
Curahan hati si wanita biru, sudah pasti membawa kunci bagi Malika, dalam menguras informasi mengenai kontrak darah milik sang Tertinggi. Untuk saat ini, sang Kegelapan terlihat serius, mendengar perbincangan mereka berdua.
"Apa maksudmu ingin bebas? Kau salah satu Jenderalnya, kan? Kenapa kau merasa takut? Jujurlah padaku. Aku janji akan menyimpan rahasia ini," tanya Malika yang semakin memainkan suasana, mengelus punggung Makunamu berulang kali.
Makunamu kemudian mengambil posisi duduk di atas perut Malika, menyisir rambutnya ke belakang, lalu memperlihatkan telinganya dan berkata, "Lihatlah .."
"Apa? Anting-anting?" tebak Malika yang kebingungan.
Berbeda dengan reaksi sang Kegelapan. Ia terlihat geram dan ingin segera keluar, agar bisa menghentikan Malika saat itu juga. Tetapi, mengingat kalau semua umur tumbal telah terpakai, maka ia hanya bisa terdiam menahan emosi. Sekalinya ia keluar, itu akan menggores 30 tahun umur milik Malika.
"Aku terlahir dari bangsa Elf. Mexuca pernah menyusup ke dunia kami. Tetapi, ia sempat menyerang Desaku, membunuh semua orang-orang yang ku sayangi. Kini, ia sedang menyekap adik-adikku, sebagai jaminan untuk memanfaatkan kekuatanku."
"Pembohong! Kau mengincarnya juga, kan?!" bentak sang Kegelapan yang murka, namun tak bisa di dengar oleh siapapun.
Telinga Makunamu terlihat panjang dan semakin lancip pada ujungnya. Memang benar, bahwa ia berasal dari bangsa Elf. Hanya saja, kulit tubuhnya berwarna biru, yang berarti bukan berasal dari Elf biasa. Itulah yang membuat sang Kegelapan ingin segera melontarkan pertanyaan tajam padanya.
"Apa Elf itu ada? Apa kau benar-benar bangsa Elf? Ku kira, itu hanya dongeng," ujar Malika terkesan, membesarkan mata menatap Makunamu yang sejak tadi memasang wajah malu-malu.
Sang Kegelapan semakin jijik dengan tingkah Makunamu. Jika saja ia terpaksa menggunakan 30 tahun milik Malika, sudah pasti akan terjadi pertarungan gila pada malam itu. Ya, pertarungan gila. sang Kegelapan tahu, kalau Makunamu, adalah spesies Elf yang benar-benar setan, ketika bertarung di bawah sinar rembulan. Moon Elf, bukanlah jenis Elf biasa.
"Jadi, dimana adik-adikmu? Apa .. kau ingin menyelamatkan mereka?" tanya Malika kembali.
Makunamu lalu menjelaskan, "Mereka sekarang sedang berada di Kerajaan Mexuca. Aku bahkan tidak di perbolehkan untuk selalu bertemu dengan mereka. Malika .. aku .. aku ingin kembali bersama adik-adikku. Aku akan memberikan apapun padamu, asalkan kau ingin membantuku menghentikan peperangan ini. Jika duniamu selamat, maka duniaku juga akan selamat."
"Bisakah kau memberitahukanku, dimana letak kontrak darah Mexuca?" tanya Malika yang tak lagi berbasa-basi.
__ADS_1
"Aku tahu .. dimana letaknya .." balas Makunamu tersenyum, mengidahkan pandangannya yang merasa benar akan benak Malika selama ini.
"Si jalang biru ini .. kau ingin bermain-main denganku?" sang Kegelapan menatapnya tajam, menyeparuhkan senyumannya yang secara samar menggambarkan sesosok malaikat yang jatuh.
-
-
-
-
-
Sementara itu, di Asrama Akademi Angelo,
"Bangun kalian semua! Bangun! Bangun! Bangun!" teriak lantang Saosin dari halaman Asrama.
"Apa kau bodoh? Suruh saja para prajurit untuk memanggil mereka," balas Atlas yang lalu menyuruh 10 prajurit untuk membangunkan seluruh murid.
Asrama Putra, tentu saja berbeda bangunan dengan Asrama Putri. Namun, mereka berada pada satu wilayah yang memiliki pagar tinggi, layaknya sebuah penjara.
Tak lama kemudian, 50 murid laki-laki dan 50 murid perempuan pun berbaris rapi di tengah halaman. Mereka mematung, saling berhadapan dan menyimpulkan tangan ke belakang. Tak ada yang bersuara. Semuanya hanya terdiam, ketika Atlas berjalan mengendus mereka satu persatu.
Apa kabar dengan Linanzha saat ini. Ia sekarang hanya menelan ludah di antara yang lain, menunggu apa yang sebenarnya terjadi, hingga semuanya harus di panggil berkumpul secara tiba-tiba. Begitu pula Martis, yang sejak tadi juga berpikir seperti demikian.
__ADS_1
Atlas pun terhenti, pada salah seorang murid laki-laki. Ia lalu menghirup dalam murid itu, bagaikan mencium aroma lezat dari suatu makanan.
"Kau? Siapa namamu?" tanya Atlas menatapnya.
"Namaku Axel, Pak!"
"Apa saja aktivitasmu akhir-akhir ini?"
"Seperti biasanya, Pak! Berlatih, melakukan jadwal yang sudah di tetapkan pihak Akademi!"
"Apa kau dekat dengan seseorang akhir-akhir ini?"
Axel menelan ludah, berusaha menahan wajah gugupnya, menyembunyikan suatu peraturan Akademi yang pernah di langgarnya.
"Tidak, Pak!" jawab tegasnya singkat.
"Jujurlah, Axel. Hal ini tidak akan membawamu ke dalam masalah. Ada sedikit aroma asing yang menempel padamu. Aku tahu, kau pasti sudah sangat dekat dengan orang yang memiliki aroma ini."
"Jujurlah, nak. Kami hanya ingin menyelidiki sesuatu yang berada di luar hubungan kalian semua," sambung Saosin.
Axel hanya terdiam. Sesekali, matanya melirik ke arah barisan para murid wanita secepat kilat. Atlas melihat pergerakan bola matanya. Hanya saja, ia tak tahu murid wanita mana yang terkunci di mata Axel.
Atlas lalu berkata, "Dengarkan aku, Axel. Aku dulu juga pernah menikmati masa-masa muda. Mencuri, berkelahi, memiliki kekasih, semuanya pernah ku lakukan. Itu memang akan melanggar hukum di Akademi. Tetapi, untuk saat ini akan ku maafkan, jika kau memberitahuku, siapa orang yang selama ini paling dekat denganmu di Akademi. Beritahulah sekarang. Jangan sampai aku yang mencari tahunya sendiri."
-FOLLOW ME-
__ADS_1