
Di saat sudah menemukan titik permasalahannya, Linanzha pun terpaksa harus di bawa sementara, agar di mintai keterangan lebih mengenai sahabatnya. Entah Informasi apa lagi yang mau di gali kedua Lionel. Introgasi tahap kedua, akan di lanjutkan secara privasi.
Semua murid memandanginya, merajut tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sedangkan para murid yang berasal dari Desa Avalon, mereka sudah tahu maksud dari permasalahannya. Malika sudah terkenal, semenjak peristiwa yang menimpa Desa. Tetapi, hanya dua murid saja yang mengetahuinya secara jelas. Ya, Hartzel dan Martis.
Martis bingung, mengapa aroma Malika bisa bercampur dengan monster di luar tembok. Ia lebih memilih diam, mendukung sikap Linanzha yang keras menutup mulut. Namun, berbeda dengan Hartzel. Di saat Linanzha sudah berada jauh di kawal kedua Lionel, Hartzel pun berbisik kepada salah satu prajurit.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Kini, waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Berpayung di bawah pohon besar yang beralaskan rerumputan kuda, terlihatlah kedua insan dari ras berbeda, sedang terlelap bersama layaknya pasutri. Tak ada gangguan, hanya nyanyian suara hewan-hewan malam yang saling bersahutan.
Manjanya Makunamu memeluk erat Malika, seperti memperlihatkan bahwa ia sudah cukup puas, atau mungkin menjadikan pelukan itu sebagai alarm, di saat nanti Malika ingin beranjak bangun. Sedangkan Malika, ia selalu mendapatkan mimpi mengesalkan belakangan ini. Ya, mimpi apalagi kalau bukan bertemu dengan sang Kegelapan.
"Biarkan aku bermimpi indah satu kali saja! Satu kali saja! Ku mohon .. aku bosan melihatmu .." lirih pilunya bersimpuh, menggabungkan telapak tangan di depan sang Kegelapan.
"Apa gunanya bermimpi, jika kau tidak bisa merealisasikannya?" sang Kegelapan meledeknya.
Malika pun berdiri, mengarahkan telunjuknya dengan penuh kesal, "Hah? Suatu saat, mimpiku akan menjadi kenyataan! Aku akan menikahi Linanzha!"
"Mimpi murahan. Kau bahkan hanya pengangguran yang bertahan hidup dari hasil curian."
"Arrrgh! Sudahlah! Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
__ADS_1
"Pimpinlah satu kapal besok dan bunuh semua krunya. Aku butuh lebih banyak bahan bakar, Malika."
"Kau selalu memberikan perintah tanpa alasan. Berikan alasannya, mengapa aku harus melakukan itu?"
"Karena besok, umur tumbal harus terkumpul mencapai 170 tahun. Merebut kontrak darah, membutuhkan kekuatan besar. Kita tidak akan melawan Mexuca, tetapi hanya menyambar jarinya, dengan kekuatan penuh yang dapat di terima ragamu."
Malika melipat kedua tangan, lalu sedikit memiringkan kepalanya dalam melontarkan perkataan, "Jelaskanlah lebih rinci lagi. Seberapa kuat tubuhku saat ini, agar bisa menggunakan seluruh kekuatanmu."
"Hanya 17%. Aku bisa mendorongnya hingga mencapai 18%. Hanya saja ragamu akan terkena dampak, seperti keretakan tulang, ataupun menjadi hancur seketika di dalam daging."
"Kau bisa mengindetifikasinya dengan angka?"
Sang Kegelapan mendekatkan wajah besarnya, menatap sombong Malika dan berkata, "Angka adalah bahasa Universal dari Tuhan. Berbeda jauh dengan makhluk konyol seperti kalian yang belajar mati-matian, kami sudah tahu pola dari struktur perubahan dan ruang, dalam pandangan formalis yang kalian sebut sebagai Matematika."
"Sombong sekali kau!"
"Itulah mengapa di saat bertarung menggunakan tubuhmu, aku bisa mengendalikannya dengan hebat. Pertarungan, selalu membutuhkan analisa hitungan yang cepat dan tepat. Menghindar dengan presisi yang sempurna, menghitung jarak tempuh demi melakukan serangan, semuanya terhubung dengan angka, bodoh."
"Dan berhati-hatilah dengan si jalang biru itu. Dia sepertinya tertarik denganmu dan kontrak milik Mexuca. Dia adalah bangsa Moon Elf, Malika. Mereka adalah salah satu dari 13 spesies Elf berbeda. Setahuku, dunia Elf sedang mengalami perang dingin antar spesies. Mereka mungkin sedang mencari dukungan kuat dariku, lewat dirimu."
"Apa benar dunia mereka itu ada?" Malika mulai menatapnya serius, merespon hal yang pernah ia anggap sebagai dongeng belaka.
"Tentu saja ada. Untuk apa kau menanyakannya? Jangan bikin para Pembaca bosan dengan perbincangan kita ini."
"Hah? Para Pembaca? Siapa mereka?"
"Mereka adalah makhluk tak kasat mata yang membaca lembaran hidupmu lewat dimensi lain. Semakin bagus jalan ceritamu, maka semakin banyak pula Like-Like kehidupan yang mendukung. Ingatlah perintahku tadi. Carilah tumbal dan waspadai Makunamu."
-
-
__ADS_1
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu, di suatu ruangan tempat Linanzha menghadap, Saosin dan Atlas mulai malas menanggapi keuletan si Gadis Api dalam menutup mulut. Sejak tadi, Linanzha hanya berkata bahwa Malika hanyalah orang biasa. Namun, semuanya pun berubah, ketika Hartzel muncul bersama salah satu prajurit.
Bagaikan hantu, Hartzel tak berpaling sedikit pun menatap Linanzha. Berbeda dengan Linanzha yang terkejut, merasa tak mengerti dengan maksud kedatangan Hartzel.
"Hartzel, ada apa?" tanya Atlas.
"Orang bernama Malika itu, memiliki kekuatan yang terlihat hitam, bagaikan kegelapan." jawab Hartzel, tanpa lagi menunggu lama.
Setahu pemikiran Linanzha, hanya Martis seoranglah yang tahu mengenai kekuatan Malika secara detail. Bagaimana bisa Hartzel menjelaskan semuanya, sedangkan ia tidak pernah mengenali sosok Malika.
"Dan kau menipu kami?" Atlas menatap tajam Linanzha, merasa tidak terima atas waktunya yang terbuang sia-sia.
Secara cepat, Hartzel pun membantah dengan berkata, "Linanzha tidak mengetahuinya, Pak. Mereka berdua memang bersahabat. Tetapi, Malika tidak pernah memperlihatkan kelebihannya di depan Linanzha."
Linanzha memalingkan wajah, menahan emosi atas jalan cerita konyol yang di rajut oleh Hartzel. Tanpa sebab, hal tersirat apalagi yang menitip pertanyaan, tentang sikap Hartzel yang tiba-tiba saja membelanya.
Atlas hanya tersenyum, kemudian mendekat memegang pundak Hartzel dan berkata, "Terima kasih sudah memberitahukannya, Hartzel. Walaupun kau mengarang cerita demi membela Linanzha, namun ku hargai kejujuranmu. Aku tahu, Linanzha hanya mengunci bibirnya. Bukankah, sahabat sudah seharusnya saling melindungi?"
-FOLLOW ME-
Catatan : Sorry, akhir-akhir ini Thor sibuk banget, lantaran baru saja di terima kerja sebagai suster di sebuah Rumah Sakit tiga hari lalu.
Hehe .. akhirnya, pendidikan gw gak sia-sia dan bisa menjadi apa yang gw mau. kyanya bakal dapet shift malam dan siang nantinya. Thor akan usahain ngetik walaupun berada di depan mayat sekalipun.
__ADS_1