KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Aroma Manusia Yang Tidak Asing.


__ADS_3

Sementara itu, di saat mereka bertiga sudah memasuki portal, pertikaian antar prajurit gabungan masih saja terus berlanjut. Dua puluh delapan prajurit tewas secara sia-sia, di tangan bangsa mereka sendiri.


Jumlah korban memang sedikit, tapi dampak dari kontra mereka, akan menumbuhkan perpecahan yang mungkin sulit untuk di perbaiki. Untungnya, ada dua Lionel yang turun tangan dalam menyikapi mereka semua. Keduanya, bernama Atlas dan Saosin.


"Inilah efeknya bermabuk-mabukan! Dasar tidak berguna!" bentak Saosin, dengan memasang tatapan yang mengutuk.


"Jangan bercanda, Saosin. Kau pasti sudah tahu," sambung Atlas singkat, sembari melipat kedua tangan.


"Tentu saja aku tahu! Aku hanya muak melihat moral prajurit yang semakin rusak setiap harinya! Jika kalian seperti ini lagi, maka akan ada hukuman gantung yang menunggu! Camkan itu!"


Berbeda dengan Xenel, Lionel adalah pasukan khusus yang sudah pasti memiliki indra seperti hewan. Lionel bahkan bisa memilah bau secara berbeda-beda, melebihi pengguna wujud hewan yang lain. Tanpa berlama-lama, keduanya langsung mengikuti jejak aroma Makunamu hingga ke semak-semak.


Dan ..


"Manusia? Kenapa ada aroma manusia? Bau manusia ini .. seperti tak asing .." Atlas berpikir keras, menutup mata dan melipat kedua tangan.


"Apa monster itu menculik seseorang?" tanya Saosin yang penasaran.


"Mungkin .. tapi .. aroma ini, sepertinya aku pernah menciumnya. Tapi .. dimana aku .."


"Berpikirlah lebih keras lagi! Jika memang benar, maka kita akan segera menumpasnya!" Saosin hanya berjalan kesana-kemari, menatap Atlas yang sejak tadi hanya berpikir.


"Asrama .. ya .. Asrama di Akademi .. entah itu Asrama Putra atau Putri. Ku harap baunya belum hilang sama sekali! Ayo!" ungkap Atlas yang lalu berlari begitu saja.


"Hah? Asrama?" Saosin hanya kebingungan dan ikut berlari.


-

__ADS_1


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, di depan gua Ababel, Malika, Makunamu dan Alkila sudah bertemu dengan Morca. Seperti rencana sebelumnya, Makunamu akan tinggal bersama Malika, untuk memimpin para serangga.


"Kita akan bertemu besok sore di medan perang. Jaga diri kalian berdua," ujar Alkila yang kemudian membuka portal dan pergi bersama Morca.


Seketika itu pula, "Ayo .. kita masih punya banyak waktu .." bisik Makunamu yang sekali lagi menggenggam tangan Malika.


"Apa kau menyukai suasana hutan di malam hari?" tanyanya yang tiba-tiba, sembari mendekat dan memegang kedua tangan Malika.


Malika pun membatin, "Inilah saatnya .." kemudian membalas erat genggaman Makunamu, "Ya .. aku suka tempat yang sepi. Itu membuatku merasa tenang."


"Benarkah?" Makunamu memeluknya, membuat dahi mereka kini saling menempel.


Malika bisa saja memasang wajah yang pura-pura, tetapi tidak dengan respon alami dari tubuhnya. Ya, ada sesuatu yang mulai menggembung dari balik celana, akibat tatapannya yang mengarah ke belahan gunung berwarna biru.


"Ini demi misi .. misi agar mencari tahu, dimana kontrak darah itu berada .. maafkan aku, Lin .. ini .. ini demi menyelamatkan dunia .."


Makunamu pun berkata, "Maafkan aku, karena terlalu agresif padamu. Aku hanya .. belum pernah melihat seseorang yang di anugrahi Kegelapan. Ku kira, itu hanya mitos .. hehe .."

__ADS_1


Makunamu terlihat berbeda. Ia membelai rambut Malika, bagaikan wanita tulen pada umumnya. Sisi jahatnya hilang begitu saja, mengubahnya menjadi sosok hangat saat mengatur nada berbicara.


"Apa kau hanya tertarik dengan Kegelapan saja? Apa bukan karena diriku?" Malika sedikit risih, merasakan pelukan Makunamu yang sejak tadi belum terlepas.


Makunamu lalu melepaskannya, melihatnya dengan tatapan sayup dan bertanya balik, "Malika? Apa .. apa kau .. yakin ingin berperang?"


"Apa maksudmu?" Malika semakin bingung mencerna pertanyaan itu.


"Aku hanya bertanya .. hehe .. kemarilah .."


Makunamu lalu mendorong pelan Malika dan membaringkannya di permukaan tanah. Tetapi, pertanyaan tadi masih terlintas di benak Malika. Ketika Makunamu sudah menindihnya, Malika pun menahan aksinya tersebut dan bertanya,


"T-t-tunggu .. sebenarnya .. apa yang membuatmu bertanya tentang hal tadi? Jika kau ingin tahu jawabanku .. aku .. aku tidak ingin berperang. Aku tidak .. bisa .."


"Kau memancingku?" Makunamu menimpali Malika dengan tatapan yang berubah dingin.


"B-b-bukan seperti itu .. ak .. aku .. bingung denganmu. Mengapa kau tiba-tiba saja terlihat sinis? Padahal, kau .. yang .. duluan bertanya bukan? Aku hanya jujur .."


Makunamu yang sejak tadi masih menindih Malika, kini hanya terdiam membisu, sembari memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia lalu mulai menggigit bibirnya yang bergetar secara tiba-tiba. Seketika, Malika pun tahu, ada sesuatu yang tidak beres, di saat melihat satu tetes air mata yang jatuh membasahi dadanya.


"Hei, Kenapa kau menangis? Apa yang terjadi? Ceritakanlah padaku. Tak apa .. kemarilah," Malika menariknya perlahan, membuat Makunamu semakin menindihnya untuk saling berpelukan.


Malika membelai rambutnya, membenamkan Makunamu ke dalam pelukan hangatnya yang seolah-olah ikut merasakan kesedihan. Tangisan Makunamu terlihat malu-malu. Ia seperti ingin berusaha tegar menyikapi diri sendiri.


"Arrrgh .. jangan berdiri di saat-saat seperti ini .. sial .. sial .." batin Malika yang sejak tadi tak mampu mengontrol hawa nafsunya.


"Maafkan aku, karena .. sudah terlihat murahan .. di depanmu. Tak ada yang bisa ku lakukan lagi .. selain membujukmu .. dengan cara itu. Aku .. ingin bebas .. aku ingin bebas .." lirih tangis Makunamu yang tiba-tiba.

__ADS_1


-FOLLOW ME-


__ADS_2