KEKUATAN ALAM

KEKUATAN ALAM
Ladang Bunga Matahari.


__ADS_3

"Tunggu?! Aku tak terima dengan semua ini!" teriak Martis yang berlari mengejar Malika.


Malika yang berada cukup jauh di depan, sesekali menoleh ke arah Martis yang kini, terlihat seperti sedang mengeluarkan sebuah jurus, dalam keadaan yang masih berlari.


Mata Malika kemudian terbuka lebar akibat panik, saat melihat Martis yang tiba-tiba saja merubah kedua kakinya, menjadi mirip seperti hewan.


Perubahan itu semakin lama semakin merambat naik, mulai dari kaki, perut, dada, hingga memenuhi sekujur tubuh Martis. Seketika, mata Malika hampir copot, lantaran perubahan Martis membuatnya terkejut, sekaligus menahan tawa.



Kini, seekor katak seukuran manusia, sedang berlari mengejar Malika dengan buasnya.


"Apa-apaan dengan perubahanmu itu?!" teriak Malika yang tak mampu mengatur nafasnya dengan baik, akibat menahan tawa.


"Tertawalah sepuasmu!" teriak Martis yang kemudian melompat ke tanah bagaikan seekor katak, untuk mengambil ancang-ancang lompatan selanjutnya.


"WUUUSSSSH!"


Lompatan itu sungguh tinggi dan jauh menuju Malika, yang sedari tadi hanya berlari layaknya manusia biasa. Malika pun hanya berteriak, "Jiaaah!" sembari menancap gas lebih cepat lagi.


"Hyaaa!" teriak Martis yang kemudian bersalto ke arah depan dan terus berputar-putar kencang di udara, sembari memanjangkan satu kakinya untuk menghantam kepala Malika.


"BUUURRRM!"


Serangan itu berhasil dihindari Malika, dengan cara berguling cepat ke arah lorong gang sebelah kanan. Tendangan Martis, mampu menghantam tanah hingga sedikit menimbulkan getaran, sekaligus meninggalkan bekas.


Malika yang kini sedang dalam posisi menekuk satu lutut, langsung berdiri dan kembali berlari menyusuri lorong baru tadi. Kejar-kejaran pun kembali di mulai. Martis kembali memakai gaya lompatan seekor katak dengan sedikit teratur.

__ADS_1


Ia mulai melompat ke arah kiri dan kanan tembok gang, secara cepat. Kiri, kanan, kiri, kanan dan ketika mendapat jarak yang pas, ia langsung melompat bebas ke arah Malika.


Malika yang perlahan semakin lelah, langsung berhenti secara tiba-tiba dan berbalik melihat Martis. Karena melihat Malika yang kini sudah berdiam diri di bawah, hal itu langsung membuat Martis menjulurkan lidahnya yang panjang saat masih berada di udara.


Lidah katak Martis, sungguh panjang dan melesat cepat bagaikan anak panah. Malika yang terdiam karena mati langkah pun, kebingungan sambil memasang raut wajah yang panik. Momen itu sangat cepat, hingga tak bisa membuat Malika berpikir jernih.


"Sial .." gumam batin Malika yang kini hanya terdiam, sembari mengangkat kedua tangan manusianya dengan pasrah, untuk menangkis serangan Martis.


"Aku hanya ingin bersantai di ladang bunga matahari! Kenapa harus seperti ini .." ucap batinnya yang merasa menyesal di saat-saat terakhir, sembari menutup mata secara paksa.


Namun, siapa yang menyangka kalau tiba-tiba saja, Malika melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukannya.



"PUW!" suara lidah Martis yang menembus tubuh Malika.


Betapa terkejutnya Martis, di saat melihat Malika yang terbongkar menjadi asap berwarna hitam, akibat serangan lidahnya. Asap itu perlahan hilang di tiup angin, saat Martis hampir menyentuh tanah.


"A-pa itu? Kekuatan apa itu?!" kata Martis yang tak percaya dengan apa yang di lihatnya tadi.


☆☆☆☆☆


Sementara itu, Malika masih saja dalam posisi menangkis sembari menutup mata, namun di tempat yang berbeda. Karena merasa sedikit aneh, ia pun membuka matanya secara perlahan.


"Eh? Hi? Hi?!" teriak Malika yang terkejut, ketika melihat bunga matahari di sekelilingnya.


Ia menoleh kesana-kemari dengan pikiran yang lebih kacau dari sebelumnya.

__ADS_1


"K-enapa .. a-ku disini? Bagaimana bisa?! Apa yang terjadi?! Dimana katak itu?!"


Tiba-tiba, Malika merasakan lelah yang berlebihan dari dalam tubuhnya. Matanya sedikit buram dan langkahnya kian goyah, saat berusaha menjaga keseimbangan.


"Apa .. yang terjadi .." lirihnya yang kemudian berusaha untuk duduk dan kembali berkata, "Apa aku sudah gila?"


Malika terus memikirkan itu sembari menahan lelahnya yang begitu berat. Perlahan, ia mulai membaringkan diri, sekaligus merenggangkan kedua tangannya, di rerumputan hijau tempat favoritnya itu.


Beberapa menit kemudian, "Lika?!" teriak salah seorang Gadis yang terdengar tak asing dari kejauhan.


Ya, Linanzha kini melihat Malika yang sedang terbaring, sambil berjalan ke arahnya. Tak lupa juga dengan Gazzel yang hanya berjalan lambat, sambil memasang wajah geram, ketika melihat Malika seperti sedang bersantai layaknya pemalas.


Malika yang sejak tadi hanya berbaring menatap awan, hanya mendengar suara Linanzha. Ia tidak tahu kalau Gazzel juga turut hadir di tempat itu.


"Hei, Lika?" tegur Linanzha yang lalu duduk di sebelahnya dan kembali berkata, "Apa malam kemarin .. rumahmu hancur dan kau hampir terbunuh?"


Malika hanya menatap Linanzha dalam posisi terbaring. Ia tidak berkata dan matanya kian mengecil akibat kelelahan.


"Hei? Jawablah pertanyaanku! Kenapa kau malah terlihat mengantuk, bodoh!" kata Linanzha sembari mengerutkan alis.


Malika hanya berkata, "Ak .. nan .. ti .. ku ceritakan .. aku .." Malika pun, tertidur.


"Hei? Lika? Bangun-bangun .. hei?" Linanzha menampar-nampar pelan pipi sahabatnya itu.


"Bangun!" teriak Gazzel yang langsung menendang rusuk Malika sedikit keras.


"Urruuuugh! Arrrggg! Apa yang .." ucap Malika yang terhenti, akibat melihat Gazzel.

__ADS_1


"Sial .. aku ingin istirahat .. arrgggh .." gumam batinnya yang tak kuasa menahan kantuk.


__ADS_2