KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Desa Selatan.


__ADS_3

Ketika hari mulai gelap, Malika pun terbangun dari tidurnya. Ia kemudian melangkah pergi untuk pulang ke rumah Gazzel seperti biasa.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Tiga belas menit kemudian, tibalah Malika di depan rumah Gazzel. Ia sedikit terkejut kini, lantaran melihat banyaknya warga yang sedang mengerumuni rumah Gazzel.


Malika lalu menyembunyikan dirinya di antara para warga, agar melihat apa yang terjadi. Ternyata, Gazzel sedang di sodorkan berbagai macam hadiah.


Mereka memberikan sedikit hasil pertanian mereka kepada Gazzel. Mulai dari buah-buahan, gandum dan masih banyak lagi. Hingga ada salah satu warga juga yang memberikan tiga botol minuman keras.


"Terima kasih, Nona Gazzel. Lagi-lagi, kau dan Guru lainnya menyelamatkan Desa ini," ujar salah satu warga.


"Kami tidak tahu kepada siapa lagi meminta perlindungan. Terima kasih .. terima kasih, Nona Gazzel," sambung warga lainnya.


Berbagai hadiah terus menghujani Gazzel. Ia hanya tersenyum hangat sembari mengatakan "Terima Kasih" secara berulang kali kepada mereka semua.


Perlahan, satu persatu warga pun mulai pergi. Malika yang sejak tadi hanya menonton, kini mulai melangkah memasuki pintu rumah. Ketika ia ingin masuk, salah satu warga pun menegurnya secara tiba-tiba.


"Hei, nak? Kau yang ikut menyelamatkan Desa juga, kan?"


"Eh .. hehe ak .." balas Malika yang terpotong, akibat terkejut dengan aksi para warga.


Para warga langsung mengerumuninya, menopangnya dan melemparkannya ke atas. Gazzel hanya tertawa melihat Malika yang meraut wajah ketakutan akan aksi tersebut.


Setelah itu, mereka menurunkannya dan berkenalan secara bergerombol. Tangan demi tangan warga tak ada habisnya untuk bersalaman, hingga ada gadis-gadis seusianya yang ingin berkenalan. Ia terlihat menjadi bintang pada malam itu.


Gazzel lalu melangkah maju dan memberitahukan hal penting kepada mereka semua, bahwa keberadaan Malika harus di rahasiakan dari luar Desa. Jika tidak, maka kerajaan akan mengambil Malika secara paksa.


Mendengar nama kerajaan, para warga terlihat muak dan setuju akan hal itu. Mereka hanya saling mengingatkan satu sama lain, agar rahasia tersebut tidak boleh tersebar kemana-mana.


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Keesokan harinya, lebih tepatnya jam depalan pagi, Gazzel sedang di panggil oleh seseorang untuk menghadap Kepala Desa. Tentu saja ia muak dengan itu. Namun, mau tak mau, ia harus memenuhi panggilan tersebut, untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.


-


-


-

__ADS_1


☆☆☆☆☆


Sepuluh menit pun telah berlalu. Gazzel kini tengah melewati pintu ruangan Kepala Desa. Tatapannya acuh ketika mulai melakukan perbincangan.


"Apa yang anda inginkan?" tanyanya dengan sedikit mengangkat alis.


"Gazzel? Kenapa kau membiarkan para warga, untuk berbuat yang seenaknya terhadap para penjarah kemarin? Itu sangat tidak manusiawi."


Mendengar itu, Gazzel mulai menatap tajam Kepala Desa dan berkata, "Hah? Apa yang anda pikirkan, Pak? Memberikan sisi humanis kita kepada para penjarah dengan cara menangkap mereka saja? Jangan bercanda, Pak."


"Biarkanlah pihak kerajaan yang menghukum mereka. Lagipula, kepala Si Pengerat mempunyai harga yang tinggi, jika tertangkap hidup-hidup. Kita bisa membangun Desa ini dengan uang itu, bukan?"


"Terlambat. Anda tidak mengatakannya sejak awal." Gazzel hanya menatap ke arah lain.


"Aku tahu kau tidak menyukai kinerjaku sejak dulu, Gazzel. Maafkan aku, karena tidak bisa memberikan yang terbaik untuk Desa ini. Tetapi, jika kau ingin membantuku, maka akan ku jamin, bahwa Desa ini akan segera di bangun menjadi lebih baik."


"Apa itu?" Gazzel mulai menatap kembali Kepala Desa.


"Di bagian selatan, ada sebuah Desa kecil yang sudah di teror oleh monster secara terus menerus. Polisi Desa mereka semakin berkurang tiap harinya. Tak hanya itu, para penjarah lainnya juga membuat keresahan di sana. Pihak kerajaan terlalu jauh dalam menurunkan bantuan kepada mereka. Hanya kitalah yang bisa, Gazzel."


"Apa keuntungannya bagi Desa ini?"


"Polisi Desa mereka akan bergabung dengan kita. Mereka juga tidak segan dalam membayar mahal. Warga di sana adalah aset untuk membantu kita, dalam kembali membangun tembok bagian barat."


"Dan apa yang harus aku lakukan?"


"Tuntun semua warga di sana untuk kemari dengan selamat. Mereka akan meninggalkan Desa itu, untuk bermukim di Desa kita selamanya. Mereka sama sekali tidak punya tembok pertahanan, Gazzel. Itulah yang mereka inginkan dari kita."


"Kapan harus ku lakukan?"


"Jika anda menipuku, anda akan tahu akibatnya," ancam Gazzel yang lalu pergi begitu saja, tanpa lagi mengucapkan pamit.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Kini, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Gazzel sejak tadi juga sudah menceritakan hal itu kepada Malika, dalam keadaan mabuk. Malika yang antusias mengembangkan kekuatannya, mulai meminta Gazzel untuk mengajaknya dalam misi tersebut.


"Ku mohon, kak. Biarkan aku ikut. Bagaimana jika monster dan para penjarah tiba-tiba saja menghadang di tengah jalan, dengan jumlah yang banyak? Kakak tidak mungkin bisa melawannya sendiri, bukan?"


"Baiklah. Tapi, bagaimana jika orang-orang disana tidak bisa diam dan membeberkan kekuatanmu? Kau akan kesulitan, bodoh."


"Halah! Mereka pasti akan menutup mulut, kak. Lagipula, mereka akan tinggal disini, bukan? Kakak pasti bisa membicarakan itu lagi kepada mereka."


"Maaf, aku lupa tentang itu," Gazzel hanya menepuk dahinya dengan memasang senyuman.


Malika hanya membalas, "Jangan terlalu bermabuk-mabukan, kak. Itu sangat tidak sehat."


"Apa kau tidak ingin mencobanya?" Gazzel menyodorkan setengah botol minumannya kepada Malika.


"Eh .. eh .. a-apa itu enak?"

__ADS_1


"Coba saja sendiri."


-


-


-


☆☆☆☆☆


Satu jam kemudian, di depan halaman rumah Gazzel, Malika sudah terlihat kacau, sembari meneriaki orang yang lewat untuk bertarung. Hal itu membuat Gazzel harus menghajarnya hingga pingsan.


-


-


-


-


-


☆☆☆☆☆


Keesokan harinya, di depan Gerbang Desa, lebih tepatnya jam dua siang, Malika dan Gazzel sudah bersiap untuk pergi ke Desa bagian selatan.


"Kau yakin?" tanya salah satu pak tua bungkuk penjaga Gerbang kepada Malika.


"Tentu saja!" balas Malika sembari menunjukkan jempolnya, dengan gigi yang bersinar-sinar.


"Kau ingin di makan monster?" pak tua itu masih saja mempertahankan wajah serius.


Malika sedikit menahan air mata karena kesal dengan pak tua itu, "Pak tua ini .. hiii .. semoga kau semakin bongkok hingga mencium tanah .."


Ia lalu menoleh ke arah Gazzel yang sejak tadi sedang mempersiapkan dua ekor kuda. Ketika pintu Gerbang telah terbuka, Gazzel dan Malika juga sudah berada di atas kuda masing-masing, sembari melangkah keluar dengan pelan.


Tiba-tiba, berdatanganlah sekumpulan gadis-gadis seusia Malika di dekat pintu Gerbang. Mereka lalu menyoraki Malika yang perlahan semakin jauh.


"Kya! Malikun?! Cepat kembali!"


"Aku menunggumu, Malichan!"


"Jadilah kekasihku setelah pulang nanti!"


Tak hanya itu. sebagian besar warga pun mulai datang dan ikut menyorakinya. Mereka benar-benar sangat berterima kasih kepada Malika soal kemarin.


"Cepat kembali, nak!"


"Hati-hati di jalan, Malika!"


"Jadilah anakku, Malika!"


Malika hanya mengangkat jempolnya, sembari memasang senyuman yang membuat giginya bersinar-sinar. Ya, ia sudah menjadi bintang yang bersinar di Desa Avalon.


-FOLLOW ME-

__ADS_1


__ADS_2