
Tak berselang lama, Leon pun bangkit dengan amarah yang meluap-luap. Ia menatap kejam penuh muak melihat Malika. Leon tahu, itu adalah perbuatan Roh Suci. Tetapi, bukannya merasa takut, ia malah menantang balik, demi mempertahankan kehormatannya.
"Aku baru tahu kalau elemen Kegelapan itu ada! Tapi, jangan harap aku akan mengigil, ketika melihatmu yang sudah berjodoh dengan Roh Suci, bocah!"
Secara Perlahan, terlihatlah cahaya panas yang merambat dari ujung jari tangan, hingga mencapai sebatas sikut Leon. Lengannya kini mengeluarkan uap panas dan bersinar, bagaikan suhu panas membara yang merambat pada sebuah logam.
Leon pun berkata dengan lantang, "Walau Roh Suci sekalipun, takkan bisa melawan kekuatanku yang telah bercampur dengan energi Yang Mulia Mexuca! Hahaha! Ini .. ini luar biasa!"
Sang Kegelapan lalu membatin pada Malika, "Biarkan aku yang mengurusnya. Dia cukup merepotkan bagimu. Lagipula, umur tumbal masih bisa bertahan lima menit lagi. Aku juga sudah lama tidak bertarung. Ini pasti menyenangkan."
"Aku ingin menjadi lebih kuat! Tolong, biarkan aku saja!" balas jiwa Malika.
Mereka berdua yang tengah bersiap, sekarang sedang di tonton oleh ribuan prajurit Aliansi Pemberontak. Semuanya terdiam membeku, tak sabar ingin melihat tabrakan fisik di antara keduanya.
"Lihat dan pelajarilah ini, Malika," batin sang Kegelapan yang tiba-tiba.
"Hah? Sudah kubilang, kan? Bi .." ucap Malika yang terhenti, lantaran melihat sang Kegelapan yang sudah menggerakkan raganya untuk bertarung.
Dalam sekejab mata, sang Kegelapan pun membuat raga Malika melesat tajam ke arah Leon, dengan meninggalkan jejak kehancuran, pada permukaan gua yang di pijakinya tadi.
"BUARRR!" suara dataran gua yang hancur berantakan, di saat kaki Malika melakukan lesatan.
Leon yang menyadarinya, seketika juga ikut melesat, dengan meninggalkan jejak kehancuran yang sama. Mereka berdua yang hampir saling menabrakkan pukulan di tengah-tengah jalur, langsung di kejutkan oleh permainan sang Kegelapan.
"PUW!"
Bukannya saling menabrakkan pukulan, Leon malah memukul sisa asap hitam dari teleportasi Malika. Ternyata Malika sudah berada di sisi kanan Leon, sembari melontarkan tendangan ke arah wajahnya. Dengan sigap, Leon pun menghindarinya, sekaligus ingin mencengkram kaki Malika.
"PUW!"
Lagi-lagi, Malika meledak menjadi asap hitam, di saat cengkraman Leon hampir menggapai kakinya. Tiba-tiba saja, tanpa Leon sadari, Malika sudah mendorong keras kepalanya menuju permukaan tanah. Bagaikan menenggelamkan wajah seseorang ke dalam air, wajah Leon benar-benar terbenam ke dalam tanah yang berlapiskan batu di gua tersebut.
__ADS_1
"BUURRRM!" suara kepala Leon, di saat menghantam tanah.
Seluruh prajurit yang menonton, hanya bisa terkejut hebat oleh kemampuan Malika yang bisa menipu Leon, dengan cara berteleportasi ke segala arah. Kini, Raga Malika sedang berjongkok, sambil menahan kepala Leon yang masih saja tenggelam di tanah. Tetapi, Leon masih terlihat sadar dan berusaha untuk mengangkat kepalanya.
Sang kegelapan pun berkata dengan santai, "Aku bisa saja menghancurkan tengkorak kepala anjingmu ini, seperti meremas telur busuk dengan mudahnya. Jangan pernah menggertakku, wahai makhluk peliharaan. Dengarkan aku dan kau akan mendapatkan kesempatan. Bukankah tujuan kita sama?"
"Grrrrrrr!" geraman Leon terdengar ganas seperti srigala pada umumnya.
Leon mulai berusaha untuk menaikkan kepalanya, sekaligus memberi serangan cakaran ke arah Malika. Namun, ia terlalu memaksakan diri. Raga Malika hanya sedikit melompat santai ke arah samping, agar mengambil posisi aman.
"Tiga menit lagi, Malika .." batin sang Kegelapan yang tiba-tiba.
"Bagus! Di saat waktumu habis, aku akan menghajarnya!" balas Jiwa Malika.
Tak sempat membalas percakapan, Leon tiba-tiba saja sudah melompat ke arah Malika, sembari melancarkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Raga Malika hanya menghindari setiap serangan berbahaya itu dengan lincah, licin dan tak tersentuh sama sekali.
"Kau masih saja keras kepala, hah?" ucap sang Kegelapan, sembari menghindari setiap serangan dari Leon.
Di saat raga Malika hampir bermandikan larva, sang Kegelapan pun mengarahkan satu telapak tangannya yang terbuka di depan larva tersebut. Bukannya terkena serangan, larva itu malah tersedot masuk ke dalam telapak tangan Malika.
"D-Drain .. Soul .. jadi .." ucap jiwa Malika yang sedikit terkejut.
"Begitulah caranya menggunakan jurus tersebut, bodoh. Jangan pernah takut, ketika ada benda yang menuju ke arahmu. Hanya saja, jurus ini tidak bisa menyedot makhluk hidup ke dalam tanganmu. Perhatikan ini, Malika .."
Sang Kegelapan mulai mengarahkan telapak tangan Malika ke arah Leon. Leon yang sejak tadi melihat larvanya tersedot habis, mulai sedikit menaruh ketakutan pada sosok Malika yang kini masih bermata hitam, tersenyum sombong, sekaligus menembakkan Larvanya kembali.
"BLUAARRR!"
Larva itu kembali bermuncratan hebat ke arahnya. Namun, Leon hanya berdiri tegap menghadap larva tersebut, bagaikan karang yang di hantam ombak. Ya, ia kebal terhadap larvanya sendiri.
"Kau pikir aku akan meleleh?! Aku tidak akan pernah memberikan posisiku pa .." ucap Leon yang lagi-lagi terhenti, akibat melihat Malika yang meledak menjadi asap hitam di depannya.
__ADS_1
"PUW!"
Raga Malika tiba-tiba saja muncul dari bawah tubuhnya yang tinggi, sembari melompat dan mengarahkan satu pukulan ke arah dagunya.
"Ku kira kita akan bekerja sama," ucap santai sang Kegelapan, di saat-saat terakhir.
"BUAAAAK!"
Pukulan itu terdengar sangat memekakkan telinga, sekaligus meledakkan kepala Leon, hingga menebarkan darah dan isi otaknya kemana-mana. Tubuh Leon hanya terdiam dan berdiri begitu saja, tetapi tidak dengan kepalanya yang sudah tiada sama sekali.
Perlahan, tubuh Leon pun tumbang dengan menimbulkan getaran kecil, ketika menghantam permukaan tanah. Semua prajurit Pemberontak mulai membuka mata selebar mungkin, melihat kematian pemimpin besar mereka, di tangan seorang bocah yang entah dari mana asalnya.
"Waktu habis, Malika. Jangan lupakan tentang misimu dalam mendekati Makunamu. Dan satu lagi .. jangan lupa juga mencarikan tumbal yang baru." batin sang Kegelapan yang lalu mengembalikan Malika seperti semula.
"Arrrrgh! Sialan kau, Kegelapan! Tubuhku .. Hueerkk!" teriak kesal Malika yang kemudian muntah, akibat ada sebagian darah dan serpihan otak Leon yang bertebaran di sekujur tubuhnya.
Morca dan Alkila hanya menggelengkan kepala, merasa pasrah dengan salah satu orang terkuat yang tumbang sebelum peperangan. Sedangkan Makunamu, ia seperti ingin mengulum Malika, dengan birahi yang semakin liar dan membara.
"B-b-bagaimana ini?"
"Mau t-t-tak mau, kita harus mengikuti perintah Raja Mexuca."
"Leon sudah mati! Kita punya pemimpin baru sekarang!"
Berbagai obrolan para prajurit mulai saling bersahutan satu sama lain. Mereka tak memiliki arah lagi, selain menapaki jejak pemimpin yang baru. Malika, bocah yang tak memiliki pengalaman sama sekali, akan terjun besok, untuk memimpin Aliansi Pemberontak ke dalam peperangan.
Morca lalu berseru kepada seluruh prajurit Pemberontak, "Panggil semua Pemimpin dari masing-masing kubu Pemberontak kalian, untuk memulai rapat penting bersama pemimpin baru!"
"Huufff .. huff .. apa ini belum berakhir, hah?" batin Malika yang kesal, sekaligus masih menundukkan kepala menahan mual.
-FOLLOW ME-
__ADS_1