
Gazzel dan Malika kini sedang tengah berjalan santai menuju sekolah. Namun, hatinya terus menimbulkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya diinginkan sang Guru besar darinya.
"Kakak?" tegur Malika yang membuka percakapan.
"Apa?" jawab Gazzel yang hanya fokus memperhatikan jalanan.
"Apa yang diinginkan Kakek Guru sehingga ingin bertemu denganku?"
"Mana ku tahu. Aku hanya menjalankan perintahnya."
Malika bukannya menolak untuk bertemu dengan Valun. Hanya saja, ia merasa bahwa waktunya seperti terbuang dengan sia-sia.
Banyaknya warga yang berlalu-lalang membuatnya tergiur akan isi dari kantong mereka. Ia ingin sekali mencopet seseorang saat itu juga.
"Huuuffft .." Malika membuang nafas panjang.
Karena sudah tak tahan, ia pun berencana untuk kabur dari Gazzel. Perlahan, Malika mulai sedikit melambatkan diri, agar langkah Gazzel semakin memimpin di depan.
Gazzel yang hanya berfokus dengan perjalanannya, sedikit demi sedikit melampaui langkah Malika. Dan tentu saja, peluang itu langsung membuat Malika membelokan diri ke arah gang sempit.
Malika yang sukses melakukan itu, kemudian sedikit mengintip ke arah Gazzel yang kini sudah berjalan sendirian di telan kerumunan warga.
"Cih .." ucap Malika sembari melihat Gazzel dengan tatapan dingin.
Malika kemudian berjalan menelusuri gang itu, untuk pergi menembus jalan besar lainnya. Di saat sudah memasuki jalan yang di kerumuni banyak warga, ia pun langsung mencari target.
Warga yang hanya sibuk dengan urusan masing-masing, bagaikan domba yang terlihat lezat di mata Bandit yatim itu. Dalam waktu 10 menit, ia sudah mengumpulkan 5 dompet, tergantung dari banyaknya warga atau tidak.
☆☆☆☆☆
Lima belas menit kemudian, Gazzel pun sadar akan Malika yang sudah hilang entah kemana.
"Anak itu! Hiiii .." giginya terlihat sedang bergesek menimbulkan suara, akibat menahan kesal.
Namun, Gazzel pun jadi teringat dengan Linanzha.
"Anak itu .. pasti sedang bersama Linanzha .." ucap batinnya.
Gazzel tahu dimana rumah Linanzha berada. Ia lalu memutuskan untuk kesana sesegera mungkin.
☆☆☆☆☆
Sementara itu, Linanzha sudah terlihat rapi dan segera menuju pintu keluar untuk pergi. Tak lupa juga ia membawa sebuah tas kecil, berisikan obat-obatan. Ya, ia takkan lupa dengan wajah Malika yang sedikit bonyok akibat Ayahnya.
Disaat ia sudah hampir berjalan keluar dari halaman rumahnya, tiba-tiba ..
"G-uru? Selamat pagi, Guru?" tegurnya yang sedikit kaget melihat Gazzel.
"Selamat pagi Linanzha. Syukurlah, aku masih sempat menemuimu," balas Gazzel dengan raut wajah yang sedikit lega.
"Hehe .. apa yang bisa ku bantu, Guru?"
"Kekasihmu yang semalam di hajar Ayahmu, dimana dia?"
Mendengar kata kekasih, Linanzha hanya sedikit tertawa geli dan berkata, "Aku juga sedang ingin bertemu dengannya, Guru. Kenapa Guru ingin bertemu dengannya?"
"Tenang saja, ia tidak melakukan sebuah kejahatan. Jadi, dimana dia?" tanya Gazzel kembali.
Tiba-tiba, Ayah Linanzha sudah berdiri di depan pintu dan berkata, "Linanzha? Kau ingin kemana pagi-pagi begini?" sambil melipat kedua tangannya.
Linanzha yang berpikir cepat, kemudian berbisik kepada Gazzel, "Bantulah aku, Guru .." ia lalu menoleh ke sang Ayah dan berkata, "Aku akan menemani Guru Gazzel jalan-jalan, Ayah!"
__ADS_1
"Itu benar, Pak! Aku sedang meminta bantuannya, untuk menemaniku memilih pakaian!" sambung Gazzel yang hanya berkata dengan sembarangan.
Sang Ayah tahu itu adalah Gazzel, Guru yang semalam mendorongnya. Namun, itu sudah menjadi masa lalu. Ayahnya sudah tak lagi tersinggung dengan hal itu.
"Baiklah! Hati-hatilah di jalan! Jangan lupa pulang sebelum makan siang!" sang Ayah melambaikan tangan sembari tersenyum.
"Iya, Ayah! Sampai nanti!" balas Linanzha yang kemudian memeluk lengan Gazzel dan berkata, "Ayo, Guru .."
Ketika mereka hampir meninggalkan halaman, Gazzel pun tak sengaja menoleh ke arah jendela rumah Linanzha. Gorden jendela itu sedikit terbuka dan memunculkan sedikit wajah seorang wanita.
Ya, sang Ibu sedang mengintip mereka dan menutup gorden kembali dengan cepat. Gazzel hanya merasa aneh, kenapa sang Ibu bertingkah seperti itu.
Tak lama kemudian, Gazzel pun berkata, "Jadi, dimana dia sekarang?"
"Ia pasti sedang dirumah sekarang. Aku tahu tempatnya, Guru," jawab Linanzha.
Gazzel lalu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Linanzha yang mendengar itu, kini seperti sulit mencernanya dengan akal sehat.
"Astaga .." lirihnya yang bingung ingin mempercayai omongan Gazzel atau tidak.
"Percayalah padaku. Apa ada tempat lainnya lagi selain rumah?" tanya Gazzel kembali.
"Ia pasti sedang berada di ladang bunga matahari .." gumam batin Linanzha yang kemudian berkata, "Ikutlah denganku, Guru .."
Kini, Linanzha menjadi sedikit khawatir, lantaran Gazzel sudah menceritakan semuanya. Mulai dari rumah Malika yang sudah hancur, sampai ada orang yang ingin membunuh sahabatnya tersebut.
☆☆☆☆☆
Sementara itu, di suatu gang sempit yang sunyi, terlihatlah Malika yang sedang memotong jalan menuju ladang bunga matahari, untuk bersantai sebentar disana, akibat kekenyangan oleh jajanan hasil uang copet.
Tak lama kemudian, ada seorang lelaki yang seusianya, sedang melangkah cepat dan berteriak, "Woy?!"
Perlahan, langkah Malika semakin melambat untuk berhenti. Ia kemudian terdiam beberapa saat tanpa menoleh ke belakang.
"Kau yang mencopetku, kan?" tanya orang yang berteriak tadi, sembari mengunyah permen karet.
Malika kemudian membalikkan tubuhnya, sekaligus menatap orang tersebut dengan tenang.
"Maaf .. uang mu sudah ada disini!" serunya yang tiba-tiba gembira memasang wajah konyol, sembari mengusap-ngusap perutnya menggunakan kedua tangan.
Orang yang berteriak itu bernama Martis, salah satu dari kelima murid lulusan terbaik. Ia menatap sombong ke arah Malika, sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Cuih!" Martis meludahkan permen karetnya ke tanah.
Malika sebenarnya tidak tahu, kalau Martis juga adalah salah satu dari korbannya tadi. Ia sedikit gugup kini, lantaran sudah tahu siapa Martis sejak acara kelulusan.
"Akan ku buat wajah konyolmu itu hancur, pencuri!" tegas Martis yang lalu berjalan cepat menuju Malika.
"Lawanlah aku tanpa kekuatan elemenmu, oke?" balas Malika yang lalu memasang gaya bertarung.
Emosi Martis semakin terpancing mendengar itu. Ia yang semakin dekat dengan Malika, langsung membuang pukulan sembari berkata, "Kau tak tahu siapa aku?!"
Pukulan itu menuju ke arah wajah Malika. Namun, Malika mampu menghindarinya dengan cara sedikit melangkah mundur, sembari mendorong dada Martis menggunakan kakinya.
"BUK!"
Martis pun terundur cukup jauh dan memegang dadanya dengan wajah terkejut.
__ADS_1
"Berhasil .." gumam batin Malika yang kemudian memasang senyuman di wajahnya.
Martis yang tak menerima itu, langsung berlari ke arah Malika dan menyerangnya, dengan berbagai pukulan dan tendangan beladiri. Serangan Martis yang terdengar keras saat sesekali di tangkis Malika, membuat siapapun yang mendengarnya, pasti ikut merasakan ngilu.
"BUK! PAK! BUK BUK PAK!"
Serangan-serangan bertenaga dalam itu, sungguh membuat Malika menahan sakit yang berlebih. Hingga pada akhirnya, ada serangan tendangan Martis yang datang dari atas, menuju kepala Malika.
Secepat kilat, Malika langsung memblokir serangan itu, dengan cara mengangkat kedua tangan di kepalanya.
"BUK!" suara keras tendangan Martis yang bertabrakan dengan tangannya.
"Hiii .. sakit .. hampir saja .." batin Malika disaat menerima serangan tersebut.
Hal itu membuat Malika hampir menekuk satu lutut, akibat kekuatan Martis yang tidak main-main. Martis pun terkejut, karena melihat Malika yang dapat menahan dorongan dari kakinya.
"Arrrgghh!" teriak Martis yang semakin mendorong Malika ke bawah menggunakan kakinya itu.
Tanpa di sadari Martis, Malika langsung mendorong kakinya secara tiba-tiba, hingga membuatnya hampir kehilangan keseimbangan. Melihat peluang itu, Malika langsung menggunakan tendangan jongkok yang berputar, untuk menyandung kaki Martis yang satunya lagi.
Namun Martis sadar dan mengangkat kakinya, hingga membuatnya bersalto mundur ke belakang dan kembali menapak lagi, untuk memberi serangan baru.
"Arrrgh .. dia terlalu hebat .." ucap kembali batin Malika.
Martis yang melesat ke arahnya, langsung membuang pukulan ke arah kiri dan kanan Malika. Kiri, kanan, kiri, kiri, kanan dan seterusnya secara acak.
Kepala Malika bagaikan ular yang menari-nari lincah di antara pukulan-pukulan itu. Ia menghindar, menghindar, menghindar dan kemudian sedikit menunduk, lalu melangkah maju dan membuang pukulannya sekuat tenaga, ke arah wajah Martis.
Martis menaruh kedua lengannya di depan wajah secara spontan dan, "BUK!" Bertabrakanlah tinju Malika dengan pertahanan Martis. Serangan itu membuat Martis langsung melompat mundur dengan cepat.
"Yang benar saja .. pencuri ini .." Martis membatin dengan wajah yang geram.
"Senangnya bisa berlatih fisik dengan calon Sentinel," ucap Malika yang sedikit bersenam di depan Martis, "Dia terlalu kuat .." lanjutnya yang bergumam di dalam hati.
"Kurang ajar!" ucap Martis yang lalu berlari ke arahnya, untuk memulai serangan baru.
Martis langsung memberi serangan lagi kepada Malika secara beruntun. Tangan dan kakinya kembali menyerang Malika menggunakan teknik bela diri. Menangkis, Menghindar dan menyerang balik, juga terus di lakukan Malika, hingga terdapatlah sebuah celah besar pada pertahanan Martis.
"BUAK!"
"Uuurrggh!" rintihan Martis saat terkena serangan.
Malika sukses menendang rusuk kiri Martis dengan keras. Hal itu membuat Martis terdorong ke arah samping dan sedikit kehilangan keseimbangan.
Dan dengan cepat pula, Malika kembali memberi serangan dadakan, ketika melihat Martis yang sedikit goyah. Serangannya, berupa tendangan yang berputar dari arah kanan.
"BUAK!"
"Urrrgh!" rintihan Martis yang lagi-lagi menahan sakit.
Serangan itu mendarat ke pipi kanan Martis, hingga membuatnya tergeser jauh ke arah yang sama dan menabrak tembok sekitaran gang. Martis kemudian terpantul kembali dan sedikit memundurkan langkahnya agar menjaga posisi.
"Kurang ajar kau! Siapa kau sebenarnya?!" bentak Martis yang emosi, sekaligus terkejut.
"Menyerahlah. Uangmu sudah ku pakai untuk makan tadi. Dah .. sampai jumpa .." kata Malika yang langsung berlari ke arah sebaliknya, sembari bergumam dalam batin, "Kabur .."
"Kau! Aaaarrggh! Jangan lari kau!" teriak Martis yang kemudian mengejar Malika.
__ADS_1
Malika lalu membatin, "Ternyata .. mempraktekkan apa yang pernah di ajarkan Lin secara langsung, cukup sulit.." sembari berkalang-kabut di kejar Martis.