KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Ancaman Bangsa Monster.


__ADS_3

Betapa jauhnya si monster saat terkapar. Di sela-sela itu juga, ia menabrak pepohonan hingga bertumbangan dimana-mana. Tubuhnya sedikit hancur, bagaikan buah semangka yang berceceran akibat membentur benda keras.


Dan tentu saja hal itu membuat Malika menjadi tercengang, sekaligus kagum pada diri sendiri. Dengan cepat, Malika kembali menarik tangannya. Semakin dekat, tangannya pun semakin mengecil dan kembali seperti semula.


"Aku tidak percaya ini .. Kekuatanku .. apa ini kekuatan alam .." batinnya.


Si monster yang kini hanya terbaring di kejauhan, perlahan menghembuskan nafas terakhir, tanpa lagi berusaha untuk beregenerasi. Pukulan Malika, berhasil membuat si monster tewas dalam keadaan mengenaskan.


Ketika Malika ingin mendekat kepada si monster, tiba-tiba saja, matanya mulai merasakan panas seperti orang yang terkena demam. Hanya saja, panas tersebut semakin meningkat.


"Apa ini?" gumam Malika sembari mengusap-ngusap kedua matanya.


Kedua bola matanya seperti ingin meleleh. Tetesan air hujan pun menguap menjadi asap, ketika tak sengaja jatuh membasahi bola matanya. Hal itu tentu saja membuatnya menjadi panik kepada diri sendiri.


"Eaaarrggh! Apa ini?! Kenapa mataku menjadi panas seperti ini?!"


Seketika, ada dua sosok jiwa yang mulai terserap masuk ke dalam matanya. Ya, sosok dua jiwa tersebut adalah si monster dan wanita tadi. Malika bahkan bisa melihat, sekaligus merasakan si wanita dan monster yang masuk ke dalam dirinya.


Menjerit bagaikan orang gila di tengah-tengah hutan, itulah yang dialami Malika saat ini. Menjerit, menjerit dan pada akhirnya, ia terjatuh dan pingsan.


☆☆☆☆☆


Beberapa detik kemudian, matanya mulai terbuka secara perlahan. Ketika kesadarannya mulai stabil, ia langsung bergegas untuk berdiri dengan cepat.


"Dimana ini?"


Gelap dan kosong. Itulah yang dilihat Malika saat ini. Hanya ada sorotan cahaya yang menyinari dirinya sendiri. Bahkan, disaat ia tadi berbicara pun, suaranya menggema kemana-mana.


"Hei?! Hei?!" ia terus berteriak, seperti orang yang udik dengan ruangan bergema.


Tiba-tiba, "Malika .." lirihan suara yang terdengar berat dan mengerikan.


"Hiii!" Malika kaget mendengar itu.


Suara itu benar-benar membuat bulu kuduk Malika berdiri. Bahkan, suara si monster yang di lawannya tadi, masih terdengar lebih baik. Malika langsung menoleh kesana-kemari, demi mencari asal suara tersebut.


Dan lagi-lagi, "Aku .. kelaparan .."


Malika hanya membalas, "S-siapa itu? Apa maksudmu?!"


Di sela-sela itu, terdengarlah suara wanita tadi yang sedang menjerit histeris, seperti sedang merasakan kesakitan. Tak lupa juga dengan suara si monster yang menjerit karena hal yang sama.

__ADS_1


Perlahan, suara berat mengerikan tadi mulai memperlihatkan sosoknya. Malika yang kaget melihat rupa sosok itu, langsung menjerit ketakutan, seperti wanita yang habis diintip mandi oleh seseorang.



"Kyaaaaaaaaaa!"


Malika lalu terjatuh dan terseok-seok ingin menjauh. Batinnya terintimidasi ketika melihat rupa sosok tersebut.


"Menjauh! Menjauh dariku! Siapa kau?!"


Dan ..


☆☆☆☆☆


Dengan cepat, matanya langsung terbuka di tempat sebelumnya. Ya, ia kembali sadar dari pingsannya tadi. Malika pun berdiri sembari berpikir tentang kejadian tadi.


"A-apa tadi .. hanya mimpi .."


Ia termenung cukup lama atas kejadian itu. Pikirannya teramat kacau saat ini. Namun, ia mulai sadar, kalau bunga zlygwn, harus diantarkan kepada Martis saat itu juga.


Malika lalu mulai mencari kudanya. Butuh waktu beberapa menit agar mencari dimana kudanya berada. Tak berselang lama, ia pun menemukannya dan segera memulai perjalanan untuk pulang.


☆☆☆☆☆


Sementara itu, jangan lupakan peristiwa yang masih sedang berlangsung di Desa Avalon. Alkila kini sedang bertarung keras melawan Senju dan Gazzel. Serangan Kapak Alkila yang menghembuskan angin, kadang membuat Gazzel dan Senju sulit untuk mendekati Alkila.


Tebasan-tebasan angin itu kadang mengenai perumahan dan menghancurkannya sedikit demi sedikit. Jalanan pun terbelah-belah. Terlalu sulit untuk mendekati Alkila.


Sedangkan Morca yang juga sedang beradu kekuatan dengan Valun, kini membuat area sekitar juga menjadi sedikit hancur berantakan. Akibat serangan gelombang suara Valun tadi, telinga Morca kini mengalami pendarahan hebat.


Darah para monster berwarna perak. Itu adalah warna darah yang terlihat indah berkilauan, bagi makhluk-makhluk mengerikan seperti mereka.


Tua namun gesit. Itulah gambaran Valun saat ini. Ia melompat, menunduk dan mendaratkan beberapa pukulan yang masuk secara telak, pada tubuh Morca.


"BUUAAK! PAK PAK PAK BUAK! BUAK!"


Ketika Valun menendang ke arah perut dengan keras, "BUAAK!" Morca langsung merintih kesakitan, "Eaarrghh!" dan terlempar hingga menembus ke dalam sebuah rumah, "BURRRRRRMMM!"


Warga-warga yang sejak tadi hanya menonton dari kejauhan, langsung berkalang-kabut lebih jauh lagi dari tempat kejadian.


Para warga terheran-heran melihat sang Guru besar. Mereka tak menyangka, kalau orang yang terlihat sudah sangat tua seperti Valun, mampu menghajar monster yang mempunyai ukuran di atas rata-rata.

__ADS_1


Alkila yang melihat Morca, hanya mampu berucap, "Cih!" dan melompat jauh dari jangkauan Gazzel dan Senju.


Gazzel lalu berkata, "Kau akan berakhir seperti temanmu itu, monster!"


Alkila hanya membalas, "Monster .. monster dan monster! Hanya itu yang selalu kalian katakan kepada kami! Kalian bahkan tidak bisa membedakan kami secara detail! Dasar, ras sampah! Kalian akan menerima hujan serangan dalam waktu dekat! Ini hanyalah permulaan, manusia!"


"Kenapa kalian ingin menyerang dunia kami?!" tanya Senju dengan nada yang kasar.


"Dunia kalian adalah pintu untuk menuju dunia selanjutnya!" balas Alkila.


"Apa maksudmu?" ucap Gazzel kembali.


"Kalian cukup diam dan musnahlah sebagai tumbal, manusia!" Alkila lalu menebaskan kapaknya ke arah Gazzel dan Senju.


"WUSSSSSSH!"


tebasan itu, menciptakan angin yang berbentuk seperti bulan sabit. Serangan itu membelah apapun yang dilaluinya. Gazzel dan Senju tak bisa berbuat apa-apa, selain melompat secara terpisah untuk menghindari hal tersebut.


Namun naas, lantaran serangan Alkila menabrak sebagian kecil warga yang sejak tadi, terlalu dekat dalam menonton pertarungan itu.


"PSIIIK!"


"Arrrggh!"


"Urruuoorgh!"


"Tolong .. eaarrgh!"


Darah dan daging berceceran dimana-mana. Para warga lagi-lagi menjadi korban yang sia-sia. Gazzel yang melihat itu, hanya mampu berkata, "Kurang ajar!" dan berlari ke arah Alkila secepat kilat.


Namun apa daya, sejak pertarungan tadi, Gazzel dan Senju tak bisa melakukan pertarungan jarak dekat dengan Alkila. Alkila terlalu hebat dalam menjauhkan mereka lewat serangan jarak jauh.


"WUUUSSSSH! WUSSSSH!" suara kapak Alkila, disaat menebas udara yang mengarah kepada Gazzel dan Senju.


Sementara itu, Morca yang sejak tadi masih terkubur di dalam reruntuhan rumah yang menimpanya, kembali berdiri dengan amarah yang meledak-ledak.


"Arrghh! Aku tidak percaya ini!"


Valun hanya berjalan santai ke arahnya dan berkata, "Kau akan mempertanggung jawabkan apa yang sudah terjadi."


"Kau pikir, kau sudah menang?! Jangan salah sangka dengan awal kedatangan kami yang hanya bertugas untuk mengintai, serangga!" balas Morca.

__ADS_1


__ADS_2