
Kini, lebih tepatnya pukul dua belas siang, Malika sudah terlihat berada bersama Gazzel, di sebuah air terjun sungai yang berada dekat dengan Desa mereka.
Keadaan kini menjadi canggung, lantaran Malika sedikit malu melihat Gazzel yang mulai membuka pakaian. Untungnya, Gazzel masih memakai kutang dan celana pendek ketat yang sebatas paha.
"Apa lihat-lihat? Bersiaplah. Kita akan memulai latihan dari sekarang. Buka pakaianmu," ucap Gazzel.
Malika hanya menangguk dan membuka bajunya. Gazzel lalu menyuruhnya untuk duduk bersila di bawah air terjun, sampai jam dua belas malam nanti.
"Hah? Sampai tengah malam? Aku pasti akan mati kedinginan, kak!" keluh Malika yang sedikit terkejut.
"Keterampilan pertama yang harus kau dapatkan dari meditasi, adalah meningkatkan kemampuan untuk fokus. Fokus dapat memperbesar perhatianmu untuk mengabaikan gangguan lainnya! Fokus!" jelas Gazzel dengan sedikit tegas.
Mau tak mau, Malika terpaksa harus menuruti hal itu. Ia sudah berjanji kepada diri sendiri untuk bisa menjadi kuat, kuat dan kuat. Akhirnya, ia pun bersila di bawah air terjun tersebut.
"Brrrrrm .. dingin .. dingin .." gumamnya yang sedikit menggigil.
"Bertahanlah hingga jam dua belas malam! Aku akan menjagamu sambil berlatih!" seru Gazzel dari kejauhan.
Di sela-sela Malika yang masih bermeditasi, Gazzel pun terlihat sedang memainkan berbagai jurus-jurusnya di pinggiran sungai.
Kerikil-kerikil yang berada di bawah sungai, mulai terangkat naik dan di mainkannya bagaikan sekumpulan burung, yang sedang melayang secara berkerumun di udara.
-
-
-
☆☆☆☆☆
Waktupun sudah menujukkan pukul lima sore. Malika yang masih saja bersila di bawah air terjun, kini sudah kedinginan setengah mati. Ia menggigil bagaikan orang yang sedang sakit.
Sedangkan Gazzel, ia masih saja terlihat berlatih. Gazzel seperti ingin kembali melatih daya tahan tubuhnya yang menurun, akibat sudah menjadi Guru yang biasa-biasa saja selama bertahun-tahun.
-
-
__ADS_1
-
☆☆☆☆☆
Waktu semakin berputar hingga jam sembilan malam. Malika sudah terlihat hampir mati di bawah air terjun tersebut. Gazzel hanya memperhatikannya dari pinggiran sungai, sekaligus membakar seekor ikan untuk makan malam.
"Fokus ... fokus .. fokus .." gumam Malika yang bertahan sekuat tenaga, sembari menutup mata secara paksa.
-
-
-
☆☆☆☆☆
Dan akhirnya, waktu pun sudah berada tepat pada jam dua belas malam. Malika lalu mulai berenang ke pinggiran sungai dan berlari ke arah api yang di buat Gazzel tadi.
"Uuuh .. hangat .. hangat .." lirihnya dengan wajah yang keenakan, sembari berbaring begitu saja di pinggiran api tadi.
"Kau harus melakukannya selama tiga puluh hari, agar aliran Plexusmu bisa terbuka," ucap Gazzel yang tiba-tiba.
"Kau terlalu berlebihan."
Setelah makan, Mereka berdua mulai melangkah pulang bersama. Gazzel kini membolehkan Malika agar menginap di rumahnya, selama tiga puluh hari saja. Ya, selama tiga puluh hari, Malika hanya akan di berikan satu pelatihan yang sangat membosankan.
-
-
-
-
-
☆☆☆☆☆
__ADS_1
Dua puluh enam hari pun berlalu. Kini, waktu menunjukkan pukul 11 siang. Malika dan Gazzel juga terlihat sudah bersama-sama di pinggiran sungai.
"Aku ingin kau tenang, fokus dan memukul sekali ke arah depan," ujar Gazzel.
"Baiklah," jawab Malika yang lalu memasang kuda-kuda, sembari menutup mata.
Di saat Malika mulai memukul ke arah depan, hal itu malah membuat Gazzel terkejut dan hampir tergelincir, lantaran melihat dua bayangan hitam yang muncul secara tiba-tiba, di belakang Malika.
"PUW! PUW!"
Yang lebih membingungkannya lagi, kedua bayangan itu terlihat sedang menari-nari konyol. Malika yang baru sadar, juga ikut memasang wajah yang sama seperti Gazzel.
"B-ayangan! Bayanganku! Haha!" Malika lalu ikut menari-nari bersama mereka.
"Bayangan? Apa kau sudah bisa mengeluarkan jurus seperti ini sebelumnya?" Gazzel hanya menatap kekonyolan mereka dengan serius.
"Ya! Aku sudah pernah melakukannya, ketika melawan salah satu monster di hutan R-rawa .. indah .." balas Malika yang semakin melirih, akibat mengingat sesuatu.
Malika mengingat salah seorang korban wanita yang sudah di tumbalkannya secara tak sengaja, kepada sang Kegelapan. Keberadaan mayat dari wanita itu juga tak luput dari pikirannya.
"Sial .. wanita itu .. arrgh .. terkutuk kau Kegelapan bodoh .. terkutuk .." batinnya yang sedikit memasang wajah marah.
Yang Gazzel inginkan sejak tadi, adalah pukulan Malika yang bisa menghasilkan sedikit hembusan angin. Jika berhasil, maka aliran Plexus Malika sedang berada di titik terangsang untuk terbuka.
Plexus, adalah energi cadangan yang berpusat pada syaraf-syaraf di sekitar ulu hati. Setelah di bangkitkan, Plexus akan berkumpul di bagian pusar dan mengalir deras ke seluruh tubuh dalam waktu singkat.
Ketika sudah mengalir deras, mereka akan bisa berjalan di atas air, melompat lebih tinggi, gerak refleks lebih cepat dan kekuatan fisik yang meningkat.
Namun, jika yang mempelajari Plexus adalah orang yang di anugerahi kekuatan alam, maka kekuatannya akan meningkat lebih jauh di banding biasanya.
Tak hanya itu. Plexus orang tersebut juga akan terbelah menjadi dua bagian. Dua belahan Plexus itu, di sebut sebagai Nervus dan Cervical.
Tetapi, begitu sulit dalam mendalami Nervus dan Cervical. Jika mereka mampu melakukannya, maka orang itu bisa melakukan jurus replikasi yang hidup.
Replikasi yang hidup, hanya bisa tercipta dari elemen alam. Mereka bisa membentuk singa dari api, seekor ular dari air, banteng dari angin, hingga raksasa dari bebatuan.
Namun, Gazzel belum bisa memastikan. Mungkin saja jurus bayangan milik Malika itu, adalah murni dari kekuatan khusus itu sendiri. Karena selama ini, tidak ada elemen alam yang mampu mereplikasi bentuk manusia secara sempurna.
__ADS_1
-FOLLOW ME-