KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Bentrokan Akan Terjadi.


__ADS_3

"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Malika sambil berjalan mendekati Martis.


Martis lalu membalas, "Aku terus mencari bahan-bahan lainnya hingga memutar ke arah barat. Siapa mereka tadi? Apa mereka monster?"


"Apa kau buta? Tentu saja mereka monster! Lihatlah rupa mereka tadi!"


"Aku kan hanya bertanya? Sudah beruntung kau ku selamatkan!" Martis terlihat kesal karena di ejek buta oleh Malika.


Martis pun lalu menoleh ke arah kudanya. Ya, sudah sangat terlambat. Kuda kesayangan kedua adiknya, sudah menjadi potongan daging yang berceceran dimana-mana.


"Sial .. bagaimana jika mereka menanyakannya?" tanya Martis pada diri sendiri.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" sambung Malika.


"Sudahlah. Ayo pergi dari sini," Martis pun mulai berjalan duluan.


Mereka kini segera pergi ke rumah Martis, dengan cara sedikit berlari. Sesekali, mereka saling bertanya tentang bahan-bahan apa saja yang sudah di temukan. Alhasil, semuanya sudah lengkap dan siap untuk di kombinasikan.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, di rumah Linanzha, sang Ayah telah pulang dan menceritakan semuanya kepada sang Ibu. Sang Ayah bahkan menceritakan tentang korban yang terkena dampak, hingga ledakan kedua yang baru saja terjadi di sisi barat Desa.


"Ya Tuhan, sayang? Apakah Desa ini akan baik-baik saja?" sang Ibu terlihat cemas saat menanyakan hal itu.


"Aku juga tidak tahu. Ketiga Guru dan sebagian warga sedang menuju kesana. Hanya aku saja yang memilih pulang, karena mengkhawatirkan kalian."


Dan dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka, ternyata Linanzha sedang menyerap informasi itu secara diam-diam. Semua cerita yang di dengarnya tadi, membuatnya sedikit khawatir tentang Malika.


Tak berselang lama ..


"Dimana Linanzha?" tanya sang Ayah yang tiba-tiba.


"Dia sudah lama berada di kamarnya semalaman ini. Mungkin sudah tidur," jawab sang Ibu.


Sang Ayah yang masih menaruh curiga akan kelakuan nakal anaknya itu, langsung bergegas ke kamar Linanzha untuk memeriksanya.


Bunyi langkah dari kaki sang Ayah, tentu saja membuat Linanzha segera kembali ke ranjangnya, untuk berpura-pura tertidur.


Hampir saja. Ketika sang Ayah membuka pintu kamar, ia melihat Linanzha yang tertidur, dalam posisi merentangkan tangan dan kaki selebar mungkin.


Ya, itu sudah cukup bagi sang Ayah yang melihat anaknya sudah tertidur pulas, tanpa harus ikut terlibat ke dalam kekacauan Desa saat ini. Sang Ayah lalu menutup pintu kamar dengan pelan dan pergi.

__ADS_1


Perlahan, Linanzha membuka matanya dan mengambil posisi duduk sembari berpikir, "Apakah aku harus mencarinya?"


Tanpa pikir panjang lagi, Linanzha langsung mengunci pintu kamarnya secara perlahan, membuka jendela dan melompat keluar, dengan masih menggunakan daster tidurnya.


Linanzha pun berlari menuju bagian barat, dengan cara memotong jalan. Ia melewati halaman rumah orang secara sembarangan, demi mempercepat waktu.


Kadang kala, ada anjing yang mengejar dan menggongnggonya di sekitaran halaman-halaman tersebut. Itu sama saja membuat warga yang ketakutan di dalam rumah, menjadi semakin berpikir tentang yang tidak-tidak, akan kedatangan monster ke rumah mereka.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, Malika dan Martis telah sampai di tujuan. Ketika mereka ingin masuk ke rumah, tiba-tiba saja, jauh dari dalam hutan, ada sebuah cahaya yang menembak ke atas langit.


Bagaikan laser, cahaya itu sungguh terang dan menjulang naik ke atas, hingga menembus awan dan menimbulkan kilat, beserta petir yang menggelegar.


"Apa itu?" tanya Martis yang terkejut.


"Hei, jangan pikirkan itu. Segeralah obati Ibumu," balas Malika yang lalu memberikan bunga Zylgwn ke tangan Martis.


Martis lalu segera masuk menyiapkan alat penumbuk tradisional, untuk segera menumbuk bahan-bahan tersebut. Malika yang masih saja berada di luar, tetap terhipnotis melihat cahaya itu. Ia belum pernah melihat hal tersebut. Namun apapun itu, ia tahu kalau ada kaitannya dengan monster.


Linanzha yang sedang berlari memotong jalan pun, melihat hal yang sama. Ia sempat berhenti sejenak dan bingung dengan cahaya tersebut.


Dan tentu saja, dari asal cahaya itu bersinar, terlihatlah sosok Alkila yang sedang menancapkan beberapa pilar kecil, dalam membentuk sebuah lingkaran.


"Apa sudah selesai?" tanya Morca yang sedang bersandar di pohon, sembari mencegah darah yang keluar dari luka-lukanya.


"Diam kau! Karena ulahmu, kita bernasib seperti ini!" bentak Alkila dengan mata yang melotot ke arah Morca.


"Sudahlah! Kita akan membalas mereka dengan ini!" Morca kembali memarahi Alkila.


Alkila lalu berkata, "Dari pada kau hanya menjadi tak berguna disitu, sebaiknya kau cari Xerez! Dimana sebenarnya si bodoh itu?!"


"Entahlah. Kuharap dia bisa lebih berguna melindungi kita untuk saat ini," balas Morca.


"Cari dia bodoh!" Alkila kembali membentak Morca.


"Aku disini untuk melindungimu beserta proses pembukaan portal ini! Kau pikir, sinar besar ini tidak akan menarik perhatian para serangga, hah?!" jelas Morca yang membentak, sekaligus menunjuk-nunjuk ke arah Alkila.


Alkila hanya membalas, "Halah! Ini akan terbuka sebentar lagi! Manusia-manusia itu .. lihat saja .. mereka akan berakhir dengan tragis!"


-

__ADS_1


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, dirumah Martis, Malika yang masih melihat cahaya itu pun mulai terpancing. Ia mulai menemui Martis dan berkata, kalau ia akan mengecek sumber dari cahaya tersebut.


"Kau serius?" tanya Martis.


"Tenang saja, aku tidak akan lama," jelas Malika yang kemudian mulai berjalan ke arah pintu keluar.


Belum juga Malika keluar, salah satu Adik Martis pun memegang tangan Malika dan berkata, "K-akak? T-erima kasih sudah membantu kakakku untuk mencarikan obat. Ibuku, pasti akan sembuh berkat kakak."


"Terima kasih, kakak!" seru salah satunya lagi yang kemudian berlari, untuk memeluk pinggang Malika.


"Heheh .. ya .. sama-sama, hehe .. Semoga, Ibu kalian cepat sembuh. Aku akan mendoakannya juga," balas Malika sambil memegang kepala mereka berdua, lalu kembali berkata, "Aku akan pergi, Martis."


"Hei, tunggu! Sebenarnya, kekuatan apa yang kau punya?" tanya Martis.


Malika hanya menoleh dan menjawab, "Aku juga tidak tahu," dan kemudian mulai kembali berlari pelan meninggalkan rumah.


"Hah? Tidak tahu? Apa makdsumu?"


Malika yang sudah semakin jauh pun berteriak, "Berisik! Sampai jumpa!"


Martis hanya melirih, "Brengsek .." dan kembali untuk mengobati Ibunya lagi.


-


-


-


☆☆☆☆☆


Sementara itu, para warga beserta ketiga Guru, kini sedang mengarah ke sumber cahaya tersebut. Mereka berlari dengan semangat yang meluap-luap, layaknya siap untuk berperang.


Di penuhi dengan rasa kehilangan, itulah yang membuat mereka siap untuk menerima apapun yang akan terjadi. Itu adalah hal yang mungkin, akan menambah duka lagi bagi Desa Avalon.


"Aku akan membantai mereka! Aku akan membantai mereka!" seru salah satu warga yang berada diantara kerumunan tersebut.


"YEEAAAAAH!" seruan semua warga yang semakin menggila.


Hal itu membuat Valun, Senju dan Gazzel harus lebih berhati-hati lagi dengan jumlah korban yang akan datang. Mereka sudah tak lagi mampu mengendalikan emosi para warga yang terlihat, seperti sudah kehilangan akal sehat.


Sebentar lagi, bentrokan antara ras manusia dan Monster, akan segera di mulai.

__ADS_1


-FOLLOW ME--


__ADS_2