KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Janji Seorang Sahabat.


__ADS_3

Malika gemetar dan terduduk kaku, saat melihat Linanzha yang perlahan menumbuhkan bola api sebesar bola basket, di telapak tangannya.


"I-ibu .. A-yah .. aku pulang .." batin Malika, di saat-saat terakhir melihat Linanzha yang berlari cepat, sembari membawa bola api tersebut ke arahnya.


Dan tentu saja, Linanzha lalu melemparkan bola api itu sekuat tenaga, namun ke arah yang berbeda. Ia melempar serangan tersebut ke udara, hingga melambung jauh dan ..


"BOOM!"


Jurus andalannya itu pun meledak hebat di udara, hingga membuat suara bergemuruh yang keras, ketika menyerempet seekor burung yang terbang bersama kawanannya. Betapa sialnya kawanan burung itu, ketika melintasi langit yang terlihat begitu cerah.


Di saat yang bersamaan, Linanzha pun menabrak Malika, karena tak mampu berhenti tepat waktu. Kini, posisi Linanzha berada di atas Malika yang terbaring kaku, akibat syok yang berlebihan.


"Ak .. ak .." Malika tak mampu berbicara dengan jelas.


"Haha .. haha .. haha .." Linanzha tertawa lepas, lantaran melihat wajah Malika yang terlihat seperti hampir mati.


"T-ega seka-li kau, Lin .." lirih Malika yang terbata-bata.


Linanzha tak mampu menahan tawanya. Ia masih saja menertawakan Malika, dalam posisi yang belum berubah sejak tadi. Ia bahkan tertawa, hingga menggelinangkan sedikit air mata.


Perlahan, suasana hati Malika menjadi berubah, ketika melihat tawa sahabatnya itu yang semakin lama, semakin terlihat manis. Ketakukan akan kejadian tadi pun, menghilang dan menumbuhkan tawa di buah bibir Malika. Ya, Malika kini ikut menertawakan dirinya sendiri.


Linanzha pun meredam tawanya dan berkata, "Aku tak tahu harus berkata apalagi. Tadi itu sungguh menyenangkan," sembari memasang senyuman yang menyeringai dan mengambil posisi berbaring, di samping Malika.


Mereka berdua kini terdiam sejenak sambil menatap awan. Kadang, aroma gosongnya sekawanan burung tadi, tercium oleh mereka. Hal itu malah membuat mereka kembali tertawa, lantaran tidak tahu dengan aroma tersebut.

__ADS_1


"Maafkan aku, Lika," ucap Linanzha yang lalu berbaring menyamping menatap Malika.


Malika hanya menolehkan kepalanya melihat Linanzha dan membalas, "Kau membuatku terluka lagi, bodoh," sembari tersenyum gembira.


Ya, akibat pukulan Linanzha tadi, kini kedua pipi Malika terlihat bengkak. Namun Malika tahu, hal itu hanyalah untuk membuat kekuatannya keluar. Alhasil, gagal.


"Lika? Jika suatu saat nanti aku selesai di pendidikan akhir, aku akan bekerja keras menumpas kejahatan, agar mendapatkan banyak uang, supaya bisa mengajakmu jalan-jalan," ujar Linanzha sembari menutup mata, akibat sejuknya angin yang membuatnya sedikit mengantuk.


"Apa kau tidak mau membeli rumah di perkotaan nanti?" tanya Malika yang sedikit membelai rambut sahabatnya itu.


"Ya, rumah .. dan kau akan ku gaji sebagai tukang kebunku .." lirih Linanzha yang semakin lama, semakin mengantuk.


"Hehe .. dan siapa yang akan menjadi kepala keluarganya?" tanya Malika kembali.


"Pfff.." Linanzha sedikit tertawa mendengar hal itu, dalam keadaan mata yang masih terpejam.


Perlahan, mata Malika ikut terpejam, lantaran angin yang berhembus sejuk sejak tadi, membuatnya merasakan hal yang sama. Mereka berdua pun, tertidur di ladang bunga matahari.


☆☆☆☆☆


Kini, waktu menunjukkan pukul lima sore. Perlahan, Malika membuka matanya dan sedikit terkejut, lantaran Linanzha kini sedang menatapnya, sembari berposisi menopang lutut dan tangan, di atas dirinya.


"L-in?" Malika sedikit bingung melihat Linanzha yang kemudian, memberikan senyuman kepadanya.


Semakin lama, Linanzha semakin mendekatkan wajahnya, ke arah wajah Malika. Malika ingin sekali melawan hal itu, lantaran Linanzha adalah sahabat sejatinya.

__ADS_1


Akan tetapi, kecantikan Linanzha membekukan dirinya dalam diam. Bibir, hidung dan sepasang mata yang Linanzha miliki, seperti menggambarkan bahwa malaikat tak bersayap itu ada, dan sedang menatap Malika saat ini. Bibir Linanzha pun, semakin dekat dengan bibir Malika.


"Lin .." lirih Malika yang kemudian menelan ludah dan pasrah, serta memejamkan mata dengan perlahan.


Dan ..


"Hei?! Bangun-bangun! Lika?!" Linanzha berteriak keras di telinga Malika yang ternyata, sedang bermimpi.


Mata Malika langsung terbuka lebar, akibat teriakan tersebut. Hal itu langsung membuatnya duduk secepat kilat dan berkata, "Eh .. oh .. ah .. ya .."


Linanzha hanya membalas, "Bodoh! Kenapa kau juga ikut ketiduran? Kau membuatku sangat terlambat untuk pulang!" dalam keadaan duduk, sembari membersihkan bajunya yang di penuhi rerumputan.


"Maafkan, aku. Aku terkena sihir ladang ini," balas Malika yang berkata sembarangan.


"Lika? Dimana kau tinggal nanti? Rumahmu kan sudah hancur," kata Linanzha yang tiba-tiba menanyakan hal itu.


"Tenang saja. Aku punya tempat tinggal selain rumah," Malika lalu mencabut setangkai bunga matahari dan memberikannya kepada Linanzha sembari berkata, "Ini .. terima kasih sudah membangunkanku,"



Linanzha hanya membalas keanehan itu dengan berkata, "Kau sudah gila? Tapi .. terima kasih," sembari tersenyum simpul.


Malika pun berdiri dari duduknya dan membalas, "Ayo kita pulang,"


__ADS_1


Mereka berdua kemudian pulang bersama, dengan melangkah santai seperti biasanya.


__ADS_2