
"Kau?! Aku baru saja ingin melaporkanmu, pencuri!" bentak Martis sembari menunjuk-nunjuk Malika.
"M-artis?! Apa-apaan kau?!" Gazzel bingung dengan tingkah Martis yang seperti orang gila.
Sedangkan Linanzha, ia langsung menanggapi kata "pencuri" yang di ucapkan Martis tadi. Bagi Linanzha, hal itu pasti akan membuat Valun marah dan mencabut kembali pekerjaan, yang sudah di janjikan sang Guru besar kepada sahabatnya itu.
"Apa yang kau katakan?!" bantah Linanzha yang tiba-tiba saja berdiri dari kursi, sembari menongkak pinggang.
Malika yang masih saja duduk, kini sedikit mengintip dari sela-sela ketiak Linanzha dan berkata, "S-iapa kau? Aku tidak mengenalmu!" sembari menelan ludah dan membatin, "Sialan .. ternyata itu bukan mimpi .."
"Bisakah kalian tenang sedikit? Martis, bicaralah secara baik-baik," kata Valun dengan nada yang sopan.
"Duduk!" kata Gazzel yang lalu mendorong Martis, hingga terduduk di sebuah kursi.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Valun yang kembali membuka percakapan.
"Guru? Orang ini mencuri dompetku dan dia sempat bertarung denganku. Akan tetapi, dia kalah dan langsung kabur dengan kekuatan anehnya!" jelas Martis yang masih terlihat geram.
Mendengar kata "kalah", tentu saja membuat Malika sedikit merasa tak terima. Malika lalu berdiri dari kursinya secepat mungkin, serta menunjuk-nunjuk ke arah Martis.
"Hah?! Kalah?! Bertemu denganmu saja aku tidak pernah!" bantah Malika.
Martis yang tak mau kalah pun, berdiri dari kursinya juga, "Kau! Jangan bohong kau, kurang ajar!" sembari kembali menunjuk-nunjuk Malika.
__ADS_1
"Sudah ku bilang, duduk!" bentak Gazzel yang kemudian menyandung kaki Martis dengan keras.
Martis pun kehilangan keseimbangan dan kembali terduduk di kursi dengan cepat. Ucapan Martis yang berbunyi "kekuatan aneh" tadi, tentu saja menarik perhatian Valun, ketimbang melihat Malika sebagai seorang pencuri.
Gazzel pun berkata, "Benarkah itu, anak kecil?" sembari menoleh ke arah Malika.
"Y-ang benar saja, kak! Jika saja aku melakukam kejahatan, kenapa aku malah bersantai-santai di ladang bunga tadi, tanpa harus merasa was-was?!" tepis Malika yang mempertahankan wajah meyakinkan.
"Sudahlah .. cukup," kata Valun yang meleraikan suasana dan kembali berkata, "Martis? Berapa banyak uangmu yang hilang?" sembari membuka laci meja.
"Sepuluh ribu, Guru," jawab Martis singkat.
Malika pun membatin, "Astaga.. dompet berisikan kemiskinan tadi .. ternyata punya dia .." sembari sedikit menggosok-gosokan jari telunjuk ke dahinya.
"Hanya segitu?! Dan kau menuduhnya?!" Linanzha kemudian membuka tasnya untuk mengambil 100.000. dan kembali berkata, "Kau sungguh memalukan, Martis!" sembari meremas uang tersebut, lalu melemparnya ke wajah Martis.
Martis hanya mematung saat menerima itu. Ia kini sedikit merasa terhina, akibat perkataan Linanzha yang terdengar cukup kasar.
"Aku hanya ingin pergi membelikan hadiah ulang tahun Ibuku .." lirihnya yang kini memasang wajah antara kesal dan sedih.
Seketika, hati Linanzha seperti terpukul, lantaran merasa bahwa uang 10.000 yang tak seberapa itu, hanyalah untuk membelikan hadiah ulang tahun bagi sang Ibu.
Gazzel dan Valun pun merasakan hal yang sama. Mereka tahu akan sosok Ibunya Martis, yang sejak lama sudah sakit-sakitan dan tinggal di dalam kemiskinan bersama Martis, tanpa sosok seorang suami.
__ADS_1
Perlahan, Malika pun memberanikan diri untuk melangkah maju ke arah Martis. Ia lalu menepuk pelan pundak salah satu murid terbaik itu dan berkata ..
"Maafkan aku .." sembari memasang wajah yang bersalah.
Martis pun menjawab, "Mengaku juga kau!" sambil membuang pukulan ke wajah Malika.
"BUK!"
Malika terundur cukup jauh, hingga hampir menabrak dinding ruangan tersebut.
"Sialan .." lirih Malika yang tak menyangka, kalau akan mendapat respon seburuk itu.
"Kuanggap itu impas. Ini, ambilah," kata Valun yang kemudian, menyodorkan uang miliknya tadi kepada Martis.
Perlahan, Martis mengambilnya dan berkata, "Akan ku kembalikan sisanya, Guru!" seru Martis yang kini terlihat tersenyum bahagia, sembari mengusap matanya yang sedikit berkaca-kaca.
Martis lalu membungkukkan badan dan kemudian bergegas keluar dari ruangan itu. Martis pun, meninggalkan ruangan.
"Aku hampir saja membela orang yang salah!" kata Gazzel yang kini, sedang mencekik-cekik leher Malika dengan keras.
"Kakrs .. mafz.." Malika tak mampu berbicara jelas ketika menerima cekikan itu.
Linanzha hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia seperti tak peduli kepada Malika yang sedikit lagi, hampir mati karena kehabisan nafas.
__ADS_1
-FOLLOW ME-