
Dua puluh menit kemudian, bertemulah Malika dengan para pemimpin, dari masing-masing Kubu Pasukan Pemberontak. Malika dan mereka sekarang sedang duduk berhadapan, di kelilingi oleh berbagai prajurit yang bercampur aduk menjadi satu.
Aliansi Pasukan Pemberontak, terdiri dari empat kelompok, dengan nama yang berbeda. Nama keempatnya, adalah masing-masing dari pemimpin mereka sendiri. Keempat pemimpin itu bernama Jango, Queen Wasp, Vliser dan yang terkuat, Leon. Tetapi, karena Leon sudah tewas, mereka pun bersepakat untuk mengganti nama Kelompok Leon menjadi Malika.
"Apa kalian gila, hah? Jangan pernah menamakan organisasi kriminal kalian dengan namaku!" respon Malika yang terlihat kesal setengah mati.
"Lantas, nama apa yang harus kami pakai?" tanya salah satu prajurit milik Leon.
"Terserah kalian saja. Asal jangan menggunakan namaku."
Sedangkan ketiga pemimpin tadi hanya terheran-heran dengan Malika. Tingkahnya benar-benar terlihat seperti anak kecil di mata mereka. Namun di sisi lain, mereka merasa segan, lantaran baru tahu, kalau Malika adalah pengendali suatu elemen yang belum pernah ada, sekaligus wadah dari Roh Suci elemen itu sendiri.
"Kenapa harus serumit ini .. aku ingin pulang .. kakak Gazzel dan Guru lainnya .. hufft .. apa mereka baik-baik saja .."
Malika merasa tak kuat mengikuti lembar cerita baru yang di alaminya sekarang. Ia sudah terlibat terlalu dalam. Pikirannya hanya melayang-layang di langit kecemasan, merasa belum siap menghadapi hari yang akan datang.
Morca dan Alkila lalu menjadi perwakilan Malika, dalam membicarakan apa yang sedang terjadi, hingga memberikan informasi terbaru mengenai jumlah musuh saat ini. Jika seluruh prajurit Pemberontak di gabungkan, maka semuanya akan berjumlah 400.000 prajurit. Dan semua itu, kini berada di bawah kekuasaan bocah berusia 16 tahun.
"Seperti strategi yang di berikan Yang Mulia Mexuca, sebagian besar kalian akan menggunakan kapal perang dan menyerang bagian selatan dari lautan. Daratan, adalah milik kami," jelas Morca.
"Kalau begitu, kami semua akan bergerak subuh nanti menuju pantai Ababel. Sembilan puluh kapal sedang dan tiga kapal besar sudah bersiap di sana," sambung Queen Wasp.
Setelah sekian lama, rapat pun usai. Semuanya sudah bersiap dengan apa yang akan terjadi besok sore nanti. Malika, Morca, Alkila dan Makunamu lalu pergi meninggalkan gua sementara waktu, untuk melancarkan misi selanjutnya.
-
-
-
Kini, ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua malam. Alkila sekarang sedang membuka portal di dalam hutan. Ia akan berperan sebagai jalan pulang perginya Malika dan Makunamu.
__ADS_1
"Tinggalah Morca. Tubuhmu terlalu besar. Kita semua akan tertangkap basah karenamu," keluh Alkila.
"Cepatlah! Aku akan meneror Desa di sekitar sini sebagai hiburan. Temui aku di gua nanti," balas Morca yang kemudian melangkah pergi menuju gelapnya hutan.
Mereka bertiga lalu memasuki portal, menuju ke suatu wilayah yang tak jauh dari Kerajaan Labbrax. Untungnya, kali ini tidak ada kejutan berbahaya lainnya. Hanya saja, bukannya menembus di daratan, mereka bertiga malah menembus ke sebuah perahu berukuran besar, yang di huni oleh seorang nelayan.
Nelayan itu terlihat mabuk, serta terduduk diam menatap langit malam, yang tiba-tiba saja memperlihatkan sebuah bintang yang jatuh. Ia lalu menggabungkan kedua telapak tangannya, memohon suatu permintaan dengan nada yang melirih.
"Aku .. ingin kekasih yang cantik dan .. seksi .. hehe .."
Ketika ia tak sengaja menoleh ke belakang, tampaklah Makunamu yang sedang berdiri menatapnya. Wajah cantik, berpakaian minim, berkulit biru dan lekukan tubuh yang begitu sintal, membuat nelayan tadi merasa kalau permohonannya terjawab sudah, tanpa lagi ada kendala.
"Hehe .." tawa mesum si nelayan.
Dalam tiga detik, Makunamu hanya menginjak patah batang lehernya, menendang mayatnya ke laut dan menuju daratan menggunakan perahu tersebut, bersama Malika dan Alkila.
"Semoga jiwamu terbang ke surga, paman .." batin Malika menggelengkan kepala, meratap mayat si nelayan yang terapung-apung dalam kegelapan.
-
-
-
Lima belas menit kemudian, tibalah mereka di tembok bagian pertahanan kota Kerajaan Labbrax. Ketiganya sekarang sedang berada di balik rimbunnya semak-semak, sembari memantau deretan tenda prajurit yang berkemah di luar tembok.
"Aku akan menunggu disini," ucap Alkila yang lalu melangkah pergi ke semak lainnya dan berjongkok menutupi diri.
"Psssshhhh .." suara air mancur kecil yang tiba-tiba saja berdesis.
__ADS_1
"Bagaimana cara membersihkannya nanti .. apa dia akan menggunakan daun .." batin Malika yang tak menyangka, kalau monster seperti Alkila juga bisa buang air kecil.
Makunamu lalu menarik tangan Malika begitu saja, untuk segera pergi mendekati tenda terdekat.
-
-
-
Lima menit kemudian, mereka berdua pun tiba di sekitaran pepohonan, yang di hiasai rimbunan semak tinggi. Tempat mereka itu, lumayan dekat dengan salah satu tenda prajurit. Terlihat juga, ada beberapa prajurit yang tengah berjaga dengan wajah yang mabuk.
"Lihatlah makhluk-makhluk itu. Mereka benar-benar terlihat sudah mati," ujar Makunamu yang santai memperlihatkan senyumannya.
Malika lalu bertanya, "B-bagaimana caranya, agar kau bisa menyamar menjadi mereka, Jendral?"
"Hmm .. Jendral? Panggil aku Makunamu, sayang .." balas ramah wanita biru itu, dengan mulai memperlihatkan sisi gairahnya.
Senyuman menggoda, dihiasi tatapan yang sedikit bersinar ketika melakukan kontak mata, membuat Malika lebih memilih tabah dan memalingkan wajah ke arah tenda. Tapi sayang, pikiran Malika pun mulai kacau, akibat merasakan pelukan tiba-tiba dari arah belakangnya. Punggungnya, kini merasakan keempukan dua gunung berwarna biru.
"Bagaimana ini .." batin Malika yang berusaha tegar, serta masih mempertahankan tatapannya ke arah tenda.
"Berduaan itu .. menyesatkan, Malika .." Makunamu berbisik, menciptakan sedikit hembusan nafas yang tersambar hangat di telinga Malika.
Nafas Malika mulai terdengar berat. Ada perasaan marah yang bercampur sedih di dalam benaknya. Ia sadar dengan wujud Makunamu yang menarik. Ia tahu itu. Hanya saja, hati Malika masih teguh, menjaga kesuciannya untuk seseorang yang ia tunggu.
Angin malam mulai berhembus lembut, mendorong aliran darah Makunamu yang semakin menyesatkan Malika, ke dalam gairahnya yang sudah terbakar sejak tadi. Ia ingin segera memadamkannya saat itu juga.
"Kemarilah .." bisik Makunamu sekali lagi.
Malika terlihat pasrah, lantaran mengingat tentang apa yang pernah Kegelapan katakan, "Bagaimana ini .." lanjut batinnya.
__ADS_1
Makunamu kemudian menggenggam tangan Malika, menariknya ramah dan menyandarkannya pada sebuah pohon. Tangannya lalu mulai turun ke bagian intim milik Malika, lalu meremasnya dengan pelan hingga mengeras. Hal itu membuat iman Malika semakin bergetar, membiusnya terdiam dalam merasakan remasan jari-jari lentik berwarna biru.
-FOLLOW ME-