk tadi pun terpental dan terguling-guling cukup jauh. Ia langsung terbakar dan hangus secara bersamaan.
"Huufft .. huuft .." Linanzha yang menarik nafas karena kelelahan.
Malika yang sejak tadi hanya menonton momen itu, langsung terpaku kagum dan berkata, "I-itu .. sungguh .. uuuuh .." dengan mata yang berbinar-binar.
Makhluk itu kini hanya terbaring, sedikit berkejang-kejang dan mati secara perlahan. Linanzha lalu memunggungi salah satu pohon dan terduduk pasrah tanpa berkata. Ia sedikit syok dan juga kelelahan.
Malika kemudian berlari menghampirinya. Kedua tangannya juga kini mulai mulai memegang dan memijit-mijit pundak Linanzha dengan lembut.
"Hei .. kau .. baik-baik saja, kan?" tanyanya yang lalu berjongkok di pinggir Linanzha.
"Yah .. a-ku hanya lelah, Lika .. hehe .." jawab Linanzha yang di akhiri tawa yang manis.
Malika hanya tersenyum lebar melihat sahabatnya itu. Ia lalu menyuruh Linanzha untuk naik ke punggungnya. Akan tetapi, Linanzha tidak mau di belakang, melainkan di depan. Malika pun membawa Linanzha dengan sedikit berlari menuju Desa.
Tapi, tak lama kemudian, mereka berdua saling berpapasan dengan warga yang datang secara berdondong-bondong. Ya, si wanita paruh baya tadi menepati janjinya dengan membawa banyak bantuan.
"Apa yang telah terjadi, anak muda?" tanya salah satu orang yang perlahan keluar dari kerumunan warga.
__ADS_1
Ternyata, orang tersebut adalah Valun. Tak lupa juga dengan beberapa guru lainnya yang ikut bergabung dalam kerumunan itu.
-FOLLOW ME-