
Ketika portal sudah di ciptakan oleh Mexuca, ternyata Gazzel juga sudah sedikit tersadar dan melihat Malika yang sedang hampir melangkah masuk ke dalam portal.
"Errh .. M .. a .. li .." lirihnya yang terdengar sangat lemah.
Namun apa daya, ia kembali pingsan untuk yang kedua kalinya. Kerusakan di Desa Avalon juga terlihat luar biasa. Entah sudah berapa jiwa yang terenggut, akibat luapan emosi dari Mexuca tadi.
Sang Kegelapan lalu membatin pada Malika, "Jangan mudah takut, Malika .. Bersifat dinginlah di depan mereka, tapi jangan menarik perhatian lebih .."
Seketika, jiwa Malika langsung kembali pada tubuhnya. Entah sudah berapa umur yang termakan tadi. Itu membuatnya sedikit merasa merinding. Matahari yang tinggal sejengkal lagi terbenam, kini telah menghilang, bersamaaan dengan portal yang tetutup.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Di saat yang bersamaan juga, di suatu tempat yang tak kasat mata, ada sebuah dataran cukup besar yang berdiri di tengah-tengah empat dunia berbeda. Dataran itu, menopang tiga pohon raksasa dengan ukuran yang sama persis dan berhiaskan kilauan cahaya di sela-sela dedaunannya, bagaikan bintang di langit-langit malam. Dataran itu, bernama Taman Sembilan Roh Suci.
Taman Sembilan Roh Suci, adalah tempat yang di bangun oleh sembilan Malaikat, sejak terjadinya guncangan di empat dunia, akibat serangan dari bangsa keturunan Iblis.
Itu adalah Surga kedua bagi Roh Suci Api, Air, Bumi, Udara, Petir, Tumbuhan, Suara dan Cahaya. Sedangkan Roh Suci Hewan, mereka terbagi dalam jumlah yang banyak. Kumpulan Hewan-hewan suci itu tak lain hanyalah sebagai peliharaan, bagi Kesembilan Roh Suci tadi.
Roh-roh Suci kini sedang saling berinteraksi, dengan cara melayang-layang di antara satu sama lain. Mereka seperti membahas sesuatu yang terlihat sangat penting. Suara-suara melayang mereka terdengar sedikit menyeramkan dan menimbulkan gema kemana-mana.
Dan pada akhirnya, setelah sekian lama berdiam diri di Taman, lima dari Kesembilan Roh Suci pun turun ke dunia, dengan wujud yang tentu saja tidak bisa di lihat dengan mata telanjang.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sementara itu, Malika sekarang sedang menelan ludah dan berusaha untuk tegar. Bukannya berteleportasi ke dalam istana, mereka berdua malah muncul di halaman istana.
Kini, di sisi kanan dan kiri Malika, terlihatlah deretan panjang makhluk-makhluk mengerikan, dari ujung ke ujung. Tentu saja hal itu membuatnya gugup setengah mati.
"Hiii .. apa salahku, Tuhan .. tegar .. aku harus tegar .." batinnya yang kemudian berusaha memasang wajah keangkuhan.
__ADS_1
Tiba-tiba, Mexuca pun berseru dengan lantang, "Semuanya! Marilah kita sambut Sang Kegelapan! Bocah kurus ini, adalah wadah dari kekuatan besar! Tunduklah padanya, maka kemenangan akan berpihak pada kita!"
Kumpulan monster-monster itu langsung bersorak-sorai memeriahkan kedatangan Malika, bagaikan seorang Dewa perang yang memihak kepada mereka. Malika lalu mulai melangkah, mengikuti Mexuca yang sejak tadi sudah berjalan di depan.
Suara-suara dari mereka terdengar sangatlah mengerikan. Itu tidak seperti sekumpulan prajurit manusia yang memberikan semangat membara, melainkan seperti lantunan suara penyiksaan di kedalaman neraka.
Malika yang hanya berjalan, kini sedang menatap tajam satu persatu monster, sembari memasukan kedua tangan ke dalam saku dan memasang wajah yang sangat sombong, melebihi Mexuca sendiri. Tubuhnya terlihat begitu pendek, ketika berjalan di deretan sekumpulan monster yang rata-rata bertubuh kekar dan tinggi.
"Apa kau lihat-lihat, hah?! Aku adalah Raja kegelapan, hahahaha! Jangan macam-macam denganku!"
Deretan monster-monster itu semakin bersorak melihat keangkuhan Malika. Tingkahnya dalam berkamuflase sebagai sosok jahat, berhasil memukau tiap-tiap pasang mata yang haus akan darah manusia.
-
-
☆☆☆☆☆
Lima menit kemudian, Malika pun mulai tampak dalam pandangan para Jendral, Kapten, hingga Alkila dan Morca. Mereka semua melihatnya dengan tatapan antusias. Malika lalu berhenti melangkah, di saat melihat Mexuca yang mulai duduk di singgasananya.
Mexuca lalu berkata, "Kita sudah memiliki senjata lainnya, dalam menghadapi apapun yang akan terjadi nanti! Kegelapan?! Tunjukkan Dirimu!"
Dalam sekejab, Malika pun di kontrol kembali oleh Kegelapan, di depan semua mata yang memandanginya. Ia lalu menatap balik para Jendral dengan tajam, sembari berkata,
"Aku butuh tumbal manusia, agar umur anak ini tidak terkuras. Bisakah kalian mencarikannya?"
"Bagaimana, Rajaku? Apa kita harus menurutinya?" tanya Quiss yang sedikit menunduk.
"Carikan dua atau tiga manusia. Cepatlah," balas Mexuca singkat.
"Aku tidak bisa berlama-lama. Umur anak ini akan tergores karena kekuatanku. Sampai jumpa," ucap sang Kegelapan yang lalu mengembalikan Malika seperti semula.
Malika sudah seperti hiburan di tengah-tengah mereka semua. Ia hanya kembali berdiam diri, meraut wajah dingin dan menggaruk-garuk kepala.
"Dia cukup tampan, bukan?" bisik seorang Jendral bernama Makunamu di telinga Jendral lain, ketika melihat Malika.
Mexuca lalu lanjut berkata, "Alkila, Morca? Bagaimana dengan situasi terbaru?"
Alkila dan Morca pun mendekat dan menekuk di depan Mexuca, sambil memberikan laporan baru. Kini, Kerajaan Labbrax sudah bergabung dengan dua kerajaan kecil lainnya. Jumlah pasukan gabungan itu pun naik menjadi 2.600.000 prajurit. Malika yang sempat mendengarnya, mulai menahan kaget.
"Hah? Labbrax .. mereka ingin menyerang Kerajaan Labbrax? ini bohong, kan .. Linanzha .. Martis .. bagaimana ini .."
Mexuca lalu berkata, "Cih! Sekalinya aku menjentikkan jari, mereka akan sirna menjadi abu! Tetapi, aku ingin melihat kehebatan kalian lebih dulu, wahai Jendral-Jendralku! Sanggupkah kalian untuk bertempur melawan mereka? Kalian harus lebih kuat lagi! Jangan selalu aku yang terus turun tangan!"
"Baik, Rajaku!" jawab mereka serentak.
"Menjentikkan jari? Apa maksudnya? Kau mendengar itu, kan?" batin Malika kepada sang Kegelapan.
Ketika sudah cukup lama sebagai tontonan, Malika akhirnya di berikan akses berkeliling istana sesuka hati, sembari menunggu tumbal yang di janjikan nanti. Mendengar itu, ia pun hanya berkata,
"Terima kasih, Mexu .. ah Raja?"
"Hah?" Mexuca mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Rajaku!" Malika secepat kilat menekuk satu lutut dan membatin, "Aku akan mati .. aku akan mati .." dengan wajah yang berkeringat hebat.
"Hehe .. dia sungguh menggemaskan, bukan?" bisik Makunamu sekali lagi, ke telinga salah satu Jendral.
Di saat Malika sudah semakin jauh ke dalam salah satu lorong istana, Mexuca lalu menyuruh salah satu Jendral untuk memata-matainya. Bagaimana pun juga, ia belum yakin dengan Roh Kegelapan.
"Awasi dia. Jangan sampai dia masuk ke tempat yang terlarang."
-
-
-
☆☆☆☆☆
Sepuluh menit pun telah berlalu. Kini, Malika sedang mengitari seluruh ruangan istana yang sangat luas. Terlalu banyak lorong sepi yang Malika lewati. Langkahnya berbunyi dan bergema, di saat menginjak lantai yang terbuat dari marmer. Kemegahan istana milik Mexuca terlalu indah di matanya.
"Waah .. semegah inikah kerajaan monster? Ini terlalu .. mewah dan .. bersih .. kukira .. mereka itu makhluk yang .. kotor .. Tapi, agak gelap .." gumamnya, memasang mata yang penuh kekaguman.
"Ssst .." suara bisikan seseorang.
Tiba-tiba, Malika di kagetkan oleh sesosok wanita cantik berkulit biru, yang sedang memandanginya di salah satu lorong agak gelap. Matanya terlihat sedikit bersinar, bagaikan hewan di malam hari. Wanita itu, tak lain adalah salah seorang Jendral, bernama Makunamu.
"Hei, tampan," tegurnya yang tersenyum, sembari melenggang pelan ke arah Malika.
"Eh .. hei .." Malika merespon senyuman kaku, dengan jantung yang berdegup keras dan membatin, "Sial .. apa aku terlihat mencurigakan?"
Ketika Makunamu mendekat, terlihatlah tinggi badannya yang sedikit melebihi Malika. Ia kemudian berjalan memutari tubuh Malika yang terdiam kaku sejak tadi. Sedangkan Malika, ia mulai curiga, merasa kalau wanita itu seperti mengetahui sesuatu. Makunamu lalu berhenti dan menatap tepat di depan wajahnya.
"Mau jalan-jalan?" tawarnya tersenyum, memasang tatapan yang sesekali berkedip lamban.
Malika hanya membatin, "Tolong aku kegelapan .. apa dia akan membunuhku .." sembari menelan ludah dan kemudian membalas, "K-k-emana?"
Makunamu lalu menggenggam tangannya, "Ikut aku .." dan kemudian berjalan melihat-lihat keadaan sekitar.
Tentu saja Malika kaget dengan genggamannya. Ia kini hanya bersiap-siap mengeluarkan "Black Ball," jika Makunamu melakukan hal yang menurutnya mengancam nyawa.
Tak lama kemudian, mereka berdua pun berbelok ke salah satu lorong yang sepi. Makunamu lalu sedikit mengintip ke arah lorong lainnya, kemudian menyandarkan Malika pada tembok dengan pelan.
"Jadi, kau wadah kegelapan, hah?" tanyanya sekali lagi, sembari mengelus dada Malika berulang kali.
"Ya .. hehehe .. hehehehe .." respon Malika tertawa kaku, akibat tak mengerti dengan tingkah Makunamu.
Malika sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi. Ia hanya terdiam mengigit bibir, di saat Makunamu terus mengelus dadanya berulang kali.
"kegelapan .. apa kau mendengarku .. apa yang harus aku lakukan .. jawab aku sialan .. jangan pura-pura tidak mendengarku .." batinnya yang mulai kotor.
Makunamu mulai menatapnya kembali dan mengelus bagian dagu Malika, menggunakan jari telunjuknya. Setelah itu, ia lalu mendekatkan wajahnya, agar mencium aroma bagian leher Malika, dengan suara hirupan nafas yang terdengar berat.
"Apa yang di lakukan monster ini .. kegelapan .. bantu aku .." batinnya terus bergejolak.
Makunamu lalu mengalihkan bibirnya ke telinga Malika dan berbisik, "Aku menyukaimu."
__ADS_1
-FOLLOW ME-