KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Elemen Baru.


__ADS_3

Walau sudah larut malam, mau tak mau, Gazzel harus membawa Malika ke rumahnya. Mereka berdua kini sedang melangkah cepat, sembari menoleh kesana kemari dalam berwaspada.


"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf karena telah menghancurkan rumahmu," kata Gazzel yang tiba-tiba saja memulai percakapan.


"Itu sudah kuanggap impas, lantaran Bib .. eh .. lantaran kakak sudah menyelamatkanku," balas Malika dengan sedikit canggung.


Mata Gazzel hampir saja menyala merah.


"Hii .. aku hampir mati .." batin Malika menjerit-jerit melihat tatapan Gazzel tadi.


Suasana desa kini di kuasai oleh kesunyian di sepanjang jalan. Bahkan, perjalanan mereka agak sedikit menyeramkan, lantaran harus melintasi sebuah tiang yang dimana, telah terpajang bangkai makhluk tadi.


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, di sebuah ruangan yang berada di dalam lingkungan sekolah, Valun beserta kedua Guru lainnya, sedang duduk bersama untuk membicarakan sesuatu. Kedua Guru itu bernama Senju dan Antonov.



"Tuan Valun? Apa yang harus kita lakukan untuk situasi seperti ini?" tanya Senju dengan sopan.



"Pertama-tama, kita harus menyebarkan berita ini hingga ke telinga Desa lainnya, agar mereka juga turut berwaspada." jelas Valun sembari membelai janggutnya sendiri.



"Butuh waktu sehari agar sampai di Desa terdekat, Tuan. Biarkan aku yang melakukannya," sambung Antonov yang ikut memasuki percakapan.


"Baiklah, kuserahkan itu padamu," kata Valun yang lalu berdiri dari kursinya, sembari sedikit melangkah maju ke arah mereka berdua, "Kalian berdua pulanglah. Aku akan menginap di sekolah ini sampai besok," lanjutnya.


"Terima kasih, Tuan Valun," ucap mereka berdua secara bersamaan.


Antonov dan Senju kemudian melangkah pergi meninggalkan sang Guru besar sendirian. Setelah mereka sudah pergi, Valun pun berjalan ke arah jendela untuk membukanya. Ia lalu memejamkan mata, sembari menempelkan kedua telapak tangan untuk mendalami suatu mantra.


Mulutnya kini sedang berkomat-kamit saat membaca mantra, yang berguna untuk menerawang nasib Desa. Sedikit demi sedikit, ia semakin terkoneksi dengan alam di sekitar.


Bahkan, dedaunan yang sejak tadi sudah jatuh ke tanah, perlahan mulai mengambang naik di dekatnya. Semakin lama, mulutnya semakin cepat dalam berkomat-kamit. Semakin cepat .. semakin cepat .. semakin cepat .. dan ..


"KRRAAK .. KRAAK .. KRAAK!"

__ADS_1


Suara itu, muncul dari sebuah pohon yang tak jauh dari jendela. Pohon tersebut seperti sedang di cakar oleh sesuatu.


Cakaran itu, akan meninggalkan sebuah ukiran, tentang pertanda yang sejak tadi di ramalkan Valun. Setelah mendengar suara cakaran tadi, Valun pun segera melompat ke luar jendela untuk melihatnya.


Perlahan, ia semakin mendekati pohon demi melihat hasil ramalan tadi. Di saat ia sudah melihat ukiran itu, ia malah kebingungan.


Bukannya mendapatkan pertanda tentang nasib Desa, ukiran tersebut malah menggambarkan sesuatu yang terlihat seperti simbol elemen. Hanya saja, simbol elemen itu terlihat sangat asing.



"Elemen, kah? Tapi .. elemen macam apa ini?" tanyanya pada diri sendiri.


Karena penasaran, Valun pun melompat kembali ke dalam, untuk mengambil sebuah buku tentang simbol-simbol elemen yang sudah tertulis dalam sejarah. Pikirannya kini sedikit kacau, lantaran simbol di pohon itu, tidak di temukannya dalam buku.


"Ini .. ini .. pasti sebuah simbol elemen baru .. tidak salah lagi .." ungkapnya yang terus menerus mengganti halaman buku, demi mencari simbol yang terukir di pohon tadi.


Ia pun meletakkan buku itu dan mengambil secarik kertas berserta pensil, untuk menggambar ulang simbol tadi. Ketika sudah selesai, ia langsung memutuskan untuk bersemedi di bawah pohon tadi, demi mencari petunjuk lebih jauh.


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆



"Masuk dan beristirahatlah. Besok, kita akan pergi ke sekolah untuk menemui Tuan Valun," ucap Gazzel yang kemudian mengunci pintu kembali.


Di rumah Gazzel, hanya ada dua ruangan. Yakni, ruangan yang sedang di pijaki mereka saat ini dan kamar mandi. Bahkan, di ruangan utama itu, hanya ada satu ranjang dan sebuah lemari.


"Aku tidur dimana, kak?" tanya Malika.


"Di lantai. Aku akan memberimu selimut dan bantal. Tidurlah disitu," kata Gazzel sembari menunjukkan tempat yang di maksud.


Malika pun menangkap bantal beserta selimut yang di lempar oleh Gazzel.


"Tidurlah .. tunggu apalagi," Gazzel lalu berjalan ke kamar mandi.


Perlahan, Malika mulai merapikan bantal dan langsung menaruh kepalanya, sembari menutup diri dengan selimut. Ketika mata lelahnya mulai terpejam, suara shower pun berbunyi.


Gazzel kini tengah asyik membersihkan tubuhnya yang kotor dan terluka akibat pertarungan tadi. Di sela-sela mandinya itu, ia sedang memikirkan cara untuk menguak identitas sang penjahat.

__ADS_1


"Jika saja tadi aku bisa melihat satu petunjuk saja darinya .. bajingan itu .." batinnya.


Setelah sekian lama membersihkan diri, ia pun segera mematikan shower, dan ..


"Eh .. tidak .. arrggh .. kebodohan macam apa ini .."


Karena terlalu sering tinggal seorang diri, ia jadi lupa membawa baju ganti dan handuk. Pakaian kotornya yang tadi, sudah di celupkannya ke sebuah ember berisikan air. Terpaksa, ia harus meminta bantuan dari Malika.


"Hei, anak kecil?!" tegurnya memanggil Malika.


Malika tak merespon panggilannya.


"Hei? Apa kau belum tidur? Bisakah kau mengambilkan pakaian dan handuk untukku?!"


Sekali lagi, Malika tak merespon.


Akhirnya, Gazzel memutuskan keluar untuk mengambilnya sendiri. Ia kemudian membuka pintu secara perlahan, sembari memunculkan kepalanya untuk mengintip terlebih dahulu. Terlihat, Malika seperti sudah tidur dengan nyenyak. Hal itu langsung membuatnya berjalan cepat menuju lemari.


Tiba-tiba,


"Jangan! Jangan makan sendal itu, Linanzha!" teriak Malika yang lalu terbangun dengan posisi duduk akibat bermimpi buruk.


Mata Malika langsung menatap lepas ke arah Gazzel yang kini bertelanjang bulat. Yang lebih parahnya lagi, Gazzel hanya mematung di tempat, karena bingung ingin berbuat apa.


"Eh?" ucap Malika yang kebingungan dengan apa yang dilihatnya.


"Kau .." lirih Gazzel yang lalu secepat kilat menendang wajah Malika.


"BUK!"


Malika yang setengah sadar itu pun, pingsan seketika layaknya tertidur kembali.


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Keesokan harinya, ketika mereka berdua sudah terbangun cukup lama ..


"Aaarrgh! Kenapa hidungku begitu besar dan menyisakan banyak darah yang kering?" ucap Malika yang sedang bercermin menahan sakit.

__ADS_1


"Cepatlah! Kita harus pergi sekarang!" sambung Gazzel yang tak menghiraukan ucapan Malika.


-FOLLOW ME-


__ADS_2