
"Hiii!" Malika hampir terjatuh dari atas tempat sampah yang di dudukinya.
"Haha! Kenapa kau sampai terkejut seperti itu, Lika?"
Malika belum pernah sekalipun merasakan sentuhan bibir Linanzha di kulitnya. Hanya selalu ada pelukan hangat selama persahabatan mereka.
Akibat ciuman itu, Malika pun menjadi salah tingkah dan tak sengaja mengingat janjinya, untuk bertemu dengan Gazzel. Sontak saja, ia lalu pamit secara spontan.
"A-ku harus pergi, Lin! Aku ada janji bertemu dengan Gurumu yang bernama Gazzel. S-ampai jumpa!"
"Hah? Lika?! Tunggu .. aku ingin tahu kekua .." ucap Linanzha yang terpotong oleh Malika.
"Aku akan bertemu denganmu nanti! Sampai jumpa!"
Malika pun terlihat semakin jauh meninggalkan Linanzha, yang masih saja duduk di atas tempat sampah. Linanzha hanya tergelitik melihat tingkah Malika yang tidak seperti biasanya.
"Bodoh .." lirihnya, dengan prasaan yang sedikit takut.
Linanzha takut dengan yang akan terjadi keesokan harinya. Besok, adalah hari dimana ia akan pergi menempuh pendidikan, selama lima tahun. Ya, ia akan berpisah dengan Malika dengan waktu yang cukup lama.
Malika yang masih saja berlari, juga merasakan hal yang sama. Ia mulai sedikit mengeluarkan air mata, lantaran tak rela dengan semua itu.
"Kurang ajar .. aku tidak boleh egois .. dia pergi untuk menjadi lebih kuat .. lagipula, itu hanya lima tahun .. ya .. itu bukan waktu yang lama .. arrgghh .. bisa .. kau pasti bisa, Lin .."
-
__ADS_1
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu, di suatu ruangan yang berada di sekolah, Gazzel dan Senju sedang membicarakan permasalahan besar ini kepada Antonov. Antonov baru saja sampai, setelah pemakaman telah berakhir.
Tak dapat di bendung. Ia yang tak tahu dengan peristiwa itu, hanya mampu menahan tangis, di saat mengingat sang Guru besar yang sudah tiada.
Seiring berjalannya waktu, tibalah Malika di ruangan tersebut. Gazzel lalu menyuruh Malika agar mengikutinya berjalan di lorong sekolah, sembari memulai percakapan.
"Malika, siapa margamu?"
"Kapan orangtuamu meninggal?"
"Aku tak ingat dengan semua itu, kak. Orang-orang Desalah yang pernah berkata begitu padaku. Mereka juga bahkan tidak mengenali margaku."
"Siapa orang-orang Desa itu? Apakah kau masih mengingat mereka?"
Malika coba berpikir keras tentang wajah-wajah orang yang terakhir kali di kenalinya sejak kecil. Akan tetapi, begitu sulit. Sejak kecil, ia bertahan hidup seorang diri. Makan, mandi dan minum, semua itu ia dapat dari hasil alam, maupun mencuri.
"Aku benar-benar lupa, kak. M-aafkan aku," ucapnya yang kemudian menggaruk-garuk kepala.
Gazzel hanya membuang nafas berat mendengar semua itu. Informasi tentang Malika begitu kosong, tanpa ada remah-remah yang tersisa.
__ADS_1
"Hei, nak?" ucap Gazzel kembali.
"Ya, kak?"
"Sebenarnya, aku tak ingin mengatakan ini. Tapi, kau harus tahu."
"A-apa itu, kak?"
"Sebelum monster yang kemarin malam itu terbunuh, dia mengatakan sesuatu tentangmu. Dia .. dia mengatakan, bahwa kau mempunyai garis keturunan monster."
Malika hanya bisa tertunduk malu dan takut secara bersamaan. Ia sudah tak bisa lagi menyangkal hal tersebut. Malika kemudian menghentikan langkahnya, sembari menundukkan wajah.
"M-aaf .. aku bahkan tidak tahu .. tentang diriku sendiri .." lirihnya dengan wajah yang begitu sedih.
"Aku tahu kau adalah anak yang baik, Malika. Tapi, aku mau kau menjaga rahasia tentangmu itu dari orang lain. Mereka yang kehilangan akibat ulah monster, mungkin takkan sepaham saat melihatmu."
Malika hanya terdiam mendengar perkataan tadi. ia membuang nafas gugupnya dengan panjang. Gazzel tahu dengan prasaan Malika saat ini.
"Malika?" tegur Gazzel kembali.
"Y-ya, kak?" jawab terkejutnya yang terbangun dari lamunan tadi.
"Maukah kau menjadi muridku?"
-FOLLOW ME-
__ADS_1